Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 23 Permintaan Kinanti


__ADS_3

Rambut Riana berantakan, begitu pun dengan rambut Kinanti. Riana saling menjambak dengan Raya, lalu Kinanti saling jambak bersama Lisa.


Niat Kinanti ingin memisahkan Riana dan Raya, tapi Lisa menjambak rambutnya membuat ia saling jambak-menjambak.


Sedangkan Yuli hanya melihat mereka dengan perasaan bingung, ia tidak tau haruskah membantu atau tidak.


Apa lagi Yuli tidak tau apa penyebab mereka bertengkar hebat, yang jelas awalnya saling menghina dan berakhir saling menjambak.


Yuli menggeleng-gelsngkan kepalanya, ia mulai bergidik ngeri saat Kinanti bukan hanya menjambak, tapi mencakar leher Lisa.


Namun tidak ada yang memisahkan mereka, semua pengunjung mall hanya memvideokan mereka hingga satpam datang langsung memisahkan mereka. Sekarang Kinanti, Riana dan Yuli sudah ada di dalam mobil sedang menuju pulang.


"Sepertinya kita akan viral Kin."


"Aku tidak peduli mau viral atau bagai mana, tapi aku belum puas menjambak rambut Lisa."


"Gila kamu masih ingin menjambak rambut Lisa, wajah kamu sudah ada bekas tamparan, terus kamu juga sudah cakar Lisa."


"Habis ngeselin banget, kata Mas Ali juga aku cantik."


"Pesona Ali memang hebat, baru nikah 3 hari saja sudah buat kamu bucin."


"Kalau menolak pesona Mas Ali berarti wanita itu bodoh!!"


Riana yang mendengar ucapan dari Kinanti sambil berteriak, ia hanya terkekeh, ia akui kalau Ali memang sangat tampan, jadi tidak heran kalau banyak wanita yang menyukai ketampanan dari seorang Ali.


Apa lagi bonusnya Ali seorang pengacara, dari pertama kali Riana bertemu Ali, ia sudah mengaguminya, kalau bukan suami dari Kinanti ia sudah mendekatinya.


Mereka sampai di depan gedung apartement, baru juga mereka menurunkan barang-barangnya Ali sudah sampai di sana, bersama asisten pribadinya sambil membawa mobil baru yang di beli Ali tadi. Sedangkan Ali sendiri masih memakai motor. Kinanti langsung memnggil suaminya saat melihat suaminya datang.


"Mas."


Ali tersenyum lebar saat melihat istrinya, ia buru-buru pulang karena melihat video istrinya yang saling menjambak di mall karena ia lupa tidak meletakan penyadap suara pada tas istrinya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mereka menjawab salam dari Ali serempak. Kinanti langsung meraih tangan suaminya untuk ia cium dan di balas cium kening oleh suaminya.


Riana yang melihat pemandangan itu ia langsung tersenyum lebar, ia merasa iri saat melihat kemesraan Kinanti dan Ali, membuat ia juga ingin segera menikah saat melihat keromantisan mereka.


"Ini pipi kamu kenapa Jamila?"


Ali bertanya sambil mengusap pipi istrinya yang ada bekas telapak tangan.


"Jamila habis bertengkar Mas."


Kinanti menjawab sambil cengengesan.


"Jangan bertengkar lagi Jamila, bersyukur Mas tidak pernah mau tampil di televisi setiap di undang di berbagai acara, kalau Mas mau tampil terus tau siapa Mas, orang akan mengira Mas tidak bisa mendidik kamu Jamila, tolong hargai pekerjaan Mas."

__ADS_1


Mata Kinanti langsung menerah saat mendengar ucapan panjang dari suaminya.


"Mas malu memiliki istri seperti Jamila?"


"Mas sama sekali tidak malu memiliki istri seperti kamu Jamila, tapi saat kamu mendapatkan khasus lalu Mas membela kamu, apa kata orang? Apa lagi orang yang sangat membenci kita, orang itu akan memandang kita sebelah mata, dan Mas juga tidak pernah ridho kalau istri Mas terluka."


Kinanti langsung memeluk suaminya dengan sangat erat. Ali juga membalas pelukan dari istrinya, saat ia melihat ke arah Romi, ia baru ingat kalau ia belum menerima kunci mobil dari Romi.


