Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 32 Aska datang ke apartemen


__ADS_3

Setelah pulang syuting Kinanti sedang sibuk di dapur, ia meminta bi Yanti untuk mengajari ia memasak.


Walau pun suaminya tidak pernah meminta apa pun pada Kinanti, tapi ia ingin belajar menjadi istri yang baik untuk suaminya, ia tidak mau menjadi wanita yang biasa-biasa saja, ia takut kalau suatu saat suaminya tergoda dengan wanita lain.


Apa lagi tadi pagi suaminya sudah di goda oleh mantan sahabatnya membuat ia harus waspada. Walau pun Lisa tidak cantik, tapi mulut Lisa sangat manis membuat siapa saja pasti percaya termasuk ia sendiri, ia percaya kalau Lisa sahabat terbaiknya, tapi setelah ia di pecat Lisa menujukan sifat aslinya.


"Oh ini dulu yang di masukin Bi?"


"Iya Non."


Ali yang sibuk di laptopnya, kini ia langsung berjalan ke arah dapur untuk melihat apa yang di lakukan istrinya di dapur.


Ali langsung tersenyum lebar saat melihat istrinya yang sedang sibuk menumis, walau pun ia tidak bisa memiliki istri seperti Bundanya yang bisa melakukan segalanya, tapi ia tetap senang saat melihat istrinya mau belajar memasak.


"Jamila."


Kinanti langsung membalikan tubuhnya saat ia mendengar suaminya memanggilnya.


"Mas."


"Bibi kerjakan yang lain saja, Kinanti biar saya yang mengajarinya."


"Baik Den."


Setelah bi Yanti pergi Ali langsung memeluk istrinya dari belakang, ia juga mengecup pipi kiri istrinya sambil tersenyum bahagia.


"Istri Mas sedang masak apa?"


"Tumis bunci campur daging cingcang Mas. Kenapa Mas di sini? Jamila malu sama Mas, karena Mas pintar masak, tapi Jamila merebus telur setengah matang saja harus di ajari Bibi."


"Ngapain harus malu Jamila? Wajar dong kalau Mas bisa masak, Mas tinggal di pesantren apa-apa harus sendiri, lagi pula di restoran juga yang menjadi chef lelaki bukan wanita, jadi wajar-wajar saja kalau Jamila tidak bisa masak. Mas juga tidak menuntut apa pun dari Jamila, Mas hanya ingin Jamila memkai hijab dan sholatnya jangan malas-malasan, apa lagi kalau tidak ada Mas, Kamu tidak sholat. Jamila tidak boleh begitu memangnya Jamila mau kalau Mas masuk neraka karena Jamila tidak mau di didik oleh Mas?"


"Tidak mau Mas, tidak ada seorang istri yang mau suaminya masuk api neraka Mas, ini juga Jamila sedang menyesuaikan diri Mas."


Ting-tong.


Ting-tong.


Ting-tong.


Ting-tong.

__ADS_1


"Mas itu siapa bel rumah sampai 4 kali berbunyi?"


"Mas juga tidak tau, sebentar Mas lihat dulu."


Ali langsung mengecup pipi kanan istrinya lalu langsung pergi yang sudah di buka oleh Bi Yanti.


"Siapa Bi?!"


Ali bertanya sambil terus berjalan ke arah pintu.


"Katanya Aska Den."


Ali langsung mengerutkan keningnya saat nama Kakaknya yang di sebut oleh bi Yanti, entah ada apa Kakanya datang ke apartement, belum sempat Ali bertanya Kakanya sudah langsung melayangkan pukulan.


Bugk...!


Ali langsung tersungkur ke lantai karena di pukul tiba-tiba oleh Kakaknya, lalu ia langsung berdiri sambil menatap bingung pada Kakanya.


Bi Yanti hanya meringis saat melihat Ali di pukul tiba-tiba oleh Aska, ia sudah tau siapa Aska adalah Kakak dari Ali.


"Apa kamu tidak mengerti sopan santun?! Datang ke apartement orang langsung memberikan pukulan?!"


"Bukan'kah kamu menyuruh aku datang? Ini aku sudah datang ke apartement kamu brengsek!"


"Jadi kamu cuma berani datang ke apartement dari pada ke lokasi syuting?!"


Saat Aska akan melayangkan pukulan lagi tangan Aska langsung di tahan oleh Ali. Sebelum Ali memukul Kakaknya, tangan kiri ia langsung melepaskan pecinya, ia tidak mau pecinya ternodai.


