Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 19 Gengsi


__ADS_3

Setelah dari pesantren Ali duduk di sofa dan hanya diam, ia berkali-kali beristighfar saat mengingat kejadian tadi, kejadian saat Ning Alisah begitu merendahkan diri depannya, ia merasa kalau ia menjadi lelaki paling jahat, tapi kalau ia bisa memilih, ia lebih baik di cintai oleh satu wanita yaitu hanya istrinya.


Ali tidak ingin di cintai banyak wanita hingga melukai hati wanita itu, apa lagi wanita seperti Ning Alisah yang menurutnya sangat sempurna, tapi Ning Alisah sangat merendahkan diri di depan ia hanya karena sebuah cinta hingga tidak berpikir tentang agama yang mengatakan kata takdir.


Belum lagi Ali merasa bersalah pada Kiai Ilham yang begitu lapang dada menerima penolaknya, dan ia merasa seperti sedang merendahkan Kiai Ilham karena penolakannya, membuat yang awalnya ia tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun, nyatanya ia menyakiti banyak orang karena keputusannya. Kalau masalah santriawati Ali sendiri tidak peduli mau beranggapan seperti apa itu hak mereka.


"Ali kamu kenapa?"


Kinanti bertanya sambil berjalan ke arah suaminya lalu langsung mecium tangan suaminya karena ia tadi tidur, jadi tidak tau kalau suaminya pulang, lalu ia langsung duduk di samping suaminya.


"Aku tidak kenapa-kenapa Kin."


"Bohong! Wajah kamu itu terlihat sangat lelah, pasti ini karena Ning Alisah, iya'kan?"


Bagai mana pun Kinanti seorang wanita dewasa, jadi jelas ia tau kalau suaminya sedang memikirkan sesuatu.


"Iya, Ning Alisah meminta untuk jadi istri ke dua."


"Jadi benar dugaanku kalau Ning Alisah ingin menjadi istri ke dua, lalu apa jawabanmu?"


"Saya menolaknya, saya sudah cukup memiliki kamu."


"Tapi hati kamu tidak mengatakan demikian, pasti kamu menyesal karena telah menolaknya, apa lagi Ning Alisah sangat ta'at agama, tidak sepertiku yang hanya orang biasa yang tidak memiliki sesuatu yang bisa aku banggakan, karirku sudah hancur."


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung menundukan kepalanya dengan air mata yang mengalir deras. Seharusnya Kinanti tidak asal menerima sesaorang untuk menjadi suaminya tanpa tau masa lalunya, mungkin semuanya tidak akan seperti sekarang.


Apa lagi sekarang Kinanti sudah sangat nyaman dengan suaminya, tapi ia harus di hadapkan dengan masalah seperti ini.


"Tuh'kan kamu mulai lagi bersikap kanak-kanakan."


Ali berbicara tanpa menoleh ke arah istrinya, ia masih menatap ke arah depan.


"Aku ingin pulang Ali."


Ali yang mendengar permintaan dari istrinya sangat terkejut, ia langsung menoleh ke arah samping. Ternyata istrinya itu sudah menangis membuat ia menghela napas berat, ia lelah dengan hatinya seharian ini, dan sekarang ia harus menghadapi sifat kanak-kanakan istrinya.


"Kamu kenapa menangis Kin? Saya salah apa lagi?"

__ADS_1


Ali bertanya sambil menghapus air mata istrinya.


"Aku yang salah di sini Ali, bukan kamu."


"Memangnya kamu bikin salah apa?"


"Karena aku menerima kamu menjadi suamiku."


"Jadi kamu menyesal telah menikah dengan saya?"


"Sama sekali tidak, tapi karena aku kamu juga menyesal telah menolak Ning Alisah."


"Saya bukan merasa menyesal Kinanti, saya hanya merasa bersalah saat Ning Alisah menyudutkan saya dengan mengatakan kalau Ning Alisah tidak pantas untuk saya."


Lagi-lagi Ali menghela napas berat, sifat kanak-kanakan istrinya mampu menguras kesabaranya. Ali langsung mengangkat tubuh istrinya untuk duduk di pangkuanya dengan kepala istrinya yang bersandar di lengan kirinya.


