
Memang seorang anak hanya bisa berdo'a, yang di katakan istrinya memang benar menurut Ali, tapi apa ia salah mencoba menjodohkan Bundanya pada lelaki yang sangat ta'at agama, belum lagi Gus Yana adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab pada putrinya, tentu saja membuat ia merasa kalau Gus Yana adalah lelaki yang cocok Bundanya, tapi ia tau kalau takdir sesaorang tidak ada yang tau.
Contohnya Ali dan istrinya yang sudah berpisah cukup lama, hingga takdir mempertemukan kembali dengan ikatan pernikahan, tentu saja ia tidak bisa menyalahkan Bundanya begitu saja, ia tau kalau Bundanya selalu di kaitkan dengan Allah sebelum mengambil langkah.
Namun Ali juga tetap merasa sangat kecewa, apa lagi ia belum pernah melihat lelaki yang sangat baik dan memegang teguh agamanya seperti Gus Yana.
Ali juga tadi sudah minta maaf pada Gus Yana karena Bundanya telah menolaknya dan Gus Yana membalasnya dengan sangat santai, Gus Yana tidak apa-apa, walau pun Gus Yana juga jujur pada Ali kalau Gus Yana sangat mengagumi Bundanya yang sangat sopan dan sangat baik pada putrinya, bahkan Gus Yana juga bilang kalau putrinya merasa sangat cocok untuk menjadikan Bundanya seorang ibu, tapi Bundanya menolak Gus Yana membuat ia merasa sangat bersalah.
Ali tau kalau putri Gus Yana sulit untuk bergaul, tapi ia tidak menyangka kalau putri dari Gus Yana langsung menyukai Bundanya.
Ali masih terus memeluk istrinya, ada banyak ketakutan di dalam hatinya, apa lagi ia sudah tau kalau Ayahnya ingin bercerai, ia tidak sengaja bertemu Ayahnya bersama pengacara yang sangat akrab dengan ia membuat ia bertanya tentang tujuan Ayahnya hingga ia menemukan pakta kalau Ayahnya ingin bercerai dengan Lusi, dan kalau Lusi menyetujuinya ia yakin kalau Ayahnya meminta rujuk lagi dengan Bundanya.
Belum lagi Ali takut Bundanya mencintai lelaki yang salah walau pun Bundanya tidak balik lagi bersama Ayahnya, tapi ia sebagai putranya tentu saja ingin yang terbaik untuk Bundanya.
"Sudah dong Mas jangan berlarut-larut kecewanya, entar di ketawain loh sama kecebong-kecebong Mas."
Ali langaung melepaskan pelukannya dari isteinya, ia menatap mata istrinya.
"Memangnya susu kental manis Mas sudah jadi kecebong?"
"Iya belum Mas, Jamila juga tidak tau, lagi pula tanggal datang bulan Jamila masih satu minggu lagi, Jamila hanya ingin melihat Mas tidak kecewa, maaf karena menghibur Mas dengan masalah kecebong."
Kinanti merasa sangat bersalah saat melihat wajah suaminya yang terlihat bahagia saat ia mengatakan tentang kecebong, ia berharap minggu depan tidak datang bulan dan ia berharap benih suaminya segera jadi agar ia bisa melihat senyum bahagia dari suaminya.
"Kamu tidak perlu minta maaf Jamila, lagi pula kita setiap malam selalu berusaha agar cepat mendapatkan kecebong, Oh iya Mas mau mengajak kamu liburan 3 hari lagi setelah film Cinta Dalam Perjodohan selsai, bersyukur Mas bisa menemukan alur yang simpel, tapi selsainya jelas, jadi kita bisa cepat liburan."
"Maksud Mas judul film Cinta Dalam Perjodohan itu Mas yang membuat alurnya?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah bingung saat mendengar ucapan dari suaminya.
__ADS_1
"Ya iya lah Jamila, Mas yang buat alur itu, Mas hanya mencoba-coba saja, dan Mas juga tidak menyangka kalau fim kita sudah di tonton oleh 20 triliun."
Kinanti tidak menyangka kalau yang membuat alur ceritanya itu suaminya, tidak heran suaminya tidak memiliki adegan bersama wanita lain dan ia tidak memiliki adegan dengan lelaki lain, ternyata yang membuat alur ceritanya suaminya sendiri.
"Mas memang sangat hebat!"
