Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB.7 Pindah Apartement


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang tadi sore, mau tidak mau Kinanti terpaksa mengalah pada suaminya karena saat ia menolak untuk ikut dengan suaminya, ke dua orang tua ia menceramahi ia habis-habisan membuat ia terpaksa ikut suaminya.


Namun Kinanti selalu memikirkan bagai mana nanti kehidupannya, ia tidak menyukai suaminya yang terlihat alim, dan lagi-lagi ia merasa tidak cocok dengan kepribadian yang bertolak belakang.


Sekarang Ali dan istrinya sampai di apartement. Saat Kinanti memasuki apartement itu, ia melihat takjup isi apartement itu yang bisa ia lihat kalau apartement itu sangat berbeda dari apartement biasanya.


Apa lagi Kinanti sudah pernah melihat isi apartement Alfero karena Sinta sahabat seprofesinya pernah menyewa apartement Alfero, tapi ruangan apartement sangat berbeda, sekarang sangat lebar bahkan memilliki 5 kamar, entah untuk siapa saja yang 3 kamar di lantai bawah dan 2 kamar lagi di lantai atas.


Kinanti tidak melihat foto keluarga atau tentang hal apa pun di sana, hanya guci-guci mahal dan pas bunga lalu lukisan-lukisan yang di buat oleh Morgan Abraham. Kinanti tidak mengerti kenapa suaminya memiliki hal yang mahal-mahal, dari apartement termasuk mobil sport, apa lagi yang ia tau suaminya itu tinggal di pesantren.


"Ini kamar kita Kin."


"Hah? Memangnya kita tidur satu ranjang?"


Kinanti bertanya dengan raut bingung pada suaminya.


"Kamu itu istri saya Kinanti, bagai mana mungkin kita tidur di ranjang terpisah?"


"Aku tidak mau tidur sama kamu! Aku mau pindah ke kamar lain!"


Kinanti langsung menarik kopernya ke luar kamar suaminya yang langsung di tahan kopernya oleh tangan suaminya.


"Berhenti bersikap kanak-kanakan Kinanti! Tolong hargai saya sebagai suami kamu! Bukan'kah Bunda dan Ayah mengatakan kalau kamu harus menuruti kata suami?! Itu artinya kamu harus menuruti apa yang saya katakan!"


Kinanti menggigit bibir bawahnya sendiri, suara tegas suaminya mampu membuat ia sedikit takut, ini pertama kalinya ia takut dengan sesaorang dan ia tidak menyangka kalau suami kecilnya itu bersikap tegas.


Namun Kinaanti juga tau mungkin karena suaminya sebagai ketua dewan santri, yang bertanggung jawab mengurus para santri, jelas kalau suaminya harus bersikap tegas.


"Saya menikahi kamu karena saya percaya kalau kamu jodoh saya, tapi kamu selalu menolak saya, dari memanggil mas dan sekarang kamu juga tidak ingin tidur bersama saya! Apa kamu tidak tau kewajiban seorang istri?!"

__ADS_1


Kinanti hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya saat mendengar kata kewajiban, itu artinya mungkin ia harus melayani suaminya di ranjang, itu lah yang ada dalam otak ia hingga ia menggeleng-gengkan kepalanya, ia tidak mau melakukan malam pertama dengan suaminya, ia belum siap dengan hal itu.


Apa lagi menurut Kinanti, ia dan suaminya belum saling mengenal dekat, bagai mana mungkin sudah langsung bermain di ranjang, ia juga tidak tau sifat suaminya seperti apa. Ali menghela napas pelan saat melihat istrinya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saya akan bantu kamu menyusun barang-barang kamu."


Setelah mengatakan itu Ali langsung menarik koper besar ke arah lemari, sedangkan koper kecilnya masih di pegang oleh istrinya. Ali langsung membuka koper, lalu langsung menyusun baju-baju yang ada di koper itu sambil sesekali melihat istrinya yang masih berdiri di sana.


"Sampai kapan kamu akan terus berdiri di situ Kinanti?"


Ali bertanya sambil masih fokus menyusun baju-baju milik istrinya. Kinanti sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari suaminya, ia hanya diam sambil terus melihat ke arah suaminya.


Setelah selsai Ali memutuskan untuk sholat isya berjama'ah, ia langsung berjalan ke arah istrinya yang dari tadi hanya berdiri.


