
"Dan apa, ayo katakan aku mendengarkannya, teruskan perkataanmu!" Farel dibuat penasaran akan perkataan Aisyah.
Aisyah tersenyum mendapati dirinya hampir saja mengatakan jika dia ingin sekali mengulang setiap malam yang indah, yang mereka lalui dengan penuh gairah dan hasrat yang menggebu yang berakhir dengan kenikmatan tiada tara.
"Aku hanya ingin mengatakan, mas bau, sekarang pergilah mandi aku akan menunggumu disini." Aisyah sengaja mengalihkan pembicaraan agar Farel tak penasaran dengan perkataannya tadi.
Farel dengan refleks mencium bau ketiaknya yang sebenarnya tidak terlalu berbau, karena Farel selalu memakai parfum. Tapi karena memang benar dia saat pulang belum sempat untuk mandi, karena takut akan keadaan Asiyah hingga lupa kan dirinya sendiri, saat Farel tahu dimana Aisyah, Farel langsung menghampiri Aisyah di teras atas.
Farel memilih turun dan membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Aisyah kembali termenung menatap ribuan bintang yang jauh lebih indah saat dilihat dari teras atas. Seakan bintang-bintang itu terlihat lebih dekat dengannya.
Tak lama Farel bergabung kembali dengan Aisyah, ia mengunakan pakaian yang senada dengan pakaian istrinya hingga malam ini benar-benar dinner romantis mereka.enghampiri Aisyah yang masih setia menatap langit. Memeluknya dari arah belakang, menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajah, semua itu seakan mendukung mereka berdua untuk berbaikan.
"Mas sudah selesai, lebih baik sekarang kita makan terlebih dahulu, jika tidak makanannya akan dingin dan kamu tahu sendiri jika aku tak menyukai makanan yang dingin." tak lupa senyuman manis ia hadirkan di saat bersama Farel.
"Iya, baiklah sekarang kita makan. Aku sudah tidak sabar untuk makan masakan yang lezat ini, pasti rasanya enak karena penuh dengan cinta." Farel menikmati setiap suapan buang masuk ke dalam perut, baginya malam ini masakan Aisyah sangatlah lezat.
Malam ini mereka tampak bahagia. Berbaikan memang hal mudah, yang sulit adalah siapa dulu yang akan memulainya, terkadang ego kita menjadi penghalang untuk memulai sesuatu yang baik. Padahal meski kita tak bersalah sepenuhnya kita bisa saja lebih dulu untuk meminta maaf, tak ada salahnya bukan.
Aisyah hanya tersenyum melihat tingkah Farel yang hampir memakan setengah dari makanan yang terhidang di meja.
"Tenanglah mas, kamu bisa menghabiskan semuanya, namun makanlah secara perlahan." Aisyah sedikit khawatir melihat Farel yang makan dengan sangat cepat.
Selesai dengan Aktivitas makannya, Farel mengajak Aisyah duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan, bahkan Aisyah juga mempersiapkan sebuah tempat tidur meski tidak terlalu luas namun cukup untuk tidur mereka berdua.
Pandangan mereka menuju pada satu obyek bintang yang membentuk sagitarius yaitu bentuk panah.
__ADS_1
"Bintang itu sangat indah bukan, seakan membentuk pola, aku sangat menyukainya sama seperti arti kelahiran ku sagitarius." Aisyah duduk dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Farel, mencari ketenangan dalam pelukan sang suami.
"Iya... bintang itu sangat indah. Seindah wajahmu yang tersenyum."
Mendengar dirinya dipuji, Aisyah memandang wajah suaminya sambil tersenyum.
Untuk sejenak mereka menikmati keindahan dari pasangan masing-masing.
Kina pandangan Farel teralih ke benda mengkilat yang berwarna pink milik Aisyah, benda itu seakan membangkitkan hasratnya yang tadi sempat tertunda. Tanpa bertanya pada Aisyah, Farel melancarkan aksinya mencium Aisyah tanpa henti.
Ciuman Farel yang sangat lembut mampu membangkitkan gairah Aisyah yang sempat padam. Aisyah sendiri mulia terbawa suasana dan ikut membalas setiap perlakuan lembut dari suaminya.
