Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 11 Hinaan


__ADS_3

Setelah selsai sarapan Ali memutuskan mengantar istrinya ke Wijaya Grup terlebih dahulu baru ia ke pesantren. Mereka berdua pergi dengan menggunakan motor karena Ali tidak suka terjebak macet.


Tidak lupa Ali juga meletakan penyadap suara di tas istrinya, ia takut kalau istrinya kenapa-napa, untuk itu ia meletakan penyadap suara yang langsung terhubung dengan ponselnya. Setelah menempuh perjalanan 30 menit Ali dan istrinya sampai di Wijaya Grup.


"Mau saya tunggu atau bagai mana?"


"Tidak usah, katanya kamu mau ke pesantren, aku bisa naik taksi."


"Iya sudah kamu hati-hati."


Kinanti menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Salim sama suami!"


Ali langsung menyodorkan tangannya pada istrinya yang langsung di sambut oleh istrinya, dan di balas oleh ia dengan kecupan singkat di kening istrinya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Kinanti melambaykan tangan ke arah suaminya saat motor suaminya sudah melaju sambil tersenyum lebar, ia merasa kalau suaminya sangat romantis.


Kinanti langsung masuk ke dalam ruangan atasannya, ia tidak peduli tatapan-tatapan dari teman seprofesinya.


"Bagai mana bisa kamu mendapatkan scandal seperti ini Kinanti?!"


Arga selaku atasan dari Kinanti langsung marah pada Kinanti, apa lagi harapannya hanya pada Kinanti dan Lisa yang di rekomendasikan ke Alfero Grup.


"Saya di jebak pak."


"Kamu bilang kamu di jebak?! Lalu siapa yang menjebak kamu! Apa kamu punya bukti?!"


"Langsung bicara ke intinya saja pak, kalau bapak ingin memecat saya tinggal pecat, tidak perlu membentak-bentak saya!"


Arga menghela napas kasar saat mendengar bentakan dari Kinati.


"Berani sekali kamu membentak saya! Jangan lupa kalau kamu menjadi seperti ini karena saya!"


"Saya sangat ingat kalau saya bisa sukses karena bapak,tapi bukan berarti bapak bisa seenaknya membentak saya!"


"Baik saya tidak akan panjang lebar, maaf saya tidak bisa membiarkan kamu bekerja di sini lagi."


"Baik pak."

__ADS_1


"Ini uang pesangon kamu, terima kasih atas pekerjaan kamu selama ini."


Arga berbicara sambil memberikan uang pesangon untuk Kinanti. Kinanti langsung mengambil uang yang di serahkan Arga.


"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi."


"Iya sama-sama Kin."


Kinanti langsung keluar dari ruangan Arga yang sudah di tunggu oleh Riana, selaku sebagai sahabat dan menajer Kinanti.


"Riana, aku minta maaf karena sudah tidak bisa mempekerjakan kamu lagi, aku sudah di pecat."


"Terus aku bekerja sama siapa lagi Kin, aku tidak ada yang akrab dengan model di sini."


"Nanti kalau aku sudah bekerja lagi kamu akan menjadi menajerku lagi, untuk sementara waktu kamu coba dulu cari pekerjaan lain."


"Iya sudah."


Kinanti langsung memeluk Riana dan di balas pelukannya oleh Riana.


"Terima kasih selama ini sudah membantuku."


"Sama-sama Kin, terima kasih kembali karena kamu juga sudah mepekerjakan aku selama ini."


"Gue tidak menyangka kalau model yang selalu di nomer satukan itu menjual diri!"


"Pantas saja populeritasnya semakin naik, orang dia menjual tubuhnya!"


"Kira-kira siapa ya yang sudah membobol keprawanannya dan di bayar berapa iya?"


"Ah mana gue tau, yang jelas mungkin sudah tidak berasa nikmat lagi saat di nikmati karena sering di pakai."


"Ya iya lah kalau sering berganti lelaki itu ukurannya berbeda-beda, ada yang panjang, ada yang pendek, ada yang kecil, ada yang besar."


Kinanti ingin sekali marah pada mereka, ia sangat tidak terima saat mereka menghinanya, tapi ia ingat ucapan suaminya untuk belajar menahan emosi dan menyuruh ia untuk di biasakan istighfar. Saat ia akan ke luar gedung, ia berpapasan dengan Lisa.


"Seharusnya dari awal wanita murahan seperti kamu itu tidak pantas bekerja menjadi model!"


