Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 10 pujian dari Kinanti


__ADS_3

Jawaban itu membuat Kinanti begitu kagum pada suaminya, hatinya sangat nyaman, tapi beberapa detik kemudian suaminya hanya diam, menatap makanan itu dengan pikiran entah kemana.


Kinanti yakin kalau luka hati suaminya begitu dalam saat menatap mata suaminya yang penuh dengan kekecewaan, ia tidak tau harus mengatakan apa, ia ingin tau tentang permasalah ke dua mertuanya, tapi ia sama sekali tidak berani bertanya, ia takut pertanyaannya melukai hati suaminya, yang bisa ia lakukan hanya memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Ali, maaf aku lancang ingin tau permasalahan orang tuamu, sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu?"


Kinanti bertanya dengan hati-hati pada suaminya, ia memang sangat penasaran, tapi ia juga tidak mau melukai hati suaminya oleh pertanyaannya.


"Kamu tidak perlu minta maaf."


Ali membalas pelukan dari istrinya dengan sangat erat.


"Saya merasakan sakit hati saat Ayah yang selalu menyayangi saya nyatanya itu hanya palsu, Ayah hanya menginginkan harta Bunda, Ayah tidak pernah menginginkan saya dan Bunda. Kejujuran itu keluar dari mulut Ayah saya sendiri, lebih parahnya saat istri pertamanya mengatakan Bunda saya pelakor, jelas-jelas Bunda tidak tau apa-apa, kalau saja Bunda tau mana mungkin Bunda mau menikah dengannya."


Kinanti menghela napas berat saat mendengar penjelasan dari suaminya, tidak heran kalau suaminya seperti sangat membenci Ayahnya sendiri walau pun suaminya memiliki iman.


"Menurut kamu apa saya orang jahat karena saya belum bisa berdamai dari masa lalu saya dan belum bisa memaafkan Ayah saya sampai sekarang?"


"Kamu bukan orang jahat Ali, kalau saya jadi kamu juga merasakan hal yang sama, mungkin bukan hanya membencinya, tapi aku menginginkan keluarga itu hancur di tanganku."


Bagi Kinanti suaminya bukan orang jahat, bahkan suaminya hanya membeci Ayahnya, tapi kalau ia menjadi suaminya mungkin ia sudah membalas dendam pada Ayahnya.


Kinanti langsung melepaskan pelukannya dari suaminya, ia menghapus air mata suaminya dengan ke dua ibu jarinya, sesekali juga menghela napas berat, menurut ia suaminya adalah lelaki yang hebat, tanpa bimbingan ke dua orang tuanya, tapi suaminya bisa menjadi seorang ketua dewan santri.


"Ali, nanti setelah kamu ke pesantren dan mencari asisten rumah tangga, aku mau yang tua saja, aku tidak mau yang muda."


"Memangnya kenapa?"


Ali bertanya dengan mengerutkan keningnya.


"Aku hanya takut nanti seperti di sinetron-sinetron dan novel-novel suaminya selingkuh dengan asisten rumah tangga, terus aku di buang sama kamu. Ah pakonnya jangan yang muda, aku tidak mau itu terjadi, masa belum saling jatuh cinta sudah kandas duluan kan tidak lucu!"

__ADS_1


Ucapan ini memang dari hati Kinanti, entah kenapa ia sama sekali tidak memikirkan masalah Aska dari kemarin, kehadiran suaminya mampu membuat ia tenang, untuk itu ia tidak mau kalau suaminya itu di tikung wanita lain, ia yakin kalau cintanya itu sudah ada untuk suaminya, rasa sakit hati yang di alami suaminya mampu menusuk ke rulung hati terdalamnya.


"Jadi kamu cemburu?"


"Siapa yang tidak takut di ambil orang kalau suaminya tampan, imut, pintar agama, tegas dan selalu berpikir dewasa? Kamu itu mahluk paling sempurna yang di ciptakan oleh Allah, jadi pakonnya aku tidak rela di tinggal kamu!"


Setelah mengatakan itu Kinanti menutup mulutnya, ia tidak sadar telah memuji suaminya dan mengatakan tidak mau kehilangan suaminya.


Ali tersenyum lebar, rasa sedih itu menjadi rasa bahagia saat mendengar kejujuran dari istrinya.


"Jadi kamu sudah mulai ada perasaan pada anak kecil seperti saya?"


Ali bertanya sambil menaik turunkan satu alisnya.


