
Setelah pulang dari pesantren, Ali berkali-kali menghela napas berat saat mengingat pertanyaan dari putri Gus Yana.
"Om Ali, Bunda Nisa kemana? Salwa suka sama Bunda Nisa, dia sangat baik, andai saja Bunda Salwa masih hidup, mungkin Bunda Salwa juga seperti Bunda Nisa yang sangat baik."
Ucapan itu membuat Ali terus terngiang di telinganya, walau pun ia sekarang sedang duduk dan di hadapkan oleh banyak berkas, tapi pikirannya masih terus saja memikirkan ucapan Salwa.
Kinanti yang membawa secangkir kopi, ia mengerutkan keningnya saat melihat suaminya seperti sedang memikirkan sesuatu, bahkan saat pulang pun suaminya tidak banyak bicara, ia hanya diam membisu.
"Mas, sebenarnya Mas kenapa?"
Kinanti meletakan kopi sambil duduk di samping suaminya. Ali langsung melihat istrinya sambil tersenyum lebar.
"Apa Mas sedang memimirkan Ning Alisah? Itu kenapa Mas hanya diam saja setelah pulang dari pesantren, apa lagi Ning Alisah sangat cantik dan masih sangat muda lagi."
"Astagfrullah! Kamu itu Jamila, selalu saja seudzon, Mas heran kenapa kamu tidak bisa sedikit saja mengurangi rasa buruk sangkamu, apa kurang puas setiap malam Jamila selalu di garap oleh Mas?"
Kinanti yang di tanya oleh suaminya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar hingga membuat suaminya menyetil keningnya.
Pltek...!
"Aw! Sakit Mas!"
Kinanti berbicara sambil mengelus keningnya, memang tidak terlalu keras, tapi ia masih merasakan sakit.
"Jamila itu selalu mesum, heran Mas sama Jamila."
"Normal Mas kalau mesum sama suami, kenapa Mas bilangnya heran?"
"Tidak apa-apa."
"Sebenarnya Mas itu sedang memikirkan apa? Kenapa Mas dari tadi melamun?"
"Mas memikirkan ucapan Salwa, Salwa ingin bertemu Bunda."
Ali menghela napas berat saat mengingat kejadian siang tadi.
"Oh Mas memikirkan Salwa, iya juga Mas, Salwa sangat malang."
Kinanti juga menghela napas pelan.
"Assalamualaikum!"
Anisa mengucap salam sambil masuk ke dalam apartement, ia tersenyum di balik cadarnya saat melihat putra dan menantunya.
"Wa'alaikumsalam!!"
Ali dan istrinya menjawab serempak, lalu ia dan istrinya langsung mencium tangan Bundanya secara bergantian.
__ADS_1
"Bunda, Ali, ingin berbicara sebentar boleh?"
"Iya nak mau berbicara apa?"
Anisa langsung duduk bersebrangan dengan putranya sambil membuka cadarnya.
"Begini, kenapa Bunda menolak Gus Yana? Ali masih butuh jawaban yang tepat."
Sebenarnya Ali malas membahas hal ini, tapi ia merasa ada yang janggal dengan jawaban Bundanya tempo hari, ia belum mendapatkan jawaban yang tepat.
"Kenapa harus membahas itu lagi nak?"
Anisa bertanya sambil menghela napas lelah.
"Apa ini ada kaitannya dengan Kak Aska?"
"Sama sekali tidak, kamu kenapa bertanya seperti itu?"
"Begini Bunda, Ali juga tidak tau hubungan Bunda dan Kak Aska sedekat apa, dan Ali juga tidak tau Bunda tau tentang hal ini atau tidak, tapi yang jelas Bunda lebih baik jauhi Kak Aska, Ali tau kalau Kak Aska mencintai Bunda, dan Ali tidak tau Bunda mencintai Kak Aska atau tidak, tapi yang jelas Bunda jangan sampai menikah dengan Kak Aska, karena hukumnya haram, Bunda pernah di nikahi oleh Ayah Kak Aska."
Anisa sangat terkejut saat mendengar ucapan dari putranya, ia memang baru tau kalau hal itu haram, tapi ia tidak pernah berpikir tentang mau menikah dengan Aska, karena ia hanya menganggap Aska sebagai putranya.
"Bunda, sebelum Kak Aska mencintai Bunda lebih dalam lagi, lebih baik Bunda hentikan Kak Aska, karena ini tidak benar adanya."
Kinanti juga sangat terkejut saat mendengar ucapan dari suaminya, ia pernah marah pada suaminya karena suaminya melarang ibu mertuanya dengan Aska, ternyata mereka memang tidak bisa menikah.
