Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Khawatir


__ADS_3

Aisyah tetap berjalan anggun melewati pengunjung yang tengah memenuhi caffe lestari tersebut, memang caffe tersebut tengah menjadi tempat favorit para anak muda bahkan yang tua pun juga ingin menjajal menu makanan yang tersaji di caffe tersebut, selain minuman kelas atas makanan pun juga tersaji di sana. Selama beberapa menit Alex masih menatap dengan takjub pujaan hati.


"Maaf, Pak Alex, sudah membuat Anda menunggu." Aisyah menjatuhkan bobotnya di kursi depan Alex.


Alex yang tak menyadari jika Aisyah sudah duduk manis di hadapannya sempat salah tingkah.


"Eh maaf, aku ngak fokus tadi," ucap Alex mencoba menetralkan sikapnya.


"Jangan banyak melamun pak, nanti kesambet gimana kan repot." canda Aisyah di sertai kekehan kecil. Memang menurut Vika Alex orangnya enjoy dan asik di ajak kerja sama.


"Kita mau langsung atau mau makan dulu di sini, kebetulan aku baru sampai dan ingin mencicipi makanan di caffe ini, katanya rasanya sangat enak." ucap Alex dengan lembut.


"Em, jika Pak Alex mau makan terlebih dahulu tak apa, aku bisa memesan minuman karena sebelum saya kesini saya sudah makan di rumah." Aisyah menolak dengan halus ajakan Alex.


"Oh, kalau begitu aku pesan makan dulu, tunggulah sebentar aku tak akan lama." tak lama pesanan mereka sampai, Alex yang memang belum sempat makan di rumah kerena ingin makan bersama dengan Aisyah, kini Alex hanya bisa menikmati makanannya sendiri, ya meskipun Aisyah juga ada di sana menemani, tapi rasa makan sepihak itu membuat Alex tak nyaman. Akhirnya Alex hanya bisa makan sedikit untuk mengurangi rasa tak nyaman itu dan memilih segera pergi ke tempat yang sudah di boking.


****


"Ini tempat yang akan kita gunakan untuk acara dua hari lagi?" tanya Aisyah yang merasa gedung itu sangat luas dan merah, bisa di bayangkan acara yang akan di lakukan dua hari kedepan sangatlah besar dan mewah.


"Iya, memang disini, bagaimana menurutmu, apa kamu suka tempat ini?" tanya Alex balik.


"Ini bahkan lebih dari yang aku bayangkan pak Alex, selama ini aku belum pernah mengadakan pameran desain bajuku di tempat semegah ini, jujur ini yang pertama, semoga saja nanti aku tak mengecewakan pak Alex." Aisyah mengatakan apa yang di takutkan nya, belum memiliki pengalaman yang banyak membuat Aisyah sedikit minder.


"Tenang saja, semua pasti akan berjalan dengan lancar, percayalah kamu pasti bisa."


Ucapan dari Alex sedikit membuat jiwa bisnisnya bersemangat.


𝘠𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘴𝘦𝘴, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘬𝘴𝘦𝘴𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘵𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘸𝘶𝘫𝘶𝘥𝘬𝘢𝘯.


Aisyah mengecek setiap sudut pada ruangan besar itu, dewan kagum pun tak luput dari ucapannya.


Alex sendiri kini sedang menerima telfon dari asistennya di kantor.


Saat berkeliling tiba-tiba pandangan Aisyah sedikit berkunang, dengan langkah pelanggan Aisyah tetap berjalan hingga hampir saja Aisyah terjatuh mencium tanah jika saja Alex tak sigap menangkap tubuh Aisyah.


"Aisyah, kamu kenapa."

__ADS_1


"Emm... aku sedikit pusing," ucap Aisyah lirih. Alex mendudukkan Aisyah pada bangku yang tersedia di dalam ruangan tersebut, "aku akan mengantarmu ke dokter untuk memastikan keadaanmu ini."


"Tak perlu mungkin aku hanya kecapekan, lagipula beberapa hari ini banyak pekerjaan di butik ku, mungkin itu penyebabnya. Jadi tak perlu Khawatir aku sudah baik-baik saja." Aisyah menolah ajakan Alex dengan halus, Aisyah hanya tak mau ada kesalahpahaman jika ada yang melihatnya bersama dengan orang lain, selain suaminya.


"Baiklah, jika kamu tak mau, istirahatlah sebentar setelah ini aku antar kamu ke butik, atau aku antar pulang saja sekalian, takutnya kamu kenapa-napa di jalan." Alex sangat berharap bisa lebih dekat dengan Aisyah. Sungguh Alex berharap Aisyah adalah jodohnya."