Bugk...!


Brugk...!


Aska langsung tersungkur ke luar apartement, bahkan sampai jatuh ke lantak.


Bruk..!


Ali langsung berjalan ke arah Kakanya yang tersungkur di lantai.


"Jangan kira saya tidak berani sama kamu Aska, kamu datang ke apartement saya tanpa sopan, bisa saja saya menuntut kamu Aska!"


Aska langsung berdiri sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.

__ADS_1


Saat Aska akan melayangkan pukulan lagi, dengan sigap Ali memegang tangan Aska lagi.


"Jangan berharap kalau kamu bisa memukul saya untuk yang ke dua kalinya, karena dalam kamus saya tidak ada kesempatan ke dua, begitu pun dengan kamu yang tidak akan mendapatkan kesempatan ke dua untuk memukulku!"


Setelah mengatakan itu Ali langsung menghempaskan tangan Kakanya.


"Siapa Mas?!"


Kinanti bertanya sambil terus berjalan ke arah suaminya karena melihat pintu apartement terbuka dan suaminya berada di luar.


"Mantan calon suami Jamila!"


Kinanti menghentikan langkah kakinya sesaat saat mendengar jawaban dari suaminya, lalu ia langsung melanjutkan jalannya lagi.


"Aska memang sudah benar-benar gila!" batin Kinanti


Kinanti langsung melihat ke arah suaminya dan Aska secara bergantian, di pipi suaminya ada bekas pukulan begitu pun dengan sudut bibir Aska yang bekas pukulan juga.


"Kenapa jadi adu jotos? Begini kali iya kalau lelaki berantem." batin Kinanti


"Untuk apa kamu datang ke sini Aska?! Apa kamu sudah gila datang-datang membuat keributan?!"


"Akhirnya kamu keluar juga Kinanti, cepat minta cerai dengan lelaki miskin ini Kinanti, setelah itu kita menikah karena aku masih sangat mencintaimu."


"Jangan berharap kalau aku ingin bersamamu karena aku tidak menginginkan lelaki sepertimu, lebih baik kamu menjalin hubungan bersama Lisa. Lisa mencintai kamu dari dulu, dari pada kamu meminta istri orang untuk bercerai!"


Kinanti tidak asal bicara, ia yakin kalau Lisa mencintai Aska, apa lagi saat itu Lisa menujukan fotonya sendiri bersama Aska yang masih menggunkan setelan jas pengantin.


"Apa maksudmu Kin?"


"Aku sudah melihat fotomu bersama Lisa setelah kita gagal menikah dan Lisa juga mengatakan kalau kamu lebih memilih Lisa dari pada aku, jadi lebih baik kamu wujudkan saja mimpi Lisa yang ingin memilikkmu. Jangan meminta aku untuk bercerai dengan Mas Ali, karena sampai kapan pun aku tidak akan meminta bercerai dengan Mas Ali."


"Aku tidak memiliki hubungan bersama Lisa aku mencintai kamu Kinanti."


"Apa aku tidak salah dengar bahwa kamu mencintaiku? Setelah kamu mempermalukan aku di depan bayak orang dan sekarang kamu datang ingin menikahiku. Apa kamu tidak tau malu? Kamu sudah membuangku layakny sampah, tapi kamu sekarang datang dan mengatakan ingin menikahiku. Dasar lelaki gila!"


Kenan yang baru saja meeting di dengan perusahaan besar di apartement Alfero, ia tidak sengaja melihat ke dua putranya dan Kinanti yang sedang berdebat.


"Apa yang kamu lakukan Aska?!"


Aska langsung melihat ke arah Papanya dengan perasaan terkejut. Ali tersenyum lebar saat melihat Papanya bersama asisten pribadi berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Tolong anda ajari putra anda sopan santun, jangan membuat keributan di tempat apartement orang lain. Apa lagi sampai memukul tuan rumahnya secara tiba-tiba, dan seharusnya anda tidak gagal karena sekatang anda memiliki banyak harta, tapi ternyata anda masih tidak becus mendidik Aska yang telah menjadi satu-satunya putra anda."


Kenan menghela napas berat saat mendengar ucapan dari putra ke duanya bahwa ia tidak becus mendidik hingga ia merasa bersalah dengan putra ke duanya, tanpa ke dua orang tua, tapi mampu menjadi lelaki yang sangat baik.


__ADS_2