
Anisa tadi pagi sudah menjelaskan semuanya pada Aulia untuk menceritakan tentang Aska pada karyawan lain agar mereka tidak iri pada Aska yang memiliki jam pulang lebih awal.
Sekarang sudah waktunya jam makan siang, Anisa makan di ruangannya bersama Aulia dan Aska karena tadi Aska mengajak makan Anisa lewat chat, jadi Anisa menyuruh Aska untuk makan di ruangannya saja.
Anisa sama sekali tidak menolak tentang ajakan Aska karena masih ada Aulia, selama ia tidak berdua, ia tidak masalah.
"Nak, kamu mau makan yang lain atau tidak? Nanti Bunda pesankan untuk kamu."
"Tidak perlu Bunda, ini saja sudah lebih dari cukup."
"Iya sudah ayo makan."
"Iya Bunda."
Mereka bertiga mulai makan-makanan yang di pesan oleh Anisa tadi, selama makan tidak ada pembicaraan.
Anisa yang makan sambil menunduk sedangkan Aska sesekali melihat ke arah Anisa yang sedang makan dan Aulia juga sesekali melihat ke arah Aska dan Anisa, ia merasa semakin bingung karena Aska dengan tiba-tiba ingin bekerja di kantor Anisa.
Apa lagi Aulia tau kalau Aska putra dari Kesuma Grup, tentu saja ia bingung kenapa Aska bekerja di perusahaan lain.
Mereka bertiga selsai makan, Aulia langsung membereskan bekas makannya sedangkan Anisa dan Aska masih duduk di sofa bersebrangan.
"Bagai mana nak Aska, apa ada kesulitan tentang pekerjaan kamu?"
"Tidak ada Bunda, semuanya lancar."
"Alhamdulilah, tapi kalau tidak ada yang mengerti kamu boleh tanya langsung pada Aulia, Aulia akan membantu kamu."
"Iya Bunda, terima kasih."
"Sama-sama."
Anisa langsung mengambil buku-buku yang sudah ia catat tadi dan mencampurkan bahan-bahan parfum yang sudah ia kumpulkan.
__ADS_1
"Bunda sedang meneliti untuk pembuatan produk parfum baru?"
Aska bertanya sambil menunduk, ia melihat Anisa yang membaca sambil mencampur-campurkan bahan-bahan pembuatan parfum di atas meja.
"Iya nak."
"Wah jadi produk-produk yang di keluarkan dari Kanaya Grup itu asli buatan Bunda sendiri?"
"Iya nak, semuanya memang buatan Bunda, tidak ada buatan tiruan, dari dulu Bunda memang sudah menyukai membuat parfum atau membuat make up, kalau misalnya parfum ini tidak gagal baru Bunda menyerahkannya pada karyawan Bunda untuk membuatnya."
"Ternyata Bunda benar-benar memang hebat."
Aska tidak menyangka kalau Anisa memang sehebat itu, tidak heran kenapa produk-produk Anisa menempati nomer 10, ternyata memang Anisa sendiri yang turun tangan.
"Huh, semakin tidak pantas saja aku sama Bunda, ternyata Bunda bukan hanya pemilik perusahaannya, tapi Bunda juga yang membuat segalanya, Bunda memang hebat, di ciptakan menjadi wanita yang sangat sempurna, tapi sayang percintaan Bunda di ciptakan tidak sempurna, Bunda harus menderita karena masalah percintaannya." batin Aska
"Semua orang hebat itu mulai dari nol, dan semua orang sukses juga mulai dari nol, jadi nak Aska tetap semangat, Bunda percaya kalau nak Aska juga kelak bisa sukses. Intinya kunci dari kesuksesan itu harus menerima saat gagal dan jangan menyerah, terus lah berjuang hingga meraih kesuksesan, karena kita sebagai manusia hanya perlu belajar dan belajar."
"Iya Bunda, apa yang Bunda katakan memang sangat benar, terima kasih banyak karena mau memberi tau Aska tentang semuanya."
Anisa berbicara sambil tersenyum dan masih fokus pada pekerjaannya. Tiba-tiba saja ponsel Aska bergetar.
Dret... Dret...
Aska langsung mengambil ponselnya di saku celananya, ia menghela napas berat saat nama Mamanya yang tertera di sana, lalu langaung merijek telpon dari Mamanya.
Semejak pulang Aska memang belum berbaikan dengan Mamanya setelah perkara masalah kebohongan Mamanya, rasa kecewa ia juga masih sangat besar hingga sekarang rasa kecewa itu masih ada.
