
Setelah selsai sarapan Ali dan istrinya sudah siap akan berangkat bekerja, mereka berdua baru saja keluar dari apartement, tapi betapa terkejutnya saat melihat ibu tirinya di depan sambil bersidakep dada, ia tau kalau satpamnya sudah melarang ibu tirinya masuk, itu kenapa ibu tirinya hanya di depan gedung apartement.
"Mana putraku dan suamiku juga tidak pulang, ini semua gara-gara kamu bodoh!"
Suaminya memang pergi semenjak pertengkaran malam itu, tapi suaminya juga pulang 3 hari lalu memberikan surat cerai pada Lusi, namun ia saat itu langsung merobek surat cerai itu dan tidak ingin berpisah dengan suaminya.
Ali menghembuskan napas kasar saat mendengar pertanyaan dari ibu tirinya, drama rumah tangga ibu tirinya selalu saja ia yang mendapatkan imbasnya, ia tidak tau apa-apa, tapi ia yang selalu saja di salahkan.
"Kalau anda datang hanya mau bertanya tentang mereka, lebih baik anda pergi, saya tidak memiliki waktu untuk mendengar drama sialan anda!"
Ali berbicara sambil menundukan kepala, ia tidak peduli kalau orang-orang yang berlalu lalang menganggap ia tidak sopan karena membentak wanita paruh baya, tapi ia sudah sangat lelah terus memiliki masalah dengan ibu tirinya.
"Dimana Anisa?! Pasti suamiku minta cerai karena wanita gatel seperti Bundamu itu! Anisa memang selalu menggunakan kelembutan untuk melawanku, wanita jahat!"
"Anda yang jahat! Bunda saya sama sekali tidak jahat, anda yang menyuruh suami anda untuk menikahi Bunda saya, dan anda juga yang menyutujui perceraian Bunda, bukan hanya itu anda juga yang menyuruh Ayah saya untuk tidak mengakui saya, tapi saya sama sekali tidak peduli tentang itu, saya tidak peduli kalau anda ingin harta Bunda saya, tapi saya minta jangan lagi mengusik kehidupan saya dan Bunda saya!"
Lusi sangat terkejut saat mendengar ucapan dari putra tirinya, ia yakin kalau putra tirinya sudah mendengar penjelasan itu, entah itu dari suaminya atau itu dari putranya.
"Di mana suami dan putraku?! Kamu tau pakta itu artinya kamu juga tau mereka!"
"Heran saya kenapa Tante seperti orang gila saat kehilangan anak dan suaminya? Lalu apa Tante tidak berpikir bagai mana hancurnya suamiku dulu saat kehilangan Ayah dan Bundanya secara bersamaan? Mungkin saja ini bisa di bilang karma, karena yang Tante tanamkan selalu saja kejahatan, jadi nikmati saja karma Tante yang tidak di inginkan oleh anak dan suami!"
Kinanti berbicara sambil bersidakep dada, tidak lupa senyuman mengejek juga ia tampilkan, ia merasa puas saat melihat wajah prustasi dari Lusi, apa lagi saat mendengar ucapan dari suaminya tadi, ia yakin kalau Aska sudah menceritakan masa lalu yang terjadi tentang ke dua mertuanya pada suaminya.
"Sialan kamu Kinanti! Jaga bicaramu, kurang ajar sekali kamu mengatakan kalau saya mendapatkan karma!"
Lusi berbicara sambil mengangkat tangannya untuk menampar Kinanti, tapi Kinanti dengan sigap menahan tangan Lusi.
"Jangan berharap tangan kotor Tante menampar pipi berharga saya, karena suami saya tidak akan pernah ridho kalau istrinya terluka, jadi Tante jangan coba-coba menampar saya, bisa saja suami saya murka, lalu menuntut Tante ke jalur hukum, ingat suami saya pernah menjadi pengacara!"
Setelah mengatakan itu Kinanti langsung menghempaskan tangan Lusi hingga Lusi terhayung ke belakang, kalau saja tidak di samping mobil mungkin Lusi sudah jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Berani sekali kamu! Dasar wanita jallang!"
"Tutup mulut Tante! Sebelum saya hilang kontrol, bisa saja wajah mulus Tante itu menjadi korban jika Tante masih tidak bisa menjaga mulit Tante!"
