
Pagi harinya Ali sudah sibuk merebus telur karena istrinya tidak bisa merebus telur, jadi ia merebus telur sendiri, sedangkan istrinya hanya berdiri di samping ia sambil terus menatapnya.
Kinanti memandang suaminya sambil tersenyum lebar, walau pun di apartement hanya berdua, ia tidak merasa kesepian, apa lagi pas malam ia terasa hangat karena suaminya mengaji setelah sholat tahajud.
Suaminya memang tidak membangunkan Kinanti untuk sholat tahajud, tapi ia tau kalau suaminya itu sholat tahajud karena saat suaminya melepaskan pelukan ia dengan perlahan, ia terbangun dari tidurnya.
Walau pun Kinanti terbangun dari tidurnya, ia tetap memejamkan mata karena ia tidak mau ikut sholat tahajud, tapi ia melihat suaminya dari awal sholat hingga selsai, bahkan ia sangat tenang saat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang di bacakan suaminya.
Namun entah kenapa Kinanti yang terus menatap wajah suaminya, ia menjadi ingat Ali kecilnya, hidungnya mancung, bibirnya sangat tipis, tatapan matanya sangat meneduhkan, dan senyumannya membuat hatinya tenang.
"Ali, mungkin kamu juga sudah sebesar suami Kaka, umur kalian juga sama, kamu dan suami Kaka 22 tahun." batin Kinanti
Setelah selsai memasak telur Ali langsung mengoleskan telur itu ke roti.
"Ali, aku minta maaf karena tidak bisa merebus telur."
Ali langsung melihat ke arah istrinya sambil tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, kamu bukan pembantu saya Kinanti, saya akan mencarikan asisten rumah tangga agar kita tidak kerepotan."
"Memang kamu punya uang untuk membayar asisten rumah tangga?"
"Kalau hanya satu asisten rumah tangga saya masih sanggup."
Bukan hanya bisa membayar satu asisten rumah tangga, bahkan membayar 200 asisten rumah tangga perbulan juga Ali sangat sanggup, tapi ia tidak ingin membuka identitasnya.
"Ayo kita sarapan."
Ali berbicara sambil duduk di kursi.
"Ali."
__ADS_1
Ali langsung menatap ke arah istrinya saat namanya di panggil.
"Ada apa kamu mau ke pesantren? Apa kamu mau menjelaskan kenapa kita menikah pada Ning Alisah?"
Sebenarnya ucapan itu ingin ia tanyakan dari semalam, tapi ia tidak berani hingga pagi ini baru ia tanyakan tentang itu pada suaminya karena ucapan itu terus saja mengganggu pikirannya dari semalam.
"Tidak ada yang mau saya jelaskan, semua sudah sangat jelas. Saya di sana sebagai ketua dewan santri, tentu saja saya harus minta maaf dan mengatakan kalau saya sudah tidak bisa mengajar termasuk berpamitan dengan semuanya. Terutama sama Umi dan Abi yang sudah mendidik saya hingga sekarang, bahkan mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala saat saya berbuat ulah, saya juga sering mendapat kasus tiap harinya hingga 3 bulan lamanya."
Ali menghela napas berat saat mengingat kejadian saat kecilnya.
"Setelah 3 bulan lamanya saya sadar kalau Bunda menginginkan saya menjadi anak baik. Bunda menginginkan saya memiliki iman, dari situ saya mulai belajar mewujudkan keinginan Bunda, dulu saya berpikir kalau saya sudah menjadi senior Bunda akan kembali, tapi sampai saya menjabat sebagai ketua dewan santri Bunda masih belum kembali."
Tiba-tiba saja air mata Ali menetes, ia merasakan sangat sakit saat mengingat masa kecilnya.
"Semua itu hanya angan-angan saya saja, nyatanya Bunda tidak pernah mau lagi kembali pada saya, semua permasalahan ini di mulai dari Ayah, hingga membuat saya harus kehilangan Bunda, kamu juga pasti sudah tau hubungan saya bersama Ayah saya memang kurang baik saat kita akan menikah kemarin."
