Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 40 Saling minta maaf


__ADS_3

Setelah menenangkan diri di rumah Kakeknya, kini Ali sudah berjalan ke arah apartement, ia beristighfar berkali-kali agar amarahnya tidak mengusainya lagi, ia tidak mau permasalahannya terus saja berlarut-larut.


"Assalamualaikum!"


Ali melangkah masuk ke dalam apartement sambil mengucapkan salam, yang langsung di sambut dengan pelukan erat oleh istrinya.


Pelukan Kinanti sangat erat, ia sedang menyalurkan rasa takutnya pada suaminya, banyak yang ia takutkan saat suaminya pergi, bukan hanya takut suaminya kecelakaan saja, tapi ia takut suaminya tidak mau kembali lagi ke apartement.


"Maafkan Jamila Mas, tolong jangan tinggalkan Jamila. Jamila tidak ingin berpisah dengan Mas. Hiks... Hiks..."


Ali menghela napas berat saat mendengar permintaan maaf dari istrinya yang begitu menghayat di hatinya karena mendengar isak tangis pelan juga dari istrinya.


Ali langsung membalas pelukan dari istrinya, ia juga mengecup singkat kening istrinya yang tertutup hijab.


"Iya tidak apa-apa Jamila, Mas juga minta maaf karena tidak bisa mengontrol emosi."


Kinanti menjawab dengan menggelengkan kepala, suaminya tidak salah, tapi yang salah ia, bahkan ia juga menceritakan perkara rumah tangganya pada Bundanya, dan Bundanya mengatakan ia yang salah dalam masalahnya, bukan suaminya.


Bi Yanti yang tidak sengaja melihat adegan Ali dan Kinanti hingga dua tetes air matanya jatuh, apa lagi tadi ia melihat Kinanti yang mondar-mandir menunggu suaminya pulang membuat ia merasa iba pada Kinanti.


Kinanti melepaskan pelukannya, ia langsung menatap mata suaminya sambil terus mengeluarkan air mata.


"Mas tidak akan meminta untuk kita berpisah'kan? Mas akan memberi kesempatan pada Jamila'kan?"


Ali menganggukan kepalanya sambil menghapus air mata istrinya.


"Sudah Mas bilang semua keputusan ada di Jamila, Mas memang mencintai Jamila, tapi Mas tidak akan memaksa Jamila untuk selalu di samping Mas."


"Kalau semua keputusan ada di Jamila, Jamila tidak ingin berpisah dengan Mas, Jamila cinta sama Mas, dan Jamila juga tidak malu kalau di nikahi Mas. Bahkan Jamila ingin seluruh dunia tau kalau Mas adalah suami Jamila."


"Lalu saat tadi pagi Jamila mengatakan gengsi maksudnya apa?"


Ali bertanya dengan raut wajah bingung saat mendengar ucapan dari istrinya.

__ADS_1


"Jamila malu untuk mengakui kalau Jamila sudah sangat mencintai Mas, bukan karena Jamila malu pada orang lain. Bahkan Jamila sangat bangga memiliki Mas yang memiliki segalanya tanpa kekurangan. Maafkan Jamila Mas, ternyata usia itu tidak bisa menentukan orang itu dewasa atau tidak, nyatanya walau pun usia Mas lebih muda 5 tahun dari Jamila, tapi Mas selalu bersikap dewasa dari pada Jamila."


Ali tersenyum lebar saat mendengar penjelasan dari istrinya, ia bahagia saat tau kalau istrinya tidak malu menikah dengan ia yang lebih muda dari usia istrinya.


Tiba-tiba saja perut Kinanti berbunyi karena dari pagi ia belum sarapan hingga sekarang. Apa lagi sekarang sudah menujukan pukul 21.23WIB, tentu saja ia sangat lapar.


Kryuk...!


Ali yang mendengar suara perut istrinya membuat ia tertawa pelan, di saat situasi sedang tegang, cacing di perut istrinya berbunyi untuk mencairkan suasana. Wajah Kinanti langsung merah saat mendengar tawa dari suaminya, ia sangat malu pada suaminya.


"Jamila lapar?"


"Iya Mas, dari pagi Jamila belum makan sesuatu."


Ali menghela napas berat saat mendengar jawaban dari istrinya, ini salahnya karena ia tidak bisa mengontrol emosi hingga membuat istrinya kelaparan.


"Maafkan Mas karena Mas membuat kamu kelaparan. Ayo sekarang kita makan."


"Iya Mas."


"Mas, sudah makan?"


"Belum Jamila."


