
Lusi langsung melihat ke arah suaminya yang masih bertumpang kaki dan bersidakep dada, ia tidak menyangka kalau suaminya masih mencintai Anisa, ia tau kalau suaminya sudah mencintai Anisa dari saat Anisa meminta untuk bercerai.
"Jadi Mas minta bercerai karena ingin rujuk dengan Anisa?"
"Kalau harapan Mas memang iya, tapi Anisa sudah menolak duluan, Mas tau kalau tidak pantas bersama Anisa, wanita yang sangat memegang teguh imannya, sedangkan Mas hanya lelaki biasa, tapi mau Anisa bersama Mas atau tidak, Mas tetap ingin berpisah denganmu Lusi."
Kenan berbicara dengan nada lemah lembut, ia memang sudah capek terus saja bertengkar dengan istrinya selama ini, jadi ia lebih baik menggunakan cara lembut untuk berpisah dengan istrinya.
"Aku tidak mau berpisah dengan Mas sampai kapan pun, karena aku akan selalu mencintai Mas."
"Berhenti bersikap egois Lusi."
"Lalu apa Mas tidak bersikap egois? Mas ingin terus bersama Anisa, jadi tidak ada salahnya kalau aku juga bersikap egois."
Aska menghela napas kasar, sepertinya derama rumah tangga ke dua orang tuanya akan semakin panjang, Papanya ngotot ingin berpisah, Mamanya ngotot tidak ingin berpisah.
"Aska lelah melihat perdebatan kalian, apa tidak bisa salah satu dari kalian mengalah? Lagi pula apa salahnya kalau Papa belajar mencintai Mama lagi dari pada mencintai Bunda? Kalian itu sudah berumur, tidak pantas terus berdebat seperti anak-anak, memang ke duanya tidak memiliki urat malu."
"Lancang sekali kamu Aska!!"
Kenan berbicara sambil menatap mata putranya, ia sangat tidak suka saat di bilang tidak tau malu, memangnya apa salahnya kalau ia mencintai Anisa, lagi pula tidak ada istilah orang yang berumur tidak boleh jatuh cinta.
"Lalu apa kamu benar mencintai wanita janda yang sudah berumur? Mungkin saja Kanaya itu memiliki banyak anak, apa kamu mau menikahi wanita tua yang sudah keriput? Bahkan usiamu itu pantas menjadi anaknya Aska!"
Lusi berbicara dengan raut wajah marah, enak sekali putranya mengatainya tidak tau malu.
"Aska dan Tante Kanaya hanya berbeda 15 tahun Ma, lagi pula Tante Kanaya hanya memiliki satu putra, Tante Kanaya juga sangat baik dan perhatian, jadi apa salahnya kalau Aska memperjuangkan cinta Aska?"
"Kamu itu hanya tau mencintai, kamu akan menyesal Aska, wanita yang sudah memiliki seorang putra itu miliknya sudah tidak nikmat untuk kamu nikmati, dia sudah longgar, cari yang masih di segel Aska, kamu itu masih perjaka, kenapa harus mencari wanita yang sudah memiliki seorang putra?"
"Astagfrullah Ma, kenapa Mama harus berbicara prontal tentang Tante Kanaya? Masalah seperti itu Aska sama sekali tidak penting. Aska tidak akan menikahi wanita karena napsu dan harta seperti Papa saat menikahi Bunda, Papa tidak bisa memberikan Bunda cinta, Papa melakukannya karena harta, Aska tanya apa Papa menikmati permainan ranjang Papa saat masih bersama Bunda? Tentu jawabannya tidak, Papa hanya melakukan perannya sebagai suami. Ma, Aska tidak ingin seperti Papa yang menikah hanya karena harta dan napsu, Aska sangat mencintai Tante Kanaya, tolong biarkan Aska memperjuangkan cinta Aska."
__ADS_1
"Kamu itu masih anak-anak mana tau tentang cinta, memangnya kamu sudah benar-benar move-on dari Kinanti?!"
"Aska sudah move-on, jadi biarkan Aska bersama Tante Kanaya."
"Cukup!! Mama tidak akan pernah setuju!!"
Lusi berbicara sambil berdiri, ia menatap tajam mata putranya.
"Aska, kamu seorang lelaki, kamu boleh menentukan hidupmu dengan wanita mana pun, jangan pikirkan tentang Mama, yang jelas Papa hanya ingin kamu bisa bahagia dengan pilihanmu, tapi ingat lelaki harus bisa bertanggung jawab, jangan hanya mengandalkan harta Kanaya, cukup Papa yang pernah memanfaatkan Anisa hingga berujung penyesalan, kamu jangan sampai seperti itu nak."
