Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Permintaan Ririn


__ADS_3

Butuh waktu sekita empat puluh lima menit untuk sampai di kediaman Ririn.


Farel berjalan memasuki mobil kemudian melakukannya dengan kecepatan di atas rata-rata pikirannya tertuju pada setiap perkataan tante Siska mengenai Ririn.


𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. Farel berucap dalam hati.


Tak butuh waktu lama mobil Farel telah tiba di depan rumah Ririn.


Tante Siska yang mengetahui jika Farel telah tiba menghampirinya dan meminta agar segera menemui Ririn.


"Nak Farel, akhirnya kamu datang juga, bantu tante, tante nggak bisa lihat Ririn seperti ini ia seperti kehilangan jati dirinya. Tolong bicara sama Ririn ya, siapa tahu dia mau mendengarkan mu dan bisa lebih tenang. Mari tante antar ke kamar Ririn." Farel berjalan mengikuti tante Siska, ia memperhatikan seisi rumah yang tampak berantakan akibat dari Ririn yang mengamuk.


Tok... tok...tok...


ckkklle...


Pintu terbuka menampilkan keadaan kamar Ririn yang sudah seperti kapal pecah, semua benda berserakan di mana-mana dan ada beberapa pecahan kaca ikut menghiasi kamarnya akibat terkena lemparan vas dari Ririn.


Ririn sendiri saat mengetahui jika orang yang membuatnya sampai segila ini telah datang menemuinya berlari memeluk Farel, seakan ia sangat merindukan Sosok Farel dalam hidupnya.


"Jangan jauh-jauh dariku, Aku mohon." Ririn menangis di pelukan Farel hingga membuat kemeja yang ia gunakan sedikit basah terkena air matanya.

__ADS_1


"Tenanglah, aku di sini. Sekarang kita duduk dan berceritalah kepadaku kenapa kamu melakukan semua ini, apa kamu tidak berpikir tindakan ini membuat mamamu yang sangat menyayangimu bersedih!" Farel bertanya dengan hati-hati, berusaha mencari sebab mengapa Ririn melakukan semua ini. Ririn tersenyum getir, "Apa aku begitu buruk, hingga kamu mau menjauhiku, kamu bahkan tak mau menemuiku lagi, Alasanku melakukan ini hanya kamu, hanya kamu!!"


Dahi Farel berkerut mendapat jawaban dari Ririn, seolah Ririn menyalahkannya atas apa yang menimpanya. Yang sebenarnya semua yang terjadi kepadanya itu akibat dari ulahnya sendiri.


"Kenapa karena aku, aku tak melakukan kesalahan apapun padamu, bahkan aku tak pernah menyakitimu. Lalu kenapa kamu menyalahkanku." nada suara Farel sedikit naik, ia tak Terima jika Ririn menyalahkannya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tak mau sendiri, tetaplah bersamaku kita hidup berdua, berbahagia, tinggalkan Aisyahmu itu. Kita mulai semuanya dari awal sebelum ada Aisyah di antara kita, aku mohon Farel." bulir bening memenuhi pupil mata Ririn siap untuk meluncur kapanpun, keadaannya begitu menyedihkan setelah Farel memutuskan semua hubungan dengannya, ia mulai mengkonsumsi obat-obatan terlarang hanya untuk membuatnya tenang, sudah hampir dua bulan ini Ririn mengkonsumsi obat haram itu. meskipun tidak setiap hari namun cukup sering jika ia mengingat Farel yang meninggalkan dirinya demi Aisyah semata.


"Apa yang kamu katakan, aku tak mungkin meninggalkan Aisyah. Dia adalah istri sah ku, aku sangat mencintainya. Tak pernah terpikir olehku untuk meninggalkannya. Justru kamu yang harus melupakanku dan membuka lembaran baru." Farel berharap Ririn bisa mengerti apa yang dikatakannya.


Mata Ririn tertuju pada serpihan kaca yang tergeletak di lantai, setelah mendapat penolakan berkali-kali dari Farel Ririn lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Dengan langkah cepat Ririn mengambil serpihan tersebut meletakkannya tepat di saluran nadinya, "Jika kamu tidak bisa bersamaku maka aku lebih baik mati daripada hidup tanpamu. Aku sungguh tak sanggup." tangis Ririn pecah, ia sangat frustasi.


Melihat pertengkaran antara ibu dan Anak, Farel kini ikut mencoba menghentikan kegilaan Ririn.


"Ririn, jangan per ah katakan kalau kamu sendiri masih ada aku disini, lihatlah aku disampingmu, kamu tak kehilangan sahabatmu, aku akan selalu menjadi sahabatmu, sekarang apa kita bisa duduk, aku ingin berbicara banyak kepadamu." Dengan perkataan manis Farel mulai mendekati Ririn, langkahnya begitu pelan hingga Farel bisa merebut pecahan kaca yang berada di tangan Ririn. Ririn sendiri ikut terlibat buai dengan apa yang di katakan Farel, hingga ia sendiri tak menyadari kaca yang di pegang sudah hilang dibuang entah kemana.


"Kamu sungguh tak akan pergi dariku, kamu akan selalu menemaniku dan akan selalu ada untukku." Ririn menatap mata Farel berharap ada sedikit harapan untuknya hidup.


"Iya, aku akan ada untukmu." Farel hanya bisa pasrah yang terpenting sekarang adalah Ririn mau mendengarkan setiap perkataannya.

__ADS_1


Tante Siska ikut lega setelah adegan hendak bunuh diri Ririn bisa Farel gagalkan.


Farel untuk waktu yang cukup lama, menunggu sahabatnya itu hingga tertidur, Ririn tak melepaskan pegangan tangannya, ia tak mau Farel pergi darinya. Setelah di rasa Ririn telah tertidur pulas, Farel memindahkan tangan Ririn yang memegang erat tangannya.


***


Di dapur Tante Siska hendak menyiapkan makan malam, ia tak enak hati kepada Farel, karena telah membantu membuat Riri lebih tenang. Sebagai ucapan terima kasih Farel diajak untuk menikmati makan malam bersama.


Farel sendiri tak enak jika menolaknya maka dia sempatkan makan walau hanya sedikit.


"Tante setelah ini saya permisi pulang, Aisyah pasti sudah menunggu saya di rumah, karena tidak biasanya saya pulang selarut ini. Jika ada apa-apa dan tante nggak bisa atasi keadaannya, tante bisa hubungi saya, saya pasti bantu sebisa saya."


"Terimakasih, Nak Farel, kamu sudah sempatkan untuk datang kesini, bantuanmu sungguh sangat berarti bagi tante."


Farel mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Ririn, pikirannya sekarang tertuju pada Aisyah yang pastinya sudah menunggu kedatangannya sejak tadi sore.


***


Aisyah berjalan mondar-mandir di ruang tamu, berulang kali ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia menunggu dengan gelisah takut jika Suaminya Farel kenapa-napa.


𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘔𝘢𝘴, 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘱𝘩𝘰𝘯𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬-𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴. Aisyah masih menunggu dengan gelisah, Aisyah tak bisa tenang walau sedetikpun.

__ADS_1


Deru mobil Farel terdengar masuki halaman rumah, Aisyah yang mendengarnya langsung menghampiri suara itu berasal, pengemudinya tampak turun masih dengan pakaian kantor, Aisyah pun langsung berhambur ke pelukan sang suami. "kenapa baru pulang, aku sudah menuggumu dari tadi, seharusnya jika mau pulang terlambat kamu beritahu aku, jadi aku nggak gelisah pikirin kamu kemana." tutur Aisyah sedikit kesal.


__ADS_2