"Kenapa tidak makan juga? Atau Mas ingin Jamila masakin sesuatu?"


"Kita makan satu piring berdua."


Kinanti menganggukan kepala sambil tersenyum lebar. Ali langsung membaca do'a, lalu langsung menyuapi istrinya dan menyuapi diri sendiri.


Kinanti mengunyah makanan sambil terus menatap wajah suaminya yang sangat ia rindukan, walau pun suaminya pergi dari pagi sampai malam, tapi ia memang sangat merindukan suaminya.


"Kenapa Jamila menatap Mas seperti itu?"

__ADS_1


Ali bertanya dengan raut wajah bingung saat istrinya terus saja menatap wajahnya.


"Jamila sangat merindukan Mas, Jamila takut Mas tidak pulang lagi ke apartement, tapi Alhamdulilah, Allah mengabulkan do'a Jamila, walau pun Jamila tau kalau Jamila wanita penuh dosa, tapi Allah masih baik pada Jamila."


Ali tersenyum di sela-sela kunyahannya dengan tangan kiri yang mengelus kepala istrinya.


"Bagai mana apa Jamila sudah terbiasa memakai hijab?"


"Iya Mas Jamila sudah sedikit nyaman, walau pun belum nyaman banget."


"Alhamdulilah kalau Jamila sudah mulai nyaman memakai hijab."


Setelah selsai makan mereka berdua langsung rebahan karena hari memang sudah sangat malam.


Ali menyadarkan kepalanya di kepala ranjang, sedangkan istrinya rebahan dengan kepala yang ada di pangkuannya.


"Mas, tidak telpon Kakek? Kakak pasti menunggu kita dan bertanya-tanya kenapa kita tidak datang."


Kinanti bertanya sambil ke dua tanganya memainkan jari-jari tangan kiri suaminya.


"Tidak perlu Mas baru saja pulang dari sana Jamila."


"Jadi Mas pergi tanpa mengajak Jamila? Mas tau tadi pagi ranjang kita seperti kapal pecah hanya untuk penampilan Jamila, tapi Mas tega meninggalkan Jamila."


Ali mengangkat bantal yang ada di pangkuannya untuk mendekatkan wajahnya dan wajah istrinya, ia mencium bibir istrinya sekilas.


"Maafkan Mas Jamila, Mas terlalu terbawa emosi, Mas datang ke rumah Kakek untuk mencari solusi terbaik untuk pernikahan kita, seperti yang Jamila ucapkan, Mas hanya anak kecil, tidak memiliki pengalaman apa pun, karena sekedar pengalaman mencintai wanita saja Mas tidak tau, hanya kamu wanita ke dua yang Mas cintai selain Bunda."


Ali menghela napas berat, tadi pagi ia kekeh tidak ingin di panggil anak kecil, tapi sekarang ia mengakui kalau ia hanya lah anak kecil yang tidak memiliki pengalaman dalam hal rumah tangga.


"Mas tidak tau harus mencontoh siapa untuk membina rumah tangga kita, mencontoh rumah tangga Kakek dan Nenek yang selalu harmonis, tapi Mas tidak pernah tinggal di sana. Mencontoh rumah tangga Ayah dan Bunda, nyatanya Ayah penuh kepalsuan untuk membina rumah tangganya bersama Bunda. Maafkan Mas karena Mas belum bisa menjadi suami yang baik untuk Jamila, tapi perlu Jamila tau satu hal, seandainya Mas bisa memilih tentang usia, Mas ingin di lahirkan lebih dulu dari pada Jamila, agar usia Mas tidak menjadi penghalang untuk rumah tangga kita, karena sampai kapan pun Mas hanya ingin Jamila yang selalu menjadi istri Mas, entah kapan pun itu Jamila akan menjadi satu-satinya wanita yang Mas cintai selain Bunda."


Air mata Kinanti tiba-tiba saja menetes saat mendengar ucapan dari suaminya yang sangat menyentuh hati, saat suaminya mengatakan harus mencontoh siapa hatinya sangat sakit dan sedih, ia yakin suaminya tidak mudah untuk menjalani hidupnya selama ini, tapi suaminya terlihat baik-baik saja, kalau ia yang mangalaminya mungkin ia sudah depresi.

__ADS_1


Lalu suaminya mengatakan tentang usia, Kinanti sangat bahagia karena suaminya hanya mencintainya, ia akui kalau ucapannya itu salah.


"Mas adalah suami yang baik, tidak perlu mencontoh siapa pun, cukup jadi diri Mas sendiri."


__ADS_2