
Malam harinya Aska baru saja pulang mengaji, sesuai yang ia rencanakan kalau ia akan belajar mengaji untuk mendapatkan hati Anisa.
Setelah selsai mengaji pada ustadz terdekat Aska merasa hatinya jauh lebih tenang dan tentram, walau pun ia masih bisa membaca Al-Qur'an, tapi ia sudah melupakan bacaan panjang dan pendeknya, untuk itu ia belajar membaca Al-Qur'an lagi.
Aska juga tadi tidak merasa malu saat ia yang paling dewasa dari anak-anak yang mengaji lainnya, yang jelas tujuan ia hanya satu belajar mengaji untuk mendapatkan hati Anisa, tapi ia juga tidak tau apa Anisa menerima Gus Yana atau menolak Gus Yana membuat ia penasaran tentang itu.
Sekarang Aska sudah duduk di sofa kamarnya, dengan jari-jari yang fokus pada laptapnya, ia ingin mencari pekerjaan, ia akan belajar untuk bekerja.
"Susah sekali ternyata mencari pekerjaan, dari tadi belum ada pekerjaan yang cocok untukku." batin Aska
Aska melihat jam yang sudah menujukan pukul 20.30WIB, membuat ia menghela napas berat, dari tadi ia belum menemukan pekerjaan yang cocok untuknya.
"Cari kerja saja sulit sekali, di tambah aku juga rindu suara Bunda."
Aska langsung kengambil ponselnya, ia langsung menghubungi Anisa lewat video call hingga telpon itu tersambung.
"Assalamualaikum Bunda."
Aska mengucapkan salam sambil tersenyum ceriah saat melihat Anisa yang sudah menggunakan baju tidur, masih menggunakan hijab dan cadar.
"Wa'alaikumsalam, ada apa nak?"
Aska yang di tanya oleh Anisa ia menggaruk tengkuknya tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa, bersyukur Anisa hanya fokus menatap buku-buku tanpa menatap ke arahnya, mungkin kalau menatap ke arahnya, ia sudah sangat malu.
"Bunda, lagi sibuk atau tidak?"
"Bunda tidak sibuk sama sekali nak, kamu sedang apa?"
"Ini Bunda Aska sedang mencari pekerjaan, tapi Aska bingung mau kerja apa."
Anisa yang sedang fokus pada buku, ia sangat terkejut saat mendengar jawaban dari Aska, ia tidak mengerti kenapa Aska harus mencari pekerjaan, kenapa tidak bekerja di kantor Papanya saja, itu lah yang membuat ia bingung.
__ADS_1
"Kenapa tidak bekerja di kantor Papa kamu saja nak?"
"Aska ingin belajar mandiri Bunda, Aska tidak mau terus bergantung pada orang tua, apa lagi kelak Aska akan menjadi kepala keluarga, tentu saja Aska harus belajar mandiri agar nanti bisa menafkahi istri dan anak-anak Aska."
Anisa tersenyum di balik cadarnya saat mendengar ucapan dari Aska, ia tidak menyangka kalau Aska sudah bisa berpikir dewasa, tidak seperti mantan suaminya yang tidak memiliki pendirian.
"Alhamdulilah kalau kamu mau belajar mandiri, apa nak Aska mau Bunda carikan pekerjaan? Nak Aska mau bekerja sebagai apa?"
"Kurang tau Bunda, Aska masih belum berpengalaman."
"Iya sudah kalau begitu bagai mana kalau nak Aska bekerja di kantor Bunda saja dulu? Setelah nak Aska mengerti nak Aska bisa bekerja di lain tempat yang nak Aska suka?"
Aska terdiam sejenak saat mendapat tawaran dari Anisa untuk berpikir.
"Kalau Aska jadi asisten Bunda boleh."
Setidaknya kalau menjadi asisten Anisa ia bisa tau lebih banyak lagi tentang Anisa.
"Iya yang Bunda bilang memang benar juga, tapi sampai jam berapa Bunda? Aska memiliki pekerjaan setelah magrib."
Yang Aska tau kantor Anisa itu dari pukul 09.00 sampai pukul 20.00WIB, baru karyawannya pulang.
"Iya sudah kalau begitu kamu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore saja nak, nanti Bunda bilang pada asisten Bunda, kalau kamu datang bukan untuk bekerja, melainkan untuk belajar, agar karyawan lain tidak iri sama nak Aska."
