
Setelah luka di kepalanya di perban, Aska dan Papanya memutuskan untuk pulang ke rumah, walau pun ia sangat menghuatirkan Anisa, tapi yang di katakan adiknya memang benar kalau ia butuh istirahat.
Setelah di rumah Aska langsung di peluk oleh Mamanya yang baru saja akan ke rumah sakit saat melihat berita yang beredar di media tentang kecelakaannya bersama Kanaya.
"Kamu tidak apa-apa'kan nak? Kenapa kamu lemas seperti habis keluar banyak darah?"
"Aska baik-baik saja Ma, hanya luka ringan saja, bersyukur karena Bunda Anisa menolong Aska."
Aska tidak ingin menyembunyikan lagi siapa Kanaya sebenarnya, ia ingin ke dua orang tuanya tau kalau wanita yang sangat ia cintai itu rela berkorban untuknya.
"Siapa Bunda Anisa nak? Bukan'kah kamu kejar-kejaran dengan Kanaya?"
Lusi bertanya sambil melepaskan pelukannya, ia menatap mata putranya yang seperti menghuatirkan sesuatu bukan karena syok. Sebelum putranya menjawab pertanyaannya ia lebih dulu bertanya lagi.
"Kamu sedang memikirkan apa nak?"
Lusi bertanya sambil mengelus pipi kanan putranya.
"Aska sangat kuatir sama Bunda Ma, Bunda sekarang sedang kritis di rumah sakit, Bunda kehabisan banyak darah."
Aska menjawab pertanyaan dari Mamanya sambil menghela napas berat, ia sangat kuatir pada Anisa.
"Kamu belum memjawab pertanyaan dari Mama, apa Bunda Anisa itu Kanaya?"
"Iya Ma, Bunda yang sudah menolong Aska, seharusnya tadi yang kecelakaan itu Aska bukan Bunda."
Lusi menghela napas berat, jadi putra dan suaminya mencintai wanita yang sama yaitu Anisa.
Lusi dulu bertanya-tanya apa yang istimewa dari Anisa, sekarang ia tau kalau Anisa adalah wanita yang baik, Anisa rela dirinya terluka hanya untuk menolong orang lain.
Lusi juga sekarang merasa tidak heran kenapa suaminya bisa mencintai Anisa sangat lama, walau pun Anisa tidak pernah hadir di kehadiran suaminya lagi.
"Aska, lebih baik kamu segera istirahat, nanti sore kamu harus jenguk Bunda."
Kenan menyuruh putranya untuk segera istirahat karena ia ingin berbicara dengan istrinya, ia tidak mau kalau putranya tau tentang ia yang ternyata bukan Papa kandungnya.
"Baik Pa."
__ADS_1
Aska langsung melangkahkan kakinya untuk ke kamar, tapi sebelum melangkah ke kamar ia menghentikan langkah kakinya di samping pintu untuk mendengarkan semua pembicaraan ke dua orang tuanya.
Aska yakin ada sesutu yang di sembunyikan dari ke dua orang tuanya, mengingat adiknya yang mengatakan yakin Kakak memiliki golongan darah AB+.
"Lusi, jadi kamu selama ini selingkuh?"
Kenan bertanya dengan suara berat dan mencoba menahan amarahnya saat tau kalau putra yang sangat ia sayangi ternyata bukan putra kandungnya, sedangkan Ali yang putra kandungnya, selama ini sudah ia sia-siakan.
"Mas menuduh aku selungkuh?! Bukan'kah Mas sendiri yang menginginkan ingin menikahi Anisa lagi? Lalu kenapa Mas harus menuduhku? Aku tau sekarang kalau Anisa wanita yang sangat baik, dan mungkin bisa termasuk wanita sepesial di hati Mas, tapi bukan berarti Mas menuduhku selingkuh!"
Aska yang mendengar tuduhan dari Papanya, ia hanya diam saja, tapi hatinya sangat kecewa saat mendengar Papanya menuduh Mamanya hanya ingin bercerai.
"Tolong jujur Lusi, apa sampai sekarang kamu masih selingkuh di belakang Mas?"
"Aku dari dulu mencintai Mas, mana mungkin aku selingkuh."
Kenan tersenyum getir dengan raut wajah yang sangat kecewa.
"Kamu memang wanita jahat Lusi, kamu membiarkan aku melantarkan Ali, putra kandungku sendiri, sedangkan aku membesarkan anak hasil perselingkuhanmu!"
"Apa kamu berpura-pura bodoh pada Mas? Mas tau kalau Aska bukan putra kandung Mas!"