Kinanti berbicara sambil mengacungan dua jempol pada suaminya.
"Kita nanti mau liburan kemana Mas?"
"Mas juga tidak tau, terserah Jamila mau liburan kemana, Mas ngikut saja, tapi sebelum liburan Mas juga akan datang ke pesantren terlebih dahulu, Mas dapat undangan untuk mengisi pembukaan acara di pesantren Gus Yana, sekalian bersilaturahmi dengan para santri di sana."
"Apa Gus Yana itu satu pesantren dengan Ning Alisah?"
"Tidak, mereka berbeda pesantren, tapi tentu saja Ning Alisah akan hadir di sana karena orang tua Gus Yana itu Kakak dari orang tua Ning Alisah."
Kinanti menghela napas kasar saat mendengar jawaban dari suaminya, itu artinya suaminya dan Ning Alisah akan saling bertemu, ia tidak mau kalau Ning Alisah sampai nekad melamar suaminya lagi untuk meminta di nikahi oleh suaminya.
"Tidak bisa Jamila."
"Apa Mas juga ingin bertemu dengan Ning Alisah? Itu kenapa Mas tidak mau menolak permintaan Gus Yana?!"
Ali menghela napas kasar saat istrinya menuduhnya, ia tidak menyangka kalau sipat kanak-kanakan istrinya itu muncul lagi hanya karena ia tidak mau menolak permintaan dari Gus Yana.
"Apa Mas masih kurang puas dengan Jamila, untuk itu Mas akan mencari mangsa baru? Jamila tidak habis pikir dengan Mas."
"Yang ingin bertemu dengan Ning Alisah itu siapa Jamila? Apa salahnya Mas datang ke pesantrenan sana sebagai pengisi pembukaan acara? Lagi pula niat Mas itu bukan untuk itu, Mas menerimanya karena Mas menganggap sebagai permintaan maaf pada Gus Yana tentang masalah Bunda, Mas tidak pernah berpikir sedikit pun tentang Ning Alisah, kita itu nikah sudah hampir 2 bulan Jamila, tolong hargai perasaan Mas, tolong jangan terus mencurigai Mas."
"Maaf Mas, Jamila terlalu pendek untuk berpikir."
__ADS_1
Kinanti terlalu takut setiap kali suaminya akan bertemu dengan Ning Alisah, kalau cantik ia memang sangat cantik, tapi agama ia masih nol dan itu membuat ia takut suaminya berpaling dengan wanita lain.
Apa lagi wanitanya seperti Ning Alisah yang sangat pintar dalam agama, belum lagi Ning Alisah masih sangat muda membuat ia tambah kuatir kalau suaminya tergoda pada Ning Alisah.
"Jamila bisa ikut bersama Mas kalau Jamila tidak percaya pada Mas."
"Tapi Mas Jamila malu."
"Untuk apa Jamila malu? Apa malu karena usia Mas yang masih terbilang muda?"
Kinanti menghela napas kasar saat usia yang menjadi perkara pertengkaran saat itu, dan sekarang suaminya menuduh ia karena perkara saat itu.
"Bukan malu paktor usia Mas, Jamila malu karena Jamila bukan bagian dari pesantren, Jamila hanya orang luar."
"Untuk apa Jamila malu dengan masalah itu? Mas harap Jamila ikut saja agar tidak salah paham pada Mas. Mas tidak mau karena masalah ini kita bertengkar lagi, jadi Jamila ikut saja iya?"
"Baik Mas, nanti pilihkan gamis dan hijab yang cocok untuk Jamila iya Mas?"
"Iya Jamila."
Ali tersenyum senang, awalnya ia juga ingin membawa istrinya ke pesantren agar tidak memiliki salah paham.
"Ingat, jangan bersikap kanak-kanakan lagi Jamila, jangan membuat Mas pusing karena ucapanmu yang melebar kemana-mana."
"Iya Jamila tau."
"Tau, tapi sipat kanak-kanakannya terus saja muncul, bilang akan berusaha belajar untuk dewasa, tapi Jamila terus saja melanggarnya, coba Jamila belajar dewasa sedikit saja agar Mas tidak pusing karena Jamila."
"Iya Mas Jamila akan berusaha."
__ADS_1
"Gitu dong, istri Mas memang pintar."
Ali langsung menarik istrinya dalam pangkuannya, lalu ia langsung mencium kening istrinya.