Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 98 Aska minta maaf


__ADS_3

Sesuai ucapannya tadi siang malam harinya Aska dan ke dua orang tuanya memutuskan untuk menjenguk Anisa. Sesekali Aska tersenyum setelah mempelajari semua do'a dari ustadz tempat ia mengaji.


Aska memang selalu bersikap kanak-kanakan, tapi semenjak mencintai Anisa, ia sudah tidak menjadi lelaki seperti itu lagi, ia juga berharap kalau ia memang bisa segera berubah untuk lebih baik lagi, dan ucapan Anisa selalu menjadi pedoman untuk belajar.


Setiap akan belajar Aska selalu mengingat berubah lah karena Allah, bukan karena sesaorang, karena itu akan memudahkan kamu untuk belajar, kalimat itu selalu ia ingat.


Menurut Aska ucapan Anisa memang benar kalau ia belajar bukan karena sesaorang, akan lebih mudah untuk belajar.


Aska duduk di belakang, sedangkan Papanya yang menyetir dan Mamanya duduk di samping Papanya.


"Ma, sebelum Aska tidur tadi sore, Aska sempat dengar Papa mau menikah, maksudnya apa? Apa Aska salah dengar karena epek mengantuk?"


"Oh itu nak, kata Papa besok kita menikah lagi secara agama, bagai mana pun juga Papa berkali-kali mengajak Mama bercerai, walau pun dalam negara kita masih sah suami istri, tapi kata Papa takut kalau dalam agama kita sudah resmi bercerai, jadi lebih baik kita menikah lagi."


"Oh, bagus kalau seperti.itu."


Aska sangat senang saat mendengar jawaban dari Mamanya, ia berharap rumah ke dua orang tuanya langgeng.


Tidak terasa mobil itu sampai di parkiran rumah sakit, mereka bertiga langsung turun dari mobil lalu langsung berjalan ke arah ruang rawat Anisa.


Aska dan ke dua orang tuanya sangat terkejut saat melihat di sana ada ke dua Kakek dan Nenek yang mereka kenali kalau mereka adalah pemilik Alfero Isabel Grup dan Abraham Grup membuat mereka menghentikan langkah kakinya.


"Pa, kenapa mereka ada di sini? Siapa sebenarnya Anisa bisa di jenguk orang besar seperti mereka?"


Lusi bertanya dengan raut wajah bingung karena mereka berdua orang besar seperti mereka yang memiliki banyak kesibukan, tapi mau datang ke ruang rawat Anisa.


"Mas juga tidak tau."


Walau pun Kenan menikahi Anisa, ia tidak tau kalau mereka berdua adalah orang tua Anisa. Mereka bertiga langsung melanjutkan langkah kakinya hingga sampai di depan mereka. Aska langsung mengucap salam.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam!"

__ADS_1


Aska langsung menyami Morgan dan istrinya, lalu menyalami adiknya dan adik iparnya.


Begitu pun dengan ke dua orang tuanya melakukan hal yang sama, menyalami ke dua orang tua Anisa dan putranya termasuk menantunya.


Morgan dan istrinya langsung menujukan wajah tidak suka saat melihat Kenan, lelaki yang tidak bertanggung jawab menurut mereka.


"Ali, bagai mana keadaan Bunda?"


"Alhamdulilah, Bunda sudah melewati masa kritisnya, ini semua karena darah dari Kakak, kata dokter bersyukur kita mendonorkan darah tepat waktu, kalau tidak tepat waktu Bunda belum tentu bisa tertolong."


Setelah mengatakan itu Ali menghela napas berat, walau pun ia tau kalau Kakaknya hanya sebagai pelantara, dan yang menyembuhkan Allah, tapi ia tetap merasa senang karena Kakaknya telah mendonorkan darahnya untuk Bundanya.


"Ada apa kamu kemari? Ali, apa kamu berbaikan dengan lelaki yang tidak pantas kamu anggap sebagai Ayah?!"


Isebel bertanya dengan mata menatap tajam ke arah cucunya, ia sangat tidak suka saat melihat Kenan, karena Kenan putrinya dan cucunya dulu sangat menderita.