"Mas jangan sembarangan berbicara! Aska itu darah daging Mas sendiri!!!"
Lusi berteriak marah, ia tidak mengerti dengan suaminya yang menuduhnya, ia tau kalau suaminya menginginkan bercerai darinya, tapi ia tidak menyangka kalau suaminya menuduhnya sekeji itu.
"Kamu bilang Aska putra kandungku darah dagingku? Lalu kenapa Aska memiliki golongan darah yang sama dengan Anisa yaitu AB+?!"
Lusi yang mendengar pertanyaan dari suaminya ia tidak menyangka kalau putranya bukan darah daging dari suaminya.
"Sedangkan Ali, memiliki golongan darah O+ sama seperti aku dan kamu Lusi."
"Kenapa setiap ada masalah Mas selalu saja menyangkut pautkan dengan Ali dan Ali?"
"Kenapa kamu membenci Ali? Jangan lupa di tubuhmu itu mengalir darah dari Ali!"
Lusi sudah sangat terkejut dengan pakta putranya dan sekarang di kejutkan lagi dengan pakta anak tirinya.
__ADS_1
"Maksud Mas?"
"9 tahun yang lalu saat kita kecelakaan, Ali yang mendonorkan darahnya untuk kamu, saat itu setok darah sedang kosong, dan kebetulan Ali sedang menjenguk ustadz yang sakit, Ali bertemu dengan Luci, dan Luci menceritakan tentangmu, jadi Ali mendonorkan darahnya secara diam-diam untuk kamu, apa kamu masih mau membenci putraku Lusi? Putraku yang selalu bersikap baik, tapi kamu membencinya, Anisa yang merelakan segalanya untuk kita kamu menghina dan memfitnahnya, di mana hati nurani kamu Lusi? Mas benar-benar menyesal telah menikahi wanita sepertimu."
Kenan berbicara dengan mata yang sudah memerah, ia kecewa dan sedih saat mengingat ia menyia-nyiakan putra kandungnya sendiri selama ini, tapi ia menyayangi putra hasil perselingkuhan istrinya.
Lusi tidak menyangka kalau Ali telah menolngnya, ia tidak menyangka kalau anak tiri yang sangat ia benci selama ini ternyata sudah bersedia mendonorkan darahnya.
"Lusi, jawab Mas sebenarnya Aska itu anak kamu dengan lelaki mana?"
Lusi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat di tanya oleh suaminya, ia tidak menyangka kalau kejadian 30 tahun lalu terjadi, apa lagi ia melakukannya hanya sekali, dan ia pikir juga Aska putra dari suaminya.
Lusi tidak berpikir sedikit pun tentang kejadian saat itu akan menjadi seorang anak, ia selalu berpikir kalau Aska adalah putra dari suaminya. Aska langsung berjalan ke arah ke dua orang tuanya.
"Jadi Aska bukan anak kandung Papa? Lalu Aska anak siapa Ma?"
Lusi sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari putranya. Sedangkan Kenan hanya menghela napas kasar, awalnya ia tidak ingin putranya tau tentang masalah ini, tapi ternyata di luar dugaannya, putranya dari tadi tidak pergi ke kamar.
"Maafkan Mama nak, jujur saja Mama tidak tau kalau ini bisa terjadi."
Setelah mengatakan itu Lusi langsung mengeluarkan air matanya, ingatannya mengingat masa lalu 30 tahun silam.
"Jadi benar kalau Aska bukan anak kandung Papa, lalu Aska anak siapa Ma?"
"Maafkan Mama, sepertinya kamu anak kandung Ri-Rian."
"Kamu selingkuh dengan sahabat kamu sendiri Lusi?!"
Kenan bertanya dengan raut wajah tidak percaya saat mendengar jawaban dari istrinya, ia tidak menyangka kalau selama ini istrinya tega berselingkuh dengan lelaki lain.
"Lalu setiap kali kamu ucapan cinta pada Mas itu hanya untuk menutupi perselingkuhan kamu?"
"Tinggu dulu Pa, maksudnya Rian Arseta? Papanya Lisa?"
"Iya nak. Maafkan aku Mas, aku tidak bermaksud untuk berselingkuh dengan Mas, aku hanya mencintai Mas, tapi kejadian itu hanya kecelakaan Mas, aku tidak berpikir kalau aku hamil anaknya, aku pikir aku hamil anakmu, aku sendiri saja tidak tau."
"Mama jahat! Belum cukup masalah Aska yang di buat oleh Mama dan sekarang sudah menambah masalah lagi!"
__ADS_1