Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 16 Bersikap Kanak-kanakan


__ADS_3

Setelah berfoto tadi siang, Ali langsung mengirimkan foto itu pada chat grup yang langsung mendapatkan pujian ada juga yang mencibir, itu dari keluarga Kakeknya karena keluarga Kakeknya hanya ada beberapa yang masuk mualaf.


Sekarang Ali dan istrinya sudah duduk di sofa, ia bisa melihat istrinya tersenyum lebar setelah sholat isya berjama'ah. Walau pun awalnya istrinya itu bandel, mau sholat dzuhur, mau sholat asar, mau sholat magrib, yang jelas istrinya itu sangat malas kalau sudah namanya sholat, tapi ia tidak pantang menyerah untuk mendidik istrinya menjadi lebih baik.


Ali tidak ingin kalau istrinya salah langkah, ia akan sangat berdosa dan malu pada Allah karena tidak bisa menjadi kepala keluarga. Tadi siang Kinanti juga mengirimkan foto ke ponsel adiknya, ia juga minta maaf pada adiknya karena nyatanya ia tidak bisa berpisah dengan suaminya, dan ia bersyukur karena adiknya membalas pesan ia dengan mengucap syukur karena ia tidak jadi berpisah.


Sekarang Ali sedang sibuk membuka lembaran setumpuk buku untuk memecahkan kasus di sidang besok pagi. Kinanti yang sedang monoton televisi, ia sudah merasa mulai jenuh, tapi ia sama sekali tidak ingin memainkan ponselnya karena di internet hanya ada hujatan-hujatan dari netizen untuknya.


"Ali, apa kamu tidak ingin mengucapkan sesuatu, atau sekedar kata-kata manis karena aku baru saja di pecat?"


"Memangnya kamu mau di ucapkan apa Kinanti?"


Ali bertanya masih dengan mata yang hanya fokus pada pekerjaannya.


"Iya apa saja, ih kamu aku berbicara, tapi di cuekin!"


Kinanti sangat kesal saat melihat suaminya yang hanya fokus dengan setumpuk berkas. Ali menghela napas berat, ia langsung melihat ke arah istrinya yang duduk di sampingnya.


"Tolong jangan bersikap kanak-kanakan Kinanti, saya harus segera menyelsaikan pekerjaan saya untuk sidang besok pagi, dan sore harinya saya harus pergi ke pesantren."


Kinanti tidak berbicara lagi, ia langsung pergi ke arah ranjang, lalu langsung menghempaskan tubuhnya dengan sangat kasar. Ali langsung menghela napas berat saat melihat istrinya menghempaskan tubuhnya sendiri dengan sangat kasar, ia langsung mematikan televisi lalu langsung berjalan ke arah ranjang. Ali langsung membaringkan tubuhnya, lalu langsung memeluk istrinya.


"Ucapan apa yang ingin kamu dengar dari mulut saya Kinanti?"


Kinanti langsung mendongkakan kepalanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi telunjuk tangannya menujuk pada bibirnya sendiri.


"Kamu menginginkan apa?"


Ali bertanya sambil mengerutkan keningnya, ia pura-pura tidak paham atas permintaan dari istrinya.


"Susah kalau punya suami anak kecil!"


Setelah mengatakan itu Kinanti langsung melepas paksa pelukan dari suaminya, lalu langsung membalikan tubuhnya untuk membelakangi suaminya karena kesal dan malu.


Ali hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang menurut ia sangat lucu, ia langsung melepaskan pecinya, lalu langsung memeluk istrinya lagi dari belakang.


"Kinanti, kamu itu seorang istri, dosa kalau membelakangi suami."

__ADS_1


"Diam, kamu hanya bocil!"


Kinanti berbicara masih sambil membelakangi suaminya karena kesal dan malu, ia bahkan sudah memberikan kode, tapi suaminya masih saja tidak peka.


Ali langsung membalikan tubuh istrinya, ia mengusap lembut ke dua pipi istrinya, lalu langsung mengecup bibir istrinya sekilas.


"Ini yang kamu inginkan?"


Ali bertanya sambil tersenyum lebar karena lucu melihat kelakuan istrinya.


"Ih anak kecil ternyata kamu tau juga dengan hal mesum!"


Kinanti berbicara sambil memukul dada suaminya karena malu.


"Mangnya saya salah kalau mencium istri saya sendiri?"


