Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Banyak yang Memperhatikan


__ADS_3

"Sudahlah Farel, Fandi, semua sudah berlalu. Tak perlu kita bahas lagi." Aisyah tak mau mereka membahas itu didepannya, apalagi keadaan Farel belum pulih total.


"Kamu memeng benar Aisyah, kita tak perlu membahasnya lagi." Farel membenarkan apa yang dikatakan Aisyah, Farel tak ingin mengungkit kejadian itu yang mungkin saja meninggalkan trauma pada istri tercintanya. Pandangan Farel tertuju pada orang di samping Aisyah. Orang itu adalah bik sumi, orang yang cukup dekat dengan Farel karena sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.


"Bik Sumi, terimakasih sudah datang."


"Iya tuan, tuan harus cepat sembuh, Rumah sepi nggak ada tuan, nggak ada yang ajakin Bibi cerita ini, itu." ucap bik sumi sambil melirik Non Aisyah.


𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦 𝘣𝘪𝘬 𝘴𝘶𝘮𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘬 𝘴𝘶𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘬𝘦 𝘢𝘬𝘶, 𝘦𝘩... 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘰, 𝘪𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯𝘬𝘶. Aisyah berucap dalam hati.


"Sekarang, kamu istirahat agar lekas sembuh, ingat apa kata Dokter jangan banyak gerak." Aisyah menekankan setiap perkataannya. Di ruangan itu terlihat sedikit rame, candaan dari Fandi dan bik sumi membuat seisi ruangan tertawa. Bagaimana tidak, mereka membahas bahasan yang mengocok perut. Tiba-tiba Fandi mendapat telpon dari kantor polisi."Cepatlah anda kemari, saudara Bram kusuma berhasil melarikan diri. Sekarang sedang dalam pencarian." suara dari pak polisi terdengar gusar.


"Baiklah, Saya segera kesana."


Tanpa memberitahu masalah tersebut kepada Farel dan Aisyah, Fandi pergi memastikan sendiri kebenarannya.


Farel yang melihat Fandi tampak cemas bertanya kepadanya, "Dari siapa Fandi? kenapa mukamu terlihat cemas, apa ada masalah."


Fandi yang mendapat pertanyaan dari Farel segera mengubah mimik wajahnya agar Farel tak lagi bertanya padanya.


"Oh...ini dari teman Saya Pak, biasa, ngajak kumpul-kumpul. Saya izin dulu Pak mungkin besok pagi saya kemari lagi." Fandi memberikan alasan yang masuk akal, benar saja Farel tak lagi bertanya lebih jauh.


"Pergilah, lagipula sudah tidak ada masalah."


"Saya permisi Pak, Bu, Bik." berjalan meninggalkan ruangan dengan cemas.


handphone Aisyah berbunyi ... "kring ... kring... kring, Hallo, gimana keadaan lo, kita dapat kabar dari anak-anak kampus, katanya lo habis di culik. lo dimana, sekarang Kita kesana." ucap kedua sahabat Aisyah yang ikut cemas mendengar kabar penculikan Aisyah.


"Tenang, Aku Baik-baik aja, aku sekarang ada di rumah sakit. Ceritanya panjang, kesini saja kalau kalian nggak sibuk." telepon dimatikan, oleh Aisyah, jika tidak maka mereka akan langsung menanyakan apa, bagaimana, kapan secara panjang lebar lewat telpon.


Farel memilih memejamkan matanya, tubuhnya masih lemah karena kehilangan banyak darah. Ia harus segera sembuh dan beraktifitas seperti biasa. Tak enak rasanya berbaring terus di ranjang Rumah Sakit.


"tok ... tok ... tok....Apa Kita boleh masuk."


"Kalian ... , Masuk saja, Terimakasih sudah datang, Kalian memang sahabat terbaikku." Aisyah berhambur memeluk kedua sahabatnya.


"Kita khawatir sama lo, emang bener lo diculik." ucap Vika meyakinkan.


"Iya, untung Farel menyelamatkan aku, kalau enggak, jadi apa aku di sana mungkin tinggal nama."


