
Menurut Ali rencana Allah itu sangat indah, ia telah mencari Kinanti 1 tahun yang lalu setelah ia wisuda, tapi saat ia sampai di sana, orang yang di tanya oleh ia katanya keluarga Kanaya sudah kembali ke Jakarta lagi 11 tahun yang lalu, semenjak Kakeknya meninggal dunia.
Ali juga meminta alamat keluarga Kanaya, tapi orang itu mengatakan tidak tau, lalu ia mencari keberadaan Kinanti di Jakrta, tapi ia tidak menemukan nama Kanaya di belakang nama Azizah.
Namun Ali tidak tau sekarang apa ia harus jujur atau ia hanya akan diam dan membiarkan istrinya tidak tau tentang masa lalunya bersama istrinya.
"Apa saya jujur saja iya kalau saya adalah Ali yang ingin menikahi Kak Izah, atau saya biarkan saja Kak Izah mengetahui sendiri. Kak Izah, kalung yang di berikan Kak Izah juga masih ada di apartement, saya tidak pernah melupakan janji itu pada Kakak."
Ali menghela napas lega setelah mengatakan itu dalam foto istrinya.
"Apa ini yang namanya cinta? Saya masih kekeh ingin menikahi Kak Izah, hingga Allah menyatukan kita dalam pernikahan."
Ali tidak pernah melupakan Kinanti sedikit pun dalam ingatannya, semuanya masih terlihat dengan jelas dalam ingatanya, bahkan nama Kinanti adalah wanita ke dua yang ia sebut dalam sholat sepertiga malamnya.
Sedangkan do'a yang pertama ia selalu menyebut nama Bundanya, ia selalu mencurahkan semuanya pada Ya Rabbnya kalau ia sangat merindukan Bundanya dan ingin bertemu dengan Bundanya, sedangkan do'a ke dua, ia ingin Kinanti selalu bahagia dan ingin di pertemukan dengan Kinanti walau pun nanti Kinanti hanya menganggap ia sebagai seorang adik, ia tidak masalah.
Namun ternyata di luar dugaan, Ali bukan hanya di pertemukan dengan Kinanti, tapi ia juga sekarang suami dari Kinanti, tapi saat mengingat kata suami ia tersenyum getir, saat tau kalau ia bukan lelaki yang di inginkan oleh istrinya, ia tidak masuk keteria dari istrinya.
Ali langsung duduk lagi di atas ranjang sambil memainkan ponselnya, ia sedang chatan dengan para ustaz, karena mereka bertanya tentang kebenaran pernikahan yang sudah viral, ia yakin wajahnya terpampang jelas di mana-mana.
Kinanti masuk ke dalam kamarnya setelah berbicara panjang bersama adiknya, ia menghentikan langkah kakinya saat melihat suaminya yang sedang fokus bermain ponsel, saat ia yakin ingin berpisah dengan suaminya, tapi keyakinan itu hilang seketika saat melihat wajah tampan dan imut dari suaminya.
Kinanti langsung berjalan lagi ke arah suaminya, ia duduk di samping suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Ali, aku ingin."
Ali menghentikan jarinya yang sedang sibuk mengetik di ponselnya saat mendengar suara istrinya, ia langsung melihat ke arah istrinya sambil tersenyum lebar, sebenarnya ia ingin sekali langsung memeluk wanita yang ia rindukan itu, tapi ia tidak berani untuk melakukan itu.
"Iya kenapa Kin?"
__ADS_1
"Kamu menikahi aku karena apa? Apa kamu ingin populeritas?"
Sebenarnya bukan ucapan itu yang ingin Kinanti ucapkan, tapi entah kenapa mulutnya bertanya seperti itu.
"Astagfirullah Kinanti, saya sama sekali tidak berpikir tentang itu, bahkan saya tidak tau kalau kamu seorang model, saya tau kamu sebagai seorang model dari Ayah."
Mulut Kinanti menganga, ia tidak percaya kalau ada orang yang tidak mengenal ia sebagai seorang model nomer satu di Wijaya Grup.
"Oh, aku minta maaf karena telah menyeretmu pada masalah ini, aku ingin berpisah denganmu setelah 1 minggu pernikahan kita."
Kinanti berbicara sambil menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia ragu mengucapkan itu, dan sekarang setelah mengatakan itu ia menyesal telah mengatakannya.
