Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 15 Gaun Muslimah


__ADS_3

Saat Ali sampai kamar, ia menghela napas berat saat melihat istrinya yang menangis di atas ranjang dengan menyembunyikan wajahnya di ke dua lututnya. Ali langsung duduk di atas ranjang.


"Kin, tolong jangan seperti ini, kalau saya salah dengan ucapan saya, saya minta maaf."


Ali berbicara sambil mengelus kepala istrinya.


"Maafkan saya kalau ucapan saya membuat kamu tersinggung."


Ali tidak mendengar jawaban dari istrinya hingga dua kali, lalu ia langsung menarik istrinya dalam pelukanya.


"Saya minta maaf Kinanti, tolong maafkan saya. Saya hanya ingin mendidik kamu untuk lebih baik lagi, tapi jika kamu merasa kalau saya mendidik kamu terlalu keras saya minta maaf."


Hati Ali sangat sakit seperti tertusuk oleh ribuan pisau saat melihat istrinya menangis, entah ia sudah sangat mencintai istrinya atau ia merasa iba karena istrinya adalah Gadis kecil yang ia kenal saat kecil, ia sendiri masih tidak bisa memahami tentang perasaannya karena ia belum pernah tau bagai mana rasa mencintai wanita selain Bundanya.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau kamu mengambil asisten rumah tangga yang masih muda, apa lagi dia lebih muda dari kamu. Hiks... Hiks..."


Setelah sedikit tenang akhirnya unek-unek yang Kinanti pendam dari tadi di ungkapkan juga pada suaminya. Ali langsung mengecup kening istrinya sambil tersenyum, ia merasa bahagia saat tau kalau istrinya cemburu.


"Jadi kamu cemburu?"


"Bukan cemburu, aku tidak mau menjadi janda, apa lagi di poligami!"


Kalau saat awal menikah masih memiliki ingin berpisah walau pun ragu, tapi sekarang Kinanti memang tidak mau berpisah dengan suaminya dan ia juga tidak mau di poligami.


Ali langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung menghapus air mata istrinya dengan ke dua ibu jarinya sambil menghela napas berat.


"Jangan seudzon begitu, saya pikir kamu menangis karena tersinggung dengan ucapan saya."


"Memangnya aku salah kalau berpikir seperti itu? Nanti kalau aku tidak berpikir seperti itu kalian menikah siri secara diam-diam, sekarang internet juga sedang ramai kalau majikan lelaki menikahi asisten rumah tangganya secara diam-diam, ada juga yang menikahi baby sisternya secara diam diam, aku tidak mau itu terjadi."


"Astagfirullah Kinanti jangan berbicara seperti itu, sudah saya bilang kalau saya tidak akan mempologami kamu. Saya sudah bilang cukup Bunda saya yang mengalami sakit hati, dan cukup saya yang menjadi korban kerena perceraian orang tua saya, tolong kamu percaya sama saya sedikit saja Kinanti."


Kinanti menganggukan kepalanya dengan air mata yang masih mengalir.

__ADS_1


"Kenapa kamu berbohong tentang pekerjaan kamu, katanya kamu pengangguran?"


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud menyembunyikan pekerjaan saya yang sebagai pengacara, tapi kalau saya bilang pekerjaan saya sebagai pengacara, kamu juga belum tentu percaya karena saya tidak membawa kartunya, yang ada nanti kamu menganggap saya pembohong karena usia saya masih terlalu muda."


Kinanti yang mendengar jawaban dari suaminya hanya tersenyum lebar, ia memang tidak akan percaya kalau hanya sebuah ucapan dan tanpa bukti.


Apa lagi wajah suaminya terlihat tampan dan imut, tidak ada tatapan sinis, mungkin juga menurut Kinanti yang di ucapakan suaminya memang benar, tapi jika suaminya sudah marah ia bisa melihat suara tegas seperti lelaki dewasa.


Ali hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat senyuman dari istrinya yang menujukan sebagai jawaban kalau istrinya tidak akan percaya hanya sebuah ucapan.


"Itu kamu tidak percaya sama saya."


"Habis wajah kamu itu gemasin Ali, jadi mana mungkin aku percaya begitu saja."


"Kin, boleh tidak saya bertanya lebih serius?"


