Menikahi Calon Kaka Ipar

Menikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 55 Aska Kecewa


__ADS_3

Malam harinya Kenan memutuskan pulang ke rumah istrinya karena istrinya sangat berani mengatai mantan istrinya jallang, bukan'kah yang mengatur pernikahan gila itu istrinya, bahkan yang menyetujui perceraian dengan mantan istrinya, istrinya sendiri, tapi sekarang istrinya seperti lempar batu sembunyi tangan.


Mantan istrinya tidak tau apa-apa, tapi istrinya dengan seenaknya memaki jallang, apa lagi mantan istrinya wanita yang sangat sholehah, dulu saja mantan istrinya tidak bisa di sentuh tanpa ikatan pernikahan apa lagi sekarang, bahkan sekarang pandangan matanya saja menunduk.


Dalam perjalanan pulang Kenan menyesali perbuatan di masa lalunya, andaikan ia lebih tegas mungkin ia tidak akan melepaskan Anisa, wanita yang menempati hatinya semenjak Anisa pergi 15 tahun yang lalu, dan selama 15 tahun pula ia mencintai mantan istrinya.


Belum lagi sekarang Kenan menyesali perbuatannya karena tidak memperlakukan putra ke duanya dengan baik, hingga putra ke duanya sangat membencinya.


Kenan sampai di rumah, ia langsung memasuki rumah dengan perasaan marah. Lusi yang masih duduk di sofa menunggu kepulangan suaminya ia tersenyum lebar saat melihat suaminya pulang, ia langsung memeluk suaminya.


"Akhirnya Mas pulang juga."


Kenan langsung melepas paksa pelukan dari istrinya, ia langsung menatap istrinya dengan tatapan tajam.


"Apa yang kamu lakukan tadi siang?!!!"


Lusi mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan dari suaminya, ia tau kalau suaminya marah, tapi ia tidak menyangka kalau suaminya marah sudah sampai 1 minggu hingga sekarang.


"Aku tidak melakukan apa-apa Mas."


"Kamu bilang tidak melakukan apa-apa setelah kamu menghina Anisa dan putraku?! Apa kamu masih waras Lusi?! Karena kamu aku kehilangan segalanya, dari Anisa dan putra ke duaku, tapi kamu masih terus saja mengusik mereka!"


Lusi menghela napas pelan, ia tidak menyangka kalau suaminya tau tentang kejadian tadi pagi.


"Aku tidak tau kenapa dulu begitu buta karena telah mencintai kamu, wanita tidak waras!"


"Cukup Pa! Kalau Papa datang untuk memarahi Mama, lebih baik Papa pergi saja dari rumah ini!!"


Aska berbicara sambil berjalan ke arah ke dua orang tuanya, ia tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini orang tuanya sering bertengkar dan perkara utamanya Anisa dan Anisa.


Aska menjadi bingung dengan permasalahan orang tuanya yang saling menyalahkan, dan ia menjadi yakin kalau Anisa tidak memiliki kesalahan dalam masalah rumah tangga orang tuanya, tapi keyakinan itu ia tepis, karena ia tidak tau apa yang terjadi di masa lalu.

__ADS_1


"Diam anak bodoh! Kamu tidak tau apa-apa tentang orang tuamu!"


Kenan berbicara sambil menatap tajam pada putranya yang mebentaknya tanpa tau permasalahan awalnya, apa lagi putranya itu sudah dewasa seharusnya putranya diam kalau tidak tau permasalahan orang tuanya.


"Bagai mana Aska bisa diam Pa kalau Papa datang-datang hanya memarahi Mama?!"


"Papa tidak akan memarahi Mamamu kalau Mamamu tidak membuat ulah, Papa bukan lelaki gila marah-marah, Papa memarahi Mamamu karena dia sudah berani menghina Anisa jallang! Anisa wanita baik-baik, dia bukan jallang, dan Papa sangat membenci Mamamu yang melempar batu, tapi sembunyi tangan!"


"Maksud Papa apa mengatakan Mama lempar batu sembunyi tangan? Bukan'kah Tante Anisa memang seperti jallang? Bahkan dia rela menjadi istri ke dua dari Papa tanpa persetujuan dari Mama? Aska heran kenapa Papa selalu membela pelakor dari pada Mama?"


"Tutup mulutmu Aska! Anisa tidak tau apa-apa dengan pernikahan Papa dan Mama, Anisa hanya korban, Mamamu yang merencanakan pernikahan ini."