Vita mencuri pandang pada Farel." Itu Suami lo Aisyah, ganteng banget." mereka terpana akan ketampanan Farel.


"Jangan berisik, Dia sedang tidur. Kita bicara di luar saja." ajaknya meninggalkan ruangan Farel, agar Farel tak terganggu tidurnya.


"Ceritain ke Kita dong, gimana caranya lo bisa sampai di culik?" Vita penasaran bagaimana sahabatnya ini bisa diculik saat dia punya suami serta bodyguard yang selalu ada di sampingnya.


"Ya, aku juga nggak tahu kenapa tu preman sampai culik aku, dia nggak kasih tahu alasannya apa. Dia hanya kasih tau namanya Bram Kusuma saudara Papaku, aneh nggak?" Aisyah yang bum mengetahui jika Bram memang saudara Papanya meragukan kebenaran ucapan preman tersebut.

__ADS_1


"Kok aneh banget sih, Seharusnya, kalau saudara Papamu berarti dia pamanmu, emang lo nggak pernah apa ketemu pamanmu sebelumnya. Atau lo pasti pernah liat foto keluarga besar, kan?" Vika mengungkapkan pendapatnya. Ia juga ikut merasa aneh dengan sikap preman yang menculik Aisyah


"Iya ya, Di foto keluarga pasti ada foto pamanku, kenapa aku nggak kepikiran. Nanti deh kalau pulang, aku pastiin penculik itu benar pamanku atau bukan." Aisyah terlihat berpikir menimbang setiap perkataan dari sahabatnya.


"Ngomong-ngomong gimana keadaan suami lo, semoga lekas sembuh ya suami lo. Aisyah kita ke restoran deket sini yuk, cari makan. Tadi waktu mau kesini Gue lupa belum makan. lo mau ikut nggak? lagian cuma sebentar, Farel juga masih tidur. Nggak papalah di tinggal sebentar. Ada Bik Sumi juga yang jagain."


"Oke ... aku ikut, aku belum makan, sekalian nanti bungkusin buat bik sumi."


***


Kabar penculikan tersebar di kantor, Para karyawan menjadikannya gosip hangat. Ririn yang ikut mendengarnya merasa khawatir dengan keadaan Farel. Sepulang dari kantor Ia berniat menjenguk Farel.


Berjalan memasuki gedung Rumah Sakit. Sempat berpapasan dengan Aisyah, tapi tak ada yang menyadarinya. Baik Aisyah ataupun Ririn.


Aisyah dan teman-temannya mencari restoran terdekat, kebetulan di sebrang jalan rumah sakit ada restoran yang baru buka.


"Kalian pesan apa aja yang kalian Suka, lalu Kita balik, oke." Aisyah merasa tak enak meninggalkan Farel terlalu lama.


"Iya, Aisyah, takut banget tinggalin suami sendiri." Vika menggoda Aisyah yang tampak serius.


Aisyah hanya terdiam. Sepuluh menit berlalu pesanan mereka tiba. Aisyah yang sangat lapar menghabiskan makanannya dengan cepat, membuat temannya geleng-geleng kepala."


"Pelan Aisyah, entar lo kesedak, gimana?" Vita sebagai sahabat memperingatkan. Gunanya sahabat adalah saling mengingatkan dan saling membantu apapun yang terjadi.


"Iya, ini aku pelan. Pesanan yang di bungkus sudah belum?"


Aisyah menghampiri bagian kasir lalu membayar makanan mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ruang perawatan.


Di dalam Ruangan Farel, Bik Sumi berjaga, dengan memainkan handphone miliknya untuk mengusir kejenuhan.


Pintu terbuka. "ckleek, apa saya bisa masuk?" suara seorang wanita, yang tak lain adalah sekertaris Farel.


"Silahkan masuk ..., Nona ini Siapa ya?" ucap bik sumi bertanya.


"Saya Ririn, Temannya Farel sekaligus sekertaris nya." dengan senyuman Ririn menjawab pertanyaan itu.


"Oh ... temannya tuan Farel. Saya Sumi art. mereka."