"Saya sangat menyayangi kamu Kinanti, dan saya juga sedang belajar mencintai kamu. Tolong jangan membuat rumah tangga kita di warnai dengan masalah. Saya juga sedang belajar menjadi suami yang kamu inginkan, jadi jangan meminta pulang ke rumah orang tuamu hanya karena kamu marah dengan saya. Apa pun masalah rumah tangga kita jangan sampai orang tua tau kalau masalah kita masih di batas wajar, terkecuali kalau saya melakukan kekerasan, baru kamu ngadu pada orang tua kamu."


Kinanti langsung menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Ali, apa berita kemarin tidak sampai viral?"


"Oh begitu, syukurlah aku bisa bernapas lega, terima kasih Ali, sebenarnya aku masih ingin berkarir lagi, tapi kamu tau sendiri kalau imejku sudah rusak."


"Apa ini karena ada kaitanya dengan Lisa yang mengatakan kalau Lisa akan tetap di bawahmu?"


"Habisnya Lisa itu menyebalkan, dulu aku yang mengajak Lisa masuk ke Wijaya Grup, tapi saat aku terjatuh Lisa menghinaku habis-habisan. Aku merasa kalau Lisa sangat membenciku, dan aku merasa kalau kehancuran karirku ini ada campur tangan dari Lisa."


"Jangan seudzon."


Sebenarnya bukan hanya Kinanti yang merasa seperti itu, tapi Ali pun merasa ada sesuatu yang janggal. Ali yakin kalau Lisa juga ikut terlibat dalam masalah istrinya, apa lagi ia sebagai pengacara, tentu sangat mudah mengetahui hati sesaorang hanya dari percakapan saja, tapi ia tidak ingin istrinya menuduh tanpa bukti.


Kinanti langsung memeluk erat suaminya, sebenarnya di tinggal satu hari saja oleh suaminya ia sudah merasakan rindu pada suaminya, tapi ia gengsi karena selalu mengatai suaminya anak kecil, jelas-jelas suaminya itu bukan lelaki remaja lagi. Bahkan pekerjaan suaminya bisa Kinanti nilai sebagai lelaki dewasa.


"Bagai mana dengan sidang hari ini?"


"Alhamdulilah lancar, saya ingin berbicara serius boleh?"

__ADS_1


"Iya boleh."


Kinanti langsung mendongkakan kepalanya untuk mendengar pertnyaan apa dari suaminya hingga ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bibir tipis suaminya yang membuat ia ingin mencuim dan menghisapnya dengan kasar. Ali yang paham istrinya melihat ke arah mana ia mengusap bibir istrinya dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan hhhmm?"


"Tidak ada."


Kinanti langsung melihat ke arah lain, ia yakin sekarang pipinya memerah karena malu. Ali yang melihat istrinya malu ia hanya tersenyum lebar.


"Saya bisa memberimu pekerjaan di Alfero Grup."


Kinanti yang mendengar ucapan dari suaminya ia langsung menatap mata suaminya.


"Dengan cara apa? Wijaya Grup saja sudah memecatku."


"Kebetulan Pak Samsul kepercayaan dari Alfero Grup itu teman Bunda dulu, jadi aku bisa merokemendasikan kamu, tapi dengan ke dua syarat."


"Syarat apa?"


"Syarat pertama kamu harus memanggil saya mas, dan syarat ke dua kita akan main di film yang sama berjudul Cinta dalam Perjodohan."


"Terus kalau kamu ikut juga dengan dunia peran, lalu pekerjaanmu?"


"Saya akan berhenti menjadi pengacara, saya tidak ikhlas kalau istri saya di pegang-pegang lelaki lain."


"Ah soswit banget suamiku!"


"Jadi kembali lagi ke topik awal, kalau kamu ingin bekerja kamu harus panggil aku mas, bukan Ali."


"Kamu itu memberikan aku pekerjaan, tapi harus ada imbalannya segala!"


"Iya sudah kamu tidak perlu bekerja lagi."


"Memangnya kamu sanggup membiyayaiku yang suka perawatan dan lain-lain?"


"Walau pun kamu minta perhari 150 juta juga saya sanggup untuk saat ini Kin, tapi kita tidak boleh sombong. Harta itu titipan dari Allah, kapan pun Allah ingin mengambilnya, harta itu akan kembali pada Allah."

__ADS_1


"Hah? Memangnya sekaya apa kamu sampai sanggup memberiku 150 juta perhari?"


"Saya tidak kaya, tapi kalau untuk nanggung kebutuhan kamu saya lebih dari cukup."


__ADS_2