
Menurut Ali Lusi itu wanita gila, mengatai Bundanya jallang, tapi Lusi menikmati harta milik Bundanya, benar-benar sangat menjijikan.
Setelah kepergian Lusi yang di seret paksa oleh satpam. Kini mereka semua langsung masuk ke dalam apartement, bi Yanti beberapa saat mematung saat melihat wanita bercadar yang di genggam tangannya oleh Ali melewati ia masuk mengikuti Ali.
Aroma parfum yang di pakai wanita bercadar membuat bi Yanti mematung, walau pun sudah lama ia tidak bekerja di rumah Anisa, tapi ia masih ingat aroma parfum milik Anisa, aroma parfum itu tidak ada di pasaran, itu adalah buatan Anisa sendiri, bagai mana pun juga Anisa selalu menyukai membuat kosmetik termasuk parfum.
Walau pun Anisa mengeluarkan produk ke pasaran, hanya satu parfum yang tidak di jual oleh Anisa, jadi bi Yanti sangat hapal dengan aroma parfum itu. Setelah itu bi Yanti juga ikut masuk ke dalam mengikuti mereka yang sudah duduk di sofa.
"Mau minum apa iya Den buat Non."
Walau pun bi Yanti berpikir wanita bercadar itu Anisa, tapi ia takut bukan Anisa, jadi ia memanggil wanita bercadar itu dengan panggilan Non.
Anisa berdiri, ia langsung membuka cadarnya sambil tersenyum lebar, lalu langsung memeluk bi Yanti yang memang sudah seperti keluarga.
"Saya tidak menyangka kalau bibi bekerja di putraku, setengah bulan yang lalu saya baru mendengar suami bibi meninggal, turut berduka bi, semoga amal ibadah mamang di terima dan di tempatkan di sisi terbaiknya. Amin."
Bi Yanti langsung membalas pelukan dari Anisa sambil meneteskan air mata bahagia, ia tidak menyangka kalau ia akan bisa bertemu lagi dengan Anisa.
"Saya sudah menduganya kalau tadi itu ibu, tapi mau bilang takut salah, soalnya aroma parfum ibu tidak pernah saya lupakan di indra penciuman saya."
Bi Yanti memang selalu memanggil ibu pada Anisa sesuai permintaan Anisa, Anisa tidak suka di panggil Non, walau pun usia Anisa lebih muda 10 tahun dari bi Yanti.
"Ternyata bibi masih ingat saja."
Setelah itu mereka langsung melepaskan pelukannya. Anisa sangat senang saat tau bi Yanti tidak melupakannya.
"Wajah ibu?"
Bi Yanti bertanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat wajah Anisa sangat berbeda, mau pun dulu atau sekarang wajah Anisa memang sangat cantik, bahkan sekarang jauh lebih cantik dan bercahaya, bisa bi Yanti bisa menebak kalau iman Anisa semakin bertambah semenjak berpisah dengan Kenan.
"Saya mengalami kecelakaan bi, jadi wajah saya di oprasi."
Jawaban Anisa membuat bi Yanti sangat kuatir karena terlihat jelas di mata Anisa.
"Saya sudah tidak apa-apa, jadi bibi tidak perlu kuatir."
Anisa berbicara sambil tersenyum lebar, ia memang sudah tidak kenapa-napa, bahkan luka hati yang di buat oleh Kenan 15 tahun yang lalu mulai berangsur sembuh, hatinya sudah bisa menerima dengan ikhlas saat Kenan mengatakan kalau Kenan tidak pernah menginginkan putranya, maka dari itu ia mengubah nama Ayah untuk putranya.
__ADS_1
"Eh iya bu, mau di buatin teh melati?"
"Iya bi."
Bi Yanti mengangguk kepalanya pelan, ternyata kesukaan Anisa masih sama, masih suka teh melati. Bi Yanti langsung memanggil putrinya saat melihat putrinya sedang membawa sapu.
"Yuli, kesini ada ibu datang."
"Iya bu."
Yulia langsung berjalan ke arah Anisa, lalu langsung mencium tangan Anisa.
"Waduh Yuli sekarang sudah besar, cantik pula."
