Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Mengunjungi Panti Asuhan


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, Aisyah bersiap untuk mengunjungi panti, perasaannya hari ini sangat bahagia karena hendak bertemu dengan teman-teman kecilnya.


"Hari ini Farel sangat baik, seakan Ia tahu apa keinginanku, aku akan membelikan mereka banyak hadiah mereka pasti menerimanya dengan sepenuh hati." Aisyah sangat bersemangat terlihat dari wajahnya yang tak hentinya tersenyum.


Farel sendiri masih harus memeriksa File yang harus Ia bubuhi tanda tangan diatasnya. Melihat berapa semangatnya Istrinya maka Ia harus cepat menyelesaikan pekerjaannya.


𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. ucap Farel dalam hati.


Aisyah sudah selesai melakukan Aktivitas berdandan, Biasanya wanita jika akan pergi ketempat yang Ia inginkan akan lebih lama berdandan, tapi berbeda dengan Aisyah, Ia berdandan lebih cepat dari biasanya. setelah bersiap Aisyah pergi menemui suaminya.


"Farel, kamu dimana, katanya kita akan pergi ke panti, aku sudah siap." Aisyah sambil mencari keberadaan Farel yang entah berada di mana.


Farel yang mendengar teriakan dari Aisyah segera keluar dari ruang kerjanya masih dengan kaos dan celana pendek semalam.


"Ada apa Aisyah, kamu tak perlu berteriak aku akan bersiap, tunggu aku sebentar aku akan mandi."


Aisyah tak marah, ia masih tersenyum bahagia. Rasanya tak sabar ingin segera berangkat.


Tangan Farel sudah bisa digerakkan meski harus pelan-pelan, ia sudah tidak mengunakan penyangga tangan.


"Lama sekali Farel, Ia mandi atau tidur dikamar, kenapa tak turun-turun, ini sudah hampir jam delapan, lebih baik aku lihat saja." Aisyah sudah tidak sabar menunggu, satu menit pun terasa berjalan begitu lambat. Merasa tak punya pilihan lain, Aisyah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Farel sendiri sudah bersiap untuk pergi. Farel Memakai jas navy dengan celana senada membuat penampilannya sangat tampan.


Baru beberapa langkah hendak turun Ia berpapasan dengan Aisyah yang tak kalah cantik dengan memakai baju gemis dengan kerudung senada.


Pandangan mereka bertemu, seakan saling mengagumi kecantikan dan ketampanan pasangan masing-masing. cukup lama Aisyah bertatap mata, saat Aisyah menyadari itu, ia segera memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Farel kepadanya,


berbeda dengan Farel Ia tak mau lepas menatap istrinya yang sangat cantik hari ini.


"Kamu sangat cantik hari ini, semoga tak ada yang berniat jahat kepadamu Aisyah, sekarang ayo kita pergi." Farel mengandeng tangan Aisyah.

__ADS_1


Mendengar kata Cantik membuat Aisyah semakin senang, Ia lebih bersemangat untuk pergi dengan Farel. Aisyah Menerima uluran tangan Farel dan melangkah bersama masuki mobil. tak lama mobil pun berjalan meninggalkan halaman rumah, membelah jalanan yang lumayan ramai.


"Kita membeli mainan di toko biasanya Papa dan aku membeli mainan, oke, disitu kami sudah menjadi langganan barangnya juga bagus-bagus." ucap Aisyah sangat antusias.


"Baiklah kita kesana, sesuai keinginanmu tuan putri, hari ini kamu bebas melakukan apa saja, Kamu senang." Farel memberikan senyuman termanisnya.


Tak lama merek A susah sampai di toko mainan, Aisyah langsung aktif membeli mainan kesukaan mereka, lebih tepatnya memborong hampir sebagian dari mainan yang ada di toko tersebut.


Farel yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aisyah yang seperti ini baginya sangat lucu dibandingkan melihat Aisyah yang selalu murung setelah kepergian Papanya.


Setelah memborong mainan mereka pergi menuju panti yang jaraknya tidak terlalu jauh hanya memakan waktu tiga puluh menit dari toko mainan tersebut.


***


"Neng Aisyah, apa kabar neng, sudah lama neng tidak berkunjung kemari mari masuk neng anak-anak pasti senang melihat kedatangan neng," Pak andi merasa senang kedatangan tamu istimewa, pandangannya tertuju pada laki-laki di samping Aisyah. "Ini suami neng Aisyah, Saya sepertinya pernah lihat tapi dimana ya." ucap Pak Andi satpam di panti.


Farel yang mendapat pandangan intens dari pak satpam, mengerti apa yang di maksudkan nya.


"Iya... iya, saya ingat kalau nggak salah namanya Farel." Pak Andi mengingat setelah cukup lama berpikir.


