Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 75 Ali kecewa


__ADS_3

Setelah menemui Yana Anisa menghela napas berkali-kali, kalau masalah tampan Gus Yana memang sangat tampan, tutur katanya juga sangat lembut dan tegas, ia sangat mengagumi Gus Yana dalam pandangan pertama.


Namun Anisa sudah menolak Gus Yana dengan sangat jelas kalau ia tidak bisa menjalin ta'aruf, walau pun ia sangat kagum dalam pandangan pertama, tidak seperti biasanya ia sangat biasa saja, tapi berbeda dengan Gus Yana.


Sekarang Anisa hanya duduk terdiam sambil terus beristighfar untuk menghapus ingatannya tentang Gus Yana, apa lagi Gus Yana bukan lelaki dalam mimpinya.


"Ya Allah, jangan biarkan hati hamba ternoda dengan masalah lelaki." batin Anisa


Anisa bukan sekali dua kali di jodohkan atau di lamar oleh lelaki, tapi Gus Yana mampu menggerakan hatinya yang sudah terasa mati rasa.


"Assalamualaikum!"


Ali dan istrinya mengucap salam bersamaan sambil masuk ke dalam apartement.


"Wa'alaikumsalam."


Anisa langsung berdiri sambil tersenyum lebar. Ali dan istrinya langsung menyalami Bundanya secara bergantian, lalu mereka langsung duduk.


"Bunda habis dari mana ada tas?"


"Bunda habis bertemu Yana."


"Apa dia calon Ayah Ali?"


Ali bertanya sambil tersenyum lebar, sudah cukup Bundanya menjadi janda selama 15 tahun, dan ia berharap kalau Bundanya menerima Gus Yana, Gus Yana adalah putra dari adik tempat Ali menambah ilmu di pesantren, ia sangat mengenal Gus Yana dan Gus Yana adalah lelaki yang di pilihkan Ali secara diam-diam.


Ali yang menyuruh Nenek dan Kakeknya untuk mengatur pertemuan Bundanya dan Gus Yana, ia berharap Gus Yana adalah lelaki yang cocok untuk mendampingi Bundanya, walau pun usia Gus Yana masih 37 tahun, tapi itu masih seimbang dengan umur Bundanya.


"Bukan nak."

__ADS_1


"Apa Bunda menolak Gus Yana?!"


Ali bertanya dengan raut wajah kecewa saat mendengar jawaban dari Bundanya. Anisa sangat terkejut saat putranya tau kalau Yana adalah seorang Gus.


"Apa kamu mengenal Yana nak?"


"Ali yang mengatur pertemuan ini, tapi Ali tidak percaya kalau Bunda menolak Gus Yana, apa kurangnya Gus Yana Bunda? Ali sangat mengenal Gus Yana, tapi Bunda menolak Gus Yana, jujur saja Ali sangat kecewa dengan Bunda! Ali tidak mau kalau Bunda di nikahi oleh lelaki yang salah lagi! Ali sudah cukup trauma dengan masa lalu Ali!"


Setelah mengatakan itu Ali langsung menaiki tangga meninggalkan Bunda dan istrinya, ia sangat kecewa saat Bundanya menolak Gus Yana, lelaki yang sudah ia pilihkan untuk Bundanya, ia hanya ingin Bundanya di nikahi lelaki yang tepat.


Ini untuk pertama kalinya Ali tidak bisa mengontrol emosinya, biasanya ia bisa mengontrol emosinya, tapi kali ini ia benar-benar kecewa dengan keputusan Bundanya yang menolak tanpa mau mencoba lebih dulu


"Mas!"


Kinanti memanggil suaminya sambil berdiri. Ali tidak menyahuti panggilan dari istrinya, ia terus saja melanjutkan langkah kakinya.


Kinanti bertanya sambil duduk lagi dengan perasaan bingung.


"Mungkin Ali marah karena Bunda menolak Gus Yana, Bunda tidak menyangka kalau Ali mengenal Gus Yana, Bunda juga memang mengagumi Gus Yana dalam pandangan pertama, tapi kalau dalam mimpi Bunda setelah sholat istikharah bukan Gus Yana, lalu Bunda bisa apa nak? Bunda ini sudah bukan lagi wanita muda, Bunda tidak ingin sampai menikah cerai, menikah cerai, karena Bunda bukan wanita muda lagi, Bunda tidak mau nanti di depan sana banyak masalah yang berdatangan, memang semua orang hidup pasti akan mendapatkan masalah, tapi kalau masih bisa di hindari untuk apa Bunda mencari masalah?"