Masih sambil memeluk istrinya Ali langsung mengulurkan tangan kanannya pada Romi yang langsung di mengerti oleh Romi. Romi langsung meletakan kunci mobil ke tangan Ali.


"Terima kasih Rom."


"Sama-sama Pak Ali, kalau begitu saya permisi."


"Iya silahkan."


Setelah Romi pergi Kinanti langsung melepaskan pelukannya, ia langsung melihat ke arah Romi yang akan naik taksi.


"Siapa Mas?"


"Asisten pribadi Mas, kenapa Jamila?"


"Oh Mas juga memiliki asisten pribadi?"


"Iya, ayo masuk Jamila."


"Iya Mas."


"Ini milik kamu dan ini milik kamu."


"Terima kasih Non, Den."


"Sama-sama."


Setelah mengatakan itu Yuli langsung pergi ke arah kamarnya.


"Terima kasih Kin, Li."


Ali dan istrinya hanya menganggukan kepalanya. Mereka bertiga langsung duduk di sofa, dengan Ali yang duduk bersama istrinya sedangkan Riana duduk bersebrangan.


"Riana, kalau kamu bekerja menjadi supir pribadi istri saya kamu mau?"


"Hah?"


Riana sangat terkejut karena memang Kinanti tidak mengatakan itu, apa lagi gajih supir sangatlah kecil mana cukup untuk menghidupi keluarganya.


"Kamu tenang saja kalau masalah gajih, saya akan menggaji kamu dua kali lipat dari gaji yang istri saya berikan sebelumnya."


Bukan Ali memberikan gajih cuma-cuma pada Riana, tadi pagi ia sudah menyuruh Romi untuk mencari tau tentang kehidupan Riana, dan ia tau kalau Riana adalah tulang punggung keluarga, itu kenapa ia memberikan gajih besar.


"Mas banyak banget, masa iya gajih supir 11 juta perbulan, kalau gajih supir 11 juta perbulan, Jamila saja yang jadi supir Mas."

__ADS_1


Riana menghela napas saat mendengar ucapan dari Kinanti, dulu Kinanti bukan lah wanita yang pelit, tapi kali ini Kinanti menjadi pelit.


"Jangan aneh-aneh Jamila, Mas sedang berbicara serius pada Riana."


"Mas, tentang boleh bekerja di Alfero Grup masih berlaku tidak?"


Bahkan Kinanti mengalihkan pembicaraan saat suaminya belum mendengar jawaban dari Riana.


"Sudah tidak berlaku."


"Ih Mas jahat! Jamila mau bekerja di sana."


"Apa ini ada kaitannya dengan Lisa?"


"Iya itu Mas tau."


"Jangan memiliki dendam Jamila, Mas tidak suka kalau kamu menjadi wanita pendendam."


"Habis Lisa sangat menyebalkan, Mas itu kunci siapa?"


Kinanti bertanya pada kunci mobil yang di letakan di meja, sedangkan kunci mobil yang di kendarai Riana ada di tempat kunci.


"Itu untuk kamu Jamila."


"Mas serius beliin Jamila mobil yang sama seperti milik Mas?"


"Iya, hanya milik Jamila warna merah, kamu suka?"


"Jamila suka, terima kasih Mas."


"Jangan bilang terima kasih, Jamila sudah kewajiban Mas sebagai suami kamu. Lukamu Mas kompres iya?"


"Tidak usah Mas, Jamila tidak apa-apa, boleh iya Mas Jamila bekerja di Alfero Grup?"


Ali menghela napas berat saat mendengar pertanyaan dari istrinya yang mengungkit tentang pekerjaan lagi.


"Iya sudah terserah Jamila saja, Mas mau mandi dulu, nanti Mas hubungi Pak Samsul, kamu ngobrol saja sama Riana dulu. Riana, kamu mungkin menjadi manajer istri saya lagi, tapi tentang gajih tetap dua kali lipat."


"Iya tidak apa-apa Ali, terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Setelah mengatakan itu Ali langsung pergi ke kamarnya.


"Panggilan sayang Ali lucu iya, manggil kamu Jamila?"


"Iya, awalnya aku sempat marah karena Mas Ali memberikan panggilan Jamila, tapi saat tau artinya aku suka, karena arti dari kata Jamila itu cantik."


"Dasar bucin!"


Riana berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah bucin Kinanti yang sangat berbeda tidak seperti saat masih bersama Aska, tapi ia juga senang saat melihat Kinanti sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2