"Apa Bu panti ada, kami hendak bertemu beliau, juga dengan anak-anak." meskipun termasuk tamu istimewa namun Aisyah tetap menjalankan peraturan di panti, Aisyah harus meminta izin masuk terlebih dahulu.


"Masuklah neng, pintu panti ini selalu terbuka untuk Neng Aisyah dan pak Farel." Pak Andi mempersilahkan masuk.


Ruangan yang di tuju Aisyah dan Farel adalah ruangan Ibu Panti, Aisyah sangat merindukannya beliau bisa menjadi sosok Ibu yang Aisyah inginkan.


Tok... tok... tok...


"As'salamualaikum." Aisyah masuk ke ruangan Bu Panti.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Neng Aisyah masuk, Nak." ucap Bu Panti.


Mereka berdua saling berpelukan untuk melepas rindu, memeluk Bu Panti Aisyah merasa seakan Ia memeluk Ibunya. Bu Panti memang sangat menyayangi Aisyah sejak Kecil karena sejak kecil Aisyah selalu di ajak jika berkunjung ke Panti Muara Kasih. namun akhir-akhir ini Ia belum bisa berkunjung, baru sekarang Ia bisa merasakan kenyamanan suasana Panti.


"Duduklah, Ibu senang kamu bisa berkunjung kemari, Ibu turut berduka atas meninggalnya Papamu Nak Aisyah, dan Ibu dengar kamu sekarang sudah menikah, apa itu benar Nak Aisyah?" tanya Bu Panti yang cukup kaget ketika mendengar berita tersebut.


"Saya memang sudah menikah Bu, ceritanya panjang Jika diceritakan. Ini adalah Farel suami saya." kini Aisyah bangga mengatakan Farel adalah suaminya.


"Masyaallah, tampan sekali suamimu, Nak." Bu Panti turut kagum dengan paras suami Aisyah.


"Ibu bisa saja, menilai orang tidak boleh dari ketampanannya Bu melainkan dari hatinya, InsyaAllah, saya bisa menjaga Aisyah sesuai dengan amanat almarhum." Farel tak ingin di puji berlebihan, baginya tampan itu adalah bonus yang terpenting adalah hatinya.


"Suamimu memang benar, semoga pernikahan kalian langgeng hingga ajal yang memisahkan. Ibu selalu mendoakan kalian. Kamu Pasti ingin segera bertemu dengan anak-anak, kan Aisyah." Bu Panti seakan tahu isi hati Aisyah, dan yang dikatakannya itu memang benar.


Farel dengan sigap membawa mainan yang jumlahnya sangat banyak untuk dibagikan kepada anak panti, mereka diminta untuk berbaris agar tak ada yang berebut saat mendapatkan mainan. Dengan Telaten Farel membagikannya satu persatu, terkadang juga Farel membuat sebuah tebakan dimana jika anak-anak panti bisa menjawab dengan benar maka akan mendapat hadiah tambahan.


Farel memang tipe orang yang mudah mengakrabkan diri dengan anak-anak. Itu sebabnya tidak sulit beradaptasi dengan lingkungan Panti.


"Di sini memang sangat menyenangkan, Aisyah, suasana tawa anak-anak yang seolah tak memiliki beban membuat rasa nyaman itu ada."


"Kamu memang benar, dulu aku sering datang kesini saat aku sedang sedih, aku terbiasa curhat kepada Ibu Panti mengenai apapun. Bu Panti bahkan lebih tau aku dibandingkan dengan Papa." Aisyah mengingat masa-masa saat ia sering datang ke panti untuk mencari ketenangan


"Pastilah kamu sangat menyayangi beliau terlihat dari cara kamu memandangnya. Seakan beliau adalah tempat kamu mengadukan masalahmu." Farel duduk di samping Aisyah yang kini duduk di bawah pohon.


Seorang anak perempuan tuna wicara menghampiri Aisyah dan Farel, namanya Dinda. Ia memberikan sebuah mawar merah untuk Aisyah. Dengan senang hati Aisyah menerimanya, bunga mawar itu sebagai bentuk kasih sayang Dinda untuk Aisyah.


"Terimakasih, Dinda. Duduklah disampingku, bagaimana harimu, ceritakan kepada kak Aisyah. Kakak mau dengar." ucap Aisyah.


Karena Dinda merupakan Anak yang tuna wicara, Ia hanya bisa menjelaskan apa maksudnya melalui bahasa isyarat. Aisyah yang sedikit mengerti tentang bahasa isyarat dapat memahami apa yang dimaksud Dinda.

__ADS_1


"Kamu anak yang pintar Dinda, teruslah meraih mimpi meski kamu berbeda, keberhasilan seseorang tidak dilihat dari orangnya tapi dilihat melalui kerja keras yang sudah dikeluarkannya, tetaplah semangat kami akan selalu mendukungmu." ucapan Farel seakan memberi motifasi untuk Dinda.


__ADS_2