"Kita ke butik saja."


Alex membantu dan mengantarkan Aisyah ke butik nya sesuai permintaan Aisyah.


"Aku sudah tak apa-apa, terimakasih sudah mengantarkan ku ke butik." ucap Aisyah setelah sampai di depan butik miliknya.


Saat Aisyah hendaklah masuk, Alex tiba-tiba sudah berjalan di belakangnya.


"Kenapa pak Alex apa ada yang tertinggal?" Aisyah mengernyitkan dahinya tanda binggung.


"Tidak ada, aku hanya teringat kalau mommy ku meminta di bawakan baju dari butik milikmu, sepertinya mommy ku menyukai baju dari butikmu ini."


"Oh, tapi kenapa tidak datang kesini, jika datang sendiri kan pasti bisa memilih, kalau begini mana bisa memilih nanti kalau ngak sesuai dengan keinginan mommy ku gimana, barang disini nggak bisa di tukar pak Alex." ucap Aisyah menerangkan.


"Tapi kan aku nggak tau selera mommy mu, pak Alex, nanti takutnya salah kasih."


"Aku yang akan pilih sendiri untuk mommy."


"Baiklah, ayo aku tunjukkan koleksi terbaru ku, semoga ada yang di suka oleh mommy mu." Aisyah berjalan memimpin di depan Alex berjalan ke lantai dua.


"Ini, pilihlah pasti ada yang mommy kamu suka," ucap Aisyah sedikit gugup, Aisyah tak mau perkara baju membuat Alex membatalkan kerja sama dengannya.


Dalam sekejap keadaan memang bisa saja berubah, entah itu baik atau buruk tapi yang pasti tetap ada hikmahnya.


Alex kini tampak memilih beberapa baju, kebetulan di butik Aisyah, pakaian wanita cukup bagus.


"Aku ambil yang ini saja. tolong di bungkus." Alex menyerahkan beberapa potongan baju yang akan di berikan pada mommy Maya pada seorang pelayan butik.


"Apa masih ada yang mau di beli," ucap karyawan Aisyah.


"Tidak, ini cukup. Mommy pasti suka."

__ADS_1


Setelah membayar Alex memilih datang ke kantor.


****


"Hai bidadari cantikku, sedang apa di sana." saat ini Farel tengah melakukan panggilan video dengan Aisyah.


"Hai tampan, seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja." jelas Aisyah sambil merapikan make up nya.


"Kamu di butik, loh katanya ada janji sama rekan kerjamu sudah selesai." tanya Farel.


"Sudah mas, baru saja selesai, orangnya juga baru saja pulang kalau masih di sini pasti akan aku kenalkan sama mas Farel."


"Mungkin lain kali bisa ketemu sama rekan kerjamu saat ini, oh ya mas hanya ingin mengajakmu makan siang, bersiaplah sebentar lagi aku akan datang menjemputmu."


"Baiklah, cepatlah datang aku menunggumu mas!"


Keadaan Aisyah hari ini memang kurang baik, pusing kepala kerap di rasa Aisyah akhir-akhir ini, tapi Aisyah mengabaikannya dan menganggap itu hanya efek kelelahan saja.


Deru suara mobil milik Farel masuki parkiran butik milik Aisyah, Farel turun dan hendak memasuki butik.


Seorang karyawan butik terlihat berlari dari dalam butik, melihat keluar apa ada yang bisa membantunya, sebab saat ini bu bosnya pingsan di dalam.


𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢!!


Karyawan yang diketahui namanya Feni itu terlihat Frustasi. Hendak masuk ke dalam namun netranya menangkap sosok yang tak asing di mata, "Pak Farel, bukankah itu suami bu Aisyah."


Dengan sedikit berlari Feni menghampiri Farel.


"Syukurlah ada pak Farel, ayo ikut saya, bu Aisyah pingsan di dalam." Sontak Farel yang mendengarnya langsung berlari meninggalkan Feni di tempat.


"Aisyah...." teriak Farel saat melihat istri tercintanya terbaring di sofa tunggu.


"Tenanglah sayang, kamu akan baik-baik saja, ada aku di sampingmu."


Dalam waktu lima belas menit Farel sudah tiba di rumah sakit terdekat.


"Cepat tolong istri saya, dia pingsan." Farel menidurkan Aisyah di berangkar, Dokter dengan sigap melakukan penanganan terbaik untuk Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2