Aska tau kalau Mamanya sangat menyedihkan, tapi menurutnya itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang Anisa dan Ali rasakan, ia ingin Mamanya menyadari kesalahannya, lalu Mamanya meminta maaf pada Anisa dan Ali kalau Mamanya memang sangat bersalah, tapi Mamanya masih saja menyalahkan Anisa dan Anisa.
Mamanya tidak pernah menyadari kesalahannya sedikit pun, dari ia kecil hingga sekarang yang di salahkan hanya Anisa dan Anisa, bahkan Mamanya tidak menyalahkan Papanya yang sudah mencintai Anisa, membuat rasa kecewa Aska semakin besar.
Terlebih sekarang Anisa adalah wanita yang Aska cintai, tidak peduli ia bisa mendapatkan atau tidak, ia hanya akan tetap berusaha. Tiba-tiba saja ponsel Aska bergetar untuk yang ke dua kalinya saat ia akan memasukan ponselnya ke dalam saku celana.
__ADS_1
Dret... Dret...
Aska langsung menghela napas kasar saat ponselnya bergetar untuk yang ke dua kalinya.
"Siapa yang menelpon kamu nak?"
Anisa sangat penasaran siapa yang menelpon Aska saat ia mendengar helangan napas kasar dari Aska.
"Mama, Bunda."
"Kenapa tidak di angkat? Kamu belum menyelsaikan masalahmu bersama Mamamu? Nak Aska, Bunda memang tidak tau kalian memiliki masalah apa, tapi Bunda ingin kamu segera menyelsaikan masalahmu bersama Mamamu, tidak baik terus berlarut-larut."
"Biarkan saja Bunda, Mama tidak pernah menyadari kesalahannya apa, jadi Aska tidak mau berbaikan dengan Mama yang hanya bisa melampar kesalahannya pada orang lain."
Setelah mengatakan itu Aska langsung merijek kembali telpon dari Mamanya, tapi tiba-tiba ponselnya langsung bergetar untuk ke tiga kalinya setelah dua kali di rijek.
Dret... Dret...
"Angkat saja nak, kasihan Mamamu, siapa tau Mamamu memang sedang ada perlu."
Dengan terpaksa Aska mengangkat telpon dari Mamanya.
"Nak, kamu di mana? Tolong jangan tinggalkan Mama, tolong bujuk Papa agar tidak meminta berpisah dengan Mama, tadi Papa kamu datang untuk meminta tanda tangan Mama. Mama yakin kamu bisa membujuk Papa."
"Ma, kalau Papa sudah ingin berpisah iya tinggal setujui saja, Aska tidak bisa membujuk Papa, lagi pula Papa tidak akan menuruti ucapan dari Aska, sekarang Aska sudah besar dan Aska yakin kalau Papa berpikir Aska pasti bisa hidup tanpa kasih sayang yang lengkap. Lagi pula kenapa Mama terus mempertahankan rumah tangga yang seharusnya tidak Mama pertahankan? Benar-benar membingungkan."
"Kamu itu hanya anak kecil, kamu tidak tau bagai mana rasanya mencintai. Aska, Mama tidak akan melepaskan Papa, karena sampai kapan pun Mama hanya mencintai Papa."
"Mama bilang kalau Mama mencintai Papa, tapi kenapa Mama tidak membiarkan Papa bahagia dengan pilihannya? Apa itu masih pantas di anggap cinta di saat Mama hanya mementingkan perasaan Mama bukan perasaan Papa, itu bukan cinta Ma, tapi obsesi untuk selalu memiliki Papa. Sudah lah Ma, Aska masih harus menyelsaikan pekerjaan Aska, Assalamualaikum."
"Kamu iya Aska jadi anak itu kenapa selalu tidak peduli semenjak tau semua hal? Apa kamu sudah tidak sayang lagi sama Mama?"
"Aska sangat sayang Mama, tapi Mama tidak pernah menyadari kesalahan Mama, Mama selalu melampiaskan kesalahan Mama pada orang lain, Mama tidak pernah memiliki hati nurani, Aska sangat kecewa pada Mama."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Aska langsung mematikan sambungan telponnya sepihak, bahkan ia mematikan ponselnya agar tidak di ganggu oleh Mamanya lagi sambil menghela napas berat, ia berharap Mamanya menjadikan pelajaran dan mengaku kalau Mamanya memang selama ini sudah sangat bersalah pada Anisa.