"Bagaimana keadaan Farel, Bik ?" tanya Ririn cemas. Ia hampir saja menangis, tapi ia tahan bagaimanapun Farel adalah Suami Aisyah.


"Lalu Non Aisyah, kenapa tidak disini menjaga suaminya?" Ririn mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mencari keberadaan Aisyah, istrinya Farel.


"Non Aisyah, sedang pergi membeli makanan dengan teman-temannya, sebentar lagi mungkin kembali."


"Mbk Ririn, Saya mau ke kamar mandi dulu, Bisa tolong jaga Tuan Farel sebentar." ucap Bik Sumi kemudian meninggalkan Farel dan Ririn berdua.


Ririn yang mendapat kesempatan berdua dengan Farel mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Farel, Kenapa kamu bisa sampai seperti ini? Apa sebegitu pentingnya Aisyah untukmu, sampai kamu mengorbankan nyawamu sendiri. Aku tahu hubungan Kalian hanya untuk memenuhi janjimu kepada Pak wijaya, Tapi apakah harus seperti ini." ungkap Ririn kesal melihat Farel terluka.


Ririn menangis di samping Farel. Farel sendiri tak menyadari kehadiran Ririn di sampingnya.


Sedangkan di luar ruangan Farel Aisyah dan teman-temannya pernapasan dengan Bik Sumi.


"Bibik darimana, Terus Farel sama siapa?" tanya Aisyah bertambah cemas.


"Bibik habis dari toilet Non, di dalam ada temannya tuan Farel."


"Ya sudah, ini makanan untuk bibik." Aisyah menyerahkan satu bungkus makanan pada bik sumi, ia tahu artnya itu belum makan.


Ririn yang menyadari ada obrolan di luar ruangan Farel, dengan sigap, menghapus air mata yang membasahi pipi.


pintu terbuka."ckleek .... "


"Non Aisyah, Saya Ririn sekertaris pak Farel, sekaligus temannya." mengulurkan tangan pada Aisyah.


"Setahuku, sekertaris Papa bukan Mbak Ririn."


"Memang, sekertaris yang lama sudah diberhentikan karena ketahuan mengelapkan uang perusahaan. Pak Farel sendiri yang memecatnya lalu meminta saya mengantikan posisi tersebut." Ririn menjelaskan posisinya di kantor. Perbincangan mereka membangunkan Farel yang tertidur.


"Aisyah ... ," ucap Farel lirih.


Semua menoleh pada sumber suara. Terutama Aisyah, Ia langsung menghampirinya ketika namanya yang pertama kali disebut.


"Farel, apa ada yang sakit,? Apa kau butuh sesuatu,? katakan, aku disini!"


Dengan pelan membuka mata. Pandangannya menuju pada semua orang yang berada di ruangan.


"Kenapa ramai sekali ... " dalam hati Farel senang karena banyak orang yang memperhatikannya.


"Aisyah, Kita pulang dulu ya, semoga lekas sembuh Suami lo. Jangan lupa besok ada kelas pagi, Ingat, lo harus datang, lo udah nggak masuk dua hari berturut-turut karena lo diculik."


"thank's ya, udah mau ingetin aku, aku beruntung punya sahabat seperti kalian."


"Kita juga seneng, punya sahabat seperti kamu." mereka berpamitan kemudian meninggalkan ruangan Farel.


"Sebaiknya Aku juga pulang. Semoga, Pak Farel bisa lekas kembali ke kantor, Saya permisi." Ririn pun ikut meninggalkan ruangan Farel. ia merasa canggung berada di ruangan itu.


Tinggal Bik Sumi, Aisyah dan Farel. Mereka bercanda, mengusir kejenuhan di dalam Rumah Sakit.


Krek,


Dokter masuk, hendak memeriksa keadaan Farel. dengan stetoskop di telinga Dokter mulai memeriksa.


"Kondisi Pak Farel, sudah semakin membaik. Jika ini terus berlanjut, besok sore Pak Farel bisa pulang. Pak Farel bisa mengunakan rawat jalan di rumah. Saya permisi dulu." Dokter meninggalkan ruangan Farel.

__ADS_1


__ADS_2