Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 58 di sentil


__ADS_3

Pagi harinya Ali hanya duduk di samping ranjang, ia menatap wajah istrinya sambil teesenyum lebar, wajah polos istrinya membuat ia nyaman, tapi kalau mengingat kejadian semalam membuat ia sangat malu.


Hingga pukul setengah 7 Ali masih diam di kamar, ia sama sekali belum keluar kamar karena kejadian selamam membuat ia malu untuk bertemu Bunda dan Kakanya.


Kinanti membuka matanya, ia melihat suaminya yang sedang menatapnya membuat ia tersenyum.


"Mas."


Kinanti memanggil suaminya sambil mengucek matanya.


"Iya Jamila."


Ali juga tersenyum lalu langsung mencium kening, ke dua mata dan bibir istrinya.


"Huh, capek banget Mas, tapi enak sih semalam, Mas memang yang terbaik!"


Kinanti berbicara sambi mengacungkan dua jempol dan itu membuat suaminya menggelengkan kepalanya.


"Bangun Kak Izah sudah setengah tujuh, mandi lalu sarapan, bukan'kah hari ini kita mulai kerja?"


Kinanti langsung duduk sambil tersenyum lebar saat mendengar panggilan kecilnya dulu bersama suaminya, lalu ia langsung mencium kening suaminya sekilas.


"Tidak menyangka kalau Ali kecilnya Kak Izah sekarang sudah pintar muasin Kak Izah, sampai-sampai Kak Izah sering melenguh nikmat."


Ali langsung menyentil kening istrinya, ia tidak habis pikir dengan istrinya yang selalu saja membahas tentang permainan ranjang.


Pltek...


"Aw, sakit tau Mas! Belum apa-apa sudah melakukan KDRT."


Kinanti berbicara sambil mengelus keningnya sendiri.


"Kening Jamila tidak ada apa-apanya dengan rasa malu Mas semalam karena kelakuan Jamila yang memalukan, masa memegang milik Mas di depan Bunda dan Kak Aska, malu-maluin saja! Kalau mau raba-raba tau tempat Jamila, Mas sampai malu bertemu Bunda karena kelakuan Jamila."


Kinanti melebarkan matanya saat mendengar ucapan panjang dari suaminya, ia semalam tidak melihat siapa pun selain suaminya yang sedang duduk di sofa.


"Mas serius?"


"Ngapain Mas membohongimu Jamila, bahkan Mas sampai malu sama mereka gara-gara kelakuan Jamila."

__ADS_1


"Ih Mas, harusnya Mas bilang dong kalau ada Bunda di sofa, ya Allah mau di taro di mana muka Jamila coba Mas? Ih sangat memalukan!"


Kinanti mengacak-acak rambutnya prustasi, ia tidak habis pikir kenapa otak mesumnya itu tidak bisa ia kontrol, setelah melakukan malam pertama bersama suaminya membuat ia kecanduan.


Ali tersenyum lebar saat melihat wajah prustasi dari istrinya, ia berharap setelah kejadian ini pikiran mesum istrinya bisa di kontrol.


"Wajah Jamila masih tetap sama, tidak akan berubah."


"Ih Mas menyebalkan! Jamila malu tau bertemu Bunda, oh iya tadi Mas bilang Aska?"


"Kak Aska Jamila, sekarang Kak Aska kaka ipar kamu."


Kinanti menghembuskan napasnya dengan kasar dengan perasaan terkejut, entah sejak kapan suaminya memanggil Aska dengan panggilan Kakak, ia sangat tidak suka saat suaminya memanggil Aska dengan panggilkan Kakak.


"Sejak kapan Mas manggil Aska dengan panggilan Kakak?"


"Sejak semalam, Kak Aska datang kemari untuk minta maaf, dan Kak Aska juga menjelaskan kalau Kak Aska baru tau permasalahan orang tuanya bersama Bunda."


"Mas memaafkan Aska begitu saja setelah menghina Mas habis-habisan?"


"Kak Aska tidak tau apa-apa, tentu Mas memaafkan Kak Aska."


"Mas bukan orang baik dan bukan juga orang jahat, tapi yang Mas tau yang ada di dalam pikiran Mas, Allah saja maha pemaaf untuk hambanya, jadi kita sebagai manusia harus saling memaafkan Jamila, ingat ucapan Mas satu hal, jangan memiliki dendam."


