
Ali menghela napas berkali-kali sambil beristighfar saat mendengar penjelasan panjang dari Bundanya, ia memang merasa sangat sedih saat mendengar Bundanya kecelakaan, tapi ia sangat kecewa kalau Bundanya berpikir ia tidak membutuhkan Bundanya.
Selama 15 tahun Ali berdo'a agar di pertemukan kembali dengan Bundanya, selama 15 tahun ia berusaha lebih baik lagi dan lagi agar kelak Bundanya datang ia bisa menjadi putra yang bisa Bundanya banggakan, tapi Bunda yang selama ini ia tunggu-tunggu kedatangannya nyatanya Bundanya berpikir kalau ia tidak membutuhkan Bundanya.
Ali tidak mengerti kenapa Bundanya sampai berpikir seperti itu, tidak ada seorang anak yang tidak menginginkan kasih sayang dari orang tuanya, begitu pun dengannya, sebahagia apa pun kehidupan yang ia jalani, tapi hati kecilnya selalu memiliki harapan untuk Bundanya kembali.
Sebahagia apa pun kehidupan yang Ali jalani, tapi do'a di setiap sujudnya adalah ingin di pertemukan kembali dengan Bundanya.
"Bunda berpikir terlalu jauh, tidak ada seorang anak yang tidak menginginkan kasih sayang dari orang tuanya. Seharusnya Bunda berpikir kalau Ayah sudah membuang Ali, jadi seharusnya Bunda berpikir untuk memberikan kasih sayang yang lebih untuk Ali, bukan berpikir seperti itu. Apa Bunda tidak tau betapa beratnya kehidupan yang di jalani Ali selama ini karena harus memikul beban berat dari kecil? Dari kecil Ali sudah di hadapkan dengan berkas-berkas Alfero Grup dan menghitung pemasukan dari Apartement Alfero. Apa Bunda tidak berpikir di usia Ali yang masih sangat muda, seharusnya Ali masih menjalani kehidupan seperti anak-anak seusia Ali, tapi Ali tidak bisa seperti mereka, Ali hanya bermain dengan berkas-berkas yang di tinggalkan oleh Bunda."
Dulu Ali selalu mengeluh tentang hal itu semua, ia belajar dewasa di usianya yang terbilang masih kecil, ia tidak berani untuk meminta pertolongan pada Kakek atau Neneknya karena yang ia tau ke dua orang tuanya saja tidak pernah menginginkan kehadirannya, tanpa bantuan Pak Samsul dan istrinya mungkin ia tidak akan bisa memikul beban yang sangat berat, tapi ia sangat bersyukur karena mereka sangat baik dan jujur salama ini, kalau pun ia mengeluh, Pak Samsul selalu menasehatinya.
Apa lagi yang Ali butuhkan saat kecil memang nasehat, nasehat itu penting agar ia menjadi lelaki yang bermanfaat.
"Dulu Ali selalu berpikir bagai mana caranya Ali mempertahankan semua yang di tinggalkan oleh Bunda hingga Bunda kembali dan bagai mana caranya agar Ali bisa sukses, agar Ayah tau kalau putra yang Ayah buang itu bisa sukses tanpa bimbinganya."
Air mata Ali mengalir deras lagi, bahkan sekarang lebih deras dari pada tadi saat mengingat masa lalunya yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Anisa menangis tersedu-sedu saat mendengar penjelasan dari putranya, seharusnya dulu ia mendengarkan ke dua orang tuanya agar tidak menikah dengan Kenan, tapi cinta membuat ia menentang ke dua orang tuanya, hingga membuat putranya yang tidak bersalah menjadi korban keegoisannya.
Hati Anisa sangat terluka saat mendengar ungkapan dari putranya, seharusnya putranya membenci ia karena ia sudah tidak pantas di panggil Bunda.
Semua yang ada di ruang keluarga juga sangat sedih, begitu pun dengan Kinanti, air mata ia mengalir deras saat mendengar ucapan dari suaminya, ia tidak menyangka kalau kehidupan suaminya saat kecil sangat menyedihkan.
Bahkan saat awal-awal menikah Kinanti memperlakukan suaminya sangat buruk, tapi suaminya sangat sabar menghadapinya hingga ia tau kalau kesabaran suaminya memang sudah di latih dari kecil.