Tentu saja Anisa akan membantu Aska karena Aska mau belajar mandiri, ia berharap kelak Aska bisa hidup mandiri dan bisa bertanggung jawab pada istri dan anak-anaknya kelak, ia tidak ingin Aska mengikuti jejak mantan suaminya.
"Terima kasih banyak Bunda, Aska senang sekali memiliki Bunda yang sangat baik."
"Sudah Bunda bilang kalau kamu sudah Bunda anggap sebagai putra Bunda sendiri."
"Tapi Aska tidak ingin di anggap sebagai putra Bunda, Aska ingin menjadi lelaki yang Bunda cintai dan ingin menjadi lelaki yang menyempurnakan iman Bunda, walau pun Aska tau kalau Aska masih membutuhkan banyak bimbingan." batin Aska
__ADS_1
Sayang ucapan itu hanya bisa Aska sampaikan di dalam hati, ia masih belum berani mengungkapkan perasaannya. Tiba-tiba saja Aska ingat tentang pertemuan Anisa dan Gus Yana tadi siang, walau pun ia malu, ia tetap memberanikan diri untuk bertanya karena ia sangat penasaran dengan jawaban dari Anisa, tapi ia berharap Anisa menolak Gus Yana.
"Bunda, bagai mana dengan pertemuan tadi siang dengan Gus Yana?"
"Alhamdulilah berjalan dengan lancar nak."
Seketika dada Aska menjadi sakit dan terasa sesak saat mendengar jawaban dari Anisa, itu artinya Anisa menerima Gus Yana, lagi pula ia sangat tau dari cerita Anisa kalau Anisa dan Gus Yana memiliki banyak kecocokan.
"Apa ini akhir dari perjuanganku, aku belum juga berjuang untuk mendapatkan Bunda, tapi Bunda sudah akan di miliki oleh lelaki lain, kenapa dadaku begitu sakit dan sesak saat mendengar Bunda memilih lelaki lain, seharusnya aku bahagia karena Bunda akan di nikahi oleh lelaki yang tepat." batin Aska
Aska masih saja diam dan pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Anisa yang tidak mendengar suara Aska, ia melihat ke arah ponselnya sekilas, video call itu masih tersambung, tapi Aska hanya diam membisu.
"Apa jawaban Bunda membuatmu tersinggung nak?"
Aska yang di tanya oleh Anisa ia sadar dari lamunannya.
"Tidak Bunda, Aska sangat senang dan bahagia kalau Bunda menerima Gus Yana, lagi pula Gus Yana dan Bunda itu sangat cocok, apa lagi Bunda dan Gus Yana sama-sama memegang teguh agama kalian, semoga Bunda selalu bahagia."
Walau pun kata itu sulit untuk Aska ucapkan, tapi Aska tetap mengucapkannya sambil tersenyum lebar, namun hatinya merasa sangat sakit, tapi ia menetupi rasa sakit itu di depan Anisa.
"Terima kasih do'anya nak, tapi Bunda tidak menerima Gus Yana, menurut Bunda Gus Yana masih terlalu mudah, Gus Yana baru berusia 37 tahun, sedangkan Bunda 44 tahun."
"Apa Bunda tidak tertarik dengan Gus Yana?"
Aska bertanya dengan perasaan terkejut, karena ia sudah mencari tentang nama Gus Yana di internet, ia menemukan foto-foto Gus Yana termasuk ada beberapa foto bersama adiknya, ia yakin kalau Gus Yana yang di temui Anisa itu adalah Gus Yana yang ia lihat foto-fotonya.
"Hanya orang bodoh saja yang tidak tertarik dengan Gus Yana, tapi Bunda sangat percaya kalau jodoh Bunda bukan Gus Yana yang tertulis di Lauhul Mahfuz."
Aska bernapas lega saat mendengar jawaban dari Anisa, walau pun ia sangat cemburu saat Anisa mengatakan hanya orang bodoh yang tidak tertarik dengan Gus Yana, itu artinya Anisa juga sangat tertarik dengan Gus Yana, tapi ia sangat bersyukur karena Anisa menolak Gus Yana.
"Alhamdulilah." batin Aska
__ADS_1