Kinanti menghela napas kasar, ia tidak suka kalau suaminya berbaikan dengan Aska, apa lagi terakhir bertemu dengan Aska membuat ia marah, jadi ia benci Aska.


"Sudah Jamila mandi sekarang."


Ali tau istrinya marah, tapi ia lebih memilih untuk menyuruh mandi, ia tidak mau pagi-pagi di awali dengan pertengkaran.


"Ya Allah Mas Jamila belum buat sarapan!"


Kinanti buru-buru turun dari ranjang, ini adalah hari pertama ibu mertuanya ada di apartement, dan ia lupa karena kelelahan bermain semalam, belum lagi berdebat karena masalah Aska bersama suaminya.


Ali langsung memegang pergelangan tangan istrinya saat melihat istrinya seperti panik, ia langsung menarik istrinya dalam pelukannya.


"Mas jangan peluk Jamila, ini hari pertama ada Bunda di apartement, masa Jamila tidak menyambut Bunda dengan sarapan."


Kinanti berbicara sambil mencoba melepaskan pelukan dari suaminya, walau pun ia sangat senang di peluk lama-lama oleh suaminya.

__ADS_1


Ali langsung melepaskan pelukannya saat istrinya mencoba melepaskan pelukannya sambil menghela napas berat.


"Jangan panik begitu Jamila, tidak baik untuk kehesatanmu, lagi pula Mas yakin kalau Bunda sudah membuat sarapan, lebih baik Jamila segera mandi, kita segera sarapan. Jangan sampai pintu kamar kita di ketuk oleh sesaorang."


"Baik Mas."


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung pergi ke kamar mandi. Ali langsung duduk di sofa sambil menunggu istrinya mandi sambil sesekali ia menghela napas berat, ia yakin kalau di Alfero Grup akan banyak yang bergosip karena ia tidak masuk kerja lebih dari masa cuti.


Sekitar 40 menit Kinanti selsai mandi dan merias wajahnya, tidak lupa memakai baju gamis dan hijab. Ali yang melihat istrinya sudah ada di depanya dengan memakai pakaian syar'i, ia sangat terkejut.


"Jamila tidak salah memakai baju?"


"Jamila ingin belajar menutup aurat Mas, walau pun ahlak Jamila terkadang masih selalu tidak bisa sabar, tapi Jamila akan berusaha menjadi wanita baik yang seperti Mas inginkan."


"Alhamdulilah."


Ali berbicara sambil berdiri dan tersenyum lebar, ia sangat bahagia saat tau istrinya akan berusaha berubah untuk menjadi lebih baik lagi.


Ali merasa memang tidak sia-sia Bundanya memasukan ia ke pesantren, dan benar kata Bundanya kalau lelaki itu harus bisa membimbing istri bukan istri yang membimbing suami, ia berharap kalau rumah tangganya semakin harmonis.


Ali dan istrinya langsung keluar dari kamar, mereka berdua langsung berjalan ke arah meja makan yang sudah di tunggu Bunda dan Kakanya.


"Bunda, maaf Jamila tidak membuat sarapan."


Kinanti langsung minta maaf dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa nak, yang penting semangat goyangin ranjangnya."


Anisa berbicara sambil tersenyum lebar karena tidak memakai cadar, dan ucapan ia mampu membuat wajah putra dan menantunya langsung memerah.


Ali dan istrinya sangat malu sekali dengan ucapan prontal dari Bundanya. Sedangkan Aska hanya fokus menatap Anisa yang sedang tersenyum lebar, ia sudah tau kalau Anisa mengalami kecelakaan karena tadi pagi Anisa sudah bercerita dengan Aska.


Namun menurut Aska kecantikan Anisa tidak berubah, mau dulu dan sekarang Anisa masih tetap terlihat muda dan tangannya pun tidak ada kerutan seperti wanita paru baya pada umumnya.


"Jangan malu nak, Bunda juga pernah muda, dan pernah memiliki suami tentu saja hal itu sudah sangat wajar, bahkan Bunda sudah punya buntut."


"Iya bahkan buntut Bunda sangat tampan dan sempurna."


Kinanti menjawab ucapan dari ibu mertuanya sambil tersenyum lebar dan melirik sekilas ke arah Aska yang hanya fokus menatap wajah ibu mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2