Anisa berbicara sambil tersenyum lebar saat melihat Yuli yang sudah tumbuh menjadi Gadis remaja.
"Iya bu terima kasih, kalau begitu saya tinggal ke dapur dulu."
"Iya Yulia."
"Tidak ada yang berubah."
"Iya Bunda tetap masih sama, dulu saat Ali bersih-bersih Ali selalu meletakan barang-barang itu seperti semula, begitu pun semenjak ada bi Yanti dan putrinya, Ali menyuruh mereka untuk menata seperti semula, hanya itu kenang-kenangan yang di tinggalkan Bunda, jadi Ali tidak mau ada yang di rubah."
Mendengar penjelasan dari putranya air mata Anisa langsung menetes, hatinya merasakan sakit saat mendengar penjelasan dari putranya.
"Maafkan Bunda, nak."
Anisa minta maaf sambil memegang lengan kanan putranya, hanya kata maaf yang lagi-lagi terucap dari mulutnya saat putranya membahas masa lalu yang mebuat hatinya sangat sakit. Ali langsung memegang tangan Bundanya dengan ke dua tangannya sambil tersenyum lebar.
"Untuk apa Bunda minta maaf? Bunda tidak salah pada Ali, semuanya hanya tinggal masa lalu, justru setelah kejadian di masa kecil Ali, Ali menganggap semuanya sebagai pelajaran untuk di masa depan. Ali berharap kalau cinta Ali dan Jamila di iringi dengan iman, agar tidak ada kata egois dan tidak ada anak-anak Ali yang menjadi korban perceraian."
Anisa teesenyum lebar sambil mengusap pipi putranya, ternyata pemikiran putranya sudah sangat dewasa. Namun berbeda dengan Kinanti saat mendengar ucapan dari suaminya membuat ia meneteskan air mata, ia merasa sedih dan terharu.
Kinanti sangat sedih karena tau masa lalu suaminya, tapi ia juga terharu saat suaminya selalu berpikir dewasa. Ali yang duduk bersebrangan dengan istrinya, ia sangat terkejut saat melihat istrinya menangis.
"Jamila kenapa? Apa karena Mas mengabaikanmu? Ayo kemari."
__ADS_1
Kinanti menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah suaminya. Ali langsung memangku istrinya lalu langsung memeluk istrinya.
Anisa bergeser sambil tersenyum lebar saat melihat putranya memperlakukan istrinya sangat baik dan mesra.
"Kenapa menangis hhhmm?"
Ali bertanya sambil mengusap wajah istrinya.
"Jamila menangis bukan karena di cuekin oleh Mas, tapi jawaban Mas membuat Jamila terharu dan beruntung memiliki Mas."
"Katanya selalu beruntung, tapi di suruh sholat, masih saja malas-malasan, bagai mana mau bersyukur pada Allah?"
"Ih Mas, jangan malu-maluin Jamila sama Bunda."
Kinanti langsung memukul dada suaminya, ia merasa sangat malu pada ibu mertuanya yang selalu ta'at agama, sedangkan ia tidak.
"Biar Bunda tau kalau menantunya sangat malas sholat."
'Ih mas ternyata menyebalkan!"
Ali hanya tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari istrinya, ia langsung mencium kening istrinya yang tertutup hijab.
"Mas jangan cium Jamila, malu tau ada Bunda."
"Ngapain harus malu? Kita sudah sah Jamila, lagi pula Bunda pernah muda."
"Ngapain harus malu Jamila? Bunda sangat senang saat melihat rumah tangga kalian yang sangat romantis, Bunda berharap kalian di pisahkan karena waktu kalian berdua habis di dunia, bukan di pisahkan karena keegoisan kalian."
Anisa berbicara sambil tersenyum lebar, ia sangat bahagia saat melihat putranya sangat mesra pada istrinya, walau pun ia tau kalau pernikahan mereka di dasari dengan mendadak dan tidak saling mengenal karena seharusnya Kinanti menikah dengan Aska, tapi ia sangat senang saat tau mereka saling mencintai.
"Amin!"
Ali dan istrinya menjawab serempak.
"Bu teh melatinya."
Bi Yati berbicara sambil meletakan teh melati dan 2 jus untuk Ali dan istrinya
__ADS_1