Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 97 Memberikan kesempatan


__ADS_3

Kenan langsung melihat ke arah istrinya yang masih terus menangis, ia langsung menarik istrinya dalam pelukannya, setelah kejadian di mana ia bertemu mantan istrinya lagi di apartement putra ke duanya.


Di situ lah Kenan sudah tidak pernah memeluk dan tidak pernah tidur bersama dengan istrinya lagi.


"Jangan terus menangis Lusi, semua yang sudah terjadi jangan di tangisi lagi, menangis tidak akan bisa mengubahmu ke masa lalu lagi, yang ada akan membuat hatimu bertambah sakit kalau kamu terus menangis."


Lusi juga membalas pelukan dari suaminya, pelukan yang sudah lama tidak ia rasakan lagi, tapi kali ini ia bisa mendapatkan pelukan hangat dari suaminya lagi.


"Maafkan aku Mas, aku tau aku salah selama ini, aku telah membohongimu sebesar ini, aku juga sangat bersalah pada anak tiriku, aku memang wanita yang sangat jahat, apa yang di ucapkan Aska memang benar, aku wanita jahat."


"Lusi, semua sudah terjadi, Mas juga akan memaafkanmu, tapi tolong jangan rampas kebahagiaan Mas lagi, Mas menyayangi Aska seperti putra kandung Mas sendiri, dan Mas juga sudah baikan dengan Ali, tolong jangan kacaukan keluarga Mas lagi, selama ini Mas sudah bersalah dengan Ali."


"Aku tidak akan mengacaukan itu Mas, aku juga mau minta maaf pada Ali dan mau berterima kasih, berkat darahnya aku masih bisa hidup sampai sekarang. Aku masih tidak menyangka saat tau pakta bahwa Ali rela mendonorkan darahnya untukku, jelas-jelas aku selalu menghinanya. Mas, aku iri pada Anisa, dia bisa membuat putranya tidak memiliki dendam, dia juga bisa mendidik putranya dengan baik walau pun tanpa Mas, sedangkan aku sama sekali tidak bisa mendidik putraku dengan baik, aku selalu membuat Aska belajar untuk membenci orang lain."


"Lusi, kalau kamu iri pada Anisa, Mas berharap kamu bisa memperbaiki sikap kamu, dan hargai orang-orang yang telah menyayangimu dan berkorban untukmu, Mas berharap kamu bisa menganggap Ali sebagai putramu juga."


Saat mendengar ucapan dari suaminya Lusi langsung melepaskan pelukannya, ia menatap mata suaminya dengan perasaan bingung.


"Apa Mas mau memberikan aku kesempatan untuk tetap menjadi istri Mas?"


"Memang kamu berhak memiliki kesempatan, tapi Mas minta dua hal, anggap Ali sebagai putramu juga, dan biarkan Aska mengejar cintanya pada Anisa, Mas mohon, hanya Anisa yang mampu mendidik putra kita, Anisa yang bisa membuat putra kita mau belajar agama lagi. Mas tau usia Anisa dan Aska berbeda sangat jauh, tapi kita sebagai orang tua tidak mampu mendidik putra kita selain Anisa."


Memang benar menurut Kenan, ia dan istrinya tidak mampu mendidik putranya, sedangkan mantan istrinya mampu membuat putranya berubah, dan mau belajar agama lagi oleh mantan istrinya.

__ADS_1


Lusi tersenyum lebar sambil menangis, hanya saja tangisan kali ini tangisan bahagia, suaminya mau memberikan ia kesempatan dan suaminya masih menganggap putranya sebagai putra kandungnya sendiri.


"Kamu mau'kan biarkan putra kita bahagia dengan pilihannya? Lagi pula putra kita sudah dewasa, putra kita bukan anak-anak lagi, Mas yakin kalau putra kita akan bahagia bersama Anisa, karena Anisa wanita yang sangat baik, kamu sudah melihatnya sendiri dari rekaman yang beredar, Anisa rela berkorban demi putra kita."


Lusi menganggukan kepalanya, memang benar Anisa berani berkorban sebesar itu, Anisa tidak mementingkan nyawanya sendiri.


"Aku mau Mas, dan aku juga mau minta maaf pada Anisa, karena selama ini aku yang menyakiti Anisa lewat Mas."


