
Kinanti tidak menyangka kalau masalah kemarin tentang suaminya itu yang memberhentikan kerja sama membuat Lisa yang selalu terlihat bar-bar menjadi diam seketika, bahkan saat ia bertanya tentang sifat bar-bar Lisa, Lisa sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Lisa seperti wanita lemah saat masalah perusahaan orang tuanya, tapi Kinanti juga tidak menyangka kalau perusahaan Arseta Grup akan di ambang kehancuran hanya karena suaminya memberhentikan kerja sama.
Kinanti tidak menyangka kalau perbuatan suaminya akan berdampak besar dan membuat ia merasa lagi-lagi sangat beruntung karena selalu di bela oleh suaminya.
"Ciuh! Sifat bar-bar kamu kenapa tidak di tunjukan? Takut suamiku menendang kamu dari sini iya?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah bahagia, apa lagi saat melihat Lisa hanya diam membisu, baru kali ini ia melihat Lisa hanya diam, biasanya sudah mengajak jambak-jambakan, tapi kali ini Lisa hanya diam.
"Sudah dong Jamila, kenapa kamu terus bertanya hal tidak jelas? Mas tidak suka Jamila berbicara seperti itu pada Lisa."
"Habis Lisa tidak tau malu Mas, Lisa minta maaf, tapi ada maunya, pakai memasang wajah pura-pura polos lagi, nyebelin banget!"
"Memangnya Jamila kalau ada maunya sama Mas tidak memasang wajah pura-pura polos hah?"
"Ih Mas, jangan samain Jamila dengan lintah darat!"
Kinanti berbicara sambil memukul dada suaminya. Ali langsung mencekal ke dua tangan istrinya yang memukul dadanya.
"Jangan memukul Mas seperti itu Jamila, nanti malaikat bertanya pada Jamila, di gunakan untuk apa ke dua tanganmu? Nanti tangan Jamila menjawab di gunakan untuk menganiyaya suami! Menurut Jamila kira-kira masuk surga atau tidak?"
"Ih Mas tuh iya tambah nyebelin!"
Reyhan yang melihat mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu langsung pergi dari sana, walau pun ia kasihan pada Lisa, tapi mulut Lisa memang sangat keterlaluan, jadi ia tidak akan ikut campur tentang masalah itu.
Lisa hanya menghela napas kasar saat mereka berdua pamer kemesraan tanpa mempedulikan ia yang seperti obat nyamuk.
Setelah itu Lisa langsung pergi dari sana, ia akan membujuk Ali lagi lain kali, ia tidak mau menjadi obat nyamuk. Sedangkan Kinanti langsung tertawa saat melihat Lisa pergi dari sana.
"Istri Mas sepertinya bahagia bangat, dari tadi tertawa terus."
"Kapan lagi melihat wajah pura-pura polos Lisa? Setelah Jamila di pecat dari Wijaya Grup, Lisa selalu saja berlaga seenaknya."
Kinanti bertanya sambil tersenyum bahagia, ia sangat puas saat tau kalau Lisa sudah mengetahui identitas dari suaminya.
"Iya-iya terserah Jamila saja."
Kinanti langsung duduk di pangkuan suaminya.
"Mas, Bunda kapan pulang dan itu si Aska juga apa masih bersama Bunda?"
__ADS_1
"Nanti sore Bunda pulang, iya Kak Aska masih bersama Bunda, sebenarnya Bunda sudah menyuruh Kak Aska pulang, tapi Kak Aska tidak mau dan kekeh ingin ikut Bunda saja."
"Jangan-jangan Kak Aska naksir sama Bunda lagi Mas?"
"Mana mungkin, walau pun Mas juga sebenarnya pernah berpikir seperti itu, tapi kita jangan seudzon terlebih dahulu, siapa tau Kak Aska itu hanya merasa bersalah pada Bunda, pernah mengatai Bunda sebagai pelakor, kita hanya manusia biasa, bukan malaikat."
"Mas itu dari tadi ngomongin soal malaikat terus, tidak tau apa Jamila merinding."
"Kenapa Jamila merinding?"
"Iya yang Jamila tau malaikat pencabut nyawa doang."
Ali menghembuskan napas kasar saat mendengar jawaban dari istrinya.
"Jamila, takut meninggal?"
"Iya Mas, kalau Jamila meninggal nanti Mas bisa-bisa menikah lagi!"
