Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Tak kunjung ada petunjuk


__ADS_3

Disebuah cafe dekat puncak, Bram sedang menunggu orang yang menjadi teman dalam penculikan Aisyah, ya orang itu yang membantunya dengan mengirimkan keadaan serta lokasi Aisyah saat itu.


Menunggu sambil menghisap rokok kesukaannya bisa membuatnya merasa lebih tenang.


Tak lama datang Pria yang telah di tunggu sejak tadi dengan di temani dua orang pengawal.


"Sorry, aku telat. kau sudah menunggu dari tadi ya?" pertanyaan basa-basi dari Andre.


Orang yang sedang ditunggu oleh Bram adalah Andre.


"Gimana keadaan Aisyah, apa dia aman bersamamu, aku harap kau tak mengecewakanku, aku membantumu karena aku juga pernah sakit hati gara-gara Aisyah." Andre sedikit menceritakan masa lalunya dengan Aisyah.


"Hahaha... anak muda memang mudah jatuh dalam perangkap cinta, jaman sekarang tak ada yang bisa di bayar dengan murah justru harus membayarnya dengan sangat mahal. Contohnya ya cinta, hubungan yang rumit dan jika tak ada yang sanggup maka akan mengubah rasa cinta itu sendiri. Entah sekedar benci atau bahkan dendam." Bram menatap Andre intens.


"Seperti diriku aku mengubah rasa cintaku menjadi balas dendam." senyuman yang penuh misteri dapat dilihat oleh Andre.


"Apa aku bisa menemuinya untuk yang terakhir kalinya?" Andre ingin melihat seperti apa keadaan orang yang pernah Andre cintai.


"Boleh saja, tapi tidak menyentuh. kau hanya boleh melihat dari jauh saja, apa kau mengerti." Bram sedikit menaikkan nada bicaranya.


Membuat Andre sedikit terkejut mendengarnya. "Aku tak akan menyentuhnya," Andre mengerti arah pembicaraan mereka. "lagi pula untuk apa, aku juga menginginkan hal yang sama denganmu." senyuman Andre tak dapat di artikan.


𝙁𝙖𝙡𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙊𝙣


Andre sedang ingin pergi ke cafe bersama dengan teman-temannya, Andre ingin meminta bantuan untuk memudahkan rencananya membalas setiap penghinaan yang Andre Terima.


Tanpa di sengaja, obrolan mereka terdengar oleh orang yang duduk bersingkuran dengan dirinya.


Orang itu dapat mendengar dengan jelas apa rencana Andre, terlebih Andre juga memperlihatkan foto Aisyah pada teman-temannya.


"Gue minta pada kalian bantu gue buat perhitungan pada Aisyah, jika Aisyah tak bisa menjadi milikku maka tak ada satu orang pun yang boleh memilikinya. Meskipun untuk itu gue bakalan lakuin hal yang tak mungkin."


"Lo serius mau lakuin itu, itu cukup berbahaya, bagaimana kalau sampai polisi ikut campur, bisa kena marah lo sama bokap lo ntar."


"Gua udah yakin, soal itu bisa di pikirkan belakangan."


Andre sengaja memelankan obrolannya, melihat keadaaan yang semakin sepi membuat andre bebas berbicara. Foto itu jatuh tepat di kaki orang yang sedang mengawasi mereka sejak Mereka membahas mengenai Aisyah.


Orang itu adalah Bram, ia tersenyum menyerigai kala melihat Foto keponakannya yang menjadi bahan pembahasan pemuda tersebut.


Bram tau betul apa yang harus dilakukan untuk melancarkan rencananya.


Bram berdiri dari tempat duduknya, dan ikut bergabung dengan Andre serta teman-temannya. "Ahh... " Bram menjatuhkan bobotnya di kursi satunya yang masih kosong, menatap Andre dan temannya yang masih binggung.


"Siapa anda, dan mau apa bergabung dengan kami?"


"Hahaha.... kalian tak perlu tahu siapa aku yang kalian perlu tahu tujuanku sama dengan kalian. Apakah kita bisa bekerja sama?" Bram menyerigai kepada Andre.