Kinanti berbicara sambil menatap tajam pada Lusi dengan ke dua tangannya yang terkepal kuat.
Ali menghela napas berat saat mendengar ucapan dari ibu tirinya dan istrinya, ia langsung mengelus punggung istrinya yang di penuhi emosi.
"Mulut kamu yang minta di sumpal Kinanti! Saya itu tidak memiliki urusan denganmu, tapi kamu ikut campur dengan masalah saya terus!"
"Masalah suami saya itu akan jadi masalah saya, lebih baik Tante pergi, cari mereka di tempat lain, jangan dikit-dikit mencari kemari dan kemari, seolah-olah suami saya yang paling bersalah di masalah kalian, jelas-jelas suami saya hanya orang luar di keluarga kalian, tapi Tante lagi-lagi tidak pernah membiarkan suami saya tenang."
Lusi menghela napas kasar saat mendengar ucapan dari Kinanti, ia juga ingin segera pergi dari hadapan mereka, tapi ia masih penasaran, ia yakin kalau putra tirinya tau tantang anak dan suaminya.
"Saya tidak akan pergi kalau kalian tidak memberi tau di mana mereka berada! Saya tau kalau kalian berdua pasti tau di mana mereka!"
"Jamila, sudah tidak perlu meladeni dia, lebih baik kita pergi kerja, biarkan saja mau dia seharian di sini atau sampai satu tahun, kita tidak perlu mempedulikan dia, kita sudah tidak memiliki urusan bersama dia."
Ali langsung membuka kunci mobilnya karena hari ini memang Riana tidak datang, Riana meminta cuti dari dua hari yang lalu untuk menengoki Kakak sepupunya yang melahirkan.
"Tunggu dulu, saya belum selsai berbicara!!!"
Lusi berbicara sambil merentangkan ke dua tangannya di depan Ali dan istrinya untuk menghalangi mereka pergi.
"Katakan dulu di mana anak dan suami saya?!"
"Ini orang gila kali iya?! Mas Ali sudah bilang kalau tidak tau, tapi Tante ngotot banget ingin tau mereka, sampai Mas Ali ubanan juga kalau tidak tau di mana mereka iya tidak tau, jadi orang ko bodoh banget, kalau Tante ingin tau mereka telpon lah mereka, kenapa harus mencari masalah dengan kita?"
"Iya karena saya yakin kalian itu tau, saya yakin kalau saat itu putra saya datang ke mari!"
"Apa buktinya Tante mengatakan itu?"
__ADS_1
Lusi yang di tanya oleh Kinanti ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia memang tidak memiliki bukti tentang putranya datang kemari atau tidak.
Walau pun di seluruh gedung apartement itu memiliki Cctv, tapi Lusi memang tidak di perbolehkan masuk dan tidak punya hak untuk memantau Cctv.
"Kalau tidak ada bukti Tante jangan mengatakan sembarangan, ingat, suami saya itu pernah menjadi pengacara, memangnya Tante mau suami saya menutut Tante karena menuduh yang tidak-tidak pada suami saya?"
Kinanti bertanya sambil tersenyum mengejek saat melihat Lusi yang ke bingungan.
"Dasar kalian gila!!"
Setelah mengatakan itu Lusi langsung masuk ke dalam mobil dengan pintu mobil yang ia banting.
Brukkk!
"Jangan kencang-kencang membanting pintu mobilnya Tante! Sayang itu mobil susah payah hasil nipu dari Bunda, tapi Tante tidak menghargai suami Tante yang susah payah mendapatkan uang untuk mobil itu!"
"Dasar wanita gila!!"
Setelah mengatakan itu Lusi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan gedung apartement.
Sedangkan Kinanti hanya tertawa terbahak-bahak saat melihat kemarahan Lusi.
"Tidak tau kali iya yang Tante Lusi lawan itu ratu drama, iya walau pun sejahat apa pun Tante Lusi tetap kalah sama Jamila. Hahaha!!"
Kinanti berbicara sambil tertawa, sedangkan suaminya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa mau menanggapi ucapannya.
"Ayo berangkat Jamila."
"Iya Mas."
Ali dan istrinya langsung masuk ke dalam mobil, lalu ia langsung melajukan mobilnya.
__ADS_1