Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 21 Aska


__ADS_3

Sudah 3 hari pernikahan Ali dan Kinanti, tapi mereka berdua masih saja belum melakukan malam pertama. Pagi ini Kinanti sedang melihat cara memasak telur setengah matang, walau pun terdengar mudah, tapi ia belum pernah memasak apa pun hingga usia ia sudah menginjak 27 tahun.


Bahkan sekedar memasak mie instant saja Kinanti belum pernah, jadi ia tidak tau bagai mana cara memasak telur rebus setengah matang.


"Oh begitu caranya bi."


Kinanti berbicara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat telur itu sudah tersaji di mangkuk.


"Iya Non."


"Oh iya bi, kalau mau sarapan roti atau makan buah-buahan cemilan lainya ambil saja, anggap saja seperti di rumah sendiri, karena bagi saya yang penting orang kerja itu jujur."


"Baik Non, terima kasih."


"Sama-sama bi."


Pertemuan awal bersama Kinanti memang kurang mengenakan menurut bi Yanti, tapi setelah bekerja 2 hari di sini ia bisa menilai kalau Kinanti wanita yang sangat baik, hanya saja sangat keras kepala.


Ali mendekati istrinya yang sudah menggunakan setelan jas sambil tersenyum lebar, memang senyumanya tidak pernah pudar saat istrinya mau memanggilnya dengan panggilan Mas.


"Sedang apa Jamila?"


Kinanti langsung membalikan badan saat di tanya oleh suaminya sambil tersenyum lebar.


"Sedang melihat bibi memasak Mas. Mas sudah mau berangkat?"


"Iya, ayo.kita sarapan Jamila."


"Iya Mas."


Setelah duduk Kinanti langsung mengoleskan roti dengan telur untuk suaminya, lalu langsung meletakanya di meja depan suaminya. Ali merasa sangat bahagia saat melihat perubahan istrinya.


"Nanti pulang jam berapa Mas?"


Kinanti bertanya sambil memakan salad buah.


"Mungkin setengah 5 Mas sudah rumah."


Kinanti hanya menjawab dengan anggukan kepala. Mereka berdua langsung melanjutkan sarapanya lagi tanpa berbicara hingga selsai.


"Jamila, kamu bisa membawa mobil?"

__ADS_1


"Bisa Mas, biasa bawa mobil sendiri kalau Riana mengambil cuti."


"Iya sudah, ini untuk kamu membeli baju panjang, celana panjang dan hijab juga, syukur-syukur kamu mau memai gamis, tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa, tidak perlu di paksakan."


Ali berbicara sambil memberikan kartu kredit black card pada istrinya, ia sengaja tidak memberikan kartu ATM langsung pada istrinya, karena ia ingin tau berapa banyak pengeluaran istrinya jika berbelanja. Bukan Ali pelit, tapi ia hanya ingin tau apa pun yang di lakukan oleh istrinya.


"Ini yakin mas memberikan Jamila kartu kredit ini?"


"Iya yakin Jamila, kamu sudah tanggung jawab Mas, jadi belanja saja sepuas Jamila."


"Memangnya Mas perbulan bisa sampai habis berapa miliar?"


"Jangan banyak pertanyaan. Mas bukan mau di tanya, tapi Mas menyuruh kamu untuk berbelanja. Yuli suruh ikut untuk membawa barang-barang kamu, nanti saat pulang Mas beli mobil untuk kamu, sekarang Jamila pakai mobil Mas dulu."


"Terus Mas pakai apa? Jangan pakai motor lagi Mas, dari kantor kejaksaan itu jauh Mas, jangan membawa motor terus panas."


"Mas tidak suka macet Jamila, nanti Mas cariin supir wanita untuk kamu."


Ali tidak mungkin mencarikan supir lelaki untuk istrinya, walau pun itu hanya supir, ia tidak ingin istrinya berduaan dengan lelaki yang bukan makhromnya.


"Tidak perlu Mas, nanti Riana datang, biar Riana saja, tadi pagi Jamila sudah chat Riana."


"Iya Mas."


Ali langsung berdiri sambi membawa tas kerjanya di ikuti oleh istrinya yang mengantar ia sampai di samping motor. Kinanti langsung mencium tangan suaminya dan di balas cium kening oleh suaminya.


"Hati-hati Mas."


"Iya Jamila kamu juga hati-hati. Jangan pakai-pakaian yang terbuka, pakai saja celana jans panjang dan baju panjang, Mas tidak mau kamu menghumbar auratmu."