Andre yang mendengarkan cukup terkejut dengan penuturan orang yang baru ia kenal itu. "Hahaha... kerja sama, memang apa keuntungan yang akan aku dapatkan jika kita bekerja sama?" Sebelum mengiyakan tawaran, Andre ingin mengetahui niat dan apa keuntungan untuknya.


"Kay sungguh lucu anak muda, bukankah kau ingin sekali menyingkirkan wanita yang ada dalam foto ini!!" Bram menunjukkan foto yang ia temukan.


Andre terlihat memicingkan matanya, "Aisyah...., Darimana kau dapatkan Foto ini." Andre memberikan tatapan tajam pada Bram.


"Tenanglah, aku menemukanya saat tadi tak sengaja terjatuh di bawahku, sepertinya takdir memang menginginkan ini terjadi."


Senyuman Andre tak dapat di artikan, "Ya mungkin ini memang takdir."


"Jadi bagaimana, kita bekerja sama?" Bram ingin memastikan, rencananya kali ini berjalan dengan lancar.


"Oke, kita bekerja sama," Bram dan Andre berkabar tangan tanda kerja sama mereka deal.


Senyum menyerigai keluar dari kedua orang itu. Tujuan yang sama akan segera mereka lakukan.


𝙁𝙖𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙤𝙛𝙛


"Baiklah kau bisa menemuinya. Setelah itu kau serahkan semua urusan Aisyah kepadaku, aku yang akan melakukan sesuatu kepadanya. Kau mengerti!!" tatapan tajam Bram tak luput dari Andre.

__ADS_1


Meski di tatap setajam itu Andre tak merasa takut, yang terpenting baginya sekarang adalah membuat perhitungan pada Aisyah dan Farel. Andre akan menyakiti Aisyah dengan begitu Farel akan tersakiti dengan sendirinya.


Karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kita adalah hal yang sangat sulit untuk kita Terima oleh akal atau raga kita.


Andre kini telah berada di tempat penyekapan Aisyah, Aisyah sendiri masih belum sadarkan diri dari obat bius yang diberikan.


"Sekarang kau merasakan pembalasanku Aisyah, jika kau tak menjadi milikku maka kau juga tak boleh menjadi milik orang lain." senyum licik terlihat di wajah Andre.


"Kau puas telah melihat mantan kekasihmu, apa kau masih ingin melakukan sesuatu padanya?" tanya Bram seakan tahu isi hati Andre.


"Tidak, aku hanya ingin kau melenyapkan dia untuk selamanya, dengan begitu Farel pun akan hancur dengan sendirinya. Kekuatan Farel terletak pada Aisyah jika Aisyah pergi meninggalkannya Farel akan merasa bersalah sebab sebagai bodyguard Farel tak bisa melindungi majikannya yang sekaligus istrinya." Andre menatap Aisyah dengan serigai liciknya.


"Tak perlu kau suruh memang itu yang kan aku lakukan padanya, tapi sebelum itu aku ingin sedikit bermain-main dengan gadis manis ini." Bram bicara dengan senyum licik pada Aisyah.


"Setelah ini kau pulanglah anak muda, agar tak ada yang mencurigaimu, kau tunggu saja kabar dariku... aku akan segera melakukannya, kali ini Aisyah tak akan lepas dariku. Hahahha...."


Andre juga ikut tertawa, setelah itu Andre pergi meninggalkan Aisyah dengan Bram.


Hari sudah berganti, Fandi terus saja melakukan pencarian, namun tak kunjung membuahkan hasil.


"Kemana lagi aku akan mencari, dan bagaimana aku akan menghadapi pak Farel jika ia bertanya di mana dan kenapa." Fandi *******-***** rambutnya menandakan juka ia frustasi.


Sampai di rumah, Fandi menanyakan pada bodyguard lainnya berharap petunjuk sekecil apapun bisa mereka temukan.


"Apa kalian sudah menemukan petunjuk?"


