Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 45 Berkunjung Kerumah Kakek


__ADS_3

Sudah 3 hari di mana mereka melakukan malam pertama. Hari ini Ali mengajak istrinya ke rumah Kakek dan Neneknya.


Seperti saat itu Kinanti berganti-ganti gamis, hanya saja tidak sampai 8 lemari yang keluar, kali ini hanya 1 lemari yang keluar gamisnya.


Sekarang Ali dan istrinya sudah ada di depan rumah Kakeknya. Mereka berdua masih di dalam mobil karena Kinanti bilang ingin menenangkan diri terlebih dahulu yang di landa kegugupan.


"Sampai kapan kita di sini Jamila? Sudah 45 menit kita di depan rumah."


"Jamila takut Mas."


"Mas yakin kalau Kakek dan Nenek akan menerimamu, jangan pikirkan gosip tentang foto-fotomu."


"Iya Mas."


Ali langsung turun dari mobil, ia langsung membuka pintu mobil untuk istrinya, setelah istrinya keluar ia menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin.


"Mereka itu manusia Jamila, tidak akan memakanmu, jadi santai saja."


Kinanti menganggukan kepalanya pelan dengan perasaan gugup.


"Assalamualaikum!"


Ali mengucap salam sambil memasuki rumah besar Kakeknya, yang langsung di sambut oleh Kakek dan Neneknya karena ia tadi sudah mengabari mereka.


"Wa'alaikumsalam!"


Ali langsung mencium tangan Kakek dan Neneknya begitu pun dengan istrinya hingga istrinya langsung di peluk singkat oleh Neneknya.


"Aduh cucu menantu Nenek cantik sekali."


Isabel memuji kecantikan Kinanti sambil tersenyum dengan mata berbinar, ia memang tidak menyukai Kinanti saat Kinanti masih menjadi model, tapi saat melihat Kinanti yang memakai gamis dan hijab panjang hingga menutupi lengan membuat ia kagum pada Kinanti.


"Terima kasih nyonya."


Kinanti berbicara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena ia merasa sangat canggung.


"Kenapa manggil Nenek nyonya? Panggil Nenek juga dong Kin, eh lupa panggilanmu Jamila. Hahaha...!"


Isabel lupa jelas-jelas 3 hari yang lalu cucunya sudah menceritakan tentang Kinanti.


"Eh iya Nek."


"Jangan canggung begitu nak, Nenek itu orangnya asik ko."

__ADS_1


Morgan berbicara seperti itu karena ia tau kalau cucu menantunya sangat canggung.


"Ayo kita sarapan dulu nak, setelah itu baru kita ngobrol-ngobrol."


Isabel langsung merangkul cucunya untuk mengajak cucunya sarapan. Ali yang melihat Kakek dan Neneknya menerima kehadiran istrinya ia sangat bahagia.


Mereka langsung duduk di meja makan dan langsung sarapan sambil mengobrol-ngobrol ringan. Kinanti tidak menyangka kalau Kakek dan Nenek dari suaminya sangat menerimanya, tidak ada tatapan sinis atau kata-kata kasar. Setelah selsai sarapan obrolan mereka di lanjut di ruang keluarga.


"Nanti sering main ke sini Jamila, biar Nenek ada temannya."


Sebelum Kinanti menjawab, suaminya lebih dulu menjawab.


"Jamila harus kerja Nek."


"Kamu itu istri mau kerja di bolehin dasar lelaki tidak bertanggung jawab! Enak buat anaknya doang, tanggung jawabnya tidak ada!"


Isabel mengomel sambil menatap sinis pada cucunya yang hanya di balas senyuman oleh cucunya.


"Jamila yang ingin bekerja Nek, Mas Ali memang sudah melarang Jamila."


Isabel menghela napas kasar saat mendengar ucapan dari cucu menantunya, seharusnya seorang istri itu cukup di rumah saja, kalau misalnya jenuh di rumah, cucu menantunya bisa berkunjung ke kantor suaminya, itu lah yang ada dalam pikirannya.


Kinanti yang melihat raut wajah kecewa dari Isabel, ia menghela napas pelan bahkan sangat pelan.


Setelah mendengar ucapan dari cucu menantunya, ia langsung bertanya pada cucunya.


"Kira-kira film Cinta Dalam Perjodohan berapa episode lagi Ali?"


"Sekitar 10 episode lagi Nek."