"Sembarangan kalau ngomong, kalau Jamila lebih dulu, Mas tidak mau menikah lagi, karena Mas ingin kalau kita berdua di satukan lagi di surganya."
"Mas itu semakin hari semakin romantis saja, membuat Jamila bertambah cinta sama Mas."
"Kalau mau mesra-mesraan tau tempat dong! Memangnya Alfero Grup itu tempat Nenek moyangmu?!"
Kinanti langsung turun dari pangkuan suaminya saat mendengar pertanyaan dari Yuna, ia merasa tidak memiliki masah dengan mereka berdua, tapi mereka berdua seperti menujukan sikap tidak suka padanya.
"Suka-suka aku mau mesra-mesraan di mana saja, lagian ini urusanku, apa masalahnya dengan kamu?"
Kinanti bertanya dengan raut wajah bingung.
"Memang iya kalian berdua itu tidak tau malu!"
"Saya mesra-mesraan sama istri saya sendiri itu wajar, tidak ada istrilah tidak tau malu, karena kita berdua sudah menikah, terkecuali kalau saya dan Jamila masih berstatus sepasang kekasih, baru di bilang tidak tau malu, tapi sekarang kita sudah menikah. Apa lagi di perusahaan ini tidak ada larangan untuk tidak boleh bermesra-mesraan."
Ali tidak mengerti kenapa banyak sekali yang iri pada ia dan istrinya hingga selalu ada saja yang mencari masalah dengan ia dan istrinya.
"Walau pun tidak ada larangan seharusnya kamu itu malu, apa lagi kalian berdua itu bekerja tidak berprofesional, datang seenaknya sendiri dan libur seenaknya sendiri!"
Kinanti langsung tertawa saat mendengar ucapan dari Ayunda.
"Hahaha...! Kamu pasti iri iya sama kita yang datang dan pergi seenaknya?"
__ADS_1
"Mana mungkin aku iri pada kalian, artis yang tidak bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya, memangnya Pak Samsul membayar kalian pakai daun, hingga kalian seenaknya?!"
"Pak Samsul saja tidak keberatan kenapa kamu yang repot? Otak kamu ke bentur di kolam iya karena adegan tadi, itu kenapa kamu mengurusi hidup kita?"
"Sialan kamu Kinanti! Mulut kamu itu minta aku robek?!"
"Dasar bodoh! Mulut kamu yang minta di robek! Datang-datang marah-marah tidak jelas!"
Ali langsung berdiri dari duduknya saat perdebatan istri dan Ayunda semakin memanas.
"Begini Ayunda, Yuna, kalian berdua kesini ada apa? Kalau kalian ingin mencari masalah dengan saya atau istri saya kalian berdua bukan tandingan saya, jadi kalian berdua jangan macam-macam sama saya!"
"Waw, sombong banget kamu Ali, aku ingin tau apa yang kamu lakukan pada Lisa hingga Lisa menangis?"
"Saya tidak melakukan apa pun, bahkan menyentuhnya saja tidak."
"Bohong! Kamu pasti mengatakan sesuatu pada Lisa!"
"Iya, Lisa menginginkan untuk membantu perusahaannya yang akan bangkrut, tapi saya menolaknya, saya memiliki hak untuk menolak atau menerima permintaannya."
Ayunda dan Yuna mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Ali, ia tidak tau siapa Ali sebenarnya hingga Lisa meminta bantuan pada Ali.
"Memangnya kamu siapa sampai di mintai bantuan oleh Lisa? Kamu hanya seorang mantan pengacara!"
"Tidak peduli saya siapa, yang jelas saya tidak akan membiarkan orang yang menyakiti istri saya bisa hidup bahagia."
"Bajingan kamu Ali!!"
Yuna berteriak marah, setelah dari tadi hanya diam, ia sangat emosi saat mendengar ucapan dari Ali.
"Jangan teriak-teriak, telingaku tidak budek bodoh!!"
Kinanti sangat marah saat mendengar teriakan dari Yuna.
"Wanita kurang ajar kamu! Berani sekali kamu mengatakan aku bodoh!"
"Iya kalau bukan bodoh apa? Teriak-teriak seperti orang di sini itu budek!"
"Sudah Yuna, lebih baik kita pergi dari sini."
Ayunda langsung menarik tangan Yuna, ia tidak ingin berdebat dengan mereka lagi saat mendengar ucapan dari Ali, ia tidak mau memiliki masalah dengan mereka.
__ADS_1