
Lisa menghembuskan napasnya dengan kasar setelah beberapa kali ia salah dalam naskah yang tertulis, bahkan tadi ia sampai di marahi oleh sutradara karana ia lagi-lagi tidak fokus.
Lisa melihat ke arah Ali dan Kinanti yang sedang bercanda dan tertawa di ruangan istirahat, ia semakin membenci Kinanti saat melihat Kinanti yang semakin hari semakin bahagia, ia tidak tau kenapa Ali begitu menjaga Kinanti, jelas-jelas Kinanti hanya wanita tua yang selalu bersikap kanak-kanakan, ia sangat tau tentang sifat Kinanti, bagai mana pun juga ia pernah menjadi sahabat dari Kinanti, jadi ia tau tentang Kinanti.
"Kenapa kamu selalu di atasku Kinanti! Aku ingin sekali memukul wajah pura-pura polosmu itu!" batin Lisa
Lisa langsung menghembuskan napasnya dengan sangat kasar, lalu ia langsung berjalan mendekati Ali dan Kinanti, untuk semantara ia harus membuang sikap angkuhnya karena mengingat ancaman dari Papanya yang akan menyita semua pasilitas miliknya dan uang gajih miliknya kalau ia tidak minta maaf pada Ali dan istrinya.
"Hai Ali, hai Kinanti!"
Lisa menyapa mereka sambil melambaikan tangan, tidak lupa ia juga memberikan senyuman manisnya pada mereka.
Ali hanya mengangguk sambil melihat ke arah Lisa sekilas lalu langsung melihat ke arah istrinya lagi.
"Ada apa kamu kesini?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah tidak suka saat melihat Lisa, apa lagi ia yakin kalau Lisa datang kemari ada tujuan tertentu, walau pun ia juga tidak tau apa tujuan Lisa datang ke arahnya, tapi yang jelas ia tau kalau Lisa memiliki maksud tertentu bukan untuk bertengkar dengannya lagi.
"Aku kesini hanya untuk minta maaf sama kamu dan Ali. Ali, Kinanti, aku minta maaf karena telah menyakiti istrimu, jadi tolong maafkan aku Ali."
"Saya merasa kamu tidak memiliki salah pada saya dan istri saya, kenapa kamu minta maaf pada kita?"
Ali bertanya sambil menundukan pandangannya, ia tau maksud Lisa, tapi ia pura-pura tidak tau saja.
"Aku minta maaf untuk satu minggu yang lalu saat aku mencari masalah pada Kinanti."
"Kamu itu pikun iya Lis? Kita itu sudah saling minta maaf satu minggu yang lalu, dan masalah kita juga sudah selsai, tapi kenapa kamu minta maaf lagi padaku dan suamiku?"
Kinanti bertanya dengan raut wajag bingung, ia tidak tau apa yang sedang Lisa rencanakan, ia merasa kalau Lisa ada sesuatu tersembunyi dari permintaan maafnya, ia memang tidak terlalu tau sifat Lisa, tapi yang jelas ia yakin Lisa ada maksud dari permintaan maafnya.
__ADS_1
"Aku tidak pikun Kin, aku benar-bebar minta maaf tentang itu, tolong maafkan aku."
"Iya sudah saya maafkan kamu, lebih baik kamu pergi dari sini! Mengganggu keromantisan kita saja!"
"Ali, bisa minta tolong tidak?"
Sebelum Ali menjawab pertanyaan dari Lisa, Kinati duluan yang menjawab pertanyaan dari Lisa.
"Kamu kalau minta maaf yang ikhlas dong, kenapa sekarang kamu memiliki tujuan? Dasar bermuka dua!!"
Kinanti menjawab pertanyaan dari Lisa dengan raut wajah marah sambil berdiri, ia tidak suka pada Lisa yang minta maaf dengan memiliki tujuan tertentu.
"Aku minta maaf dengan sangat ikhlas pada Ali, tapi aku juga ingin meminta tolong pada Ali, aku ingin Ali membatalkan keinginannya yang memberhentikan kerjasamanya dengan Arseta Grup, perusahaan Papa sekarang sedang memiliki masalah akibat pemberhentian kerja sama itu mulai beredar."
