
Tadi pagi saat Ayahnya berbicara panjang dengan Bunda dan istrinya, Ali sama sekali tidak keluar, ia memang tidak ingin bertemu dengan Ayahnya lagi, ia tidak ingin pikirannya bertanbah kacau, jadi ia hanya mendengarkan perdebatan Ayahnya bersama Bundanya termasuk istrinya.
Malam ini Ali sholat jama'ah bukan hanya dengan istri, tapi juga bersama Bundanya yang membuat hatinya bahagia, terlebih saat Bundanya memuji bacaan yang setiap ia katakan setelah sholat membuat ia sangat senang.
Pujian itu mungkin terbilang biasa untuk orang lain, tapi ini untuk pertama kalinya lagi ia di puji oleh Bundanya setelah 15 tahun ia tidak mendengar pujian itu dari Bundanya.
Namun jika pujian di kalangan pesantren, lingkungan sekolah dan sebagai pengacara, ia sering mendapatkan itu, tapi tidak senang seperti sekarang saat mendapatkan pujian dari Bundanya.
"Mas besok kalau jadi CEO baru jangan tebar pesona."
"Tebar pesona bagai mana Jamila? Kalau tebar benih Mas di rahim Jamila, Mas tau."
Ali berbicara sambil tersenyum lebar, dan tangannya mengusap pipi istrinya, ia merasa sangat senang saat tau istrinya cemburu sebelum melakukan sesuatu.
"Jamila serius Mas, jangan tersenyum seperti itu saat di kantor, Jamila tidak mau kalau nanti banyak wanita yang tergoda pada Mas."
"Mas juga ke kantor siang setelah syuting, bagai mana kalau Jamila ikut bersama Mas ke kantor?"
"Tidak mau Mas, Jamila malu kalau suruh ikut ke kantor."
"Mulai deh malu lagi, pasti perkara usia lagi."
Setelah mengatakan itu Ali menghela napas kasar, ia yakin perkara usia lagi yang membuat istrinya malu.
"Bukan perkara usia Mas, Jamila hanya takut kalau orang beranggapan pantas saja Jamila mau menikah dengan Mas saat itu, ternyata karena Mas kaya. Jamila belum siap di hina lagi, bahkan saat di hina di hari pernikahan saja masih membekas di hati Jamila."
Saat istrinya mengatakan tentang pernikahan, Ali baru ingat ucapan Kakeknya kemarin.
"Jamila, Kakek ingin mengadakan resepsi untuk kita, Jamila keberatan tidak?"
__ADS_1
"Berapa banyak tamu undangannya Mas?"
"Semua rekan bisnis Kakek akan datang begitu pun rekan bisnis Bunda, dan ada banyak wartawan juga, Kakek ingin membuka identitas Mas termasuk akan mengenalkan Mas yang akan menggantikan posisi Kakek."
Kinanti menghela napas kasar saat mendengar jawaban dari suaminya, bukan ia tidak menginginkan mengadakan resepsi, tapi ia tidak mau nanti banyak wanita yang berdatangan untuk mendapatkan hati suaminya.
Bukan Kinanti tidak percaya dengan cinta suaminya, bahkan saat orang lain tidak percaya padanya termasuk calon suaminya, tapi Ali tetap percaya dan ingin menikahinya.
Apa lagi suaminya itu memiliki iman, Kinanti yakin kalau suaminya tidak akan tergoda, tapi ada dua yang ia takut'kan. Keyakinan Kinanti tidak benar-benar yakin kalau suaminya tidak akan tergoda dengan wanita yang terus saja menggodanya, apa lagi ia tau banyak Kiai dan ustadz yang melakukan poligami.
Satu lagi yang membuat Kinanti takut, ia takut suaminya di jebak oleh sesaorang hingga melakukan yang seharusnya tidak di lakukan, belum lagi dunia bisnis, dunia bisnis itu kejam, banyak orang yang ingin menjatuhkan lawannya.
Lebih baik identitas suaminya tidak banyak yang mengetahui, walau pun Kinanti ingin mengatakan ke seluruh dunia kalau suaminya itu orang tajir, tapi ia tidak mau mendapatkan banyak musuh.
"Kenapa hanya diam Jamila? Kalau Jamila tidak suka Mas bisa bilang pada Kakek."
"Tentu saja tidak."
"Iya Jamila keberatan kalau kita mengadakan resepsi, Jamila juga keberatan kalau nama panjang Mas di ungkap di publik."