"Maafkan Ali karena menasehati Bunda, mungkin juga agama Bunda masih di batas Ali, tapi Ali sebagai anak, harus mengingatkan Bunda, karena manusia tempatnya khilaf."
Anisa hanya menggelengkan kepalanya dengan perasaan bingung, ia bingung dengan mimpinya, apa itu hanya sebatas bunga tidur atau apa.
"Iya sudah, Ali hanya ingin mengatakan itu saja, lebih baik Bunda istirahat, Bunda pasti capek."
Ali sama sekali tidak butuh jawaban Bundanya, tapi ia hanya ingin mengingatkan Bundanya karena ia takut Bundanya salah jalan.
"Iya, lebih baik Bunda istirahat."
Kinanti juga membenarkan ucapan dari suaminya, ia memang merasa wajah Bundanya terlihat lelah.
"Iya sudah kalau begitu Bunda ke kamar dulu."
Setelah mengatakan itu Anisa langsung pergi ke kamar untuk istirahat, ia memang marasa sangat lelah. Setelah ibu mertuanya pergi Kinanti menghela napas berat.
"Jadi itu alasan Mas tidak setuju Bunda dengan Aska?"
"Iya Jamila, itu alasan Mas tidak setuju."
Semua anak pasti ingin melihat orang tuannya bahagia, tapi jika kebahagianya dengan percintaan yang salah, tentu saja semua anak tidak menginginkannya, apa lagi percintaan yang di haramkan oleh agama.
__ADS_1
"Lalu bagai mana dengan Aska Mas? Sangat kasihkan bukan kalau sampai Aska gagal lagi?"
"Iya memang, tapi kenapa Kak Aska harus mencintai Bunda? Wanita lain masih banyak, yang masih Gadis juga banyak."
Menurut Ali Kakaknya itu tidak masuk di akal, bagai mana pun juga wanita itu masih banyak, tapi kenapa Kakanya harus mencintai Bundanya.
Ali langsung fokus lagi dengan setumpuk bukunya, ia sudah sangat pusing dengan pekerjaannya, dan di tambah pusing lagi dengan Kakaknya.
"Mas, di minum dulu kopinya."
"Iya Jamila."
Ali langsung meminum kopinya sedikit, lalu ia langsung mulai mengetik lagi di laptopnya. Kinanti menatap wajah suaminya sambil menghela napas.
"Apa mungkin alasan Mas Ali menjodohkan Bunda dengan Gus Yana itu karena masalah itu, tapi kenapa Mas Ali tidak mengatakan sebelumnya, setidaknya mereka belum saling sayang." batin Kinanti
"Jamila, lebih baik kamu tidur duluan, Mas masih harus bekerja untuk menyelsaikan proyek baru, setelah selesai nanti Mas ke kamar."
"Jamila mau menunggu Mas saja."
"Tapi Masih lama Jamila."
Ali berbicara sambil melihat ke wajah istrinya, ia tau kalau mata istrinya sudah sangat ngantuk, terlihat jelas matanya sudah memerah.
"Iya tidak apa-apa Mas, Jamila tunggu Mas saja, lagi pula Jamila itu belum dapat Jatah making love dari Mas. Jamila ingin making love biar cepet hamil."
"Biar cepat hamil atau memang Jamila kecanduan melakukan Jima? Setahu Mas Jamila memang sudah sangat kecanduan Jima."
"Gimana tidak kecanduan making love kalau suami Jamila memiliki junior idaman para wanita?"
"Halah dasarnya saja Jamila memang mesum!"
"Punya istri mesum itu insya Allah akan langgeng Mas."
"Amin Jamila, sudah sana tidur."
"Iya Mas, Jamila juga sudah sangat ngantuk."
Ali langsung mencium kening, ke dua mata, ke dua pipi, hidung, lalu bibir istrinya, tidak lupa ia juga bermain di rongga mulut istrinya sekilas.
"Sudah sana tidur."
"Iya Mas, segera selsaikan pekerjaan Mas, setelah itu Mas harus mengerjai Jamila sampai melenguh nikmat."
"Iya Jamila."
Ali berbicara sambil menggeleng-gekengkan kepala setiap kali melihat kelakuan istrinya. Ali langsung mengerjakan semua pekerjaan hingga selsai.
__ADS_1
Setelah sekitar 2 jam Ali selsai bekerja, ia langsung baru-buru ke kamar untuk segera bermain-main dengan istri tercintanya