
Aska masih diam dengan perasaan kecewa, lebih kecewa lagi saat Mamanya tidak melanjutkan ucapannya, ia juga ingin tau apa alasan Mamanya menyuruh Papanya untuk menikahi wanita lain.
Namun sampai 8 menit Aska diam Mamanya masih tidak melanjutkan pembicaraannya membuat ia menghela napas kasar saat Mamanya masih diam dengan air mata yang mengalir deras.
Sebenarnya hati Aska sangat sedih saat melihat wanita yang telah melahirkannya menangis, tapi rasa kecewana lebih besar dari rasa sedih pada Mamanya.
"Katakan Ma! Apa alasan Mama menyuruh Papa untuk menikahi Tante Anisa?! Aska berhak tau alasan apa!"
Lusi hanya menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari putranya.
"Saat itu Kakekmu membawa kabur semua uang perusahaan, Papa hampir bangkrut dan sudah nyaris akan bangkrut, lalu ke dua orang tua Papa sering memarahi Mamamu, Mamamu tidak mau di marahi terus hingga Mamamu menyuruh Papa untuk menikahi Anisa, agar Anisa membantu keungan keluarga kita. Anisa adalah wanita yang sangat sukses dalam dunia bisnis, bahkan dulu ia juga tangan kanan dari Alfero Isabel, Papa datang untuk melamarnya, tentu saja Anisa menerima lamaran Papa karena Anisa memang tidak menyukai berpacaran, Anisa sangat memegang teguh agamanya, Anisa tidak pernah mau menodai agamanya dengan hal yang di sengaja, intinya Anisa tidak salah di rumah tangga Papa, Aska."
Lusi langsung terduduk lemas saat suaminya menjelaskan semua permasalahan kenapa suaminya bisa menikahi Anisa. Kenan bernapas lega setelag menjelasakan semuanya pada putra pertamanya.
Aska menghela napas kasar, jadi harta yang selama ini ia nikmati bukan karena Anisa yang memberikan secara cuma-cuma agar menjadi istri ke dua dari Papanya, nyatanya Anisa tidak salah apa-apa di sini, karena yang salah ke dua orang tuanya.
Terutama Mamanya yang berpikir gila menurut Aska, dan Papanya seperti orang bodoh menyetuji permintaan dari Mamanya.
"Kenapa Mama membuat Aska membenci Tante Anisa dan Ali Ma?! Mereka tidak salah apa-apa di perkara rumah tangga Mama, kenapa Aska harus terlahir dari wanita egois seperti Mama yang mementikan diri sendiri?!"
Setelah bertanya Aska menghela napas kasar, ia menanatap Mamanya yang terduduk di lantai sambil menangis.
"Aska butuh jawaban Mama Ma! Kenapa Mama begitu jahat pada mereka?!"
Aska masih tetap menatap Mamanya, tapi hingga 3 menit Mamanya tidak menjawab pertanyaannya membuat Aska langsung berjalan ke arah kunci mobil.
"Nak, kamu mau kemana? Jangan tinggalkan Mama."
Lusi berjalan ngesot ke arah putranya yang berjalan ke arah kunci, ia tidak mampu untuk berdiri karena tubuhnya terasa lemas.
Aska tidak menjawab pertanyaan dari Mamanya, ia langsung berjalan ke luar rumah dan langsung melajukan mobilnya, ia tidak percaya kalau Mama yang menurut ia sangat baik, ternyata melakukan kejahatan sebesar itu.
Aska sebenarnya ingin sekali pergi ke Club malam, tapi ia lebih memilih untuk ke apartement adiknya, ia harus minta maaf pada adiknya.
__ADS_1
Sedangkan masalah Aska mencintai Kinanti, ia akan pikirkan lain kali tentang Kinanti, yang jelas sekarang ia harus minta maaf terlebih dahulu pada adiknya.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit Aska sampai di depan apartement adiknya, ia langsung menekan tombol bel hingga menampilkan sosok wanita bercadar di hadapannya.
"Ada apa malam-malam datang kemari nak?"
Anisa memang tidak mengenali putra tirinya karena ia hanya menatap sekilas lalu langsung menundukan pandangannya, ia hanya tau kalau lelaki yang datang itu masih terlu muda.
"Kamu siapa? Ali di mana? Saya ingin bertemu dengan Ali, saya ingin minta maaf pada Ali."