"Itu bukan urusan saya Lisa, kenapa kamu meminta bantuan pada saya? Saya bukan malaikat yang akan selalu baik bukan juga setan yang selalu salah, saya hanya manusia biasa, dan sudah saya ingatkan kalau itu semua sebuah peringatan karena kamu telah berani pada istri saya. Sebumnya saya sudah memberikan kamu peringatan untuk jangan mengganggu istri saya, tapi kamu terlalu memandang remeh saya karena saya hanya seorang pengacara kecil, dan kamu berpikir saya tidak memiliki apa pun. Jangan lupa Lisa, di atas langit masih ada langit!"
"Aku mohon Ali, aku tau kamu orang baik, Kin, aku mohon tolong bujuk suamimu, kalau tidak perusahaan Papa bisa bangkrut."
Lisa berbicara sambil masih terus menunduk, ia sudah terlanjur malu pada Ali dan Kinanti, jadi ia memohon untuk tidak menghentikan kerja samanya.
"Walau pun kamu memohon sama saya, atau sama istri saya, saya tetap tidak akan mengubah segalanya, seharusnya kamu itu bersyukur karena perusahan orang tuamu tidak saya masukan ke daftar hitam!"
Ali tidak mau memberikan kesempatan lagi untuk Lisa, karena pertama saja Lisa sudah melanggarnya, maka menurut ia Lisa akan tetap melanggar kalau ia memberikan kesempatan lagi, ia memang bukan lelaki baik jika harga diri istrinya sudah di injak-injak oleh orang lain.
Reyhan yang kebetulan melewati ruangan itu ia menghela napas berat saat mendengar suara Kakak sepupunya, ia tidak tau masalah apa lagi hingga suara Kakak sepupunya terdengar tegas.
"Apa pun akan aku lakukan, tapi tolong jangan berhentikan kerja sama perusahaan Papa Ali, karena masalah Alfero Isabel Grup memberhentikan kerja sama, banyak yang tidak mau bekerja sama dengan perusahaan Papa, ada juga yang memberhentikan kerja samanya, perusahaan Papa sudah rugi lebih dari 15 triliunan, kalau sampai terus saja bisa bangkrut."
"Waw, baru satu minggu sudah rugi 15 triliun? Memang suamiku itu hebat!"
__ADS_1
Kinanti berbicara dengan mata berbinar sambil mengacungkan dua jempolnya pada suaminya dan itu mampu membuat Reyhan yang sedang mengintip di depan pintu hanya menggelengan kepalanya sambil mengelus dada.
"Heran, Kak Ali mendapatkan istri dari mana sih? Orang kesusahan itu harusnya kasihan, eh itu bahagia banget, ini ni epek Kak Ali yang selalu memanjakan istrinya, dengan kekuasaan yang Kak Ali punya membuat istrinya semena-mena!" batin Reyhan
Ali hanya tersenyum lebar saat melihat wajah girang dari istrinya, ia tidak menyangka orang ke susahaan, tapi istrinya bisa bahagia, lalu ia langsung menyentil hidung istrinya.
Pltek...!
"Aw sakit tau Mas!"
Kinanti berbicara sambil mengusap-usap hidungnya yang merasa sedikit panas, walau pun sentilan suaminya pelan, tapi suaminya tetap lelaki yang memiliki tenaga besar.
"Kamu itu iya melihat orang susah ko bahagia?"
"Iya sesekali bahagia saat melihat orang lain menderita apa salahnya Mas? Lisa bakalan dapat pahala loh Mas karena sudah membuat Jamila girang. Hahaha!"
Lisa menghela napas kasar saat mendengar suara tertawa dari Kinanti, ia merasa kalau ia sekarang seperti sedang melawak di depan Kinanti hingga Kinanti tertawa bahagia.
"Lebih baik kamu pergi dan jangan meminta saya untuk hal yang tidak mungkin saya kabulkan."
"Tapi Ali."
"Sudah di usir sama suamiku juga tidak tau malu banget, masih bersyukur tidak di pecat dari Alfero Grup, dasar lintah darat!"
Kinanti berbicara sambil menatap tajam pada Lisa yang masih menunduk, ia tidak suka saat melihat Lisa yang seperti teraniyaya, bukan'kah yang menjadi korban saat pertengkaran itu ia sendiri, karena ia di lawan oleh tiga orang saat itu, tapi sekarang yang seperti teraniyaya itu Lisa.
"Mana sifat bar-bar kamu tujukin dong? Dasar wanita aneh!"
Lisa hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan dari Kinanti.
__ADS_1