"Iya Mas."


Setelah mengatakan itu Ali langsung melajukan motornya. Saat Kinanti baru saja akan masuk ke dalam life, tangan ia di tarik untuk keluar dari life oleh Aska.


Kinanti sangat terkejut saat tiba-tiba tangannya di tarik dan langsung di peluk oleh sesaorang, lebih terkejut lagi saat aroma parfum yang ia kenali dari orang yang memeluknya.


"Aska tolong lepas pelukanmu!"


"Aku rindu kamu Kinanti, nyatanya aku tidak bisa berpisah denganmu. Seharusnya aku tidak membatalkan pernikahan kita dan menerima kamu walau pun kamu sudah tidak suci."


"Lepas! Aku mohon jangan seperti ini, kalau sampai ada orang yang melihat kita orang akan salah paham! Aku sekarang adik ipar kamu!"

__ADS_1


Kinanti terus saja mencoba untuk melepaskan pelukan dari Aska, walau pun sia-sia karena tenaga Aska yang sangat besar.


"Kinanti, cepat minta cerai pada Ali, aku akan menikahimu setelah kamu bercerai dengan Ali."


Akhirnya Kinanti berhasil melepaskan pelukan Aska.


"Apa kamu sudah gila?! Bagai mana bisa kamu menyuruh aku untuk meninggalkan Mas Ali!"


"Kalau kamu mau menikah denganku, aku bisa memberimu karir seperti semula."


"Aku tidak butuh karir dari kamu, aku juga sudah tidak membutuhkanmu lagi! Andai 3 hari yang lalu kamu memberikan aku kesempatan untuk tetap menikah denganmu, mungkin aku akan senang dan bahagia, tapi sekarang aku sudah tidak menginginkan itu lagi Aska!"


Kinanti menghentikan ucapanya sesaat untuk mengambil nafas.


"Aku sudah menikah dengan Mas Ali. Mas Ali yang menyelamatkan harga diriku walau pun karirku tetap hancur, tapi setidaknya hatiku tidak ikut hancur, jadi aku sudah tidak menginginkan kamu lagi."


Beberapa detik Aska mematung saat Kinanti memanggil adiknya dengan panggilan Mas, dulu hanya ia lelaki satu-satunya yang di panggil Mas oleh Kinanti, tapi sekarang ia bukan orang sepesial lagi di hati Kinanti.


Namun beberapa detik kemudian Aska menepis ucapan dari Kinanti, ia yakin kalau Kinanti masih mencintainya.


"Bohong! Aku yakin kamu masih mencintaiku! Tinggalkan Ali Kinanti! Ali hanya bocah ingusan!"


"Lebih baik bocah ingusan seperti Mas Ali yang bisa mengandalkan keahliannya sendiri dari pada kamu! Kaya juga dapat dari Bunda Mas Ali, untuk apa kaya kalau hasil dari nipu!"


"Aku tidak tau masalah Papa dan Tante Anisa, jadi jangan salahkan aku Kinanti, aku mohon tinggalkan Ali Kinanti."


"Aku tidak akan meninggalkan Mas Ali, kalau pun Mas Ali sendiri yang meninggalkan aku, aku tidak akan menikah lagi, bagiku sekarang Mas Ali adalah segalanya dan sangat berarti dalam hidupku!"


Ucapan dari Kinanti memang bukan sekedar ucapan, bagi ia suaminya itu memang segalanya, walau pun dulu pernah berpikir ingin berpisah, tapi tidak untuk sekarang.


Kinanti sangat nyaman saat melihat senyuman dari suaminya, aroma parfum yang di pakai suaminya, apa lagi saat mendengar suara suaminya mengaji di tengah malam, ia sangat menyukainya.


Terutama sikap suaminya yang selalu berpikir dewasa, bisa membantu ia saat ia di sudutkan banyak orang, jadi jelas menurutnya kalau suaminya itu lelaki yang sangat sempurna.


Suaminya bisa berbicara keras saat ada orang yang akan menyakitinya, bukan kepribadian suaminya yang ta'at agam saja, tapi memang suaminya mampu menjaganya dari marah bahaya.


Lalu untuk apa lagi Kinanti mencari lelaki lain, kalau semua karakter lelaki lain ada dalam diri suaminya.


"Memangnya Ali mencuci otakmu pakai apa sampai kamu tergila-gila pada Ali?!"


"Hanya wanita bodoh yang tidak tertarik pada Mas Ali!"

__ADS_1


__ADS_2