
Setelah mengganti bajunya dengan baju tidur panjang, sekarang Kinanti dan suaminya pergi ke pasar dengan menggunakan motor, ia tidak menyangka kalau suaminya ternyata memiliki motor, terlebih motor sport merek BMW, ia jadi berpikir sendiri apa benar suaminya itu seorang pengangguran, semua pasilitas suaminya memiliki harga yang sangat mahal.
Bahkan Aska saja tidak memiliki mobil sport seperti suaminya, tapi kalau di lihat dari baju-baju suaminya, ia bisa melihat kalau baju-baju suaminya sangat murahan dan hanya seharga 300 ribuan saja.
Kinanti sepanjang perjalanan memeluk suaminya dengan sangat erat, entah kenapa memeluk suaminya itu ia merasa nyaman dan merasa tenang, seakan-akan ia tidak memiliki masalah.
Sesekali juga Kinanti tersenyum, ia merasa memakai motor itu memang jauh lebih romantis dari pada pakai mobil. Setelah belanja sayuran dan lauk termasuk bumbu dapur lainnya, sekarang Ali membeli salat dan roti tawar termasuk selai roti 7 varian.
Sekarang Ali dan istrinya sudah sampai rumah lagi, ia meletakan belajaannya di meja dapur, lalu melihat ke arah istrinya sambil tersenyum lebar.
"Maaf tadi saya bawa motor, apa kamu capek?"
"Sama sekali tidak, apa kamu menyukai bawa motor?"
"Iya saya lebih suka bawa motor agar tidak macet, saya jarang sekali bawa mobil, kamu tidak keberatan?"
"Tidak, aku suka."
Kinanti berbicara sambil tersenyum lebar, ia memang suka saat suaminya menggunakan motor, menurut ia lebih romantis. Tiba-tiba saja ponsel Ali bergetar menandakan ada telpon masuk.
Dret... Dret...
Ali langsung merogoh ponselnya di saku celananya, ia menghela napas berat saat nama yang tertera di sana adalah Ning Alisah, lalu ia langsung mengangkat telpon itu.
"Assalamualaikum, Kang."
"Wa'alaikumsalam, ada apa iya Ning?"
"Berita itu apa benar kang?"
Ali menghela napas berat, ternyata berita pernikahanya sudah di ketahui oleh pesantren, tapi ia juga bernapas lega karena Ning Alisah sudah mengetahui pernikahannya.
"Iya benar Ning, kalau saya menikahi Kinanti."
Bruk..!
"Astagfirullah! Kenapa Ning?!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja telpon itu terputus saat Ali mendengar suara barang jatuh. Kinanti menghela napas berat, sebagai seorang wanita ia tau kalau di sebrang telpon itu sangat terkejut dan kecewa karena suaminya melodspeker suara telpon itu, itu artinya yang di panggil Ning oleh suaminya sudah menaruh perasaan pada suaminya.
Ali menghela napas berat setelah telpon itu terputus begitu saja tanpa berpamitan, ia tau kalau Ning Alisah sangat kecewa, tapi mau bagai mana lagi ia memang benar kalau sudah menikahi Kinanti.
"Kenapa kamu mengambil tindakan bodoh?! Kenapa kamu menikahiku?! Wanita yang di panggil Ning oleh kamu itu memiliki perasaan sama kamu Ali, apa kamu tidak peka?! Seharusnya kamu jangan mengambil tindakan bodoh! Kamu juga mencintai Ning itu?!"
Kinanti memaki suaminya hanya untuk menutupi rasa bersalah, apa lagi saat mendengar helangan napas berat dari suaminya, ia yakin kalau suaminya memiliki perasaan pada wanita yang di panggil Ning oleh suaminya.
"Istighfar Kinanti, kamu tidak boleh berbicara kasar seperti itu, saya selalu menjaga hati saya, saya ingin belajar mencintai wanita saat wanita itu sudah jadi makhrom saya."
Ali sangat tidak suka dengan kata bicara istrinya, ia tidak mengenal sifat istrinya yang dulu, yang sangat lemah lembut dan penyayang, tapi kali ini istrinya berbicara sangat kasar, ternyata 15 tahun tidak bertemu begitu banyak perubahan sifat istrinya.