Kinanti langsung berdiri, ia langsung mendekati suaminya, lalu langsung memeluk suaminya yang masih dengan posisi duduk, entah kenapa hatinya juga sangat sakit saat mendengar penjelasan dari suaminya, mungkin itu alasan kenapa di apartement suaminya tidak ada bingkai foto, hanya ada satu foto di kamar suaminya yang ia yakini kalau wanita berhijab itu adalah Bunda dari suaminya.
"Ali."
"Assalamualaikum!"
Ali langsung menyindir Ayahnya dengan mengucapkan salam lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam, maksud kamu apa dengan kamu menikahi Kinanti Ali?! Jangan bikin Ayah malu karena kamu telah menikahi Kinanti! Seharusnya Ayah dari awal tidak perlu mengundang kamu, apa lagi kamu dan Kinanti memiliki kepribadian bertolak belakang. Bunda kamu itu wanita baik-baik, bagai mana bisa kamu menikahi jallang?!"
"Cukup! Sekarang Kinanti istri saya, kalau anda ingin menjelekan istri saya dari mulut kotor anda lebih baik anda tidak perlu menelpon saya! Semenjak penghianatan anda pada Bunda, semenjak itu juga saya tidak pernah lagi memakai marga Kusuma, karena saya merasa saya tidak pantas memakai marga Kusuma anda yang sangat terhormat, dan saking terhormatnya anda tidak menginginkan saya, lalu masih pantaskah anda mengatur hidup saya?!"
Kinanti langsung memeluk suaminya lagi saat mendengar suara suaminya yang sangat emosi sambil sesekali suaminya mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Ali juga membalas pelukan dari istrinya sambil beristighfar di dalam hatinya.
"Lancang sekali mulutmu itu Ali! Kamu dari kecil hidup di pesantren, tapi kamu seperti tidak memiliki didikan!"
__ADS_1
"Lalu apa saya harus menghormati lelaki yang telah membuat hati Bunda saya hancur?! Bahkan saya tidak mendapatkan kasih sayang dari Bunda hingga di tinggalkan pergi oleh Bunda entah kemana. Semua itu karena anda! Kalau saja anda meminta Bunda saya membantu perusahaan anda tanpa embel-embel cinta mungkin saya tidak memiliki Ayah bejat seperti anda!"
Semenjak Ayah dan Bundanya resmi bercerai, semenjak itu pula Ali tidak memanggil Ayah pada Kenan.
"Maki saja Ayah seterusnya, kalau kamu masih ingin mempertahankan Kinanti uang bulanan kamu Ayah stop!"
"Rezeki masih bisa saya cari, jadi saya tidak peduli, makan saja semua uang milik Bunda, tapi satu hal yang harus anda ingat, saya akan jauh di atas anda. Kekayaan yang selalu anda bangga-banggakan itu milik Bunda saya, dasar tidak tau malu! Assalamualaikum!"
"Anak kurang ajar! Saya tidak tau sifatmu seperti siapa! Tutur kata Bundamu lemah lembut, tapi kamu memiliki mulut kasar dan sombong! Baik akan Ayah lihat sampai di mana kamu hidup mandiri!"
Ali yang mendengar kemarahan dari Ayahnya, ia menghela napas berat tanpa mau meldeni ucapan dari Ayahnya, lalu ia langsung menjawab salamnya sendiri yang ia ucapkan.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah mengatakan itu Ali langsung memutuskan sambungannya sepihak.
"Maaf saya terlalu emosi, apa kamu takut pada saya?"
Ali bertanya sambil mendongkakan kepalanya untuk menatap mata istrinya.
"Sama sekali tidak, lalu bagai mana kalau uang bulananmu di stop?"
"Saya tidak apa-apa asalkan tidak berpisah dengamu, kamu mau hidup sederhana bersama saya?"
"Iya mau, terima kasih banyak karena kamu telah memberikan kepercayaan padaku, kamu percaya kalau aku masih suci'kan?"
"Saya percaya."
"Kenapa kamu bisa percaya?"
"Saya hanya percaya kalau kamu jodoh saya, suci atau tidaknya saya sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Bunda pernah bilang, jangan menikahi wanita dari pisik dan bahasanya, tapi menikhilah wanita yang mau di bimbing olehmu menuju surganya."
__ADS_1