"Kalau Jamila keberatan, Mas tidak akan membuka identitas Mas di publik, namun cepat atau lambat akan ada banyak orang akan tau identitas Mas, tapi Mas akan berusaha agar identitas Mas tidak tersebar luas."
Ali langsung memeluk istrinya dengan sangat erat, apa pun yang istrinya inginkan ia akan berusaha mewujudkan keinginan istrinya, selama istrinya tidak meminta melanggar ketentuan yang ada dalam agama.
"Mas itu kelau Jamila meminta apa pun selalu saja di turutin, tapi giliran Jamila tidak mau sholat subuh sekali saja Mas melarang Jamila."
"Kalau permintaan itu tidak merugikan Mas dan Jamila, tentu Mas akan berusa mewujudkan keinginanmu, tapi kalau permintaan itu melanggar tentang agama, Mas tidak mau mengabulkannya, Mas akan sangat berdosa kalau mengabulkan permintaan yang salah."
"Mas, kenapa Om Kenan itu tidak tau malu sekali? Bagai mana bisa Om Kenan ingin menikahi Bunda lagi, setelah luka yang Om Kenan goreskan begitu dalam pada hati Bunda, kalau Jamila jadi Bunda mungkin sudah Jamila buat burungnya Om Kenan jadi impoten, enak sekali Om Kenan ingin menikahi Bunda lagi, dasar lelaki gila!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Kinanti langsung menutup mulutnya sendiri, walau pun suaminya benci pada Ayahnya sendiri, tapi suaminya tidak pernah mengatakan Kenan lelaki gila.
"Jaga bicaramu Jamila, bukan Mas membela Ayah, tapi kamu harus menjaga bicaramu pada siapa pun. Jangan suka ceplas-ceplos, bukan hanya mendapat dosa, tapi Mas takut ada yang tidak suka dengan ucapanmu, Mas takut orang yang tidak suka pada ucapanmu itu ingin mencelakaimu, Mas tidak mau terjadi sesuatu padamu."
"Iya Mas, Jamila akan berusaha lebih baik lagi untuk menjaga lisan Jamila."
"Mas tau Jamila sangat susah beradaptasi dengan perinsip Mas, tapi Mas hanya berharap yang terbaik untukmu, apa lagi Mas seorang ke tua dewan santri, Mas mendidik ratusan santri saja bisa, masa mendidik Jamila tidak bisa."
Kinanti langsung mendongkakan kepalanya untuk menatap suaminya yang sedang menatapnya.
"Mas kalau mengajar para santri bagai mana iya cerewet tidak?"
"Jamila bisa melihatnya di laptop Mas, termasuk ada beberapa ceramah Mas juga di sana, kata sandinya sama seperti kata sandi ponsel Mas 110808."
Ali menjawab pertanyaan istrinya sambil mengelus rambut istrinya yang terurai. Kinanti mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari suaminya, apa lagi ia juga baru ingat tentang kejadian kata sandi ponsel tempo hari yang membuat ia penasaran, angka berapa yang beruntung untuk di jadikan kata sandi oleh suaminya.
"Apa tanggal itu sangat sepesial Mas?"
"Iya, tanggal itu sangat sepesial buat Mas, karena dulu ada Gadis kecil yang menolong Mas dari kejaran Mamang santri, hingga Mas sering kabur dari pesantren untuk menemui Gadis itu, tanggal itu adalah tanggal terakhir bertemu dengannya, Mas sengaja membuat kata sandi menggunakan tanggal itu karena Mas tidak mau melupakan Gadis itu.
Kinanti menghela napas berat saat tau ternyata suaminya memiliki Gadis sepesial, bahkan suaminya sampai menggunakan tanggal itu untuk kata sandi membuat hati ia sangat sakit.
Walau pun mungkin suaminya hanya menganggap Gadis itu sebagai sahabat, tapi Kinanti tetap sakit hati karena suaminya tidak mau melupakan Gadis itu hingga membuat mata ia memerah dan berkabut, menandakan kalau matanya akan segera menangis.
"Lalu apa Mas bertemu lagi dengan Gadis itu?"
"Iya Mas bertemu lagi dengan Gadis itu, bahkan Mas sangat mencintainya."
Kinanti mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh, hatinya sangat sakit saat mendengar kejujuran dari suaminya, ia tidak menyangka kalau suaminya ternyata mencintai wanita lain.
__ADS_1