
Kehamilan Kinanti membuat keluarga Ali senang, apa lagi Om Ali dan istrinya termasuk ke dua sepupu Ali juga datang untuk menjenguk Anisa, mereka semua sangat bahagia saat mendengar Kinanti hamil.
Bahkan Morgan hingga bersujud di lantai karena ia masih di berikan umur panjang sampai sekarang hingga mendengar cucu menantunya hamil.
Morgan berharap ia juga masih di berikan umur panjang agar bisa menggendong cicitnya, sedangkan istrinya menangis bahagia karena di saat bersamaan, ia mendapat kebahagiaan.
Walau pun hati Isabel masih sangat sedih karena sampai sekarang putrinya masih belum ada perubahan, tapi ia sangat senang saat mendengar kalau cucu menantunya sudah hamil.
Menurut Isabel Allah itu sangat baik, di saat ia lelah dan sedih saat putrinya masih tidak juga siuman, tapi Allah memberikannya kebahagiaan.
Isabel juga memeluk cucu menantunya berkali-kali saat tau kalau cucu menantunya sedang hamil.
"Nak, apa Bundamu sudah di beri kabar tentang kehamilanmu?"
Morgan baru ingat karena rasa bahagianya hingga ia lupa bertanya seperti itu pada cucu menantunya.
"Besok saja Kek, Bunda dan Ayah baru tau kalau nama Kanaya adalah Bunda dari Mas Ali, mereka berdua akan menjenguk Bunda besok pagi."
"Alhamdulilah kalau begitu nak, nanti kamu sekalian ikut Bundamu untuk sementara di sana, kamu jangan ikut menjaga Bunda Anisa lagi, kamu harus menjaga kesahatan kamu dengan baik."
"Iya Jamila tau Kakek, tapi apa tidak apa-apa kalau Nenek tidak ada temannya di sini? Kasihan Nenek."
"Kamu tidak perlu kuatir Jamila, Kak Aska akan di sini menjaga Anisa."
Aska lebih dulu berbicara sebelum Morgan berbicara, sebenarnya ia sangat malu karena hanya ia sendiri yang bukan anggota keluarga dari Alfero, tapi ia juga tidak mau meninggalkan Anisa.
Aska ingin selalu ada di samping Anisa, karena ia tidak mau jauh dari Anisa, apa lagi dengan keadaan Anisa yang sedang kom'a, ia tidak mau kalau nanti Anisa sadar berpikir ia tidak memiliki tanggung jawab sama sekali karena tidak ada di ruangan itu.
"Sebenarnya Aska itu siapa Kakak? Bukan'kah Aska adalah anak baru di Kanaya Grup?"
Allan bertanya dengan raut wajah bingung karena sudah tiga kali ia menjenguk Kakaknya, tapi selalu saja ada Aska di ruangan itu, dan kalau Aska hanya merasa bersalah pada Kakanya, seharusnya Aska tidak perlu dua puluh empat jam hadir di ruanga rawat Kakaknya.
Aska hanya diam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa, ia memang bukan siapa-siapa Anisa, ia hanya mencintai Anisa dan belum memiliki hubungan apa pun dengan Anisa.
__ADS_1
"Aska adalah calon suami Anisa."
Morgan menjawab ucapan dari putranya dengan suara mantap dan tanpa ragu, karena saat ia mencurhkan semua isi hatinya semalam saat Aska menemani Ali di ruang rawat Kinanti, ia memimpikan kalau yang bertemu dengannya adalah Aska, dan itu membuat ia yakin kalau Aska memang jodoh putrinya.
"Ayah, jangan bercanda, Aska itu putra dari Kenan Yah, mana bisa menikahi Kakak?"
Allan bertanya dengan raut wajah heran, ia merasa bingung karena Ayahnya seenaknya menganggap Aska sebagai calon suami dari Kakaknya.
"Hanya anak tiri dari Kenan."
"Tapi tetap saja Ayah, Aska itu masih sangat muda, apa tidak bisa mencari lelaki yang seumuran untuk Kakak?"
"Anisa yang memilih Aska untuk menjadi pendamping hidupnya, Ayah sebagai orang tua hanya bisa merestui hubungan mereka, Allan, saat kecelakaan Aska memeluk Anisa, kalau mereka tidak saling mencintai tidak mungkin sampai seperti itu."
