
Malam ini Ali dan istrinya masih di rumah Kakeknya karena ia akan pulang besok pagi ke apartement bersama Bundanya juga yang akan tinggal bersamanya.
Setelah cerita panjang tadi siang Ali tidak menyangka kalau Bundanya mengganti identitasnya menjadi Kanaya Putri, ia sudah tau nama Kanaya Putri yang memiliki perusahaan kosmetik, namanya sudah terkenal di berbagai media 7 tahun yang lalu, tapi ia belum pernah melihat langsung pemilik kosmetik itu di media, karena ia jarang sekali menonton televisi, ia lebih menyukai membaca berita dari koran.
Malam ini Ali tidak mengaji, setelah sholat isya ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia merasa sangat lelah setelah menceritakan masa lalunya yang masih menyisakan luka di hatinya.
Ali merebahkan tubuhnya sambil sesekali tersenyum saat mengingat makan malam tadi, sudah lama sekali ia tidak meraaakan masakan dari Bundanya, setelah ke dua orang tuanya berpisah ia pernah sekali memakan masakan Bundanya saat Bundanya berpamitan akan pergi, setelah itu ia tidak pernah memakan masakan Bundanya lagi.
Kinanti baru masuk ke dalam kamar karena ia tadi di ajak ngobrol-ngobrol oleh ibu mertuanya, jadi ia ikut ngobrol-ngobrol di sana, ia menyukai ibu mertuanya yang sangat ramah dan penyayang.
Bahkan saat sholat isya tadi ia mengucapkan syukur berkali-kali pada ya Rabbnya karena ia di dekatkan dengan orang-orang baik.
"Mas."
Kinanti memanggil suaminya sambil naik ke atas ranjang karena suaminya menghadap ke arah tembok.
"Iya Jamila."
Ali menjawab panggilan dari istrinya sambil membalikan badan lalu langsung mengecup kening istrinya yang sudah ikut berbaring juga.
"Mas pasti bahagia iya sekarang? Selamat iya Mas, karena Mas sudah bertemu dengan Bunda, semoga semakin bertambah usia Mas, semakin bertambah juga cinta Mas pada Jamila."
"Jelas Mas bahagia, Mas sudah bertemu dengan Bunda dan memiliki Jamila, wanita yang sangat penurut pada Mas."
Ali menjawab ucapan istrinya sambil mengusap-usap pipi kiri istrinya. Kinanti memainkan jari-jari suaminya sambil melihat bibir suaminya, ia berkali-kali menelan ludahnya sendiri, entah kenapa menurut ia suaminya itu berbeda tidak seperti cerita teman-temannya saat masih menjadi model.
Suami teman-temannya selalu meminta lebih dulu, tidak peduli walau pun istrinya, lelah, tapi suaminya sangat berbeda, suaminya tidak pernah meminta dululan, selama 3 hari berturut-turut selalu ia yang minta duluan.
Kinanti merasa malu kalau ia terus yang meminta, walau pun ia ingat ucapan suaminya kalau seorang istri yang menawarkan diri akan mendapatkan pahala, tapi tetap saja ia malu pada suaminya.
"Memang Jamila tidak keberatan atas permintaan Nenek yang melarang Jamila bekerja lagi?"
__ADS_1
Sebenarnya pertanyaan itu sudah ada di otak Ali dari tadi, tapi ia baru sempat bertanya karena istrinya tadi mengobrol-ngobrol dengan keluarganya.
"Sama sekali tidak Mas, Jamila juga memang memutuskan untuk berhenti, tapi dengan dua syarat kalau Mas tidak boleh menjadi artis lagi dan tidak boleh juga menjadi pengacara."
"Kenapa tidak boleh menjadi pengacara Jamila?"
Ali bertanya dengan kening berkerut karena bingung, kalau menjadi artis ia memang tidak menginginkan profesi itu, apa lagi kalau sudah ada jumpa pans, ia tidak mungkin menyentuh wanita lain selain istri dan keluarganya.
"Jamila takut kalau Mas nanti kecantol sama klien Mas, lebih baik Mas fokus saja mengurus perusahaan."
Ali tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari istrinya.
"Jadi Jamila cemburu dengan hal yang belum pasti?"
"Bukan cemburu Mas, tapi Jamila hanya berjaga-jaga saja, Jamila takut kehilangan Mas, suami kecil Jamila yang paling menggemaskan!"
