Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 50 Lusi VS Kinanti


__ADS_3

Sekarang Ali bersama istri termasuk Bundanya sedang dalam perjalanan pulang ke apartement, sesuai permintaan Ali kemarin kalau Bundanya harus tinggal di apartement.


Namun mereka bertiga di kejutkan dengan Lusi yang sedang mengomeli bi Yanti. Ali langsung menggenggam tangan Bundanya saat melihat Bundanya menghentikan langkah kakinya.


"Bunda jangan berbicara apa pun, lagi pula wajah Bunda sudah berbeda, apa lagi Bunda juga memakai cadar."


"Iya nak."


Mereka melanjutkan langkah kakinya lagi dengan Ali yang menggenggam tangan Bundanya. Sedangkan Kinanti berjalan lebih dulu, wajahnya tersenyum ceriah saat melihat Lusi yang mengomeli bi Yanti.


"Tidak tau malu! Tidak anak! Tidak suami membuat kegaduhan dan sekarang bu Lusi juga ikut membuat kegaduhan?! Dasar keluarga gila!!!!"


Kinanti memaki Lusi sambil terus berjalan ke arah Lusi, bahkan hingga ia lupa kalau ia sedang bersama ibu mertuanya karena rasa ingin memaki Lusi menggebu-gebu. Dulu Lusi memaki Kinanti saat Aska melempar foto-foto ke wajahnya, membuat ia memiliki dendam dan ingin memaki balik pada Lusi.


Saat Kinanti menyadari ada ibu mertuanya, ia langsung menutup mulutnya masih sambil berjalan ke arah Lusi, ia malu pada ibu mertuanya yang memiliki suara lembut dan alim, tapi ia yang sebagai menantu, jangan'kan alim, kalau suaminya tidak menyuruh ia memakai gamis, mana mau ia memakai gamis.


Lusi langsung membalikan tubuhnya ke sumber suara, beberapa saat ia mengerutkan keningnya saat melihat putra tirinya menggandeng wanita bercadar, sedangkan Kinanti yang ia tau sebagai istri dari putra tirinya dengan santainya berjalan lebih dulu saat suaminya menggandeng tangan wanita lain.


"Kepalanya terbentur batu kali iya, suaminya menggandeng tangan wanita lain tidak cemburu, atau itu putri dari pak Kiai yang ingin di nikahi oleh Ali jadi Ali menikahi gadis itu?" batin Lusi


Bukan hanya Lusi yang berbicara di dalan hati, tapi bi Yanti juga sama.


"Apa jangan-jangan Den Ali bilang mau pergi ke rumah Neneknya kemarin itu mau menikah lagi kali iya? Kalau tidak menikah lagi mana mungkin Den Ali yang ta'at agama menggenggam tangan wanita yang bukan makromnya, tapi kenapa Non Kinanti biasa-biasa saja? Bukan'kah kemarin Non Kinanti sering sekali cemburu, atau Den Ali memiliki do'a agar ke dua istrinya akur?"batin Bi Yanti


Namun beberapa detik bi Yanti menepis pikiran jeleknya, ia yakin kalau Ali bukan lelaki seperti itu, walau pun Ayah dari Ali memiliki dua istri dulu, tapi sifat Ali 95% ikut seperti Bundanya. Mereka bertiga sampai di depan Lusi dan bi Yanti.


"Kenapa anda datang ke apartement saya?"


"Di mana suamiku?!"


Suaminya memang tidak pernah pulang sudah 1 minggu setelah pertengkaran dengan Lusi tempo hari.

__ADS_1


Ali sudah bingung saat melihat ibu tirinya datang ke apartementnya, dan sekarang di buat lebih bingung lagi saat mendangar pertanyaan dari ibu tirinya.


"Saya tidak tau dan saya juga tidak ingin tau."


"Dasar ibu sama anak sama gilanya! Dulu Anisa yang merebut suamiku dan sekarang kamu merebut suamiku dengan data sialan yang kamu ubah! Kamu berharap agar suamiku menyayangi anak jallang seperti kamu?!"


Plak...!


Satu tamparan keras itu mendarat di pipi Lusi saat Lusi mengatai ibu mertuanya jallang membuat Kinanti sangat marah.


"Seharusnya anda menjaga suami sialan anda, kalau suaminya bisa tidur dengan wanita lain atau bisa menikahi wanita lain, itu artinya ada yang salah dalam diri anda, apa lagi kata-kata anda itu seperti sampah! Anda juga sebagai perempuan, tentu anda tau sebrengsek apa suami anda hingga mau menghianati pernikahan kalian!"


