Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 12 Ali datang


__ADS_3

Lia yang selaku menajer Lisa ia akan membantu Lisa, ia akan memukul Kinanti, tapi Riana dengan sigap menepis tangan Lia dan langsung menampar balik ke arah Lia


Plak...!


"Kalau kamu tidak ingin memiliki nasib seperti Lisa lebih baik kamu diam bodoh!"


Mata Riana menatap tajam pada Lia, walau pun ia sudah di berhentikan, tapi ia tetap membela Kinanti karena Kinanti adalah orang yang telah menanggung biaya oprasi ibunya secara cuma-cuma tanpa imbalan apa pun, jadi jika ada masalah dengan Kinanti, ia siap pasang badan untuk melindungi Kinanti.


Aksi mereka akhirnya di rekam oleh banyak model di sana. Lisa sama sekali tidak melawan saat melihat banyak model yang merekam aksi Kinanti, bahkan ia bukan hanya ingin citra Kinanti jelek, tapi ia ingin citra Kinanti rusak seperti pecahan kaca.


Selama ini Lisa bosan berpura-pura menjadi sahabat Kinanti, berpura-pura menjadi baik pada Kinanti, ia benci pada Kinanti yang bisa memiliki segalanya.


"Kin lepas, mereka sedang merekam aksi kamu!"


"Aku tidak mau melepaskan Lisa. Lisa sudah ketrlaluan menghinaku!"


Riana langsung melepas paksa tangan Kinanti, lalu langsung memeluk Kinanti, ia tau kalau amarah Kinanti sedang tidak setabil.


Apa lagi Kinanti baru saja di pecat dari pekerjaannya, menjadi model adalah impian Kinanti dari kecil, belum lagi sekarang di hina habis-habisan oleh Lisa, wanita berkedok sahabat, tentu sangat berat untuk Kinanti.


"Aku tidak terima! Aku akan menuntut kamu ke jalur hukum atas khasus penganiyayaan!"


Lisa berteriak marah sambil memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Kinanti langsung melepaskan pelukan Riana saat mendengar suara Lisa menggema.


"Saya tidak salah! Kamu yang salah Lisa!"


"Di mana letak kesalahanku? Kamu menamparku dan menjambak rambutku, kamu iri sama aku karena yang akan menjadi model utama itu aku?"


Suara Lisa sangat lemah lembut, tidak ada suara bentakan saat ada Arga hadir di sana. Arga memang ingin melihat ada ribut-ribut apa hingga terdengar sampai ruanganya.


"Kamu apa-apaan Kinanti?! Kamu ingin wajah model saya rusak karena kamu?!"


Arga langsung berteriak saat melihat sudut bibir Lisa mengeluarkan darah.


"Lisa duluan yang menghina saya, memangnya salah kalau saya membela diri saya?!"


"Saya tidak menghina Kinanti pak sungguh."


Rasanya Kinanti ingin sekali menyumpal mulit Lisa memakai sendal karena suaranya lembut Lisa yang di buat-buat.


"Dasar wanita bermuka dua!"


"Lihat lah pak, sepertinya Kinanti benci sekali pada saya."

__ADS_1


Lisa berbicara dengan wajah memelas saat ada Arga, tidak ada wajah angkuh seperti tadi.


"Saya mau kamu minta maaf Kinanti!"


Arga berbicara sambil menatap tajam pada Kinanti.


"Saya tidak salah! Saya tidak akan minta maaf!"


"Kamu bilang kamu tidak membuat salah setelah kamu membuat keributan di sini dan menampar Lisa?!"


Kinanti menghela napas kasar sambil menatap tajam pada Arga.


"Sudah saya bilang kalau saya tidak salah!"


Arga menghela napas kasar saat mendengar jawaban Kinanti yang sangat keras kepala, lalu ia langsung melihat ke arah Lisa.


"Lalu mau kamu bagai mana Lisa, Kinanti kekeh tidak mau mengakui kesalahannya?"


"Saya mau masalah ini di tuntut ke jalur hukum pak, saya juga ingin memberikan epek jera pada Kinanti."


"Baik kalau begitu. Pak Eko kemari!"


Pak Eko adalah selaku satpam di sana, ia langsung mendekati Arga.


"Bawa Kinanti ke kantor polisi!"


"Baik pak."


"Jangan bawa Kinati pak Eko, Kinanti tidak salah!"


Riana berbicara sambil merentangkan ke dua tangannya untuk menghadang jalan pak Eko, tepat di kejadian itu Ali juga datang karena ia mendengar percakapan istrinya lewat penyadap suara, jadi ia terpaksa tidak pergi ke pesantren.