Allan mengusap wajahnya dengan sangat kasar, ia tidak mengerti apa yang ada di otak Ayahnya hingga Ayahnya setuju Kakaknya bersama anak kemarin sore.
"Allan, pentingkan kebahagiaan Kakakmu, selama ini Kakakmu sudah banyak menderita."
"Pak, Anisa tidak mencintai Aska, jadi bapak jangan terlalu yakin."
"Nak Aska, Bapak saran'kan kamu untuk sholat istikharah, setelah sholat itu kamu tidur dan wanita yang ada dalam mimpi kamu adalah jodoh kamu nak."
"Iya Pak, nanti Aska akan melakukannya."
Sebenarnya Aska selalu takut untuk melakukan sholat istikharah, ia takut kalau dalam mimpinya bukan Anisa, untuk itu ia tidak pernah melakukan itu, ia hanya fokus mengejar cinta Anisa saja dari pada melakukan sholat istikarah.
"Lagi pula cinta itu belakangan juga tidak apa-apa Om, Jamila dan Mas Ali juga menikah tidak saling mencintai dan hanya kenal saat kecil saja, tapi kami berdua selalu percaya kalau kami di persatukan dalam ikatan pernikahan karena Allah."
Kinanti berbicara sesuai pakta, ia dan suaminya memang tidak saling mencintai, tapi dengan seiringnya waktu ia dan suaminya bisa saling mencintai.
"Om tau Jamila, tapi sebenarnya Om takut kalau nanti Aska menyakiti hati ibu mertuamu, apa lagi kamu juga tau selama ini ibu mertuamu sudah sangat menderita, Om sebagai adiknya, tidak ingin melihatnya menderita lagi."
Kinanti menganggukan kepalanya sebagai jawaban, ia tau kalau ibu mertuanya sudah sangat menderita oleh Ayah mertuanya, tapi ia percaya kalau Aska adalah lelaki yang baik.
__ADS_1
Apa lagi Kinanti sebelumnya sudah mengenal Aska, tentu saja ia tau tentang Aska.
"Insya Allah saya tidak akan melukai hati Anisa, saya akan berusaha membahagiakan Anisa semampu saya."
Allan menghela napas berat saat mendengar jawaban dari Aska, ia tidak bisa berkata-kata lagi saat ke dua orang tuanya memang sudah setuju kalau Aska bersama Kakaknya, mau bagai mana lagi, ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi selain ikut setuju.
"Aska, kalau semua keluarga Anisa sudah tau, kamu bisa menikahi Anisa kapan pun."
"Maksud Ayah apa?! Kakak itu sedang kom'a, Ayah jangan ngada-ngada!"
Allan berbicara dengan suara lantang, bagai mana pun juga ia seorang komandan, tentu saja sikap tegasnya terbawa ke keluarganya.
"Dari pada mereka melakukan zina mata dan hati Anisa tidak bersih? Bukan'kah Ayah sebagai orang tua hanya menjaga putrinya dari tentang dosa yang di sengaja? Allan, Kakak kamu itu sudah hijrah, jangan biarkan hati Kakak kamu ternoda hanya karena percintaan!"
Allan langsung melihat ke arah Bundanya.
"Bunda juga setuju kalau Ayah melakukan hal sebesar itu? Kakak itu sedang kom'a jadi jangan aneh-aneh!"
"Kalau Bunda ngikut apa kata Ayah saja nak."
Isabel tidak bisa menghentikan apa pun yang di lakukan suaminya selama suaminya di jalan yang benar.
Apa lagi suaminya yang sebagai mualaf, tapi begitu ta'at dengan agama dari pada ia, tentu saja ia akan diam saja.
"Kamu Aska, apa rencanamu hingga kamu mau bersama Kakaku?!"
"Saya mencintai Anisa."
"Memangnya dengan cinta bisa kenyang? Kamu itu belum memiliki pekerjaan apa pun, mau kamu kasih makan apa Kakakku?!"
"Sudah dong Lan, kita itu tidak kekuarangan uang, jadi jangan mempermasalahkan soal itu."
Morgan tidak suka saat putranya mengatkan tentang napkah pada Aska.
__ADS_1