
Vika dan Vita saling pandang, banyak pertanyaan terlintas di kepala mereka.
"Apakah terjadi hal buruk kepada mereka berdua, tidak... tidak... semoga apa yang gue pikirin terjadi."
"Kita berpikir positif ajalah, Vik sekarang yang harus kita lakuin adalah kasih semangat untuk sahabat kita ini, melihatnya terbujur lemah tak berdaya membuatku juga merasakan sakit yang sama dengan dengannya."
Mereka selalu mensuport Aisyah bagaimanapun keadaannya, tak akan pernah mereka meninggalkan satu sama lain karena memang itu janji mereka.
Hari berganti siang, Fandi masih menunggu Farel siuman, tak pernah ia meninggalkan sahabatnya serta majikannya itu.
Gerakan tangan milik Farel menjadi pusat perhatian Fandi. Farel yang sudah cukup lama tertidur kini mulai menunjukkan tanda kesadarannya. Ada seulas senyum pada bibir Fandi. "Akhirnya Pak Farel siuman juga."
"Aisyah...Fandi dimana Aisyah?" Lidah Fandi kini menjadi kelu setelah mendengar pertanyaan dari Farel. Abadi tak mampu berkata walau hanya satu kalimat. Diamnya Fandi membuat Farel semakin bertindak gila, Farel ingin turun dari Bed miliknya dan ingin melihat Aisyah secara langsung. Namun pergerakan Farel di cegah oleh Fandi, ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan, melihat apa yang di lakukan Fandi, Farel dapat menyimpulkan jika hal buruk telah terjadi pada Aisyah nya.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, jangan ada yang kamu tutup-tutupi dariku atau aku akan melihatnya secara langsung." Farel berbicara dengan nada sedikit tinggi.
"Baiklah, saya akan memberitahukan kondisi Bu Aisyah, saya tahu ini sudah menjadi hak Pak Farel untuk mengetahui semua tentang istri anda."
"Bu Aisyah masih belum melewati masa kritis, kata dokter kecil harapan untuk hidup, dan_" Fandi menghentikan ucapannya.
"Dan... dan apa Abadi jangan membuatku takut." Farel mulia di landa rasa takut.
"Dan bayi anda tak dapat di selamatkan, saya turut berduka untuk Bayi bapak." tak terasa bulir bening menetes tanpa di minta, impian Farel akan memiliki keluarga kecil yang sempurna, telah sirna. Nyatanya Tuhan lebih sayang pada anaknya, memangil kembali ke sisi-Nya.
"Kamu pasti bercanda kan Fandi, apa yang kamu ucapkan itu semua itu tidak benar kan, bagaimana bisa, aku bahkan belum melihatnya atau sekedar menyentuhnya meskipun dari luar. Lalu dimana Aisyah sekarang, apa dia sudah mengetahui semua ini?" Farel mencerca Fandi dengan pertanyaan yang membuat pertahanannya runtuh juga, Fandi ikut menangis bersama Farel.
Sebagai seorang laki-laki yang biasa di sebut sebagai makhluk paling kuat nyatanya juga memiliki sisi lemah dan akan menangis, kala mendapati dirinya telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Fandi memeluk Farel mencoba menyalurkan kekuatan yang dimiliki untuk bosnya itu.
__ADS_1
Detik berikutnya Farel menarik paksa selang infus yang terpasang pada tangan kanannya, membuat aliran darah mengalir keluar membuat jejak pada tangan Farel. Farel tak menghiraukan omongan Fandi bahkan tenaga Fandi kalah dengan tenaga Farel, meski Farel masih belum cukup kuat untuk berjalan, Farel tetap memaksa untuk pergi dari kamar itu dan menemui sang pujaan hati.
Fandi hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil menunjukkan ruangan Aisyah.
Tanpa menunggu lama, Farel menerobos masuk dengan berjalan sedikit sempoyongan.
"Aisyah...!!" tak kuasa Farel menahan tangisnya, keadaan istri tercinta membuatnya merutuki kebodohannya.
"Buka matamu Aisyah, lihatlah, aku disini di sampingmu, aku tak akan pernah pergi darimu lagi, tak akan pernah aku janji." Farel memeluk Aisyah.
