Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 42 Bertanya


__ADS_3

Kinanti merasa sangat bersalah saat mendengar penjelasan dari suaminya, tapi ia juga sangat senang saat tau kalau suaminya tergoda pada tubuhnya.


"Untuk apa Jamila minta maaf? Kita memang sama-sama salah, tidak mau terbuka dengan keinginan masing-masing, dan juga sangat salah karena tidak peka dengan pikiranmu, sekali lagi Mas minta maaf."


Ali langsung menarik istrinya dalam pelukannya, ia juga merasa sangat bersalah karena tidak mengerti saat istrinya memberikan kode padanya. Kinanti juga membalas pelukan dari suaminya dengan perasaan bahagia.


"Tidak apa-apa Mas, Jamila suka Mas masih terlalu polos, dan kadang-kadang Jamila itu selalu berpikir kalau Jamila itu tidak pantas untuk Mas. Mas selalu menjaga sentuhan, tapi Jamila selalu berbuat dosa."


"Jamila sangat pantas untuk Mas, jadi jangan pernah berpikir kalau Jamila tidak pantas untuk Mas."


Ali langsung melpaskan pelukannya, ia mencium kening istrinya cukup lama, ia juga sangat bahagia saat mendengar ucapan panjang dari istrinya yang menginginkan pernikahanya seperti suami istri pada umumnya.


Ali merasa tidak sia-sia memberikan kesabarannya untuk istrinya karena sekarang rumah tangganya jauh lebih baik.


"Mas, jadi nanti malam kita boleh making love?"


Kinanti bertanya dengan perasaan malu, tapi kalau ia tidak bertanya, ia tidak mau terus berharap, apa lagi ia sudah malu, jadi biarkan sekalian tambah malu.


"Memang Jamila sudah siap?"


Ali bertanya sambil mengelus kepala istrinya, ia tau kalau istrinya memiliki keraguan.


"Sedikit takut Mas, kata Sasa saat awal sakit, tapi katanya enak lama-lama."


Sasa adalah teman seprofesi dulu bersama Kinanti, ia memang sudah menikah 2 tahun yang lalu, ia sering sekali bercerita tentang hal seperti itu pada Kinanti.


"Mas tidak akan main kasar Jamila."


"Kalau Mas main kasar yang ada nanti Jamila bakalan teriak histeris, milik Mas itu besar dan berotot."


Kinanti menjawab ucapan dari suaminya tanpa sadar.


"Jamila mengintip Mas mandi?"


Ali bertanya dengan raut wajah bingung, selama menikah ia dan istrinya tidak pernah mandi bersama, lalu pintu kamar mandi juga selalu ia tutup saat mandi, tapi istrinya bisa memperkirakan seolah-olah istrinya sudah pernah melihatnya.


Wajah Kinanti langsung memerah karena malu, ia langsung menggigit bibir bawahnya saat mendengar pertanyaan dari suaminya, tidak mungkin ia mengakui perbuatan kurang ajarnya semalam karena memegang milik suaminya tanpa tau malu dengan berpura-pura tidur.


"Jangan di gigit bibirnya Jamila."


Ali berbicara sambil membuka bibir istrinya yang sedang megigit bibirnya sendiri, ia langsung mencium dan menggigit pelan bibir istrinya.


Kinanti langsung mendorong dada suaminya untuk menghindari ciuman dari suaminya, bukan ia menolak, tapi ia tidak percaya diri karena belum sikat gigi.

__ADS_1


"Jangan mencium Jamila, Jamila belum sikat gigi."


"Tidak apa-apa Jamila, Mas juga ingin mendapatkan morning kiss yang lebih, agar Mas bisa fokus bekerja."


Setelah mengatakan itu Ali langsung mencium bibir istrinya lagi, kali ini istrinya tidak menolak, bahkan istrinya membuka mulutnya untuk membiarkan ia bermain di rongga mulutnya.


Kinanti yang mendapatkan ciuman halus dari suaminya membuat ia menikmatinya sambil memejamkan mata. Kinanti tidak mengerti setiap kali lidah suaminya bermain di rongga mulutnya, ia selalu sangat menikmatinya, bahkan ia tidak pernah bosan dengan permainan suaminya.


Kinanti juga ikut membalas ciuman dari suaminya hingga lidah mereka saling membelit, ia merasa permainan suaminya semakin pintar saja, walau pun saat awal-awal menikah suaminya hanya lelaki polos.


Hampir 10 menit mereka berciuman hingga bunyi getar ponsel menghentikan aksi ciuman mereka.


