
Setelah pulang syuting Ali langsung masak karena istrinya tadi kelelahan, bahkan sampai tidur di mobil, ia juga masak banyak menu karena nanti Bunda dan Kakaknya pulang.
Ali sesekali menghela napas berat saat mengingat ucapan dari Jamilah yang berbicara dengannya sebelum pulang, Jamilah mengatakan kalau Jamilah tidak suka cara ia menyayangi istrinya yang terlalu berlebihan.
Ali merasa sama sekali tidak berlebihan, ia juga memperlakukan istrinya dengan sewajarnya saja, tapi entah kanpa saat itu juga Pak Samsul yang mengatakan itu dan sekarang adik sepupunya.
"Perasaan aku selalu memperlakukan istriku biasa saja, lagi pula seorang istri itu memang harus di perlakukan berlebihan, karena seorang istri yang nantinya berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anak-anak, sedangkan aku hanya bisa berdo'a, seharusnya Jamilah itu tidak perlu berbicara seperti itu, dia itu seorang wanita, bagai mana kalau nanti suaminya tidak perhatian, huh dasar wanita selalu benar! Astagfrullah! Ali, kamu sedang memikirkan hal yang tidak jelas." batin Ali
Tiba-tiba saja ada suara bel rumah berbunyi.
Tong-ting.
Ali buru-buru mematikan kompornya karena bi Yanti dan Yuli sedang pergi ke indomarat terdekat, ia langsung tersenyum lebar saat membuka pintu menampilkan Bundanya dan Kakaknya.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Ali langsung menyalimi Bundanya dan Kakanya.
"Bunda, kenapa tidak masuk saja? Lagi pula kata sandinya masih sama."
"Bunda sengaja ingin di sambut oleh menantu Bunda, tapi kemana Jamila?"
"Jamila sedang tidur Bunda."
"Oh, bi Yanti dan Yuli?"
"Pergi ke indomart."
Mereka bertiga langsung masuk lalu langsung duduk di sofa.
"Bunda mau minum apa?"
"Tidak perlu nak."
"Iya sudah kalau begitu Ali tinggal masak dulu Bunda."
"Iya nak."
Di ruang tamu tinggal ada Anisa dan Aska yang duduk bersebrangan.
__ADS_1
"Nak, kamu sudah mengabari orang tuamu? Jangan membuat mereka kuatir, atau kamu mau pulang dulu? Kalau mau pulang dulu juga boleh, ingat pintu apartement Bunda selalu terbuka untukmu, terima kasih banyak karena sudah menemani Bunda untuk perjalanan bisnis kali ini."
"Aska masih belum ingin bertemu Mama, Bunda, Aska masih ingin di sini, apa boleh?"
"Bukan Bunda melarang kamu di sini nak, sudah Bunda bilang kalau pintu apartement Bunda akan selalu terbuka, tapi Bunda tidak mau kalau kamu lari dari masalah, kamu seorang lelaki dan akan menjadi kepala keluarga, jadi kamu harus belajar menyesaikan masalahmu dengan baik dan tanpa harus menghindar, karena nanti rumah tanggamu juga tidak selamanya mulus, tentu akan ada jalan yang berliku, kamu harus belajar dari sekarang."
"Iya Bunda, Aska tau, tapi untuk kali ini saja Aska menghindar, besok Aska pasti pulang."
"Iya sudah lebih baik kamu mandi terus istirahat, nanti pas makan Bunda ketuk pintu kamu."
"Iya Bunda."
Aska tersenyum lebar sebelum pergi, walau pun Anisa hanya menunduk, tapi ia tetap bahagia, apa lagi setelah melewati perjalanan bisnis bersama Anisa, ia sangat bahagia walau pun tidak bisa berdua karena ada asisten dari Anisa, tapi tetap saja beberapa hari ini Anisa membuat jantungnya tidak normal.
Aska menyukai wajah Anisa untuk pertama kalinya saat sarapan satu minggu yang lalu, dan sekarang ia juga menyukai perlakuan lembut Anisa, ia tau perasaannya itu bukan hanya sebatas mengagumi, ia yakin kalau perasaannya itu perasaan cinta, tapi ia tidak peduli selama ia bisa mengapus perasaan cintanya pada Kinanti.