"Nek, sudah dong, ini rumah sakit, lagi pula manusia itu pasti pernah membuat kesalahan, tidak ada manusia yang selalu benar, karena manusia itu bukan malaikat, yang jelas Allah saja maha pemaaf, masa kita yang sebagai hambanya tidak mau memaafkan kesalahan mereka? Ingat Nek, orang yang sudah minta maaf, tapi kita tidak mau memaafkannya, kita akan mendapatkan dosa."


Ali berbicara sambil mengelus tangan kanan Neneknya, ia tidak mau membuat keributan di rumah sakit, karena akan mengganggu ketenangan pasien lain.


"Tapi kamu harus ingat Ali, kalau bajingan ini yang telah melantarkanmu."


"Nek, jangan bilang seperti itu, mau bagai mana pun juga mereka adalah keluarga Ali."


Isabel menghela napas kasar saat mendengar ucapan dari putranya.


"Ayah, Tante Lusi dan Kakak duduk saja, jangan di ambil hati ucapan Nenek, tolong kalian memakluminya karena mereka berdua memang sudah tua."


"Iya tidak apa-apa nak."


Kenan dan Aska langsung duduk, sedangkan Lusi masih berdiri di depan Ali sambil sesekali menunduk.


"Ali, Mama minta maaf karena telah menjahati kamu, tolong maafkan Mama Ali, dan terima kasih karena kamu mau mendonorkan darah kamu untuk Mama. Mama tau kalau Mama tidak pantas kamu panggil Mama, tapi Mama berharap kamu juga bersedia memanggil Mama."

__ADS_1


Ali tersenyum sambil menundukan pandangannya saat mendengar ucapan dari Lusi.


"Sudah sepantasnya sebagai manusia harus saling tolong menolong, Ali juga mau memanggil Tante dengan panggilan Mama, Ali senang karena Mama mau menganggap Ali sebagai putra Mama sendiri."


Walau pun Ali berat untuk memanggil Mama pada Lusi karena Lusi telah menghinanya dan Bundanya habis-habisan, tapi ia tetap akan berusaha menerima Lusi karena Lusi sudah mau berubah.


"Terima kasih nak."


"Sama-sama Ma, ayo Mama duduk, jangan terus saja berdiri di situ, capek nanti kaki Mama."


Lusi tidak menyangka kalau putra tirinya sangat mudah memaafkannya, jelas-jelas ia dulu telah melukai hati putra tirinya habis-habisan, tapi putra tirinya sama sekali tidak marah dan tidak memiliki dendam.


"Nenek tidak suka kamu menjadi lelaki baik seperti itu Ali, apa lagi pada mereka yang sudah menyakiti kamu."


Morgan langsung mengelus punggung istrinya saat mendengar ucapan dari istrinya yang tiada habisnya.


"Istighfar Hanny."


Ali hanya tersenyum lebar tanpa menanggapi ucapan dari Neneknya karena Kakeknya sedang mencoba menenangkan Neneknya.


Awalnya Morgan ingin segera memberi beberapa pukulan pada Aska, tapi gagal karena istrinya lebih dulu emosi.


"Kamu, kenapa bisa kejar-kejaran dengan putriku?"


Lusi yang mendengar pertanyaan dari Morgan, ia tidak menyangka kalau Anisa adalah putri dari mereka, tidak heran kepintaran Anisa tidak ada duanya, ternyata kepintaran Anisa menurun dari ke dua orang tuanya.


"Maaf Pak, Aska tidak bisa menjelaskan masalah kami, tapi yang jelas Aska bener-benar minta maaf karena telah membuat putri kalian terluka, jujur Aska juga kalau tau kejadiannya seperti ini Aska akan berusaha menahan amarah Aska, Aska juga tidak menyangka kenapa putri kalian begitu mudah menyelip 5 mobil, apa lagi jalan itu sangat rame. Sekali lagi Aska hanya bisa minta maaf pada Bapak dan ibu."


Aska berbicara sambil berdiri dan setengah membungkuk pada mereka. Morgan dan istrinya sangat tidak mengerti ada hubungan apa putrinya dengan lelaki yang hanya pantas sebagai adik untuk putrinya.


"Apa dengan maaf kamu bisa membuat putriku segera siuman?"


Aska hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah sedih, tentu saja ia tidak bisa membuat Anisa segera siuman hanya dengan kata maaf.

__ADS_1


"Sekali lagi Aska minta maaf Pak, bu."


Hanya kata itu yang lagi-lagi terucap dari Aska.


__ADS_2