"Iya boleh."


"Kamu tidak sakit hati melihat foto Kak Aska bersama Lisa?"


"Alhamdulilah saya senang mendengarnya, saya berarap kamu tidak menganggap saya sebagai pelarian, saya berarap kamu bisa menerima saya dengan seiringnya waktu, begitu pun dengan saya yang sedang belajar mencintai kamu."


"Iya itu pasti Ali, aku juga tidak ingin kita berpisah."


Ali tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari istrinya.


"Kak Izah, Ali bukan hanya bisa menikahi Kak Izah, ternyata Ali juga perlahan bisa memasuki hati Kak Izah." batin Ali


Ali hanya berbicara di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin sekali mengatakan kalau ia adalah Alinya Kak Izah, tapi hingga sekarang ia masih tidak berani.


"Aku juga sudah nyaman sama kamu, dan bisa jadi sebenarnya aku sudah cinta sama kamu Ali, tapi aku tau kamu juga tidak mudah menerimaku di hati kamu, kamu lelaki yang sangat sempurna, sedangkan aku hanya wanita biasa, tidak ada yang bisa aku banggakan lagi sekarang, sedangkan kamu. Agama kamu bagus, kamu juga seorang pengacara muda." batin Kinanti


"Kamu memikirkan apa Kin? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?"

__ADS_1


Kinanti menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Jangan memikirkan yang tidak-tidak."


Ali langsung mengecup kening istrinya sekilas, lalu ia langsung mengambil gaun muslima pernikahan di lemari, ia langsung berjalan ke arah istrinya lagi.


"Kin, ini gaun muslimah yang di buat langsung oleh Bunda sebelum pergi, Bunda bilang kalau tidak kembali sampai saya menikah, ini adalah kado dari Bunda untuk menantu Bunda."


Kinanti langsung turun dari ranjang, ia mendekati suaminya dan langsung memegang gantungan gaun itu untuk mencocokan di tubuhnya.


"Waw, cantik sekali gaunnya."


"Iya, kalau ada waktu senggang aku ingin kamu berfoto bersama saya dengan memakai gaun ini, nanti saya ingin mengirimnya ke grup chat keluarga."


"Keluarga? Maksud kamu?"


"Iya keluarga, ke dua orang tua Bunda dan yang lainnya."


"Aku mau foto sekarang juga boleh kita lewat foto selfi menggunakan tongsis, tapi aku tidak punya hijab dan tidak bisa pakai hijab."


"Gaun itu memiliki hijab, kalau sekedar memakai hijab, saya bisa bantu kamu."


"Iya sudah kalau begitu sekarang saja."


Kinanti berbicara dengan mata berbinar, siapa yang tidak bahagia saat Ibu mertuanya membuatkan gaun secara khusus untuk menantunya.


Mungkin kalau dapat beli itu sudah hal yang lumrah, tapi saat di buatkan langsung oleh ibu mertua jelas mungkin dari seribu orang hanya berbanding satu, karena kebanyakan orang katanya nanti kurang ajar kalau menantunya di perlakukan paling istimewa, tapi berbeda dengan ibu mertuanya yang sangat mengistimewakan menantunya.


"Iya sudah kamu ganti baju sana."


Kinanti menganggukan kepalanya ia langsung pergi ke ruangan ganti. Ali juga langsung pergi mengganti baju di kamar mandi, ia juga memakai kemeja putih dan setelan jas yang di buat kusus oleh Bundanya bersama gaun tadi.


Setelah selsai Ali langsung duduk di kursi meja rias dengan menyiapkan asasores hijab dan jarum pentol. Ali memang sengaja belajar bagai mana caranya menggunakan hijab yang sangat bagus, ia belajar 4 bulan sebelum mencari Kinanti ke Semarang.

__ADS_1


Ali takut kalau istrinya tidak bisa menggunakan hijab yang ribet, jadi ia belajar agar istrinya tidak malu kalau bersanding dengan keluarganya. Memang keluarga Alfero mau pun Abraham jarang memakai hijab, hanya beberapa orang saja yang memakai hijab, tapi mereka bisa memakai hijab sendiri karena sering melihat tatorial menggunakan hijab.


__ADS_2