Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Hal kecil


__ADS_3

"Hehe... iya... ya..., yasudah kalau gitu kita harus bersiap-siap, sebentar lagi kamu ke kantor kan, aku juga siapkan makanan untuk mu." Aisyah memunguti pakaiannya yang terbuang asal tadi malam dan mulai memakai kembali, begitu juga dengan Farel.


Di dapur, tanggal Aisyah tak henti bekerja, ia sangat lincah dalam hal masak-memasak dan masakannya selalu enak. Itu yang membuat Farel hampir tak pernah makan di luar. istrinya itu selalu bisa memanjakannya lewat perut.


Farel sendiri turun dengan pakaian sudah rapi hendak pergi ke kantor, ia menghampiri istrinya yang terlihat serius memasak di dapur. Berjalan mengendap-endap kemudian memeluk Aisyah dari belakang membuat Aisyah mau tak mau harus berhenti memasak sejenak. Farel seakan tak mau jauh dari istrinya. Seperti lem dan prangko tak bisa di pisahkan. Sikap manja Farel sangat disukai oleh Aisyah, itu artinya Farel sangat mencintainya.


"Hari ini kamu masak apa, nanti sekalian bawakan aku bekal untuk makan siang, dan apa boleh aku minta sesuatu ke kamu, Dek?"


Aisyah mengerutkan keningnya, "Kamu mau minta apa Mas?"


"Aku ingin kamu mulai belajar mengenai perusahaan Papa. Aku akan menjelaskan beberapa poin penting, kamu ikut ke kantor ya hari ini."


Aisyah yang mendengarkan perkataan Farel, cukup terkejut, "Apa harus nanti, aku... aku nggak tahu banyak megenai perusahaan Papa loh Mas. Tapi, Baiklah aku akan ikut ke kantor, lagipula aku lagi nggak ada kelas kuliah jadi aku bisa ikut Mas sekalian aku mulai belajar masalah bisnis." Aisyah sempat ragu namun pada akhirnya ia menyetujui apa yang diminta Farel.


Farel melepaskan pelukannya, ia kemudian mensejajarkan dirinya dengan Aisyah, melihat apa yang sedang Aisyah masak.


"Baunya lezat sekali, apa saja yang kamu tambahkan dalam masakanmu, sehingga baunya saja selezat ini."


"Resepnya cuma satu, aku kasih bumbu cinta dan kasih sayang, biar kamu sayang terus sama aku, nggak akan berpaling ke lain hati."


Kata orang, soal urusan masak memasak, enak atau tidaknya itu tergantung dari hati yang memasak jika saat kita memasak dengan hati yang senang maka rasa dari masakan kita akan lebih enak dan jika memasak dengan perasaan kesal atau marah rasa masakan kita jadi ambyar.

__ADS_1


kembali ke Farel Aisyah,


Satu tangan Farel hendak mengambil ikan yang sudah matang, namun seketika Aisyah menepis tangan Farel.


"Nanti, tunggu semuanya matang baru kita makan, sekarang lebih baik kamu tunggu aku di meja makan, aku akan segera mengantarkan ikan ini ke meja makan." Farel hanya bisa mengangguk dan menuruti keinginan Aisyah sambil berjalan ke meja yang letaknya tak jauh dari dapur, sehingga dari arah meja pun Farel tetap bisa melihat Aisyah.


Sepuluh menit kemudian Masakan Aisyah telah siap semua, hanya tinggal membawanya ke meja makan.


Senyum Farel terbit saat melihat istrinya berjalan menghampirinya dengan membawa makanan di tangannya.


"Akhirnya selesai juga, ayo kita makan bersama." Farel tak mau makan sendiri, ia ingin di temani Aisyah, Aisyah duduk di samping Farel dan mulai makan bersama.


Saat sedang asik menikmati masakan yang Aisyah buat, handphone Farel berdering, nama yang tertera di layar adalah tante Riska, ibu dari Ririn yang


Farel yang melihat nama tersebut engan untuk menerima panggilan tersebut, ia ingin menjauhi Ririn, mungkin dengan begitu sahabatnya itu bisa move on darinya.


"Siapa, kenapa tidak di jawab?" Aisyah penasaran siapa yang menghubungi Suaminya, meski tak ada rahasia di antara Farel dan Aisyah. Aisyah tetap menayakanya agar hatinya tenang.