"Maafkan Bunda nak, Bunda tidak bisa mendidik kamu dengan baik, bahkan Bunda sudah membuat kamu menderita selam ini."
Anisa minta maaf sambil menghapus air mata putranya dengan ke dua ibu jarinya, dulu ia memang merasa bersalah, tapi sekarang ia merasa lebih bersalah lagi saat mendengar ungkapan dari putranya.
Anisa menangis sambil tersenyum getir, ucapan dewasa dari putranya mampu membuat hatinya seperti tertusuk ribuan pisau, tapi ia juga selalu bersyukur karena sifat putranya selalu berpikir dewasa, sedangkan ia dan Kenan seperti anak-anak yang pergi karena keegoisan masing-masing.
"Apa Ali tidak membenci Bunda?"
Ali mengelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum samar.
__ADS_1
"Bagai mana Ali bisa benci Bunda kalau di setiap sujud Ali selalu menyebut nama Bunda? Ali tidak pernah sedikit pun membenci Bunda, tapi Ali sangat kecewa pada Bunda. Namun Ali sadar perkara permasalahan ini di mulai oleh Ayah, satu hal yang Ali benci dalam hidup Ali, Ali benci memiliki hubungan darah dengan lelaki brengsek sepertinya, entah apa kurangan Bunda dan Ali, hingga Ayah mengatakan yang seharusnya tidak Ali dengar saat kecil."
Air mata Ali semakin deras, sudah 15 tahun berlalu, tapi hatinya tetap masih tidak bisa berdamai dari masa lalu.
"Ali tau kalau Bunda pergi karena hati Bunda sangat terluka saat Ayah mengatakan tidak pernah menyayangi Ali, semua yang di lakukan Ayah hanya untuk mendapatkan perusahaan Kesuma. Ali tau Bunda sangat kecewa karena si brengsek itu tidak mengakui Ali sebagai putranya. Saat itu Ali tidak masalah Ayah tidak menyayangi Ali, masih ada Bunda yang menyayangi Ali, tapi Bunda juga ikut pergi untuk meninggalkan Ali."
Sebenarnya Ali tidak ingin mengingat masa lalunya lagi, tapi ia merasa memiliki beban saat unek-uneknya selama 15 tahun ia pendam sendiri, baru hari ini ia menceritakan semua kejadian di masa lalunya, dan ia berharap kalau ia bisa berdamai dengan masa lalu yang sangat menyakitkan.
Kinanti yang mendengar cerita dari suaminya, tangisannya tidak bisa ia tahan lagi, ia menangis tersedu-sedu, hatinya begitu sakit saat tau masa lalu suaminya, ia pikir hanya ia orang yang paling menyedihkan karena gagal menikah dan di permalukan di depan semua orang, tapi nyatanya suaminya jauh lebih menyedihkan.
Isabel langsung memeluk cucu menantunya saat mendengar tangisan cucu menantunya, ia juga sangat sedih, tapi lebih sedih lagi saat menyetujui permintaan putrinya untuk tidak memanjakan cucunya hingga cucunya mrmikul semua beban berat sendiri.
Namun Isabel juga bangga karena cucunya bisa memikul semua beban beratnya sendiri, dari cucunya memegang kendali Alfero Grup dan Apartement Alfero termasuk sebagai pengacara muda, ia sangat bangga karena cucunya itu sangat pintar, cucunya sudah berpikir dewasa yang seharusnya di usia segitu masih senang bermain-main.
"Jangan menangis Jamila, itu lah masa lalu suamimu, Nenek harap kamu lebih menyayangi suami lagi, dari kecil Ali hanya belajar dewasa dan dewasa, jadi tolong kamu harus memahami hatinya yang ternyata sangat terluka."
"Jamila tau Nek, Jamila akan semakin menyayangi Mas Ali, bukan karena ini permintaan Nenek, dan bukan juga karena Jamila merasa kasihan pada Mas Ali, tapi karena Jamila memang tidak bisa kehilangan Mas Ali, Jamila sangat mencintai Mas Ali."
__ADS_1
Isabel langsung mengecup kening cucu menantunya sekilas, ia suka dengan pemikiran cucu menantunya, tidak heran kalau cucunya mau menikahi Kinanti, walau pun Kinanti lebih tua 5 tahun dari cucunya, tapi Kinanti memang sangat pantas untuk mendampingi cucunya.