Anisa yang mendengar suara tidak asing ia langsung meluruskan pandanganya untuk melihat siapa yang datang hingga ia mengenali lelaki di depannya adalah Aska.
"Untuk apa datang minta maaf pada Ali?"
"Saya mohon Tante, saya tidak tau siapa Tante, tapi saya harus minta maaf pada adik saya."
Anisa menghela napas berat, ia langsung mempersilahkan Aska masuk.
"Mari masuk dulu nak."
"Iya terima kasih Tante."
"Silahkan duduk dulu Nak, Tante telpon Ali dulu."
"Iya terima kasih Tante."
Anisa menganggukan kepalanya, ia langsung meraih ponsel yang ada di meja untuk menelpon putrannya, ia tidak mau mengetuk pintu kamar putranya karena ia takut mereka sedang melakukan olah raga malam.
Setelah di angkat dan sudah menyuruh putranya untuk ke ruang keluarga, ia langsung duduk bersebrangan dengan Aska sambil menunduk.
Aska merasa suara wanita yang duduk di sofa sangat akrab, dan ia juga tidak tau kenapa wanita bercadar itu tau kalau namanya adalah Aska.
Ali langsung turun dari tangga dengan perasaan bingung, sedangkan istrinya memang sudah tidur lebih dulu karena besok akan mulai syuting lagi.
__ADS_1
"Ada apa kamu kemari?"
Ali bertanya sambil terus berjalan ke arah mereka hingga langsung di sambut oleh Aska. Aska langsung bersimpuh di depan adiknya.
"Kenapa berlutut di depan saya?"
Ali bertanya dengan raut wajah bungung saat melihat Kakanya langsung berlutut di depannya.
"Kakak minta maaf dek, Kakak tau selama ini Kakak banyak salah, bahkan saat kecil Kakak pernah memukuli adek karena sangat membenci adek, Kakak pikir Tante Anisa yang salah di sini karena Mama selalu mengatakan Tante Anisa pelakor, tapi nyatanta Tante Anisa bukan pelakor. Maafkan Kakak karena baru tau pakta itu sekarang, Kakak memang pantas di benci olehmu, tapi setidaknya Kakak sudah minta maaf dengan tulus."
Bukannya menanggapi ucapan dari Kakaknya, tapi Ali langsung memegang kening Kakaknya, kening Kakanya tidak panas, tapi ia tidak mengerti kenapa Kakanya malam-malam minta maaf.
"Apa kamu kesambet jin baik? Biasanya mulutmu itu sangat melukai perasaan saya?"
Ali bertanya tanpa membangunkan Kakanya, ia hanya menatap gerak gerik Kakanya yang menurut ia sangat aneh.
Apa lagi terakhir bertemu Ali dan Kakanya saling pukul, tapi sekarang Kakanya tiba-tiba minta maaf tanpa sebab.
"Tolong maafkan Kakak dek, Kakak tau kalau Kakak salah, tapi Kakak baru tau pakta itu malam ini, Kakak tidak pernah menyangka kalau Mama sangat jahat karena Mama telah merencanakan pernikahan Papa dan Tante Anisa hanya karena harta."
Ali menghela napas pelan, ia melihat ke arah Bundanya untuk meminta jawaban yang langsung di angguki oleh Bundanya. Ali langsung membangunkan Kakaknya untuk berdiri.
"Jangan pernah bersujud di kaki orang lain, bersujudlah pada Allah dan Mamamu."
"Kamu mau'kan maafkan Kakak dek?"
Lagi-lagi Ali tidak mengerti kenapa Kakanya memanggil diri sendiri Kakak, dan memanggil ia dengan panggilan adik.
"Apa kepala kamu baru terbentur?"
"Kepala Kakak tidak terbentur, Kakak minta maaf dengan tulus, kamu mau'kan memanggil aku dengan panggilan Kakak? Kita jadi keluarga."
"Apa tujuanmu ingin menjadi keluarga saya? Bukan'kah kamu sangat membenci Bunda?"
__ADS_1
"Iya dulu sebelum Kakak tau pakta yang sebenarnya, tapi setelah tau Kakak juga ingin minta maaf pada Tante Anisa secara langsung karena Mama telah melukai hatinya, tapi sayang Tante tidak pernah kembali lagi ke sini."
Anisa hanya tersenyum di balik cadarnya saat mendengar ucapan dari Aska yang ingin minta maaf