Kinanti menghela napas kasar sebelum melanjutkan pembicaraannya.


"Lagi pula kita baru datang ke apartament, seharusnya anda cari suami anda di lain tempat, siapa tau suami anda sedang bercinta dengan wanita lain tanpa sepengetahuan anda, karena lelaki yang sudah pernah berhianat saya percaya suatu saat dia akan tetap berhianat!"


"Dasar sama-sama jallang!!"


"Jangan berharap tangan kotormu itu bisa menampar pipi saya yang berharga, karena bagi saya orang yang menikmati uang hasil menipu dari Bunda, itu sangat kotor!"


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung menghempaskan tangan Lusi hingga Lusi terhayung ke belakang, kalau belakangnya bukan tembok, Lusi mungkin sudah terjatuh ke lantai.


"Dasar wanita sialan! Saya bersyukur karena putra saya tidak jadi menikahimu!"


"Bahkan saya lebih bersyukur lagi karena tidak jadi di nikahi oleh Aska hingga di nikahi oleh Mas Ali."


"Apa yang bisa di banggakan dari Ali?!"


"Mas Ali sangat sempurna, tidak seperti putramu yang hanya bisa mengandalkan uang orang tuanya, tapi Mas Ali sangat mandiri! Lebih baik kamu pergi dari sini, saya tidak sudi meladeni keluarga tidak waras seperti kalian!"


Menurut Kinanti ke dua orang tua Aska dan Aska itu tidak waras, saat itu Aska terus saja mengganggunya, lalu Kenan mengganggu suaminya dan sekarang Lusi yang mengganggunya.

__ADS_1


"Dasar wanita kurang ajar! Kamu pikir kamu wanita waras mau di nikahi oleh Ali hanya anak ingusan?! Saya lupa satu hal kalau donatmu itu memang sudah basi, jadi kalau bukan anak ingusan seperti Ali, lelaki lain mana mau dengan donat basimu yang sudah sangat longgar tidak akan nikmat kalau di garap!"


Semua orang menggelengkan kepalanya saat mendengar Lusi mengatakan milik Kinanti donat basi.


"Dasar Nenek-nenek tidak punya ahlak! Begitu kalau pikirannya butuh belaian dari suami jadi tidak waras!!"


Sebenarnya Kinanti ingin sekali mengatakan begitu kalau pikirannya butuh sodokan dari suami jadi tidak waras, tapi ia masih ingat kalau sekarang sedang bersama ibu mertuanya, jadi ia tidak mau mengatakan hal yang sangat prontal, ia takut kalau ibu mertuanya marah atau tidak menyukai ucapannya hingga ibu mertuanya menjauhinya, ia tidak mau sampai itu terjadi.


"Pak Budi...!!!!"


Ali berteriak memanggil satpam untuk mengakhiri perdebatan istri dan ibu tirinya.


"Iya Mas!"


Pak Budi itu langsung berjalan ke arah mereka.


"Bawa wanita ini pergi, dan pastikan kalau wanita ini tidak boleh masuk ke apartement Alfero lagi, kalau sampai wanita ini datang lagi dan membuat kekacawan, siap-siap Bapak lepas baju seragamnya!"


"Baik Mas."


Pak Budi itu paham arti dari ucapan Ali, jika ia membuat kesalahan lagi bisa di pastikan kalau Ali akan memecatnya.


Beberapa saat Lusi terkejut saat mendengar ucapan dari putra tirinya karena ia tau artinya, tapi bagai mana bisa putra tirinya memecat satpam apartement Alfero, apa lagi yang ia tau kalau putra tirinya tinggal di apartement Alfero juga pemberian Anisa. Namun seolah-olah putra tirinya adalah pemilik seluruh apartement Alfero.


"Mari bu Lusi mau keluar, atau mau saya seret keluar?"


"Dasar satpam gila! Dan kamu Ali, tidak perlu so berkuasa di sini!"


"Mau saya so berkuasa atau tidak itu hak saya, mau saya melarang orang datang atau tidak itu juga hak saya, anda tidak perlu ikut campur urusan saya."


"Memang dasar anak jallang tidak sopan!"

__ADS_1


"Tapi anda menikmati harta dari wanita jallang sangat menjijikan!"


__ADS_2