Belum sempat Kenan menjelaskan pembicaraannya, istrinya sudah berteriak.


"Cukup Mas!! Jangan teruskan cerita masa lalu pelakor itu! Anisa tetap pelakor!"


Lusi tidak mau kalau putranya sampai tau permasalahan masa lalunya, apa lagi 1 minggu yang lalu putranya sudah mengancam ia kalau ia menyembunyikan sesuatu, putranya belum tentu memaafkannya, ia tidak mau putranya membenci ia karena masalah masa lalu.


"Aska berhak tau Lusi! Sudah cukup Aska membenci Ali, adik yang tidak pernah bersalah dalam rumah tangga kita, biarkan Aska minta maaf atas sikap kasarnya pada Ali di masa lalu!"


"Aku mohon jangan Mas."


Air mata Lusi langsung mengalir deras, ia memegang pergelangan tangan suaminya untuk memohon, ia tidak mau di benci oleh putranya.


"Atau jangan-jangan benar kalau Mama memitnah Tante Anisa sebagai pelakor selama ini di depan Aska? Jawab Ma! Apa Mama melakukan kebohongan sebesar itu?!"


Aska menatap mata Mamanya dengan pandangan terluka, kalau memang benar Mamanya ikut bersalah, ia sangat bersalah karena pernah memukuli Ali di masa kecilnya.


"Mama tidak pernah melakukan itu nak, kamu jangan percaya dengan Papa, itu akal-akalan Papa karena anak jallang itu mengganti identitas Ayahnya."


Lusi berbicara sambil memegang tangan putranya, ia tau kalau putranya mulai kecewa, ia bisa melihat raut wajah kecewa dari putranya.

__ADS_1


"Kamu bilang akal-akalan aku? Lalu yang menyuruh aku untuk menikahi Anisa akal-akalan siapa?!!! Bukan'kah kamu yang menyuruh aku untuk menikahi Anisa?!"


"Cukup Mas!!!"


"Kamu bilang cukup?! Biarkan putra kita tau sejahat apa kamu di masa lalu."


Aska langsung melepaskan tangan Mamanya, setetes demi setetes air matanya jatuh saat tau Mamanya sendiri yang merencanakan pernikahan Papanya dengan Anisa, walau pun ia tidak tau apa alasan Mamanya menyuruh Papanya untuk menikahi Anisa, tapi ia tetap kecewa saat tau pakta itu.


Selama ini Aska selalu menganggap Anisa pelakor, dan Ali anak dari pelakor, tapi nyatanya mereka berdua tidak salah apa-apa dalam rumah orang tuanya.


"Kenapa Mama lakuin ini?! Kenapa Mama membiarkan Aska membenci Ali? Adik Aska sendiri yang tidak bersalah apa-apa pada kita?!"


Aska bertanya sambil berjalan mudur saat Mamanya maju untuk mendekatinya, ia sangat kecewa, selama ini ia membenci mereka tanpa alasan dan pernah memukuli Ali karena kebencian yang telah di buat oleh Mamanya sendiri.


"Ma-mama bisa jelasin nak."


Lusi berbicara dengan terbata-bata sambil terus maju ke arah putranya.


"Mama bilang jelasin?! Apa yang mau Mama jelasin sama Aska Ma? Aska selama ini membenci adik Aska sendiri karena Mama!"


Aska mengusap air matanya yang sekarang mengalir deras, ia mengingat masa lalu bersama Ali dulu, dadanya terasa sesak.


"Aska tidak menyangka kalau Mama yang selalu Aska anggap baik teryatanya Mama adalah pembohong yang sebenarnya, Aska sangat kecewa sama Mama!!"


Kenan menghela napas berat saat melihat kekecewaan dari putra pertamanya, ia tau kalau putra pertamanya tidak akan membenci orang yang tidak bersalah, dan ia bernapas lega saat putra pertamanya tidak lagi membenci putra ke duanya.


Kenan merasa bersalah karena menjadi kepala keluarga yang gagal, benar apa kata menantunya yang mengatakan kalau ia tidak becus mendidik istrinya.


"Maafkan Mama nak, semua Mama lakukan."


Lusi tidak bisa melanjutkan pembicaraannya lagi, ia takut kalau ia jujur putranya akan semakin membencinya, sekarang saja putranya sangat kecewa saat tau kalau yang menyuruh suaminya menikahi Anisa ia srndiri, apa lagi kalau jujur mungkin putranya semakin membencinya.

__ADS_1


__ADS_2