
Pagi harinya setelah sarapan Ali dan istrinya sudah pergi untuk syuting, sedangkan Anisa ia masih ada di rumah karena ia hari ini tidak memiliki pekerjaan.
Sedangkan Aska setelah sarapan masuk lagi ke kamar untuk mengganti baju, pagi ini ia harus pulang, sebenarnya ia sangat malas untuk pulang, bukan hanya malas bertemu dengan Mamanya, ia juga tidak mau jauh dari Anisa dan ia yakin pasti akan merindukan Anisa setelah pulang.
Aska juga bukan hanya sekedar pulang, ia akan mulai belajar mengaji untuk mendapatkan hati Anisa, walau pun ia tidak tau bisa mendapatkan Anisa atau tidak yang jelas ia akan berusaha lebih dulu.
Setelah selasai ganti baju Aska langsung keluar dari kamarnya, ia langsung tersenyum saat melihat Anisa yang sedang sibuk melihat ke arah laptop dengan tangannya yang sibuk mengetik.
"Mata serius Bunda itu membuat aku tenang, walau pun wajahnya harus tertutup cadar, tidak heran kenapa Papa menjadi mencintai Bunda, karena Bunda itu terlalu baik, lemah lembut dan perhatian. Apa aku bisa mendapatkan Bunda, dari agama saja aku nol besar, dan pekerjaan aku tidak punya, sedangkan Bunda sekarang memiliki perusahaan sendiri, mana perusahaannya sudah terkenal pula." batin Aska
Aska menghela napas berat saat mengingat perbedaan ia dengan Anisa yang begitu jauh, tapi ia tidak akan berhenti sebelum berjuang.
"Bunda."
Aska memanggil Anisa sambil duduk bersebrangan dengan Anisa.
"Iya ada apa nak?"
Anisa menjawab sambil menghentikan ketikannya, tapi ia tetap menunduk.
"Aska mau pulang dulu, tapi boleh tidak kalau Aska nanti telpon Bunda? Sebenarnya Aska sudah mulai terbiasa dengan Bunda, apa lagi Bunda sangat baik dan perhatian, Aska akan selalu rindu Bunda."
Aska berharap ungkapan hatinya yang mengatakan rindu pada Anisa, Anisa tidak menyadarinya kalau ia rindu bukan sebagai Bunda dan anak, tapi sebagai wanita yang ia cintai, karena ia ingin mengungkapkan cintanya di saat ia sudah benar-benar pantas untuk Anisa.
"Tentu saja boleh nak, sudah Bunda bilang kalau Bunda sudah menganggap kamu seperti putra Bunda, jadi kamu berhak telpon atau datang ke sini, dan kalau butuh sesuatu kamu bisa bilang pada Bunda."
"Iya Bunda, terima kasih banyak karena Bunda sudah mau menerima Aska sebagai putra Bunda, terima kasih juga sudah memperbolehkan Aska untuk menemani Bunda dan terima kasih juga sudah membeli banyak baju untuk Aska."
"Sama-sama nak, kamu mau pulang naik mobil Bunda?"
"Aska akan naik taksi saja Bunda."
Aska memutuskan naik taksi karena mobilnya sudah di antarkan oleh asisten Anisa.
"Iya sudah bentar Bunda pesankan taksi."
"Iya Bunda."
Anisa langsung mengambil ponselnya di meja, ia langsung memesan taksi untuk Aska.
__ADS_1
"10 menit lagi taksinya datang."
"Iya Bunda, terima kasih banyak."
"Sama-sama nak."
"Bunda, Aska boleh bertanya sesuatu yang bersangkutan dengan masa lalu?"
"Tentu saja boleh nak."
"Apa Bunda masih mencintai Papa?"
"Sama sekali tidak."
"Apa Bunda trauma dengan masa lalu Bunda? Itu kenapa Bunda belum menikah lagi?"
"Bunda sama sekali tidak trauma, tapi mungkin belum ada lelaki yang tepat untuk mendampingi Bunda, tapi Bunda selalu percaya kalau nanti akan ada saatnya Bunda menikah lagi, karena Bunda selalu percaya kalau kita di ciptakan dengan berpasang-pasangan."
Aska hanya mengangguk sambil tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari Anisa yang membuat ia sangat puas dengan jawaban Anisa.
"Kalau kamu sudah ada wanita yang di cintai?"