Vika dan Vita cukup terkejut melihat kondisi suami dari sahabatnya itu, keadaannya tak jauh beda dengan Aisyah, namun mereka tak mau banyak bertanya kepadanya, mereka lebih memilih mundur dari tempat Aisyah berbaring dan memberi ruang Farel sebagai suaminya untuk mendekat.
Mereka bertiga sekarang menjadi penonton adegan sedih itu.
Tak kuat menahan tangis, mereka memilih meninggalkan Aisyah dan Farel berdua.
Di luar ruangan ICU Vika dan Vita langsung melemparkan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
"Ini semua ulah dari Bram, ya penculik itu adalah Bram yang di bantu oleh Andre, saat kami telah menemukan keberadaan bu Aisyah, baku tembak tak dapat di hindarkan, Bram lah yang menembak Aisyah hingga jatuh ke jurang, Bram juga yang menembak Pak Farel, meski begitu akhirnya pembuatan onar itu tewas juga setelah mendapat tembakan dari Pak Farel." jelas Fandi panjang lebar.
"Kamu kan di sana bagaimana bisa kalian para bodyguard bisa kalah dengan preman seperti mereka?"
"Itu karena kami terpaksa mengalah, jika tidak Bram akan menjatuhkan bu Aisyah ke jurang, pak Farel saja sempat mengalah, bahkan mendapat pengeroyokan di tempat itu dan kami tak bisa berbuat apapun, itu juga yang menjadi penyesalan kami!!" jelas Fandi menambahkan.
Vika dan Vita kini mengerti keadaan yang dialami pasangan pengantin baru itu. Keadaan rumah tangga yang baru saja membaik, kini telah di uji dengan keadaan yang seperti ini, sungguh malang namun setiap ujian pasti ada hikmahnya.
"Jika kalian mau pulang, pulanglah tapi kembalilah untuk tetap mendampingi bu Aisyah."
"Kami tahu apa yang harus kami lakukan," Vika memiliki untuk bersandar pada kursi pengunjung.
__ADS_1
Farel masih memeluk Aisyah, Farel menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Aisyah nya. Rasa sesak itu sangat menyiksanya, Farel kini hanya berharap agar sangat pujaan hati segera siuman.
Tak lama Aisyah menunjukkan pergerakan pada tangannya, perlahan mata indah itu pun mulai terbuka, namun detik berikutnya Aisyah mengalami kejang yang membuat Farel bertambah takut, dengan sigap Farel memencet tombol otomatis untuk memanggil Dokter serta suster.
"Bertahanlah Aisyah, kamu pasti sembuh, tenanglah jangan seperti ini, aku mohon!!" rasa khawatir semakin menggelayuti pikiran Farel. Farel takut jika Aisyah akan pergi darinya untuk selamanya.
Di luar terlihat Dokter serta suster datang menghampiri ruangan Aisyah dengan sedikit berlari, Fandi serta kedua sahabat Aisyah cukup terkejut melihat itu, pikiran mereka langsung terkoneksi bahwa di dalam ada yang tidak beres.
"Dokter, tolong istri saya, kenapa Aisyah kejang-kejang Dok?"
"Pak Farel mohon tenang, saya akan memeriksa pasien."
Seorang suster meminta Farel untuk keluar dari ruangan agar Dokter bisa bekerja dengan tenang.
Farel hanya bisa pasrah menuruti perintah Dokter, keluar dari ruangan ICU tersebut.
"Pak Farel yang sabar, saya yakin Bu Aisyah pasti baik-baik saja."
Farel hanya menjawab dengan anggukan. Hatinya sungguh sakit saat melihat kondisi istrinya yang seharusnya membaik tapi justru memburuk.
Tak lama Dokter keluar dari ruangan ICU, "Siapa yang bernama pak Farel, pasien ingin bertemu dengannya."
"Saya suaminya Dok."
"Baiklah, silahkan anda masuk, kondisi pasien sudah lebih baik, tapi saya minta jangan terlalu memaksakan untuk berbicara."
"Mas Farel..." Aisyah tersenyum melihat suaminya ada di sampingnya.
Farel meletakkan jari telunjuk di mulut Aisyah tanda meminta untuk tidak banyak bicara.
__ADS_1
"Jangan bicara, istirahat saja aku dini bersamamu." Farel mengelus surai rambut Aisyah, mencoba memberikan ketenangan pada istrinya.