Dret... Dret...


"Dasar ponsel tidak punya ahlak, mengganggu orang sedang berciuman saja!" batin Kinanti


Ali langsung mengangkat telpon dari Pak Samsul, ia yakin kalau Pak Samsul menelponnya karena ia belum sampai lokasi.


"Assalamualaikum Mas Ali."


"Wa'alaikumsalam."


"Mas kenapa belum sampai?"


"Baik kalau begitu Mas, maaf sudah mengganggu waktunya. Assalamualaikum."


"Iya tidak apa-apa Pak. Wa'alaikumsalam."


Setelah mengakhiri telponnya Ali langsung meletakan ponselnya di meja lagi, lalu ia langsung melihat ke arah istrinya.


"Iya sudah Jamila mandi dulu, nanti Mas buatkan nasi goreng udang."


"Kenapa Mas yang buat sarapan? Jamila saja Mas, pekerjaan Mas masih banyak."


"Tidak apa-apa, Mas juga sudah lama tidak masak, lebih baik Jamila mandi."


"Iya sudah Jamila mandi dulu Mas."


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung mencium ke dua pipi suaminya, lalu langsung berjalan ke arah kamar mandi sambil tersenyum lebar.


"Akhirnya akan bobol gawang juga."


Kinanti berbicara sambil mengelus miliknya sendiri masih dengan pakaian lengkap karena ia sangat senang. Ali langsung ke dapur untuk membuat nasi goreng.

__ADS_1


"Aden, mau bikin apa?"


Bi Yanti bertanya dengan wajah bingung saat melihat Ali mengambil udang lalu mengupasnya.


"Saya mau bikin nasi goreng udang bi."


"Sini Bibi yang bikin saja Den."


"Tidak usah Bi, saya hari ini sedang memiliki waktu luang, jadi biar saya saja yang membuat nasi goreng. Bibi lanjutkan pekerjaan lain saja."


"Baik kalau begitu Den."


Bi Yanti langsung pergi dari dapur untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Setelah mengupas udang Ali langsung mengupas bawang, lalu langsung memotong sayur kangkung sebagai pelengkap, sebenarnya ada sayur kol, tapi ia tidak suka dengan sayur kol.


Setelah selsai Ali langsung menggoreng udang di teplon terlebih dahulu, lalu di teplon satunya ia sudah menggoreng bawang, langsung memasukan telur, nasi dan bumbu lainya, sedangkan kangkung ia sengaja memasukannya belakangan agar masih pres.


Kinanti sudah selsai mandi karena ia buru-buru mandinya, ia ingin melihat suaminya memasak. Sekarang Kinanti sedang melihat suaminya sedang memasak membuat ia tersenyum lebar.


Kinanti langsung melingkarkan ke dua tangannya di pinggang suaminya, lagi-lagi ia merasa sangat beruntung karena memiliki suami seperti Ali yang memiliki banyak keahlian.


Awalnya Ali sangat terkejut saat mendapat pelukan tiba-tiba, tapi saat melihat ke samping, ternyata istrinya yang memeluknya.


"Jamila sudah selsai mandi?"


"Iya Mas, Jamila ingin melihat Mas masak nasi goreng, ternyata Mas sangat lihai di dapur."


"Sudah Mas bilang kalau Mas tinggal di pesantren, Mas melakukan apa-apa sendiri, jadi tidak heran kalau Mas bisa masak."


"Iya juga, tapi tetap saja kalau lelaki malas walau pun tinggal di pesantren tidak akan bisa masak."


"Memang ada juga lelaki pesantrenan yang tidak bisa masak, tapi rata-rata semua lelaki pesantrenan bisa masak, kadang menu dapur tidak sesuai dengan selera kita."


Ali langsung menuangkan nasi gorengnya dalam satu piring, ia ingin makan berdua bersama istrinya.


"Ayo Jamila kita sarapan."


"Iya Mas."


Kinanti langsung mengekori suaminya yang sudah berjalan lebih dulu, ia langsung duduk di samping suaminya.


Ali langsung membaca do'a lalu langsung menyuapi istrinya. Saat Kinanti mengunyah nasi goreng buatan suaminya, ia tersenyum meringis, maskan suaminya sangat enak, beda sekali dengan masakannya.


"Mas, enak sekali nasi gorengnya, Jamila jadi malu sama Mas karena tidak bisa masak."

__ADS_1


"Nanti lama-lama masakan Jamila juga enak kalau sering belajar."


__ADS_2