"Ada Bunda, tapi Aska ingin berubah untuk lebih baik dulu, Aska ingin belajar tentang agama dan belajar bekerja agar Aska pantas untuk besamanya."
"Kalau kamu ingin belajar agama, belajar agama karena Allah, jangan karena wanita, karena keinginan kita itu belum tentu terkabul, tapi kalau belajar karena Allah lalu wanita yang kamu cintai menolak kamu, insya Allah kamu akan mendapatkan keikhlasan. Ingat nak, semua keinginan kita belum tentu di kabulkan oleh Allah, tapi kamu harus ingat juga kalau rencana Allah jauh lebih indah dari pada rencana manusia."
"Aska paham Bunda."
Aska berbicara terus memandangi wajah Anisa yang tertutup cadar sambil tersenyum.
"Apa Bunda hari ini tidak pergi ke kantor?"
"Tidak, Bunda harus menemui Yana nanti siang, dia adalah lelaki yang orang tua Bunda pilihkan untuk Bunda."
"Maksud Bunda, Bunda akan di jodohkan?!"
Aska bertanya dengan raut wajah terkejut saat mendengar ucapan dari Anisa dan dadanya terasa sakit saat tau kalau wanita yang ia cintai akan di jodohkan.
"Ini bukan untuk pertama kalinya nak, ke dua orang tua Bunda sudah sering sekali menyuruh Bunda untuk bertemu dengan putra dari sahabat orang tua Bunda."
__ADS_1
"Lalu apa kali ini Bunda akan menerimanya."
"Kurang tau."
Sebenarnya Anisa sudah sholat istikharah sebelum ia bertemu dengan Yana, dan Yana bukan lelaki yang ada di dalam mimpinya, melainkan Aska, lelaki yang ada dalam mimpinya, tapi ia tepis mimpi itu, dan ia menganggap mungkin karena selama satu minggu ini ia selalu bersama Aska, itu kenapa ia sampai memimpikan Aska.
Namun tentang Yana, tentu ia akan menolak Yana karena Yana bukan lelaki yang ada dalam mimpinya, walau pun menurut Anisa Yana masuk dalam ketaria calon suami idaman.
Yana adalah seorang Gus dari pesantren Al-huda, ia juga sudah memiliki seorang putri yang berusia 7 tahun dari pernikahan sebelumnya, karena istrinya meninggal saat melahirkan, belum lagi Yana juga sama-sama pembisnis, dan menurut Anisa Yana memang sangat cocok dengannya, tapi ia tidak ingin mengambil resiko saat tau kalau Yana bukan lelaki dalam mimpinya.
Sedangkan Aska merasa cemas saat mendapatkan jawaban tidak tau dari Anisa, ia takut kalau Anisa menerima Yana.
"Apa Bunda sudah tau tentang Yana?"
"Tentu saja sudah, Yana adalah seorang Gus dari pesantren Al-huda, Yana juga memiliki satu putri dari pernikahan sebelumnya, dan Yana juga seorang pembisnis, kita berdua memiliki banyak kesamaan, dari agama, status pernikahan sudah sama-sama punya anak, dan sama-sama pembisnis."
Aska yang mendengar jawaban dari Anisa menghela napas berat, pantas saja Anisa menjawab tidak tau, ternyata karena Yana memiliki banyak kesamaan dengan Anisa dan ia yakin kalau Anisa bingung mau menolak atau menerimanya.
"Nak, taksinya sudah di depan."
"Iya Bunda, Aska pulang dulu."
"Iya nak."
Anisa langsung mengikuti Aska sampai di depan pintu.
"Kamu hati-hati."
"Iya Bunda. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aska langsung melangkahkan kakinya dengan petasan yang tidak rela meninggalkan Anisa.
"Yana adalah seorang Gus, sudah bisa di tebak kalau Yana lelaki yang sangat pintar agama, belum lagi Yana juga seorang pembisnis." batin Aska
Aska sekarang sudah naik di taksi untuk pulang, sambil sesekali juga ia menghela napas panjang, ia masih sangat cemas, ia masih takut kalau Anisa menerima Yana.
"Apa aku ungkapkan sekarang saja iya kalau aku mencintai Bunda, atau nanti saja iya menunggu aku benar-benar pantas untuk bersama Bunda, tapi bagai mana kalau Bunda menerima Yana?" batin Aska
__ADS_1
Aska semakin di landa kebingungan karena Anisa.