Aska tidak mau merusak rumah tangga adiknya yang baru saja ia merasakan pelukan seorang adik, jadi ia tidak masalah kalau hatinya mencintai Anisa, walau pun ia sangat sadar tidak akan pernah bisa bersama Anisa karena Anisa hanya menganggapnya seorang putra, tapi apa salahnya kalau ia berjuang untuk cintanya.
"Maafkan Aska Bunda, sepertinya perasaan ini memang tidak bisa di cegah." batin Aska
Setelah Aska pergi Anisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas berat, ia tau kalau Aska mulai mencintainya, tapi ia berharap kalau Aska tidak berani mengungkapkan perasaannya, setidaknya Aska sadar kalau ia dan Aska berbeda usia sangat jauh yaitu 15 tahun.
"Aku berharap kamu tidak mengungkapkan perasaanmu Aska, kamu lebih pantas menjadi putraku." batin Anisa
Walau pun Anisa tau kalau menikah adalah untuk menyempurnakan imannya yang belum sepenuhnya sempurna, tapi ia masih tetap betah sendiri.
Setelah itu Anisa juga pergi ke kamar untuk mandi. Ali masih sibuk masak, tiba-tiba saja pinggangnya ada yang memeluk dari belakang membuat ia terkejut, tapi beberapa detik kemudian ia tau kalau yang memeluk itu istrinya.
"Mas."
"Iya Jamila."
"Mas, ko masak? Kenapa tidak bangunkan Jamila?"
"Tidak apa-apa Jamila, lagi pula ini hanya masak biasa, oh iya Bunda dan Kak Aska juga sudah pulang."
"Ih Mas kenapa tidak bangunkan Jamila? Malu banget kalau Bunda tau Mas yang masak bukan Jamila."
"Ngapain harus malu Jamila? Lagi pula masak itu bukan kewajiban istri, Bunda itu sangat tau tentang agama, jadi Bunda paham betul tentang itu dan tidak akan mempermasalahkan tentang itu, Jamila tenang saja."
"Iya Mas."
__ADS_1
Kinanti hanya menjawab iya walau pun ia sendiri tidak tau apa masak itu kewajiban istri atau kewajiban suami, tapi ia tidak ingin bertanya panjang lebar.
"Iya sudah Jamila lebih baik mandi."
"Ih sembarangan Mas menyuruh Jamila mandi, orang Jamila sudah mandi! Sudah wangi begini!"
Setelah mengatakan itu Kinanti langsung melepaskan pelukannya, ia langsung melangkahkan kakinya, baru juga tiga langkah suaminya sudah memeluk pinggangnya.
"Kalau Jamila marah Mas tambah gemes deh."
Setelah mengatakan itu Ali langsung membalikan tubuh istrinya, lalu langsung memberikan banyak ciuman dari kening, ke dua mata, ke dua pipi, hidung, bibir dan itu membuat Aska tersenyum canggung yang baru saja sampai di depan pintu.
"Eh kalian, maaf Kakak ganggu."
Aska langsung membalikan tubuhnya setelah mengatakan itu.
"Kakak mau apa? Santai saja Kak."
Ali menjadi sedikit malu saat melihat Kakaknya yang terlihat canggung.
"Tadinya Kakak mau mengambil air minum dingin di kulkas."
Setelah mengatakan itu Aska langsung pergi dari sana, sedangkan Anisa yang baru saja masuk ke ruangan meja makan, ia melihat Aska pergi dengan perasaan malu ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Anisa langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan Aska air dingin.
"Kalian itu romantisnya kebangetan tidak tau tempat, kasian Aska malu dia nak."
Ali dan istrinya hanya tersenyum meringis saat mendengar ucapan dari Bundanya. Setelah mengambil air dingin Anisa langsung mengetuk pintu kamar Aska.
Tok-tok.
Aska membuka pintu sambil tersenyum saat melihat Anisa yang di depan pintu.
"Ini air dinginnya nak, jangan canggung, anggap saja tidak melihat apa pun."
Anisa berbicara sambil memberikan air botol yang dingin dari kulkas.
"Iya Bunda, terima kasih."
Aska berbicara sambil mengambil air botol yang di berikan Anisa.
"Sama-sama."
__ADS_1
Aska langsung meminumnya hingga setengah.