Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 94 Pernah mendonor Darah


__ADS_3

Kenan sangat terkejut saat mendengar jawaban dari putra ke duanya, ia tidak menyangka kalau putra ke duanya mau menolong istrinya.


Walau pun putra ke duanya selalu menjukan wajah benci pada Kenan dan keluarganya, tapi ternyata putra ke duanya pernah mendonorkan darahnya pada istrinya.


"Ali bukan sengaja menlong Tante, karena saat Ayah kecelakaan memang tidak tau, tapi Ali saat itu sedang menjenguk Ustadz Darma, dan tidak sengaja Ali berpapasan dengan Tante Luci, jadi Ali mendonorkan darah untuk Tante Lusi."


Luci adah adik dari Lusi, hanya saja saat itu Luci sedang memiliki penyakit dan sering mencuci darah, jadi ia tidak mendonorkan darahnya untuk Lusi karena Luci takut menularkan penyakitnya.


"Apa pun itu, Ayah benar-benar berterima kasih padamu nak, karena kamu ternyata masih mau menolong istri Ayah, jelas-jelas kamu tau kalau Lusi sangat jahat, menghina kamu dan Bundamu habis-habisan, tapi kamu mau masih menolongnya."


"Sudah kewajiban sebagai sesama manusia harus saling bantu Ayah, Ali memang tidak menyukai sikap Ayah dan Tante Lusi, tapi bukan berarti Ali akan membiarkan nyawa orang lain melayang, selama kita masih bisa membantu."


"Mas, Ayah, sambil duduk dong ngobrolnya."


Kinanti berbicara sambil tersenyum samar saat melihat suaminya sudah jauh lebih tenang.


"Iya."


Kenan langsung menuntun putra ke duanya untuk duduk, ia sangat bahagia walau pun hatinya masih di penuhi rasa bingun karena putra pertamanya tidak memiliki golongan darah yang sama dengan ia dan istrinya.


Namun tidak bisa di pungkiri kalau rasa bahagianya lebih besar dari pada rasa bingungnya.


"Lama sekali, Kak Aska ko tidak kelur-keluar, sudah hampir satu jam?"


Ali bertanya sambil melihat jam tangannya dan menghela napas panjang, rasa kuatirnya bertambah, awalnya ia sudah lebih tenang, tapi saat menyadari Kakaknya masih belum keluar juga membuat ia sangat kuatir.


"Tenang nak, semoga Bundamu bisa melewati masa kritisnya."


Kenan berbicara sambil menepuk punggung putra ke duanya, sebenarnya ia sendiri juga sangat menghuatrirkan Anisa, apa lagi Anisa adalah wanita yang sangat ia cintai, tentu saja ia sangat menghuatirkannya, tapi ia berusaha tegar saat melihat putra ke duanya rapuh.


Ali langsung berdiri, ia langsung mondar-mandir dengan mulut yang sedang berkomat-kamit mendo'akan Bundanya.


Kenan melihat ke arah Kinanti dengan perasaan bersalah.


"Nak Kin, Ayah minta maaf karena pernah menghina kamu, Ayah memang bodoh, tidak mencari tau kebenaran terlebih dahulu."


"Tidak apa-apa Ayah, Kinanti ngikut apa kata Mas Ali saja, kalau Mas Ali berdamai dengan Ayah, Kinanti juga ikut berdamai, lagi pula Kinanti sudah memiliki Mas Ali, lelaki hebat yang sudah membimbing Kinanti menjadi lebih baik lagi, bahkan Kinanti senang karena kejadian masalah foto itu Kinanti bisa bersama Mas Ali, lelaki kecil yang selalu Kinanti peluk."

__ADS_1


Kenan tersenyum lebar saat mendengar cerita dari menantunya, ternyata putranya dan menantunya memang sudah saling kenal.


"Alhamdulilah, Ayah ikut senang kalau begitu nak Kin."


Kinanti hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.


Aska keluar lebih dulu setelah selsai mendonorkan darahnya untuk Anisa, sedangkan dokternya masih memriksa Anisa.


"Kak, bagai mana Bunda?"


Ali bertanya sambil menatap Kakaknya saat melihat Kakaknya keluar dari ruangan Bundanya.


"Kakak juga tidak tau Ali, kita tunggu saja keterangan dari dokter."


"Kakak lebih baik obati dulu luka kepalanya, bahaya kalau tidak di obati, setelah itu Kakak pulang, Kakak butuh istirahat juga."