"Ayo sholat isya."


Ali menghela napas kasar saat mendengar jawaban dari istrinya.


"Kinanti, yang di tanya untuk pertama kalinya itu sholatmu, bukan karirmu, jadi kita sholat berjama'ah, karena sekarang saya imammu!"


"Bisa tidak jangan panggil saya-saya dan saya? Aku risih mendengarnya, kesannya aku seperti sedang berbicara dengan anak kecil!"


"Saya sudah terbiasa memanggil kata saya, jadi maaf kalau membuat kamu terganggu dengan ucapan saya, saya akan mengambil wudhu duluan."


Setelah mengatakan itu Ali langsung pergi ke kamar mandi. Setelah suaminya pergi Kinanti memegangi dadanya sendiri, tidak tau kenapa ia memiliki rasa takut pada suaminya, walau suaminya itu ia anggap anak kecil.


Setelah Ali dan istrinya mengambil air wudhu, sekarang mereka berdua langsung sholat berjama'ah, ada rasa bahagia di hati ia karena bisa menjadi imam untuk wanita yang memiliki janji akan menikahinya.


Andai situasinya tidak seperti ini, mungkin Ali sudah mengatakannya kalau ia adalah lelaki yang akan menikahi Kinanti, tapi ia merasa belum waktunya, dan biar waktu yang mengungkap masa lalunya.

__ADS_1


Ini untuk pertama kalinya Kinanti sholat sangat husyu, bahkan ia juga sudah lupa kapan terakhir sholat. Setiap bacaan yang di bacakan oleh suaminya mampu membuat hati Kinanti damai, dan seakan-akan ia tidak memiliki masalah apa pun walau pun masalah itu sangat rumit.


Setelah selsai sholat Ali langsung berdo'a, sedangkan istrinya terus mengamini setiap do'a yang di bacakan olehnya. Setelah selsai Ali langsung membalikan tubuhnya sambil tersenyum lebar pada istrinya, tapi istrinya hanya diam tanpa mau mengambil tangannya.


"Salim!"


Ali menyodorkan tanganya pada istrinya yang langsung di sambut oleh istrinya, saat istrinya mencium tangannya, ia langsung menempelkan tangan kirinya ke ubun-ubun istrinya dan langsung membacakan do'a untuk istrinya.


Kinanti hanya diam saat di bacakan do'a oleh suaminya, tapi ia merasa sedih walau pun tidak tau arti bacaan yang di bacakan suaminya karena bahasa arab, hingga setetes air mata ia jatuh pada pipinya, ia tidak menyaka suami yang di anggap lelaki kecil ini mampu membimbingnya ke jalan yang benar.


Kinanti merasa sangat nyaman di perlakukan seperti itu oleh suaminya, dan apa yang di katakan adiknya memang benar kalau sampai ia berpisah dengan suaminya, ia akan menyesal karena telah melakukan hal bodoh.


Setelah selsai membaca do'a, Ali langsung meniup ubun-ubun istrinya lalu langsung mengecup kening istrinya cukup lama, setelah itu ia menatap wajah istrinya sambil tersenyum lebar pada istrinya karena merasa sangat bahgia bisa bersama Kinanti.


"Jangan buat aku baper dengan do'amu itu bocil, dan jangan tersenyum juga, senyumanmu itu membuat perasaanku menjadi nyaman!"


Ali yang mendengar ucapan dari istrinya hanya tertawa tanpa mau menanggapi ucapan dari istrinya.


"Saya mau kepasar sayur dulu untuk besok sarapan, kamu tidur saja duluan."


Ali berbicara sambil melepas sarung yang ia pakai untuk sholat.


"Ali, aku boleh ikut tidak?"


"Tentu saja boleh, tapi kamu harus mengganti pakaianmu dulu yang lebih sopan, saya tidak nyaman untuk melihat penampilanmu, karena kita akan keluar apartement."


"Iya sudah iya."


Mau tidak mau Kinanti mengganti pakaian yang lebih sopan karena suaminya menyuruh ia untuk berpakaian sopan, sebenarnya dulu ia tidak suka di atur-atur oleh Aska, tapi kini oleh suaminya ia tidak tau kenapa mengiyakan ucapan yang di suruh oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2