Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 78 Kebohongan Anisa


__ADS_3

Setelah kejadian di mana Ali sangat kecewa pada Bundanya, pagi ini Ali mengajak istrinya untuk membeli gamis dan hijab, ia akan mengajak istrinya ke pesantren.


Wajah Kinanti terlihat lelah karena lembur semalaman, ia juga tidak begitu semangat saat sarapan, apa lagi semalam ia berkali-kali meminta nambah karena perkara Ning Alisah membuat ia gila untuk bercinta.


Kinanti ingin segara benih suaminya jadi buah cinta mereka agar ia tidak terus-terusan cemburu, setidaknya ia jauh lebih tenang setelah memiliki anak karena ia yakin suaminya tidak akan berpaling dengan wanita lain kalau sudah memiliki anak, kalau sekarang walau pun suaminya tidak memikirkan tentang itu ia masih tetap cemburu tidak jelas.


"Jamila, kamu yakin ikut Mas beli gamis, atau Mas saja yang beli gamis? Mas tidak tega melihat kamu kecapean seperti itu."


"Habis punya Mas itu kuat banget, bisa menggempur Jamila sampai pagi."


Ali hanya tersenyum meringis sambil mengingat kejadian semalam, bukan ia yang salah memang istrinya yang terus ingin melakukannya, bahkan ia dan istrinya hanya sholat tahajud saja, biasanya ia membaca ayat suci Al-Qur'an sambil menunggu adzan subuh, tapi semalan ia tidak membaca ayat suci Al-Qur'an karena istrinya meminta nambah lagi.


Sebenarnya Ali merasa aneh dengan permintaan istrinya semalam yang bermain hingga tiga ronde, biasanya hanya dua ronde saja, tapi ia tidak berani bertanya dan tidak berani pula menolak walau pun pinggangnya sudah terasa sakit.


"Lagian Jamila tidak seperti biasanya, biasanya Jamila meminta dua ronde, ini sampai tiga ronde, milik Mas memang kuat, tapi pinggang Mas berasa sakit tau."


Anisa yang mendengar ucapan dari anak dan menantunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sangat bingung karena anak dan menantunya itu selalu saja menyosor tidak tau tempat, dan berbicara prontal tidak tau tempat.


"Kalian berdua pagi-pagi sudah membahas masalah ranjang, heran Bunda sama kalian yang sama-sama gila ranjang."


Anisa berbicara sambil tersenyum lebar, ia sudah rapih dan sudah menjingjing tas untuk pergi ke kantor karena pagi ini hari pertama Aska kerja, jadi ia harus membuat Aska nyaman di kantornya.


Kinanti hanya tersenyum meringis saat ucapan prontal dari ibu mertuanya yang berbicara sangat santai walau pun ibu mertuanya sangat sholehah, tapi saat berbicara dengannya ibu mertuanya tidak memikirkan tentang ke sopanan.


"Eh Bunda, pagi-pagi begini mau kemana?"

__ADS_1


"Mau ke kantor, hari ini pertama Aska masuk kerja di kantor Bunda, jadi Bunda harus memberi arahan langsung."


Ali diam sesaat saat mendengar jawaban dari Bundanya, ada yang aneh menurutnya, kenapa Kakaknya tidak bekerja di kantor orang tuanya saja, dan ia juga merasa aneh dengan Bundanya, kenapa Bundanya memberikan arahan langsung, kenapa tidak menyuruh asisten pribadinya saja, sungguh membuat ia bingung.


Sedangkan Kinanti sangat terkejut saat Aska mau bekerja di perusahaan orang lain, apa lagi selama ini Aska jarang sekali datang ke kantornya saat ia masih menjalin hubungan sebagai kekasih, tapi kali ini Aska mau bekerja.


"Apa Bunda tidak merasa aneh dengan tingkah Aska?"


Kinanti bertanya dengan raut wajah bingung, ia yakin kalau dugaannya benar kalau Aska memang mencintai ibu mertuanya.


"Aska itu lelaki baik Jamila, bagus dong kalau Aska mau belajar mandiri, memangnya Bunda salah kalau memberikan arahan langsung padanya?"


Belum sempat Kinanti menjawab ucapan dari ibu mertuanya, tapi suaminya lebih dulu berbicara.


"Apa Bunda mau berdua-duaan sama Kak Aska atau jangan-jangan Bunda naksir sama Kak Aska?"