Ali berbicara sambil mengusap kening Kakaknya yang masih mengeluarkan darah segar.


"Kakak tidak apa-apa Ali, Kakak mau tunggu Bunda saja."


Aska sangat terkjut saat adiknya tau kalau Anisa terluka karena tidak ingin membuatnya terluka.


"Maafkan Kakak Ali, Kakak tidak tau kalau Bunda bisa menyelip mobil Kakak dengan sangat mudah, pedahal saat kejadian Bunda masih di belakang mobil Kakak dengan jarak terhalang oleh 5 mobil, tapi Bunda dengan cepat menyelip mobil Kakak."


"Tentu saja Kak, karena saat remaja Bunda seorang pembalap yang selalu menduduki peringkat 2 dan 3, selama beberapa paride."


Aska sangat terkejut saat mendengar jawaban dari adiknya, ia tidak menyangka kalau wanita yang sangat lemah lembut itu ternyata seorang pembalap.


"Jadi Bunda pernah ikut menjadi pembalap?"


"Iya Kak, Bunda memang tidak pernah bercerita tentang hal itu, tapi Ali selalu melihat kamar Bunda yang terletak banyak piala, jadi Ali iseng-iseng untuk membaca semua piala yang ada di kamar Bunda."


Kenan tersenyum lebar saat melihat ke dua putranya yang sangat akur, walau pun ia masih belum mengetahui putra siapa Aska, karena golongan darah Aska yang memang berbeda.


"Sudah obati dulu lukanya di temani oleh Ayah, lalu Kakak juga pulang untuk istirahat, nanti sore atau malam Kakak baru ke sini lagi."


Aska yang mendengar kata Ayah ia melihat ke arah bangku di sampingnya, ternyata Papanya memang sudah datang di sana.

__ADS_1


"Papa ko ada di sini?"


"Kenapa nak? Memangnya Papa salah kalau menghuatirkan putra Papa sendiri?"


Kenan bertanya sambil berdiri dan berjalan ke arah putranya.


"Sebenarnya Papa menghuatirkan Aska atau Bunda?"


Aska bertanya dengan raut wajah tidak suka, apa lagi ia tau kalau Papanya pasti sangat menghuatirkan Anisa, karena Anisa adalah wanita yang Papanya cintai.


"Tentu saja Papa sangat menghuatirkan kamu dan Anisa nak. Ayo lebih baik kamu obati dulu lukanya."


"Baik Pa."


Pada akhirnya Aska menurut juga karena mengingat ucapan dari adiknya yang menyuruh ia untuk menghargai nyawanya.


"Bunda, cepat sembuh, Aska ingin minta maaf, karena Aska Bunda terluka, karena keegoisan Aska Bunda menjadi seperti ini." batin Aska


Aska menghela napas berat, walau pun keningnya masih mengeluarkan darah, tapi lebih besar rasa sakit di hatinya, bukan hanya karena ucapan dari Anisa yang tidak ingin bersamanya, tapi melihat Anisa yang sedang terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit, membuat hatinya lebih sakit lagi.


Apa lagi Aska sangat sadar kalau Anisa terluka karenanya, seharusnya ia bisa mengontrol rasa kecewanya di depan Anisa, mungkin tidak akan membuat Anisa menjadi kritis.


"Ali, Kakak akan obati luka kepala Kakak terlebih dahulu, lalu Kakak akan pulang untuk istirahat, dan kalau ada pengembangan tentang Bunda, tolong kabari Kakak."


"Iya pasti Kak, sekali lagi terima kasih banyak karena Kakak sudah mendonorkan darahnya untuk Bunda."


"Sama-sama."


"Nak Ali, nak Kinati, Ayah tinggal dulu."


"Iya Ayah."


Ali langsung mencium tangan Ayahnya begitu pun dengan istrinya juga ikut mencium tangan Ayahnya.


Kenan tersenyum samar saat mendapat perlakuan sopan dari anak dan menantunya. Aska yang melihat itu ia bisa bernapas lega saat melihat adiknya sudahmulai menerima kehadiran Papanya.


"Semoga saja Ali terus baik dengan Ayah, apa lagi Ayah memang tidak terlalu salah pada Ali, yang salah besar adalah Mama, Mama yang membuat Papa menjadi lelaki kejam pada Ali dan Bunda. Papa hanya lelaki bodoh yang hanya meneruti semua apa kata Mama karena Papa dulu sangat mencintai Mama." batin Aska

__ADS_1


__ADS_2