"Memang kamu harus minta maaf Lusi, karena kita dulu Anisa sempat kecelakaan, bukan hanya kom'a berbulan-bulan, tapi Anisa juga pernah amesia dan Anisa pernah di oprasi karena wajahnya rusak setelah peristiwa kecelakaan, semua itu karena kita Lusi, kita yang tega menyakiti wanita baik seperti Anisa."


Ucapan dari suaminya mampu membuat Lusi menangis sambil terduduk lemas, ia tidak menyangka kalau perbuatanya membuat Anisa menderita selama ini.


Lusi pikir Anisa bukan wanita baik karena telah melantarkan putranya sendiri di pesantren, tapi ternyata sekarang ia baru tau kalau Anisa wanita baik dan wanita hebat.


Kenan juga ikut duduk sambil menarik istrinya dalam pelukannya, ia memang sudah tidak memiliki perasaan dengan istrinya, tapi ia akan berusaha mencintai istrinya lagi, ia ingin memberikan kesempatan dan berharap kalau rumah tangganya bisa harmonis, ia ingin mengikuti jejak putra ke duanya yang bisa menjaga istrinya dengan baik.


Kenan memang gagal menjadi Ayah yang baik untuk putra ke duanya, tapi ia tidak ingin gagal untuk menjadi suami yang baik untuk istrinya.


"Kenapa Anisa bisa sesabar itu Mas? Aku sangat salut pada Anisa yang memiliki iman begitu teguh, hingga tidak berpikir untuk balas dendam, bahkan Anisa mau menyelamatkan putra kita."


"Karena mungkin Allah ingin membuat kita berubah menjadi lebih baik dengan belajar dari kisah hidup kita di masa lalu."


Aska yang mendengar percakapan ke dua orang tuanya ia juga ikut menangis, tapi ia juga menangis bahagia karena Papanya mau memberikan kesempatan untuk Mamanya dan menyuruhnya untuk memperjuangkan cintanya pada Anisa.

__ADS_1


"Terima kasih Pa, Papa adalah lelaki terbaik yang pernah Aska kenal, tapi Mama kandung Aska sendiri adalah wanita jahat yang pernah Aska kenal. Aska berharap setelah kejadian ini Mama benar-benar berubah menjadi wanita baik, Aska berharap Mama bisa memperbaiki semuanya." batin Aska


Kenan langsung melepaskan pelukannya, ia langsung melihat ke arah putranya yang masih setia berdiri.


"Nak, lebih baik kamu istirahat, nanti sehabis magrib kita jenguk Bunda."


"Mungkin habis sholat isya saja Pa, Aska mau mengaji terlebih dahulu, Aska ingin segera bisa tentang agama, agar Aska bisa menggerakan hati Bunda."


"Iya sudah, sana istirahat."


"Iya Pa, kalau begitu Aska ke kamar dulu."


"Iya nak."


Kenan dan istrinya menjawab serempak sambil tersenyum lebar.


Aska langsung pergi ke kamarnya, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Maafkan Aska Bunda, semua ini karena Aska, kalau saja bukan karena Aska, mungkin Bunda tidak akan kecelakaan untuk yang ke dua kalinya. Bunda, Aska berharap Bunda segera sadar, Aska tidak mau melihat Bunda terus terbaring. Aska sayang dan cinta Bunda. Bunda, Aska berharap kalau Aska adalah jodoh terakhir Bunda. Amin ya rabbalalamin." batin Aska


Lagi-lagi Aska minta maaf di dalam hatinya, lagi-lagi ia merasa sangat menyesal karena telah menjadi lelaki egois dan lagi-lagi ia masih berharap agar bisa bersama Anisa.


"Aska pasti akan buktikan kalau Aska pantas untuk Bunda, Aska akan belajar menjadi lelaki yang lebih baik lagi. Bunda, Aska berharap semoga kita segera di persatukan dalam ikatan pernikahan, karena sekarang Aska sudah bisa menikahi Bunda." Batin Aska

__ADS_1


Walau pun hatinya sangat sedih saat mendengar pakta kalau ia bukan anak kandung dari Kenan, tapi tidak bisa ia pungkiri kalau ia sangat bahagia karena ia bisa mengejar cintanya pada Anisa lagi dan tidak peduli walau pun di tolak.


__ADS_2