Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Kecemasan Aisyah


__ADS_3

Ririn yang sedang memeriksa File dengan wajah berseri bahagia, seketika senyuman itu langsung lenyap dengan datangnya Aisyah istri Farel ke ruangannya.


"Ada apa Bu Aisyah keruangan saya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ririn ia, berpura-pura tidak tahu tujuan Aisyah ke ruangannya.


Aisyah mendekat ke arah Ririn dengan tatapan sinis.


"Silahkan duduk Bu." Ririn masih bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


"Tidak perlu, jangan kamu pikir dengan kamu pergi dengan suami saya, kamu bisa dengan mudah mendapatkannya." ucap Aisyah dengan nada tenang, namun tatapan yang sulit di artikan.


Ririn yang mendengarnya hanya tersenyum mengejek.


"Ck, rupanya kamu sudah tahu apa rencanaku. Baguslah, aku tidak perlu sembunyi-sembunyi darimu." jawab Ririn dengan entengnya.


Mengetahui Aisyah sudah mengerti apa rencananya membuat rasa hormat kepada istri atasannya itu hilang. Yang terpenting bagi Ririn adalah mendapatkan Farel nya kembali, bagi Ririn Aisyah adalah perebut cinta pertamanya.


"Aku akan memberitahukan semuanya kepada Farel, lihat saja Farel pasti akan membelaku, dan akan membuangmu dari kantor ini juga persahabatannya." Aisyah sudah mulai tersulut emosi.


Ririn bangkit dari kursinya dan mendekat kearah Aisyah.


"Oh, mau memberitahu Farel semuanya, benarkah, dan apa mungkin Farel membelamu, aku sangat yakin dan mengenal Farel lebih dari kamu. Farel sendiri mengatakan aku adalah sahabat terbaiknya dan aku akan segera mengubahnya menjadi teman hidupnya." ucap Ririn yakin,


Yakin jika Dia bisa mendapatkan Farel meski belum hatinya setidaknya dia bisa memiliki raganya Farel terlebih dahulu.


Setelah perdebatan itu Aisyah memilih pergi kembali keruangan Farel untuk berpamitan ke kampus.


Aisyah kembali ke ruangan Farel, di dalam ruangan Farel sudah bersiap-siap berangkat. Farel terkejut mendapati Aisyah masih berada di ruangannya, ia sempat mengira jika Aisyah sudah pergi ke kampus.

__ADS_1


"Aisyah, kenapa kami masih disini. Pergilah ke kampus ini sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh, nanti kamu terkena hukuman, dan aku nggak mau kamu dihukum." Farel sedikit memaksa.


Aisyah ingin memberitahukan kebenaran Ririn kepada Farel.


Tapi melihat jam di tangannya ia mengurunkan niatnya. Ia akan memberitahukan semua itu dengan bukti yang akurat, karena Farel tidak akan mudah percaya dengan apa yang diucapkan seseorang tanpa bukti.


"Iya ini aku juga mau ke kampus, aku kesini hanya mau_" Aisyah mengantung ucapannya.


Seketika itu Aisyah mencium bibir Farel, meskipun Farel sedikit terkejut dengan tingkah Aisyah, namun Farel juga menikmati dan membalas ciuman Aisyah dengan lembut, mereka berciuman selama tujuh menit itu sebagai tanda perpisahan mereka. Farel melepas ciuman itu, jika ia tak ingat jika Aisyah harus pergi ke kampus dan ia juga harus pergi ke bandung mungkin Farel akan meminta lebih.


"Sudah, hati-hati di sana. Aku mencintaimu." Aisyah berlari keluar ruangan Farel.


Farel tersenyum mengingat perlakuan Aisyah kepadanya, biasanya Farel lah yang melakukannya terlebih dahulu dan sekarang Aisyah lah yang memulainya.


Ciuman itu membuat Farel bertambah semangat ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di Bandung lalu kembali ke Jakarta untuk Aisyah.


"Kamu sudah siap, Pak Farel Ayo kita berangkat." ajak Ririn, ia tak sabar ingin berduaan dengan Farel, karena selama di bandung adalah kesempatan emas untuknya agar bisa lebih dekat dengan Farel, tanpa adanya Aisyah di antara mereka.


"Ayo, aku sudah siap."


Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Farel, jarak yang mereka tempuh untuk sampai di Bandung sekitar tiga jam. Dalam perjalanan Ririn terus saja berbicara dan Farel masih menyahuti nya dengan wajar. Farel sama sekali tak merasa ada yang salah dari Ririn. Farel menganggap perhatian Ririn adalah perhatian dalam bentuk sahabat.


Tak terasa perjalanan Farel dan Ririn sudah tiba di bandung, mereka sengaja memesan penginapan dengan dua kamar. Jarak penginapan dengan kantor cabang di bandung memang tidak terlalu jauh, sehingga memudahkan mereka untuk urusan pekerjaan. Sampai di Bandung Farel dan Ririn langsung menuju ke kantor cabang, disana Farel dan Ririn harus mengurus beberapa hal sebelum akhirnya memilih tempat penginapan.


Hari sudah malam, Farel dan Ririn memilih untuk beristirahat di salah satu hotel yang cukup terkenal di kota Bandung.


"Terimakasih Rin, kamu memang bisa diandalkan dan berbakat tidak salah Aku mengangkat mu menjadi sekertaris ku. Sekarang beristirahatlah, besok kita akan melakukan meeting dengan para pemegang saham disini."

__ADS_1


"Kamu sendiri juga harus istirahat, sudah aku masuk dulu, selamat malam." Ririn masuk ke dalam kamar miliknya.


Farel sendiri juga merasa lelah, banyak pekerjaan yang harus segera di kerjakan, serta masalah yang harus di temukan jalan keluarnya.


Farel sendiri juga ingin beristirahat, Farel masuk ke kamar dan memilih merebahkan diri sebentar di kasur. Bayangan Aisyah mulai muncul di pikirannya, "Astaga, aku sampai lupa memberi kabar pada Aisyah, ia pasti khawatir. Seharian ini aku terlalu sibuk dengan masalah yang ada di sini." Farel membuka Ponsel miliknya yang sempat dia matikan.


"Banyak sekali panggilan dari Aisyah dan juga chat dari istrinya, Aisyah pasti marah karena aku tidak memberinya kabar apapun."


Farel memanggil berkali-kali nomor Aisyah namun tidak ada jawaban dari seberang sana.


Farel membuang nafas pasrah, "Belum ada satu hari Aisyah sudah marah, bagaimanapun aku harus bisa meluluhkan hatinya. Sekarang lebih baik aku mandi dulu setelah itu akan ku coba hubungi lagi Aisyah." Farel berjalan ke kamar mandi dan melakukan aktivitas mandinya.


Di rumah Aisyah,


Karena Aisyah sendiri, selama tiga hari ia meminta Vika dan Vita untuk menemaninya. Sebagai sahabat mereka selalu siap jika salah satu dari mereka membutuhkan bantuan.


Aisyah sendiri sudah berkali-Kali menelpon Suaminya, Farel. Tapi tidak ada satupun panggilan yang diterima Farel, Ia bertambah cemas juga takut apa yang dipikirkan akan menjadi kenyataan.


"Sudahlah Aisyah, Farel mungkin lagi sibuk. Farel sendiri yang bilang dia di sana untuk mengurus masalah yang terjadi di kantor cabang Bandung. Jadi percayalah, Farel akan baik-baik saja. Sekarang kita lebih baik tidur saja." ucap Vita yang mulai kesal melihat Aisyah yang sudah seperti setrikaan mondar-mandir di kamar.


***


Farel melakukan Aktivitasnya di kamar mandi, guyuran air dari shower sedikit bisa mengurangi masalah yang sekarang di hadapi Farel, bisa membuatnya sedikit lebih Fresh, setelah selesai Farel keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang. Itu sudah menjadi kebiasaan Farel Saat keluar dari kamar mandi ia lupa jika saat ini Farel berada di hotel bukan rumahnya. Betapa terkejutnya Farel, ia melihat Ririn sudah berada di kamarnya dengan membawa sebuah File.


"Kenapa kamu disini, kamarmu bukannya berada di sebelah." tanya Farel bingung. Ririn yang juga terkejut memalingkan wajahnya.


"Sorry Farel, aku sudah coba panggil kamu dari tadi tapi tidak ada jawaban dari kamu, sepertinya kamu lagi asik di kamar mandi."

__ADS_1


__ADS_2