"Maafkan kami kepala, belum ada petunjuk mengenai Bu Aisyah, mungkin penculik itu membawanya keluar kota ini." ucap salah satu bodyguard yang bertugas.


𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬... 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬... 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘶. 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢.


Fandi berusaha bersikap tenang, sebab jika gegabah justru tak akan memperoleh petunjuk apapun.


"Kalian tetap mencari di daerah perbatasan, berpencar lah, aku akan pergi kerumah sahabatnya Bu Aisyah dan mengajak mereka untuk ikut mencari siap tahu mereka bisa mengenali mobil yang menculik Bu Aisyah."


Fandi dan para bodyguard yang lain melakukan tugas masing-masing.


***


"Oh ya, aku bahkan belum mengabari Aisyah sebab aku sakit kemarin. Lebih baik sekarang aku telfon Aisyah saja."


Kring...


Kring...


panggilan Farel tak tersambung, sedang berada di luar jangkauan.


"Kenapa tak tersambung, dimana Aisyah?" seketika rasa khawatir menghantui Farel.


"Lebih baik aku telfon Fandi saja, Fandi pasti tahu dimana Aisyah." dengan gerakan cepat telfon pun tersambung, namun tak kunjung mendapat respon dari Fandi.


"Kenapa Fandi juga tak menjawab panggilan ku, apa ada masalah di rumah?"


Farel masih berpikir positif, ia tak mau salah tafsir.


Kali ini Farel mencoba memanggil bodyguard nya kembali.


Kring...


Kring...


Tak lama telfon Farel tersambung, "Hallo Fandi, dimana kamu, kenapa dari tadi telfon saya tidak kamu angkat." Farel langsung saja menginterogasi Fandi.


"Ma-maaf Pak Farel, saya sedang berada di luar, jaringannya sedikit buruk." kilah Fandi, ia belum mau jujur mengenai keadaan Aisyah


"Aisyah dimana, kenapa saya telfon handphonenya tidak aktif,? Aisyah baik-baik saja kan!" Farel ingin sekali mendengar kabar mengenai istri tercintanya.


"Bu A-aisyah ya... Bu Aisyah baik-biak saja kok pak Farel."

__ADS_1


"Dari nada bicara Gandi Farel merasa ada yang di tutup-tutupi darinya.


"Kenapa aku merasa jika kamu sedang berbohong Fandi, katakan sejujurnya, apa yang terjadi di sana, aku tak mau ada kebohongan dari siapapun, dan apapun itu!!" Farel mencoba mendesak Fandi untuk bicara jujur.


Hati Farel tak mempercayai setiap kalimat yang di ucapkan oleh bawahannya tersebut.


Fandi yang sedang mengendarai mobil menghentikannya di tepi jalan. Fandi terlihat menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, mencari kata-kata yang cocok untuk di sampaikan mengenai kabar buruk itu.


"Saya harap pak Farel bisa menyikapinya dengan baik, sebenarnya memang ada masalah. Dan ini mengenai bu Aisyah_"


"Apa yang terjadi dengan Aisyah Fandi." Farel memotong ucapan Fandi.


"Bu Aisyah di-diculik Pak." Fandi terlihat gugup mengatakan itu.


"Apa..., bagaimana bisa, apa yang kalian lakukan, kenapa tak melindunginya aku menitipkan Aisyah pada kalian hanya beberapa hari kenapa bisa sampai di culik!" Farel meluapkan amarahnya, kemudian mematikan telfon sepihak.


Fandi yang tak lagi mendengar suara dari bosnya memukul setir untuk melampiaskan kekesalannya, bukan kesal pada apa yang di ucapkan Farel, tapi kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa menjalankan amanah dengan baik.


"Apa yang aku takutkan terjadi Pak Farel pasti akan sangat marah besar ketika mengetahui jika istrinya telah diculik, mungkin Pak Farel akan langsung terbang dari kalimantan ke Jakarta. Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur sekarang yang harus aku lakukan menemukan Bu Aisyah secepatnya." Fandi bermonolog.


Farel yang kesal melempar ponselnya ke sembarang arah.