Ali menghela napas berat, ia langsung memasukan ponselnya dalam saku celananya, lalu langsung menatap mata istrinya, tatapan yang sangat kecewa saat mendengar istrinya ingin berpisah, tadi ia sudah sangat kecewa saat mendengar percakan istrinya bersama adik iparnya, dan sekarang ia bertambah kecewa saat mendengar ucapan langsung dari mulut istrinya.
Ali memang merasa berhasil dengan janjinya di masa lalu, tapi apa ia sekarang gagal untuk membina rumah tangga yang belum di mulai ini. Setelah menatap mata istrinya Ali langsung menundukan pandanganya, ia tidak tau apa ia harus menerima permintaan istrinya atau menolaknya.
"Kamu yakin Kinanti?"
"Aku yakin."
Kata yakin itu terucap dari mulut Kinanti, walau pun ia sebenarnya tidak yakin pada ucapan itu, tapi ia tidak tau mau bagai mana nanti rumah tangganya karena menikah dengan lelaki kecil. Ali tau ucapan istrinya itu tidak yakin, ia bisa melihat dari mata dan suara istrinya.
"Astagfirullah, Kinanti saya harap kamu menarik kembali ucapanmu, saya berharap kamu belajar mencintai saya karena Allah, saya juga tau kalau kamu mengucapkan kata itu tidak yakin."
Ali berbicara sambil tersenyum kecil. Kinanti menghela napas berat saat mendengar ucapan dari suaminya.
"Kin, saya mau kita pindah sekarang saja, aku juga besok pagi harus pergi ke pesantren."
"Kamu mau ajak aku kemana? Jangan bilang kalau kamu mau mengajak aku ke pesantren, aku tidak mau!"
__ADS_1
"Kita tinggal di apartement Kin, saya tidak enak hati karena adikmu yang meminta ijin ingin pulang 1 minggu."
"Maksud kamu apa? Apa kamu tau kalau selama ini adikku mencintaimu?"
"Iya."
"Kamu jahat Ali, kalau kamu tau adikku mencintai kamu kenapa kamu menikahi aku?! Kenapa tidak mencoba menerima adikku?!"
Kinanti bertanya dengan raut wajah kecewa saat tau kalau suaminya ternyata tau kalau adiknya mencintai suaminya.
"Karena yang tertulis di Lauhul Mahfudz adalah nama kamu Kin, bukan nama adikmu, sekuat apa pun kita menginginkan sesaorang kalau orang itu bukan yang tertulus di Lauhul Mahfudz dengannya, itu akan sulit Kinanti, kamu harus ingat kalau semuanya terjadi atas kehendak Allah!"
"Tapi aku tidak ingin menyakiti adikku satu-satunya."
Kinanti memang tidak mau menyakiti hati adiknya, ia merasa menjadi orang jahat karena telah merebut lelaki yang di cintai adiknya selama ini.
"Kamu dan saya tidak menyakitinya, tapi saya percaya kalau adikmu itu akan mendapatkan lelaki yang baik juga, dan anggap segala sesuatunya sebagai ujian Kinanti."
Kinanti menghela napas berat, ia bisa melihat wajah serius dari suaminya.
"Kin, saya mau mulai sekarang kamu memanggil saya mas."
"Aku tidak mau memanggil kamu mas, kamu hanya anak kecil, tidak pantas di panggil mas, seharusnya kamu memanggil aku dengan panggilan Kaka, aku lebih tua 5 tahun dari kamu Ali!"
Kinanti tidak habis pikir dengan permintaan suaminya yang menyuruh ia untuk memanggil mas, apa lagi wajah suaminya seperti lelaki 18 tahun, mana pantas di panggil mas oleh ia yang usianya 27 tahun.
"Tapi saya di sini adalah kepala keluarga, kamu harus menghormati saya sebagai kepala keluarga, jadi jangan mempermasalahkan lagi tentang usia."
"Sekalinya tidak mau tetap tidak mau, jadi jangan berharap kalau aku akan memamanggilmu mas!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Kinanti langsung pergi ke arah kamar mandi untuk mencuci muka, karena permasalahan hari ini sangat rumit, dari masalah Aska, lalu masalah adiknya, dan sekarang masalah suaminya.