Anisa menghela napas berat saat mendengar tuduhan dari putranya, ia bukan mencintai Aska, tapi ia ingin lebih dekat lagi dengan Aska agar Aska hanya menganggapnya sebagai seorang Bunda, ia tau kalau Aska mencintainya, tapi kalau ia menjauhi Aska, Aska pasti akan bersikap kanak-kanakan lagi, ia ingin Aska menjadi lelaki bertanggung jawab tidak seperti Papanya dan ia juga sekarang mulai berdo'a agar Aska bukan lelaki yang di tulis di Lauhul mahfuz.


"Bunda tidak memcintainya nak, Aska lebih cocok menjadi putra Bunda."


"Atau Aska lelaki yang ada dalam mimpi Bunda untuk itu Bunda mencoba mendidik Kak Aska lebih baik lagi agar kelak menjadi lelaki yang bertanggung jawab tidak seperti Ayah?"


Pertanyaan putranya mampu membuat Anisa diam beberapa menit saat putranya menebak Aska adalah lelaki dalam mimpinya, ia tidak tau bagai mana harus menyikapi semuanya saat Aska memang lelaki dalam mimpinya.


Kinanti menghela napas berat, ia yakin kalau Aska adalah lelaki dalam mimpi ibu mertuanya saat melihat ibu mertuanya hanya diam membisu.

__ADS_1


"Aku yakin kalau Aska adalah yang dalam mimpi Bunda, kalau benar bagai mana dengan Mas Ali? Apa Mas Ali akan memanggil Kaka atau Ayah? Ya Allah, rumit sekali ternyata." batin Kinanti


"Bunda tidak bisa menyimpulkan siapa lelaki dalam mimpi Bunda, wajahnya masih tidak jelas untuk Bunda tebak."


Setelah mengatakan itu Anisa menghela napas berat.


"Maafkan Bunda nak karena Bunda telah membohongimu, maafkan hamba ya Allah, karena telah berbohong. Hamba tidak tau harus bagai mana, tapi hamba berharap semoga bukan Aska yang tertulis di lauhul mahfuz." batin Anisa


"Bibir Bunda bisa mengatakan begitu, tapi hati Bunda tidak demikan. Bunda, Ali pernah menjadi pengacara, tentu saja Ali tau kalau Bunda sedang berbohong, Ali bisa tau dari tatapan mata Bunda, sebagai pengacara, Ali selalu melakukan sesuatu dengan sangat teliti."


Ali berbicara sambil mengajak Bundanya untuk duduk karena dari tadi Bundanya hanya berdiri, ia tau kalau Bundanya itu bermimpi dengan sangat jelas, walau pun ia tidak tau kalau ternyata ucapannya itu benar kalau Kakaknya yang ada dalam mimpi Bundanya.


Anisa hanya menghela napas panjang, ia lupa kalau putranya pernah menjadi pengacara, tentu saja putranya sangat mudah untuk menebak isi hatinya.


Sedangan Kinanti hanya tersenyum samar, saat ibu mertuanya yang ta'at agama ternyata membohongi putranya sendiri, tidak heran kalau suaminya pernah mengatakan saya bukan malaikat yang selalu benar, bukan juga setan yang selalu salah, tapi saya hanya manusia biasa jadi pernah melakukan kesalahan dan kebenaran.


Seperti sekarang ibu mertuanya hanya orang biasa, walau pun sangat ta'at agama, tapi ibu mertuanya masih bisa berbohong.


"Siapa pun lelaki yang ada dalam mimpi Bunda, Ali berharap bukan Kak Aska atau Ayah, jujur saja Ali tidak akan pernah ridho kalau Bunda di nikahi salah satu dari mereka."


Anisa menundukan kepalanya, ia bingung harus menjawab apa, bagai mana kalau ia benar di nikahi oleh Aska, membuat ia bingung harus bagai mana.


"Bunda sudah tidak ada perasaan dengan Ayahmu."


"Apa Bunda memiliki perasaan pada Kak Aska?"

__ADS_1


"Bunda juga tidak memiliki perasaan dengan Aska."


"Syukurlah kalau begitu, Ali tau kalau Kak Aska mencintai Bunda, bagai mana pun Ali seorang lelaki, tapi Ali berharap Bunda tidak akan menikah dengan Kak Aska, karena kalau sampai itu terjadi Ali sangat kecewa."


__ADS_2