Kinanti menghentikan langkah kakinya bersama Riana, mereka langsung membalikan tubuhnya sambil menatap tajam pada Lisa.


"Dan wanita murahan sepertimu juga tidak pantas untuk Aska!"


Kinanti masih diam, ia hanya tersenyum lebar pada sahabatnya, seolah-olah ia tidak tersinggung dengan hinaan dari sahabatnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku juga tidak perlu bersahabat dengan wanita kotor sepertimu!"


"Iya seharusnya seperti itu Lisa, seharusnya saya tidak percaya dengan wanita seperti kamu! Mengejar populeritas dengan berkedok sahabat, tapi saya sama sekali tidak menyesal, karena akan ada waktunya kamu terjatuh, akan ada waktunya kamu tetap di bawahku, akan aku pastikan itu terjadi kembali Lisa!"


Kinanti sudah tidak lagi menggunakan kata aku kamu, melainkan saya kamu, bagi ia Lisa memag tidak pantas menjadi sahabatnya lagi, tapi ia akan buktikan kalau ia akan mulai berkarir lagi dari nol.


Riana langsung menggenggam tangan Kinanti untuk tidak mencari keributan, apa lagi Kinanti baru saja di pecat, ia tidak mau cintra Kinanti semakin buruk di mata umum, terlebih di luar sudah banyak wartawan.


Lisa langsung mendekati Kinanti sambil tersenyum lebar, wajahnya angkuh dan sombong, itu lah wajah asli yang di perlihatkan oleh Lisa.


"Kamu lihat sendiri kalau mantan calon suamimu lebih memilih aku dari pada kamu."


Lisa berbicara sambil menujukan foto di ponselnya pada Kinanti. Kinanti tersenyum lebar saat melihat foto Aska bersama Lisa, entah kenapa hatinya sama sekali tidak merasakan cemburu.


Memang Kinanti akui kalau Aska adalah cinta pertamanya, tapi kehadiran Ali mampu membuat hatinya sama sekali tidak perduli lagi tentang Aska.


"Saya sama sekali tidak peduli, suamiku jauh lebih tampan, lebih imut dan terutama nilai agamanya, suamiku sangat sempurna."


"Tapi yang aku tau Bunda dari Ali adalah seorang pelakor!"


"Bunda hanya di jebak oleh Kenan, dan suatu saat kebenaran itu akan saya ungkap jika Aska masih saja menyudutkan Bunda. Keluarga Kenan memang tidak tau malu, Kenan datang dengan iming-iming cinta pada Bunda."


"Jaga mulutmu Kinanti! Dia adalah Ayah mertuamu, bagai mana bisa kamu memanggil dia dengan panggilan Kenan?!"


Lisa berbicara sambil menatap tajam ke arah Kinanti, karena Kinanti sangat merendahkan Kenan, lelaki yang sangat ia hormati.


"Dalam kamus hidupku Kenan bukan Ayah mertuaku, dan dalan kamus suamiku Kenan hanya lelaki bejat. Suamiku juga tidak menganggap Kenan sebagai seorang Ayah, lalu apa pantas aku menganggap Kenan Ayah mertuku?"


"Kamu tau sedang berhadapan dengan siapa?! Aku merekam semua percakapan kita dan akan aku sebarkan rekaman itu agar citramu semakin buruk!"


Entah kenapa Kinanti merasa kalau Lisa juga ada hubungannya dengan foto yang mejebaknya.


"Lakukan saja sepuasmu, aku sama sekali tidak peduli, dan akan aku pastikan kalau pak Arga menyesal telah memecatku!"


"Dasar wanita murahan tidak tau diri! Memang jallang seperti kamu tidak tau malu!"


Plak...!


Sebuah tamparan keras itu mendarat mulus di pipi Lisa. Setelah itu Kinanti langsung menjambak rambut Lisa agar mendongkak, sifat bar-bar Kinanti keluar jika kesabarannya terus saja di kikis habis oleh Lisa.


"Berani sekali kamu bilang saya jallang! Suatu saat akan aku buktikan siapa yang jallang di sini. Jangan lupa kalau kamu sudah pernah tidur dengan pak Rendi, kamu pikir saya tidak tau?!"


Lisa tidak menyangka kalau Kinanti tau tentang ia bersama pak Rendi, lelaki yang sudah menidurinya.

__ADS_1


__ADS_2