"Ih kamu ternyata bisa menyebalkan juga!"


Tawa Ali pecah saat mendengar ucapan dari istrinya, ia merasa hidupnya sudah berwarna semenjak menikahi Kinanti.


"Tunggu dulu Li, kalau pak kiai meminta kamu untuk menikahi Ning Alisah untuk menjadi istri ke dua kamu, apa kamu mau mempoligami aku? Secara di kalangan pesantren sudah hal lumrah memiliki istri dua."


"Kalau istri saya mengijinkan apa salahnya? Apa lagi seorang istri yang mengijinkan suaminya untuk menikah lagi jaminannya surga."


"Surga sih surga, tapi aku tidak mau berbagi suami, apa lagi kamu menikahi Ning Alisah yang sangat ta'at agama sama seperti kamu, kesannya yang jadi benalu itu aku!"


"Jadi kamu mengijinkan saya untuk menikah lagi dengan seorang model atau seorang artis contohnya?"


"Dasar bocil! Lama-lama aku potong juga burung kamu kalau sampai kamu melakukan itu!!"


Kinanti berteriak marah saat mendengar pertanyaan dari suaminya dengan mata menatap tajam pada suaminya. Saat melihat istrinya emosi Ali langsung berdiri dari duduknya, ia langsung mengecup kening istrinya cukup lama, lalu langsung memeluk istrinya sambil membisikan sesuatu di telinga istrinya.


"Biasakan istighfar, jangan sampai emosi menguasai hati kamu, saya tidak akan mempoligami kamu, cukup Bunda saya yang pernah di poligami. Saya tidak ingin menyakiti hati sesama wanita, kamu adalah bidadari yang di kirim oleh Allah untuk saya. Saya berharap kalau kita di persatukan bukan hanya di dunia, saya berharap kalau kita di persatukan di surganya."

__ADS_1


Kinanti langsung memeluk suaminya dangan erat, air matanya langsung mengalir deras, bukan air mata kesedihan, tapi itu adalah air mata kebahagiaan saat mendengar ucapan suaminya yang sangat indah, selama ia pacaran bersama Aska, Aska tidak pernah mengatakan kata-kata tanpa gombalan, namun terdengar indah.


Setelah 2 menit mereka berpelukan kini mereka langsung melepaskan pelukannya. Ali sangat terkejut saat melihat istrinya menangis.


"Kenapa jadi menangis, apa ucapan saya salah?"


"Dasar bocil merusak suasana romantis saja!"


Kinanti berbicara sambil mengusap air matanya dengan sangat kasar.


"Jangan di usap seperti itu Kin."


Ali berbicara sambil memegang tangan istrinya, lalu ia langsung menghapus air mata istrinya, setelah selsai ia mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


Saat suaminya mendekatkan wajahnya membuat detak jantung Kinanti berdetak lebih cepat, ia memejamkan mata dan berharap kalau suaminya mencium bibirnya, tapi harapannya pupus ternyata suaminya itu mengecup ke dua matanya.


"Jangan menangis kamu sekarang harta berharga saya yang ke dua selain Bunda."


Kinanti tersenyum lebar sambil membuka matanya, walau pun ia tidak mendapatkan ciuman bibir, tapi ia sangat bahagia saat suaminya mengatakan kalau ia harta berharganya.


"Mulut kamu manis sekali Ali, aku jadi semakin gemas sama kamu!"


Kinanti berbicara sambil mencubit ke dua pipi suaminya layaknya anak kecil. Ali hanya tersenyum lebar saat mendapat cubitan pelan dari istrinya.


"Ayo sarapan, telurku nanti berbau amis kalau tidak di makan hangat."


"Iya sudah ayo."


Mereka berdua langsung duduk, Ali langsung memimpin do'a makan. Setelah selsai mereka langsung sarapan dengan Kinanti yang terus memandang wajah suaminya yang hanya fokus pada makanan.


Wajah suaminya menurut Kinanti tidak bosan untuk di pandang, apa lagi saat suaminya mengatakan kalau suaminya mau mencari wanita yang mau di bimbing olehnya bukan karena keahlian apa pun, ia merasa sangat beruntung karena Allah telah memberikan Ali sebagai suaminya dan mungkin menurutnya Allah memberikan Ali sebagai suaminya agar ia bisa kembali kejalannya lagi. Tidak ada pembicaraan dari mereka berdua, mereka makan dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2