Braakk...


Meja pun menjadi pelampiasan amarahnya. "Siap ayang berani bermacam-macam dengan menculik istri seorang Farel. Aku pastikan orang itu tak akan menemui hari esok!!" wajah Farel menampakkan kengerian, seseorang itu telah memancing singa yang tertidur untuk bangun dan mengoyakkan mangsannya.


Tak butuh waktu lama Farel mempercayakan segala urusan di kaliamantan pada orang yang bertanggung jawab.


"Aku percayakan segala urusan di sini padamu, Bagas. Kamu yang akan menjalankan proyek pembangunan pabrik tersebut, dan ya, aku tak bisa menghadiri acara peletakkan batu bata pertama besok, aku akan kembali ke jakarta sekarang." pesan Farel pada Bagas yang mang akan Farel tunjuk sebagai penanggung jawab proyek tersebut setelah Farel pulang ke Jakarta.


"Baiklah Pak Farel, saya akan menjalankan amanah tersebut." Bagas menyanggupi apa yang di perintahkan kepadanya.


Setelah selesai mengurus masalah disana Farel langsung memilih penerbangan dadakan saat itu juga.


"Aku akan datang Aisyah, tak akan ku biarkan siapapun menyentuh atau menyakitimu." Farel bergumam sambil sedikit berlari ke arah pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.


Fandi telah sampai di ke rumah Vika di sana sudah ada Vika dam Vita yang memang menunggu kedatangannya, sengaja mereka menunggu karena bagaimanpun Aisyah diculik itu karena keteledoran mereka berdua.


"Kita harus segera temukan petunjuk, saya harap kalian masih ingat betul mobil yang mereka kendarai." sekarang Fandi hanya bisa mengandalkan mereka berdua.


"Kita masih ingat betul mobil itu, semoga mobil itu tak bergerak jauh dari kota ini, dengan begitu kita bisa menemukan Keberadaan Aisyah."


Fandi serta dua sahabat Aisyah mulai melakukan pencarian dari petunjuk mobil yang preman itu gunakan malam itu.


***


Aisyah kini mulai menunjukkan kesadarannya, "𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭..." kata yang bisa di ucap Aisyah dengan mulut tertutup oleh kain. Aisyah mencoba mengerak-gerakkan tangannya yang terikat agar terlepas namun sayang usahanya gagal. Ikatan itu cukup kuat mengikatnya.


Bram sengaja mengunakan penutup wajah agar Aisyah tak mengenalinya sebelum Bram sendiri yang memberitahu kebenarannya.


"Hahaha... halo cantik, bagaimana, kamu menyukai tempat barumu ini? ohoho... jangan terlalu banyak gerak, jika tak ingin menyakiti anakmu itu."


Aisyah melotot sambil mengeleng-gelengkan kepala kala mendengar preman itu menyebut anaknya yang masih berusia satu bulan.


𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘪𝘭, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢... Aisyah berucap dalam hati.


"Kau tak bisa bicara ya... kasihan!!. Lebih baik kau diam dan nikmati kehidupan barumu ini."


Aisyah terus saja meronta-ronta, ia tak mau menuruti apa kata preman itu.


Bram yang melihat perlawanan dari Aisyah tersenyum puas namun detik berikutnya Bram justru menampar Aisyah agar ia berhenti untuk melawan. Dan benar Aisyah tak lagi melawan setalah mendapat tamparan, Aisyah diam dan merutuki preman yang menculiknya tersebut dalam hati.


𝘉𝘳𝘦𝘯𝘨𝘴𝘦𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩 𝘗𝘢𝘱𝘢?? 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘞𝘪𝘫𝘢𝘺𝘢... 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘯𝘪!!


"Kenapa kau diam Anak manis!! kau takut...hahaha.... tak akan ad ayang bisa menemukanmu di sini baik suamimu atau bodyguardmu yang lainnya mereka tak akan tahu kau di sini." Bram menunjukkan tatapan mata hendak membunuh.


Aisyah kini hanya bisa menangis dan berharga suaminya cepat datang menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2