Kinanti menghela napas berat, memang menurut ia sangat susah dengan wanita yang memegang teguh agamanya, saat ia akan menikah dengan Aska tidak berpikir ingin sholat istikharah, tapi berbeda dengan Bundanya yang di kaitkan dengan Allah terlebih dahulu.


"Apa Bunda tidak mengagumi Gus Yana sedikit pun? Kinanti lihat juga Gus Yana itu sangat tampan dan tutur katanya sangat lembut Bunda"


Kinanti sudah tau dengan rupa Gus Yana seperti apa karena ia tadi bertemu di restoran saat ia makan bersama suaminya dan suaminya mengenalkan Gus Yana padanya untuk saling sapa, tapi ia tidak menyangka kalau Gus Yana itu tadi habis bertemu dengan ibu mertuanya.


Anisa menghela napas berat saat mendengar pertanyaan dari menantunya, mungkin menurut ia hanya orang bodoh yang tidak mengagumi Gus Yana, bukan'kah ia sudah mengatakan kalau ia mengagumi Gus Yana dalam pandangan pertama, tapi ia selalu memegang teguh agamanya, sedangkan Gus Yana bukan lelaki yang ada dalam mimpinya, jadi mau bagai mana lagi, ia terpaksa menolak Gus Yana.


"Bunda, kenapa tidak mencoba terlebih dahulu? Kenapa tidak melakukan ta'aruf terlebih dahulu? Kalau sekiranya Bunda cocok Bunda bisa melanjutkan ke pernikahan, tapi kalau Bunda merasa tidak cocok Bunda bisa membatalkannya, apa salahnya mencoba mengenal lebih dekat terlebih dahulu?"

__ADS_1


Sebenarnya Kinanti takut mengatakan hal tadi, tapi ia ucapkan untuk mewakili perasaan suaminya yang sedang kacau, karena ia belum pernah melihat suaminya menjadi sangat kecewa.


"Bunda yakin kalau jawaban Bunda sudah mantap nak, Bunda tidak mau kalau Gus Yana nanti terlalu mengharapkan Bunda, tapi Bunda tetap ke pendirian Bunda yang tidak mau menikah dengannya, tentu saja Bunda akan menyakiti hatinya, jadi lebih baik Bunda membatalkan sebelum Bunda melakukan sesuatu tanpa keyakinan."


"Iya sudah, itu terserah Bunda saja, Kinanti ke kamar dulu Bunda."


"Iya nak."


Kinanti langsung pergi ke kamar untuk melihat suaminya yang lebih dulu pergi ke kamar, ia melihat suaminya yang sedang duduk di atas ranjang sambil main ponsel, ia yakin kalau suaminya sedang berbalas pesan dengan Gus Yana.


"Mas."


Kinanti memanggil suaminya sambil berjalan ke arah suaminya yang langsung di peluk oleh suaminya dengan posisi ia berdiri, sedangkan suaminya berposisi duduk.


"Mas tidak tau kenapa Bunda menolak Gus Yana, Mas tidak ingin kalau hati Bunda goyah lagi dan menikah lagi dengan Ayah, Mas sudah tau kalau Ayah sudah mengajak bercerai denganTante Lusi, belum lagi saat itu Ayah meminta Bunda untuk memberikan kesempatan, Mas hanya takut Bunda rujuk lagi bersama Ayah, jujur saja Mas tidak ridho kalau sampai itu terjadi Jamila."


Setelah mengatakan itu Ali menghela napas kasar, ia tidak mau Bundanya jatuh ke tangan yang salah lagi, ia ingin Bundanya jatuh di tangan yang tepat.


Kinanti juga membalas pelukan dari suaminya sambil menghela napas berat, ia belum pernah melihat suaminya sekecewa sekarang.


"Mas, Bunda bilang kalau Gus Yana bukan lelaki dalam mimpinya setelah sholat istikharah, itu kenapa Bunda menolak Gus Yana, Mas jangan kecewa lagi iya."


"Mas hanya takut kalau Bunda mencintai lelaki yang salah lagi Jamila, Mas tidak mau Bunda terluka lagi."


Kinanti mengelus kepala suaminya yang masih tertutup peci sambil menghela napas berat, ia tau kalau suaminya ingin yang terbaik untuk Bundanya.


"Mas, kata orang jodoh itu cerminan diri sendiri, Jamila harap siapa pun jodoh Bunda kelak, lelaki itu seperti Bunda, dalam agamanya atau sifatnya, kita sebagai anak hanya perlu berdo'a agar Bunda mendapatkan jodoh yang terbaik."


"Iya Mas tau Jamila, amin."

__ADS_1


__ADS_2