"Kata siapa Mas suami kecil? Buktinya Mas bisa membuat Jamila merintih nikmat, itu artinya Mas bukan suami kecil!"
"Ih Mas! Kenapa setiap ngomong hal mesum bikin Jamila malu terus?!"
Ali hanya menanggapi ucapan istrinya dengan tertawa, lalu ia langsung mencium bibir istrinya sekilas.
"Night Kiss!"
Kinanti yang mendengar ucapan dari suaminya, ia langsung membalas ciuman suaminya sekilas.
"Mas."
"Iya Jamila."
"Nanti Mas sering begini tidak kalau sudah punya anak? Apa Mas akan berubah seperti lelaki-lelaki yang sering Jamila lihat karena mereka tidak mesra lagi saat istrinya sudah memiliki anak. Bahkan suaminya mengatakan jelek, bau, kumel, jorok, dan sebagainya, lalu suaminya kecantol lagi dengan wanita lain?"
__ADS_1
"Mas tidak tau dan Mas tidak bisa berjanji kalau kita akan selalu mesra, tapi kalau Jamila mengatakan Mas akan seperti mereka, insya Allah Mas tidak akan seperti mereka, karena seindah-indahnya wanita di luar masih indah istrimu, dan jangan lah berzina, karena berzina sama saja memakan daging babi, sedangkan istri sama saja seperti memakan daging yang sudah matang. Mas tidak akan melakukan itu, dan semoga saja iman Mas semakin bertambah, tapi Jamila harus tau, semakin kuat iman kita, semakin banyak juga ujian kita."
Kinanti hanya menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum lebar, hatinya sangat tenang saat suaminya memberikan nasehat, karena nasehat itu akan di jadikan ilmu untuk kehidupannya nanti
Kinanti langsung memeluk suaminya sangat erat sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
"Jamila senang tidak kalau Kakek dan Nenek bukan seperti orang yang ada dalam pikiran Jamila?"
"Tentu saja Jamila sangat senang Mas, Jamila pikir orang kaya seperti mereka akan memandang bibit-bobot, ternyata mereka sangat baik, tidak heran kalau Mas menjadi lelaki baik, jadi sifat mereka semua itu menurun ke Mas."
"Kata siapa? Mas juga bisa marah dan emosi, bahkan Mas sampai kabur dari apartement, tapi satu hal yang Mas ingat saat itu Mas tidak mau melukai hati Jamila dengan ucapan gila Mas, karena semua manusia itu tempatnya khilaf, jadi Mas memutuskan untuk pergi."
"Tapi pikiran Jamila tidak tenang saat di tinggal oleh Mas, Jamila lebih baik di marahi oleh Mas, atau Mas maki saja Jamila, bilang saja Jamila wanita tua yang masih bersikap kanak-kanakan dari pada Mas pergi dari apartement."
Ungkapan itu memang jujur dari hati Kinanti, ia lebih baik di marahi dan di maki oleh suaminya dari pada ia di tinggal pergi oleh suaminya, banyak ketakutan dalam pikiran ia saat suaminya pergi.
Kinanti takut kalau suaminya tidak bisa mengendalikan emosi hingga menyebabkan suaminya kecelakaan, bukan hanya itu ia juga takut suaminya di manfaatkan oleh orang-orang yang mencinta suaminya hingga suaminya di jebak tidur satu ranjang dengan wanita yang mencintai suaminya, jadi ia memilih di marahi oleh suaminya, ia takut hal buruk terjadi pada suaminya.
"Semoga Mas tidak sampai marah seperti itu lagi, Mas berharap kalau Mas bisa selalu memberikan contoh positif dari pada contoh negatif untuk Jamila."
Kinanti menganggukan kepalanya pelan sambil meraba-raba milik suaminya.
"Mas, Jamila pingin."
Kinanti berbicara sambil mengelus milik suaminya tanpa tau malu.
"Iya sudah ayo berolah raga malam, biar benih Mas cepat jadi kecebong."
"Iya ayo Mas."
Kinanti mengiyakan ucapan suaminya dengan senang hati, ia memang selalu saja ketagihan. Akhirnya mereka berdua melakukan olah raga malam sesuai yang di inginkan oleh Kinanti
__ADS_1