Farel tak melewatkan satu inci pun dari bibir Aisyah semua telah ia jelajahi. Ciuman yang lembut itu pun beralih pada ciuman yang menuntut, hingga sepuluh menit mereka melakukannya tiba-tiba Farel berhenti.
"Kenapa berhenti," tanya Aisyah yang sudah terbuai dengan perlakuan Farel yang mengundang untuk di tuntaskan.
Farel menghempaskan tubuh Aisyah dalam baringan yang sudah dihias begitu indahnya oleh Aisyah. Seakan mereka berdua akan melakukan malam pertama.
Ya tempat tidur itu ide gila Aisyah, atas bantuan dari Fandi Aisyah mengubah teras yang sekarang sudah seperti kamar, namun dengan langit terbuka.
Tanpa melepas ciumannya Farel melancarkan aksinya yang sekarang lebih membuat hasrat mereka naik.
Farel bermain di daerah kesukaannya, cukup lama Farel bermain di bola kembar milik Aisyah yang membuat pemiliknya mengeluarkan kata *******. Hal itu justru semakin membuat Farel menggila.
Entah sejak kapan tubuh Aisyah sekarang telah lepas sepenuhnya dari kain yang sebelumnya terpakai dengan rapi di tubuhnya. Permainan Farel kini beralih pada inti milik Aisyah yang lagi-lagi membuat Aisyah mengeluarkan ******* kenikmatan.
Merasa sudah tak tahan, Farel melancarkan serangan akhir yang penuh dengan tenaga hingga keringat membasahi pelipis mereka berdua, setelah kerja keras, akhirnya Farel dan Aisyah merasakan lava panas telah mengalir, yang artinya permainan mereka telah mencapai puncak.
__ADS_1
Malam itu mereka tertidur dengan keadaan tanpa sehelai benang yang menempel di tubuh, hanya selimut tebal yang menutupi keduanya. Suasana malam itu sangat indah untuk di kenang.
Matahari telah menampakkan sinarnya, menerpa wajah Farel dan Aisyah, Membangunkan kedua insang yang masih terlelap dalam tidurnya. Hingga salah satu dari mereka mengerjab mulai membuka mata.
Senyuman terbit dari Farel yang bangun lebih dulu, mengabaikan matahari dan memandang wajah cantik yang masih terlelap di sampingnya. Untung saja teras itu terletak sangat tinggi hingga tak akan ada yang menyadari jika mereka sedang tidur di atas.
"Kamu sangat cantik, Aisyah, aku sangat beruntung bisa memilikimu dalam hidupku, do'a ku semoga kamu selalu bahagia, aku akan berusaha mewujudkan semua apa yang menjadi keinginanmu." tangan Farel mengelus surai rambut Aisyah yang menutupi wajah cantiknya.
gerakan Farel tersebut membangunkan Aisyah yang tertidur pulas.
"Selamat pagi cantik."
"Pagi sayang, Kamu kok nggak bangunin aku kalau udah pagi." Aisyah duduk mensejajarkan posisinya dengan Farel yang sedang duduk. Keadaan mereka masih sama-sama polos.
"Oh Ya ampun, aku lupa kalau kita sekarang sedang di teras." tangan Aisyah refleks menepuk jidat miliknya sendiri.
"Kenapa Dek, kenapa kamu kaget gitu?" berbanding dengan ekspresi Aisyah, Farel justru terlihat santai saja.
"Kenapa mas nggak panik, kita ada di luar dan kita nggak pakai apapun loh..."
"Kenapa aku harus panik, kita berad di teras atas, lagi pula rumah kita yang paling tinggi dari rumah para tetangga, jadi tak akan ada yang mengetahui aktivitas kita di sini Aisyah, jadi tenanglah. Bukankah kamu sendiri yang merencanakan ini semua kenapa sekarang kamu cemas." Farel tersenyum gemas melihat tingkah istri kecilnya. Umur Farel dan Aisyah terpaut tujuh tahun, itu sebabnya Farel menyebut Aisyah dengan sebutan istri kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa mampir ke karya temanku ya... 😍😍😍
__ADS_1