"Jangan sentuh istri saya kalau kalian tidak ingin berakhir di rumah sakit..!!!"


Teriakan Ali menggema di sana yang terus saja berjalan ke arah istrinya. Mungkin kebanyakan para model menilai kalau Ali adalah orang gila, memakai peci, memakai baju koko, dan celana hitam panjang, menampilkan lelaki yang sangat ta'at agama, tapi mulutnya jauh dari ajaran agama.


Mereka semua langsung melihat ke arah Ali dengan perasaan terkejut dan bingung, tapi Ali terus saja melanjutkan langkah kakinya sambil menundukan pandangannya hingga ia sampai di depan istrinya. Ali langsung memeluk erat istrinya sambil mengecup kening istrinya sekilas.


"Maafkan saya karena saya terlambat."


Kinanti hanya menjawab dengan anggukan kepalanya sambil memeluk erat suaminya, beberapa detik kemudian tangisannya pecah di pelukan suaminya.


"Aku tidak salah Ali. Hiks... Hiks... Lisa yang membuat kesabaranku terkikis habis. Hiks... Hiks..."

__ADS_1


Ali mengelus kepala istrinya dengan usapan sayang.


"Saya tau dan saya sangat percaya, tenangkan diri kamu terlebih dahulu, jangan lupa beristighfar, ingat sudah saya katakan jangan sampai emosi menguasai diri kamu Kinanti."


Kinanti menganggukan kepalanya, tangannya semakin erat memeluk suaminya. Mereka berdua menjadi pusat perhatian oleh banyak orang yang ada di sana.


Mereka semua sangat terkejut saat melihat tangisan Kinanti, selama Kinanti menjadi model , mereka belum pernah melihat tangisan Kinanti, mereka pernah melihat Kinanti menangis hanya sekali saat Aska membatalkan pernikahan dengan Kinanti, hanya itu yang mereka tau, tapi kali ini Kinanti menangis saat suaminya datang, dan seolah-olah Kinanti sangat rapuh.


Riana tersenyum lebar saat melihat Kinanti di perlakukan dengan baik oleh Ali, bahkan menurut ia mereka sangat romantis walau pun ia tau kalau usia Ali lebih muda dari Kinanti.


Berbeda dengan Lisa, ia sangat membenci Kinanti saat lagi-lagi Kinanti mendapatkan keberuntungan. Bahkan Lisa akui kalau suami dari Kinanti sangat tampan dan berkarisma, wajahnya sangat imut, mampu membuat siapa saja jatuh cinta pada Ali.


Menurut Lisa tidak heran kalau Kinanti tidak menangis saat menujukan foto ia bersama Aska, ternyata suami Kinanti memang benar sangat sempurna, terutama ucapnya sangat lembut pada Kinanti.


"Jangan menangis, saya tidak ridho kalau wanita berharga saya menangis."


Kinanti menganggukan kepalanya sambil melepaskan pelukannya. Ali langsung menghapus air mata istrinya menggunakan ke dua ibu jarinya.


"Apa perasaannya sudah jauh lebih baik?"


Lagi-lagi Kinanti hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Ehem!"


Arga berdehem, ia sungguh iri melihat ke dua sijoli di depannya yang sangat romantis, apa lagi ia belum memiliki pasangan, sekedar punya kekasih saja tidak punya.


"Kamu tidak jadi ke pesantren Ali?"


"Bagai mana saya mau pergi ke pesantren, kalau bidadari saya sedang ngamuk di sini?"


Ali bertanya sambil menaik turunkan satu alisnya.


"Ih kamu menyebalkan! Ali, aku minta maaf karena telah menampar dan menjambak rambut Lisa."


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung menuduk, ia takut suaminya marah. Sedangkan orang-orang di sana tercengang saat melihat Kinanti minta maaf pada suaminya bukan pada Lisa. Ali tersenyum lebar sambil mengelus kepala istrinya, ia tau kalau istrinya takut ia marah.


"Lisa memang pantas mendapatkan itu, andaikan Lisa lelaki, mungkin akan saya buat Lisa babak belur hingga Lisa berakhir di rumah sakit."


Kinanti langsung mendongkakan kepalanya saat mendengar jawaban dari suaminya.


"Kamu tidak marah?"


"Kalau kamu melakukan itu untuk membela diri, saya tidak akan marah, saya tau kalau kamu sudah berusaha sabar tadi."

__ADS_1


__ADS_2