"Saya sangat tau kalau Ning Alisah mencintai saya, 1 tahun yang lalu Ning Alisah meminta Abi untuk melamar saya, tapi saya menolaknya dengan sangat jelas, kalau memang Ning Alisah masih memiliki perasaan pada saya, itu sama sekali bukan salah saya, bukan juga salah Ning Alisah. Allah yang maha membolak-balikan hati hambanya, saya tidak suka kalau kamu berbicara kasar pada saya, jaga bicara kamu walau pun saya selalu di anggap anak kecil, tapi saya ini suami kamu!"
Kinanti langsung menundukan kepalanya saat suaminya berbicara panjang, ia tidak berani menatap mata suaminya yang sedang menatap ia dengan tatapan marah dan kecewa.
"Maafkan aku."
Setelah mengatakan itu air mata Kinanti langsung mengalir deras, lagi-lagi ia takut dengan suara marah yang keluar dari mulut suaminya, walau pun kata-kata suaminya tidak ada makian, tapi tetap saja ia merasa takut.
"Maafkan aku Ali."
Kinanti minta maaf untuk ke dua kalinya sambil membalas pelukan dari suaminya.
"Tidak apa-apa, tolong jangan ulangi lagi Kinanti, saya harap kamu bisa menghormati saya sebagai suami kamu."
Ali berbicara sambil mengelus kepala istrinya, ia juga berkali-kali menghela napas berat, walau pun ia dulu mengenal istrinya, tapi sekarang ia sama sekali tidak mengenal istrinya.
Kinanti hanya menjawab dengan anggukan kepala, lagi-lagi setiap memeluk suaminya merasa nyaman, dan lagi-lagi ucapan adiknya itu benar kalau suaminya adalah lelaki yang sangat baik.
Ali mengecup kening istrinya sekilas, ia langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung menghapus air mata istrinya dengan ke dua ibu jarinya.
"Sekarang kamu ke kamar duluan, saya mau membereskan barang-barang belanjaan dulu."
"Aku mau menunggu kamu."
"Iya sudah."
__ADS_1
Setelah itu Ali langsung menyusun barang belanjaannya, sedangkan istrinya terus mengekorinya ke mana pun ia melangkah.
"Kenapa kamu beli salat dua parian? Dan itu juga selai sampai 7 varian."
"Aku tidak tau kamu suka apa, jadi aku beli banyak parian untuk kamu."
Kinanti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari suaminya. Setelah selsai mereka langsung ke kamar, Kinanti mencuci kaki lebih dulu baru suaminya mencuci kaki.
Ali mengerutkan keningnya saat melihat istrinya yang mondar-mandir tidak jelas dari ia akan masuk kamar mandi hingga ia keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa mondar-mandir seperti licinan?"
"Aku, aku."
Kinanti menghentikan pembicaraannya, ia menggigit bibir bawahnya sambil menunduk. Ali tau maksud dari ucapan istrinya, ia tersenyum lebar sambil mengelus kepala istrinya.
"Kalau kamu belum siap tidak apa-apa, saya juga tidak meminta hak saya sekarang, tapi sebelum kamu belajar mencintai saya, kamu belajar mencintai Allah terlebih dahulu, baru kamu belajar mencintai saya, karena cinta karena Allah akan berujung sangat indah."
Kinanti menganggukan kepalanya masih sambil menundukan kepalanya.
"Iya sudah sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur, besok saya harus pergi ke pesantren. Apa kamu besok harus pergi ke Wijaya Grup?"
"Iya, Pak Atta telpon aku, katanya besok harus datang ke kantor."
"Iya sudah ayo tidur."
Kinanti menganggukan kepalanya, ia langsung naik ke atas ranjang, lalu membaringkan tubuhnya begitu pun dengan suaminya yang membaringkan tubuhnya di sampingnya.
"Ali, boleh aku memeluk kamu?"
Walau pun Kinanti malu mengatakan itu, tapi ia memang ingin memeluk suaminya sambil tidur.
"Tentu saja boleh Kin, dari ujung rambut sampai ujung kaki saya milik kamu."
Ali langsung menarik istrinya dalam pelukannya, ia juga mengecup kening istrinya sekilas, lalu langsung membacakan sholawat sebagai penghantar tidur istrinya.
"Begini iya kalau punya suami seorang ketua dewan santri, mau tidur saja sampai di bacain sholawat, benar-benar sangat romantis." batin Kinanti
__ADS_1