"Tante Siska, ibunya Ririn, entah ada apa beliau menghubungiku, tapi ya sudahlah, jika aku terus berhubungan dengannya maka Ririn tak akan bisa melupakan aku, lebih baik sekarang aku menghindar dulu. Itu lebih baik, baik untuk kita juga baik untuk Ririn." Aisyah hanya memperhatikan setiap ucapan Farel, ia juga setuju dengan keputusan Farel.


Satu kali Farel mengabaikan, namun handphone itu justru tak mau berhenti berbunyi, tante Siska terus saja menghubungi Farel hingga akhirnya Farel harus mematikannya.

__ADS_1


Selesai makan, Farel menunggu Aisyah yang hendak ikut ke kantor untuk belajar mengenai perusahaan milik papanya.


Seperti biasanya Penampilan Aisyah mampu menghipnotis Farel hingga Aisyah sudah berada di hadapannya saja Farel masih tak menyadarinya. Aisyah yang menyadari itu menjentikkan jarinya untuk buyarkan lamunan Farel.


"Hari ini kamu terlihat sangat cantik, wahai bidadari surgaku, semoga tidak ada yang berniat jahat kepadamu, Dek. kamu siap, ekarang kita berangkat."


"Mas bisa saja, jika ada yang berniat jahat kepadaku, aku mempunyai pelindung yang akan menyelamatkan aku dari bahaya itu, bukan, jadi aku nggak perlu khawatir." Aisyah menampilkan senyum mengembang.


Farel hanya tersenyum. Membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya, jika memang Farel lah yang akan maju lebih dulu, jika ada yang menyakiti Aisyah nya.


Tak lama mereka telah sampai di Kusuma Grup, Farel turun dan seperti biasa berlari kecil untuk membukakan pintu untuk Aisyah tak lupa tangannya di taruh pada kepala Aisyah agar tak terbentur. Perlakuan manis Farel pada istrinya membuat semua karyawan yang melihat merasa iri, Farel telah meratukan Aisyah.


"lihat itu manis sekali, aku juga mau dong diperlakukan kayak gitu. Apalagi yang melakukannya Pak Farel." ucap Riska dan temannya yang juga karyawan kantor. Mereka masuk dan berjalan menuju lift, menekan tombol yang akan membawanya ke ruangan kerja milik Farel. Di dalam lift hanya ada Farel dan Aisyah, mereka bahkan tak menyia-nyiakan kesempatan bermesraan di dalam lift. Farel yang sudah ingin sekali mencumbu Aisyah katena terpana dengan kecantikannya langsung saja mendaratkan bibir nya pada bibir pink milik Aisyah, Farel tak perduli jika mereka sekarang sedang berada di dalam lift, ia ingin sekali merasakan bibir mungil milik Aisyah, yang saat Farel melihatnya saja langsung ingin menerkam bibir itu. Sekitar tiga menit sebelum lift terbuka, Farel telah mengakhiri ciuman tersebut, baik Farel dan Aisyah kembali merapikan posisi mereka. Pintu lift terbuka, Farel membawa Aisyah keruangan kebesarannya.


Hari ini pekerjaan Farel tidak terlalu banyak, sehingga dapat menerangkan poin-poin penting dalam sebuah perusahaan yang dia pimpin. Juga cara kerja dalam perusahaan milik Papanya.


Aisyah berusaha menyimak, meski masih sedikit bingung, namun ia berusaha untuk memahaminya dengan baik.


Detik berikutnya penjelasan yang Farel berikan justru membuat Aisyah menguap. Farel yang menyadari itu hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah istri kecilnya.


"Sudah ya Mas, aku ngantuk, besok aja ya jelasinnya lagi, lagipula yang tadi pun aku masih ada yang aku nggak ngerti, mending sedikit-sedikit saja yang penting aku udah tahu meskipun nggak banyak." Aisyah menampilkan wajah memelas, berharap Farel menyudahi penjelasan mengenai perusahaan kepadanya.

__ADS_1


"Yasudah, jika kamu inginnya begitu, kita lanjut kapan-kapan jika kamu sudah siap saja. Aku nggak akan memaksa kamu, jika aku paksakan yang ada penjelasan aku nggak kamu pahami."


__ADS_2