Kinanti menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, bahkan kalau suaminya melakukan yang lebih dari kecupan bibir saja ia tidak menolak.


"Jadi kapan kamu mau memanggil saya mas?"


"Tapi saya suami kamu Kinanti."


"Aku tau, bagai mana kamu tau aku sedang ngamuk di Wijaya Grup?"


Kinanti baru menanyakan tentang perihal tadi siang karena ia baru ingat.


"Maaf sebelumnya karena saya lancang Kin, saya meletakan alat penyadap suara di tas kamu."


Detak jantung Kinanti mendadak berhenti dan matanya langsung memerah, itu menandakan kalau ia akan menangis, lalu ia langsung duduk.


"Kamu tidak percaya sama aku hingga kamu meletakan alat penyadap suara di tasku?"


Ali juga langsung duduk saat mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Maksud kamu apa Kin?"


"Kamu meletakan alat penyadap suara karena takut kalau aku nanti selingkuh?"

__ADS_1


"Asthagfirullah kamu berbicara apa Kin? Mana mungkin saya berpikir seperti itu, saya tau kalau kamu memiliki masalah tentang foto-foto di pernikan kemarin, saya tau kalau kamu akan di pecat dan saya juga tau kalau kamu akan mendapatkan masalah karena perkara masalah kemarin, jadi saya meletakan penyadap suara karena pikiran saya tidak tenang, saya tidak mau kamu kenapa-kenapa Kinanti."


Ali menghela napas berat sebelum melanjutkan pembicaraannya.


"Saya tau kalau kita belum saling mengenal dekat, tapi apa saya salah kalau saya ingin melindungi istri saya sendiri? Saya cuma mau kalau istri saya baik-baik saja. Saya sama sekali tidak berpikir seperti itu, tapi jika sekiranya kamu kurang nyaman atas perlakuan saya, saya minta maaf Kinanti. Mungkin saya memang belum bisa menjadi suami kamu yang baik, tapi saya sedang berusaha agar menjadi suamimu yang baik."


Ali menudukan pandangannya sambil menghela napas berat, ia tidak menyangka kalau istrinya akan menuduhnya, jujur saja ia sangat kecewa dengan ucapan dari istrinya.


"Sekali lagi saya minta maaf."


Setelah mengatakan itu Ali langsung turun dari ranjang, sebelum ia benar-benar melangkah, tapi pinggangnya sudah di peluk dari belakang oleh istrinya.


"Maafkan aku Ali. Hiks... Hiks..."


Tiba-tiba saja Kinanti langsung menangis saat melihat raut wajah kecewa dari suaminya, tidak seharusnya ia menuduh suaminya sebelum mendengar penjelasan dari penjelasan dari suaminya hingga membuat suaminya kecewa.


"Aku yang salah Ali, aku yang tudak bisa mengerti pikiran kamu, tapi kamu sangat mengerti tentang aku. Tolong maafkan aku, aku mohon kamu jangan marah. Hiks... Hiks..."


Ali menghela napas berat, ternyata usia itu tidak bisa di nilai sebagai bentuk kedewasaan, contonya istrinya yang terpaut 5 tahun lebih tua darinya, tapi sifat istrinya tidak bisa menujukan kalau istrinya itu lebih dewasa darinya, bahkan menurut ia istrinya itu selalu bersikap kanak-kanakan.


Kinanti yang tidak mendengar jawaban dari suaminya tangisan ia semakin kencang dan tangannya semakin mengeratkan pelukannya.


"Saya tidak suka dengan cara berpikir kamu yang selalu kanak-kanan."


"Iya aku minta maaf Ali, aku akan berusaha tidak bersikap kanak-kanakan lagi. Tolong maafkan aku Ali, kita memang belum saling mengenal dekat, jadi aku belum tau sifat kamu."


Ali langsung melonggarkan pelukan dari istrinya, ia langsung membalikan badan untuk menghadap ke arah istrinya.


"Tolong jangan bersikap kanak-kanakan lagi, walau pun saya belum mengenal kamu, tapi yang saya tau kamu itu istri saya, sebagai seorang suami saya ingin menjadi yang terbaik untuk istri saya."


Ali berbicara sambil menghapus air mata istrinya.


"Maafkan aku."


"Bukan kata maaf yang saya inginkan, tapi saya ingin kamu berusaha memberikan kepercayaan pada saya."


"Iya aku akan berusaha memberikan kepercayaan untuk kamu."

__ADS_1


__ADS_2