"Baiklah Jamila kamu boleh bekerja sampai film Cinta Dalam Perjodohan selsai, tapi setelah itu Nenek minta kamu harus fokus mengurus suami. Nenek tidak akan memuntut yang lebih, keinginan Nenek hanya itu, tapi syukur-syukur kalau kamu ingin segera hamil, agar kita segera menggendong cicit."


"Masih dalam proses Nek, jadi Nenek jangan membuat Jamila tdak enak hati."


Ali memang tidak mau kalau kata-kata Neneknya mampu melukai hati istrinya, jadi ia lebih dulu berbicara.


"Bagus kalau begitu, ingat kalian kalau bertengkar harus ada salah satu yang mengalah, terutama kamu Ali, kamu itu seorang kepala keluarga, jadi kamu harus mengalah."


"Iya tau Nek."


Kinanti hanya tersenyum meringis saat mendengar ucapan dari Isabel walau pun usia ia yang lebih tua 5 tahun dari suaminya, tapi Nenek suaminya tetap menyuruh suaminya yang harus mengalah.


"Apa belum ada kabar tentang Bunda Nek?"

__ADS_1


Isabel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Kamu hari ini ulang tahun ke 22 tahun nak, Nenek dan Kakek memiliki kado yang sepesial buat kamu."


Kinanti yang mendengar ucapan dari Isabel ia juga baru ingat kalau hari ini ternyata usia suaminya baru saja genap 22 tahun, tapi pemikiran suaminya sangat dewasa.


Apa lagi di usia suaminya yang terbilang sangat muda, suaminya sudah menyandang status sebagai pengacara, walau pun ia tau kalau suaminya hanya berkuliah 3 tahun karena kepintaran suaminya langsung menyandang sarjana jurusan hukum.


Kinanti akui kalau suaminya sangat hebat hingga tidak terasa ia mengelus perut ratanya sendiri yang belum ada kehadiran buah hatinya di sana, ia berharap kalau kelak ada kehadiran buah hatinya seperti suaminya yang sangat pintar.


Kinanti berharap sifat buah hatinya nanti jangan seperti ia yang jauh dari kata agama, jauh juga dari kata pintar, nilainya hanya menduduki peringkat dua, sedangkan suaminya sudah jelas pintar dalam hal apa pun.


"Jangan bilang kalau kadonya mobil keluaran terbaru, Ali tidak ingin itu Nek, apa lagi sertifikat Alfero Isabel Grup, Ali sangat tidak mau Nek."


Ali memang sangat bosan, semenjak usianya 18 tahun, Kakek dan Neneknya selalu saja membelikan mobil keluaran terbaru.


"Cucu bandel! Belum tau kadonya sudah menebak-nebak!"


"Kakek, jangan bilang Ali cucu bandel, malu sama Jamila."


"Memang kamu paling bandel dari ke tiga cucu Kakek, apa lagi saat kecil selalu kabur dari pesantren, coba apa namanya kalau bukan bandel?"


"Pintar dong Kek, buktinya Ali sekarang susah bisa mendidik istri Ali dengan baik."


"Halah begitu saja bangga!"


"Memangnya Mas, sholat saja harus belajar lebih dulu!"


"Kita itu dulu beda agama Hanny, mana tau sholat orang islam."


Dulu Morgan memang bukan agama islam, tapi setelah ia mencintai Isabel, ia langsung menggsenti agamanya untuk menikahi Isabel.


Kinanti tersenyum lebar saat mendengar panggilan Morgan untuk istrinya yang terkesan romantis.


"Aku tau dan sangat ingat saat Mas takut di sunat. Hahaha...!"


Tawa Isabel pecah saat mengingat masa lalu suaminya dulu yang takut di sunat, suaminya memang mau mengganti agamanya, tapi suaminya takut di sunat.


"Sampai-sampai Hanny kalau Mas meninggal karena di sunat, Hanny jangan menikah dengan lelaki lain, ingat perjuangan Mas untuk Hanny. Hahaha...!"


Wajah Morgan langsung memerah karena malu telah di ejek oleh istrinya. Sedangkan Isabel dengan santainya mengejek suaminya saat mengingat masa lalu bersama suaminya.


"Hahaha...! Ternyata Kakek dulu penakut!"

__ADS_1


Ali juga ikut tertawa saat mendengar ucapan dari Neneknya. Sedangkan Kinanti hanya tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari Isabel, apa lagi saat melihat tawa suaminya yang sangat menggemaskan hingga membuat ia ingin segera melap bibir tipis suaminya, tapi sayang di sana ada mereka juga.


__ADS_2