Kenan menghela napas berat saat mengingat masa lalunya bersama Anisa yang masih menyisihkan penyesalan yang sangat dalam.
"Kamu seorang lelaki Aska, kamu tidak perlu meminta restu dari Mama dan Papa, cukup kamu meminta restu dari ke dua orang tua Kanaya saja, jadi jangan pikirkan tentang Mama."
Kenan tidak ingin putranya mendapatkan penyesalan suatu saat nanti, jadi ia akan mendukung ke inginan putranya.
"Jadi Papa merestui Aska bersama Tante Kanaya?"
"Papa sangat merestui."
Aska sedikit bingung saat Papanya merestui keinginan ia begitu mudah.
"Jelas Papa tau kalau Kanaya seorang janda berusia 44 tahun, dan perusahaannya di dirikan 7 tahun yang lalu."
Aska tersenyum lebar, itu artinya kalau Papanya memang tidak tau siapa Kanaya Putri, kalau saja tau kalau Kanaya Putri adalah Anisa, ia yakin kalau Papanya tidak akan setuju dengan alasan berbeda umur, karena Papanya sangat mencintai Anisa, tapi ia bersukur karena Papanya tidak tau identitas asli Kanaya.
"Terima kasih Pa."
"Sama-sama nak."
Kenan berbicara sambil menepuk pelan punggung putranya, ia berharap kisah percintaan putra pertamanya seperti kisah percintaan putra ke duanya yang selalu mulus walau pun selalu di terjang banyak masalah.
__ADS_1
Kenan berharap ke dua putranya bisa bahagia bersama wanita yang di cintainya dan berharap wanita yang di cintainya adalah wanita yang tepat seperti Kinanti.
Apa lagi masalah foto tidur itu sudah terungkap, Kenan tidak menyangka kalau Lisa yang melakukan kejahatan sebesar itu, apa lagi ia sangat mengenal Lisa sebagai wanita yang sangat baik.
Bahkan saat putranya terpuruk karena kecewa, Lisa yang menemani putranya, dan mencoba membuat putranya tegar, tapi ternyata di luar dugaanya kalau Lisa adalah dalang gagalnya pernikahan putra pertamanya hingga Kinanti di nikahi putra ke duanya.
Ada rasa bangga di hati Kenan saat semua orang tidak percaya pada Kinanti, tapi putra ke duanya mau bersama Kinanti hingga pakta itu terkuak kalau Kinanti hanya di jebak.
"Yakin kamu sudah melupakan Kinanti nak?"
"Yakin Pa, Aska sudah menganggap Kinanti seperti adik ipar Aska sendiri."
"Bagus kalau begitu, tapi kalau kamu belum bisa melupakan Kinanti, jangan pernah mencoba untuk memiliki hubungan dengan wanita lain, karena akan mendapatkan masalah yang rumit."
"Aska tau Pa, kalau begitu Aska ke kamar dulu, sebentar lagi adzan magrib, Aska mau ke masjid dan sekalian pulangnya mau belajar mengaji."
Beberapa saat Kenan dan istrinya terkejut saat Aska mengatakan akan pergi ke masjid dan mau belajar mengaji.
"Sejak kapan kamu mau belajar mengaji nak?"
"Sejak kemarin Pa, Tante Kanaya seorang wanita muslimah, kalau Aska tidak belajar agama, kemungkinan besar harapan Aska untuk mendapatkan Tante Kanaya sangat tipis, kalau begitu Aska ke kamar dulu Pa, Ma."
"Iya nak."
Kenan dan istrinya menjawab serempak masih dengan wajah terkejut sambil menatap putranya yang menaiki tangga untuk ke kamar.
"Lusi, kamu jangan ikut campur tentang percintaan Aska, kamu tidak berhak mengatur Aska, biarkan Aska memilih jalan hidupnya sendiri kalau kamu tidak mau kehilangan Aska."
Setelah mengatakan itu Kenan langsung melangkahkan kakinya ke arah puntu keluar.
"Mas mau kemana?! Baru juga pulang."
__ADS_1
"Mas mau pulang, rumah Mas bukan di sini lagi."
Kenan menjawab tanpa membalikan badan, ia langsung melangkahkan kakinya untuk pergi, ia tidak mau melihat wajah istrinya lagi, ia yakin kalau istrinya sekarang sudah menangis.